Bab 20

Rasulullah SAW bersabda:

"Orang kuat bukanlah orang yang sering menang berkelahi, akan tetapi orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya ketika marah."

(Muttafaq 'alaih).

****

Seorang laki-laki duduk di teras sebuah rumah, menunggu kedatangan orang-orang suruhannya. Tiga buah sepeda motor berhenti tepat di hadapan laki-laki itu. Ia menyulut sebatang rokok di tangan, menghisapnya dan menghembuskan asap tersebut ke udara.

Matanya dengan tajam melirik tiga orang yang kini berdiri dengan ketakutan. Tangan mereka bertaut di depan tubuh, kepala menunduk dalam. Kaki gemetar nyaris tak mampu menahan bobot badan.

"Gimana? Kalian udah ngelakuin apa yang aku suruh, 'kan?" tanyanya seraya meniupkan asap rokok ke arah mereka.

"Sudah, Bos," jawab salah satu dari mereka sedikit bergetar.

Bibir laki-laki itu menyunggingkan senyum sinis, membayangkan apa yang dia rencanakan berhasil.

"Lalu, di mana kalian membuang jasanya?" tanyanya lagi masih tidak beranjak dari posisi duduknya semula.

Mereka saling senggol satu sama lain, tak satu pun ingin menjawab pertanyaan kedua dari bos mereka.

"Kenapa kalian diam aja? Ayo, jawab! Aku mau tahu gimana kondisi pemuda itu?" Dia memicingkan mata pada ketiganya.

Secara langsung hati mereka merasa was-was. Bingung mencari jawaban.

"Kami nggak sempet buang jasadnya, Bos. Karena tiba-tiba ada banyak warga datang," kilah salah satu dari mereka berbohong.

Dua lainnya membelalakkan mata, tak percaya akan ada skenario palsu dalam pekerjaan mereka. Dia tertawa, kemudian menggebrak meja. Sekelip mata saja sudah berada di hadapan mereka.

"Bodoh! Gimana kalo mereka lapor polisi terus melakukan pencarian terhadap pelakunya! Kalian benar-benar bodoh!" hardiknya sambil melayangkan tamparan di wajah ketiga orang itu.

Wajah yang sebelumnya sudah memiliki tanda lebam yang ditinggalkan Alfin, semakin berdenyut nyeri akibat tamparan itu. Mereka memegangi pipi masing-masing, mengusap-usapnya agar rasa sakit segera pergi.

"Ma-maaf, Bos. Kami panik, kami juga takut tertangkap warga. Makanya kami pergi dan nggak sempat membuang mayatnya." Dia gemetar gugup, sekaligus takut kebohongannya diketahui orang itu.

Terlebih dua rekannya yang hanya diam seolah-olah menyerahkan semua perkara hanya padanya seorang.

Laki-laki itu menggeram, mengepalkan kedua tangan menahan emosi. Menatap nyalang ketiga orang yang dianggapnya tidak berguna.

"Aku nggak mau tahu, gimana caranya polisi nggak sampai tahu kejadian malam ini. Kalian harus menghilang dari kota ini malam ini juga!" tegasnya tak ingin dibantah.

Sontak ketiga orang itu mengangkat wajah, hatinya bersorak riang gembira. Itulah yang mereka inginkan, sesuai perintah darinya maka, dengan senang hati mereka akan pergi. Tentunya setelah menerima bayaran.

Oh, sungguh licik!

Namun, mereka lebih memilih berpura-pura enggan untuk pergi. Bergeming di hadapannya dengan gerakan tubuh yang memperlihatkan kecemasan.

"Ini bayaran kalian!" Dia membanting sebuah amplop cukup tebal di atas meja.

Mata mereka berbinar, tapi tak satu pun dari ketiga orang itu berani mengambilnya. Mereka tetap menunduk, entah menunggu apa?

"Kenapa? Ayo, ambil! Dan pergi dari sini malam ini juga!" titahnya cukup keras, tapi mereka tetep bergeming, takut untuk mengambil uang tersebut.

Laki-laki itu berdecak, tahu apa yang mereka inginkan.

"Penjahat amatiran, selalu minta upah lebih padahal kerjaan juga nggak beres," gerutunya sembari mengeluarkan lembaran merah dari saku.

"Ini aku tambahin, tapi kalian harus lenyap dari kota ini. Cepat pergi!" katanya setelah membanting uang itu di atas amplop.

Mereka semakin berbinar, buru-buru mengambil uang tersebut dan memasukkannya ke dalam jaket yang mereka kenakan.

"Makasih, Bos. Bos nggak usah khawatir, kami pastikan tiga wajah ini udah nggak ada di sini malam ini juga," janji mereka seraya berbalik dan pergi meninggalkan halaman rumah tersebut dengan hati yang puas.

Dia tersenyum puas, tak ada lagi saingan dalam memperebutkan cinta Naina. Hanya ada dia seorang, dan dialah yang akan menjadi pemenangnya.

Yah, dia Anton, manager Naina di toko. Demi mendapatkan apa yang dia inginkan, rela melakukan kejahatan tanpa mengotori tangannya.

"Itulah akibat dari menentangku. Kamu mau main-main sama aku, padahal kamu nggak tahu siapa aku?" Dia tersenyum sinis, membuang puntung rokok seraya berbalik memasuki rumahnya.

****

Usai kejadian malam itu, Alfin lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam masjid. Mengaji, sholat, mengajari anak-anak belajar membaca Al-Qur'an. Juga hal-hal lainnya. Nyaris tak pernah beranjak, kecuali ke kamar mandi. Melakukan puasa dari hari Senin dan Kamis, bermaksud menggugurkan dosa yang pernah dia perbuat.

Naina terus menerus menatap masjid sepanjang dia bekerja. Mencari-cari sosok Alfin yang menghilang setelah mengiriminya pesan untuk pergi sebentar saja.

"Kenapa, sih? Kok, ngelihatin masjid Mulu?" tegur Vita yang baru saja tiba dan heran terhadap Naina yang selalu memandangi bangunan di seberang toko itu.

"Vit, kamu tahu marbot yang di masjid itu?" tanya Naina mulai mencari tahu soal Alfin.

"Emangnya kenapa? Jangan bilang kalo kamu naksir sama dia?" seru Vita nyaris dengan suara yang melengking.

Naina membekap mulutnya, memintanya untuk tidak berisik.

"Bukan begitu, udah beberapa hari ini dia nggak kelihatan. Kamu tahu di mana rumahnya?" tanya Naina setelah melepaskan tangannya dari mulut Vita.

Wanita dewasa itu mengernyit, memperhatikan garis wajah Naina yang nampak sendu tak bercahaya.

"Aku nggak tahu. Bukannya kamu yang sering bantu dia tiap hari Jum'at?" Vita balik bertanya.

Naina menghela napas berat, itulah kelalaiannya. Dia tidak pernah menanyakan keberadaan rumah pemuda itu. Ia menunduk sedih, bahkan sekedar mengabari lewat pesan saja Alfin tidak melakukannya.

"Coba aja datengin ke masjid, tanya sama orang di sana. Mungkin aja tahu," saran Vita yang merasa kasihan terhadap Naina.

Gadis itu mengangkat wajah, tersenyum menerima saran darinya.

"Makasih, ya."

"Iya, udah sana. Giliran aku yang jaga," usir Vita sembari mengibaskan tangan meminta Naina pergi dari kasir.

"Eh, Nai. Ngomong-ngomong si Bos udah beberapa hari ini nggak ada masuk, ya? Kamu tahu kenapa?" tanya Vita merasa heran dengan atasannya.

Naina menghendikan bahu sambil menjawab, "Nggak tahu. Emang aku ngurusin." Naina melengos memeriksa rak-rak sebelum pulang.

Sementara di masjid, Alfin yang khusyuk bertafakur di atas hamparan sajadah, menangis menyesali dosa-dosa yang pernah dia lakukan. Hingga dering ponselnya berbunyi, Alfin melihat siapa yang menelpon.

Ada banyak pesan yang masuk dari Naina, tapi tak satu pun dia balas. Ia mengernyit, menyudahi tangisan ketika membaca nama si penelpon.

"Ya, umi. Assalamu'alaikum!" sapanya berpura-pura tak enak badan.

"Wa'alaikumussalaam. Kamu sakit, Fin? Suara kamu kayak mindeng gitu," tanya perempuan yang dipanggil Alfin dengan sebutan umi dari seberang telepon.

"Iya, Mi. Lagi pilek. Ada apa? Tumben telepon Alfin?" tanya pemuda itu sembari memainkan tasbih di tangan.

"Kamu bisa pulang dulu nggak? Ada sesuatu yang mau Abi sama Umi omongin."

Alfin merenung, jika orang tuanya meminta dia pulang, sudah pasti ada hal penting yang akan dibicarakan.

"Gimana, Nak?" Suara wanita itu kembali terdengar.

"Iya, Umi. Alfin pulang."

Terpopuler

Comments

Junida Susilo

Junida Susilo

Ayoo Alfin lamar naina nya.... segeralah halalin...😍😍😍

2023-01-14

2

🌺aNNa baiTi khaRomaH🌺

🌺aNNa baiTi khaRomaH🌺

jangan bilang kalau alfin mau di jodohin😭😭😭 jodohin sama naina aj ya kak🤗🤗🤗🤗

2023-01-14

1

🌺aNNa baiTi khaRomaH🌺

🌺aNNa baiTi khaRomaH🌺

dan kamu juga nggak tau kalau kamu di kibulin sama orang suruhanmu🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2023-01-14

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23 Rahasia Besar Alfin
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35 Pertemuan Tak Terduga
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60 Kedatangan Seseorang
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86 Meluluhkan Aminah
87 Bab 87
88 Bab 88 Kemarahan Alfin
89 Bab 89 Pengorbanan Naina I
90 Bab 90 Pengorbanan Naina II
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
156 Bab 156
157 Bab 157
158 Bab 158
159 Bab 159
160 Bab 160
161 Bab 161
162 Bab 162
163 Bab 163
164 Bab 164
165 Bab 165
166 Bab 166
167 Bab 167
168 Bab 168
169 Bab 169
170 Bab 170
171 Bab 171
172 Bab 172
173 Bab 173
174 Bab 174
175 Bab 175
176 Bab 176
177 Bab 177
178 Bab 178
179 Bab 179
180 Bab 180
Episodes

Updated 180 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23 Rahasia Besar Alfin
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35 Pertemuan Tak Terduga
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60 Kedatangan Seseorang
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86 Meluluhkan Aminah
87
Bab 87
88
Bab 88 Kemarahan Alfin
89
Bab 89 Pengorbanan Naina I
90
Bab 90 Pengorbanan Naina II
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155
156
Bab 156
157
Bab 157
158
Bab 158
159
Bab 159
160
Bab 160
161
Bab 161
162
Bab 162
163
Bab 163
164
Bab 164
165
Bab 165
166
Bab 166
167
Bab 167
168
Bab 168
169
Bab 169
170
Bab 170
171
Bab 171
172
Bab 172
173
Bab 173
174
Bab 174
175
Bab 175
176
Bab 176
177
Bab 177
178
Bab 178
179
Bab 179
180
Bab 180

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!