Rasulullah SAW bersabda:
"Orang kuat bukanlah orang yang sering menang berkelahi, akan tetapi orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya ketika marah."
(Muttafaq 'alaih).
****
Seorang laki-laki duduk di teras sebuah rumah, menunggu kedatangan orang-orang suruhannya. Tiga buah sepeda motor berhenti tepat di hadapan laki-laki itu. Ia menyulut sebatang rokok di tangan, menghisapnya dan menghembuskan asap tersebut ke udara.
Matanya dengan tajam melirik tiga orang yang kini berdiri dengan ketakutan. Tangan mereka bertaut di depan tubuh, kepala menunduk dalam. Kaki gemetar nyaris tak mampu menahan bobot badan.
"Gimana? Kalian udah ngelakuin apa yang aku suruh, 'kan?" tanyanya seraya meniupkan asap rokok ke arah mereka.
"Sudah, Bos," jawab salah satu dari mereka sedikit bergetar.
Bibir laki-laki itu menyunggingkan senyum sinis, membayangkan apa yang dia rencanakan berhasil.
"Lalu, di mana kalian membuang jasanya?" tanyanya lagi masih tidak beranjak dari posisi duduknya semula.
Mereka saling senggol satu sama lain, tak satu pun ingin menjawab pertanyaan kedua dari bos mereka.
"Kenapa kalian diam aja? Ayo, jawab! Aku mau tahu gimana kondisi pemuda itu?" Dia memicingkan mata pada ketiganya.
Secara langsung hati mereka merasa was-was. Bingung mencari jawaban.
"Kami nggak sempet buang jasadnya, Bos. Karena tiba-tiba ada banyak warga datang," kilah salah satu dari mereka berbohong.
Dua lainnya membelalakkan mata, tak percaya akan ada skenario palsu dalam pekerjaan mereka. Dia tertawa, kemudian menggebrak meja. Sekelip mata saja sudah berada di hadapan mereka.
"Bodoh! Gimana kalo mereka lapor polisi terus melakukan pencarian terhadap pelakunya! Kalian benar-benar bodoh!" hardiknya sambil melayangkan tamparan di wajah ketiga orang itu.
Wajah yang sebelumnya sudah memiliki tanda lebam yang ditinggalkan Alfin, semakin berdenyut nyeri akibat tamparan itu. Mereka memegangi pipi masing-masing, mengusap-usapnya agar rasa sakit segera pergi.
"Ma-maaf, Bos. Kami panik, kami juga takut tertangkap warga. Makanya kami pergi dan nggak sempat membuang mayatnya." Dia gemetar gugup, sekaligus takut kebohongannya diketahui orang itu.
Terlebih dua rekannya yang hanya diam seolah-olah menyerahkan semua perkara hanya padanya seorang.
Laki-laki itu menggeram, mengepalkan kedua tangan menahan emosi. Menatap nyalang ketiga orang yang dianggapnya tidak berguna.
"Aku nggak mau tahu, gimana caranya polisi nggak sampai tahu kejadian malam ini. Kalian harus menghilang dari kota ini malam ini juga!" tegasnya tak ingin dibantah.
Sontak ketiga orang itu mengangkat wajah, hatinya bersorak riang gembira. Itulah yang mereka inginkan, sesuai perintah darinya maka, dengan senang hati mereka akan pergi. Tentunya setelah menerima bayaran.
Oh, sungguh licik!
Namun, mereka lebih memilih berpura-pura enggan untuk pergi. Bergeming di hadapannya dengan gerakan tubuh yang memperlihatkan kecemasan.
"Ini bayaran kalian!" Dia membanting sebuah amplop cukup tebal di atas meja.
Mata mereka berbinar, tapi tak satu pun dari ketiga orang itu berani mengambilnya. Mereka tetap menunduk, entah menunggu apa?
"Kenapa? Ayo, ambil! Dan pergi dari sini malam ini juga!" titahnya cukup keras, tapi mereka tetep bergeming, takut untuk mengambil uang tersebut.
Laki-laki itu berdecak, tahu apa yang mereka inginkan.
"Penjahat amatiran, selalu minta upah lebih padahal kerjaan juga nggak beres," gerutunya sembari mengeluarkan lembaran merah dari saku.
"Ini aku tambahin, tapi kalian harus lenyap dari kota ini. Cepat pergi!" katanya setelah membanting uang itu di atas amplop.
Mereka semakin berbinar, buru-buru mengambil uang tersebut dan memasukkannya ke dalam jaket yang mereka kenakan.
"Makasih, Bos. Bos nggak usah khawatir, kami pastikan tiga wajah ini udah nggak ada di sini malam ini juga," janji mereka seraya berbalik dan pergi meninggalkan halaman rumah tersebut dengan hati yang puas.
Dia tersenyum puas, tak ada lagi saingan dalam memperebutkan cinta Naina. Hanya ada dia seorang, dan dialah yang akan menjadi pemenangnya.
Yah, dia Anton, manager Naina di toko. Demi mendapatkan apa yang dia inginkan, rela melakukan kejahatan tanpa mengotori tangannya.
"Itulah akibat dari menentangku. Kamu mau main-main sama aku, padahal kamu nggak tahu siapa aku?" Dia tersenyum sinis, membuang puntung rokok seraya berbalik memasuki rumahnya.
****
Usai kejadian malam itu, Alfin lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam masjid. Mengaji, sholat, mengajari anak-anak belajar membaca Al-Qur'an. Juga hal-hal lainnya. Nyaris tak pernah beranjak, kecuali ke kamar mandi. Melakukan puasa dari hari Senin dan Kamis, bermaksud menggugurkan dosa yang pernah dia perbuat.
Naina terus menerus menatap masjid sepanjang dia bekerja. Mencari-cari sosok Alfin yang menghilang setelah mengiriminya pesan untuk pergi sebentar saja.
"Kenapa, sih? Kok, ngelihatin masjid Mulu?" tegur Vita yang baru saja tiba dan heran terhadap Naina yang selalu memandangi bangunan di seberang toko itu.
"Vit, kamu tahu marbot yang di masjid itu?" tanya Naina mulai mencari tahu soal Alfin.
"Emangnya kenapa? Jangan bilang kalo kamu naksir sama dia?" seru Vita nyaris dengan suara yang melengking.
Naina membekap mulutnya, memintanya untuk tidak berisik.
"Bukan begitu, udah beberapa hari ini dia nggak kelihatan. Kamu tahu di mana rumahnya?" tanya Naina setelah melepaskan tangannya dari mulut Vita.
Wanita dewasa itu mengernyit, memperhatikan garis wajah Naina yang nampak sendu tak bercahaya.
"Aku nggak tahu. Bukannya kamu yang sering bantu dia tiap hari Jum'at?" Vita balik bertanya.
Naina menghela napas berat, itulah kelalaiannya. Dia tidak pernah menanyakan keberadaan rumah pemuda itu. Ia menunduk sedih, bahkan sekedar mengabari lewat pesan saja Alfin tidak melakukannya.
"Coba aja datengin ke masjid, tanya sama orang di sana. Mungkin aja tahu," saran Vita yang merasa kasihan terhadap Naina.
Gadis itu mengangkat wajah, tersenyum menerima saran darinya.
"Makasih, ya."
"Iya, udah sana. Giliran aku yang jaga," usir Vita sembari mengibaskan tangan meminta Naina pergi dari kasir.
"Eh, Nai. Ngomong-ngomong si Bos udah beberapa hari ini nggak ada masuk, ya? Kamu tahu kenapa?" tanya Vita merasa heran dengan atasannya.
Naina menghendikan bahu sambil menjawab, "Nggak tahu. Emang aku ngurusin." Naina melengos memeriksa rak-rak sebelum pulang.
Sementara di masjid, Alfin yang khusyuk bertafakur di atas hamparan sajadah, menangis menyesali dosa-dosa yang pernah dia lakukan. Hingga dering ponselnya berbunyi, Alfin melihat siapa yang menelpon.
Ada banyak pesan yang masuk dari Naina, tapi tak satu pun dia balas. Ia mengernyit, menyudahi tangisan ketika membaca nama si penelpon.
"Ya, umi. Assalamu'alaikum!" sapanya berpura-pura tak enak badan.
"Wa'alaikumussalaam. Kamu sakit, Fin? Suara kamu kayak mindeng gitu," tanya perempuan yang dipanggil Alfin dengan sebutan umi dari seberang telepon.
"Iya, Mi. Lagi pilek. Ada apa? Tumben telepon Alfin?" tanya pemuda itu sembari memainkan tasbih di tangan.
"Kamu bisa pulang dulu nggak? Ada sesuatu yang mau Abi sama Umi omongin."
Alfin merenung, jika orang tuanya meminta dia pulang, sudah pasti ada hal penting yang akan dibicarakan.
"Gimana, Nak?" Suara wanita itu kembali terdengar.
"Iya, Umi. Alfin pulang."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
Junida Susilo
Ayoo Alfin lamar naina nya.... segeralah halalin...😍😍😍
2023-01-14
2
🌺aNNa baiTi khaRomaH🌺
jangan bilang kalau alfin mau di jodohin😭😭😭 jodohin sama naina aj ya kak🤗🤗🤗🤗
2023-01-14
1
🌺aNNa baiTi khaRomaH🌺
dan kamu juga nggak tau kalau kamu di kibulin sama orang suruhanmu🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2023-01-14
1