Hening. Kedua tangan laki-laki itu mengepal erat di atas meja. Naina meneguk ludah, mendekap tasnya sendiri.
"Kalo Bapak nggak mau saya temenin, mending saya pergi aja," ucap Naina seraya berdiri hendak pergi.
Mata menyalang itu membelalak, bingung sendiri karena Naina lebih memilih pergi meninggalkannya.
"Eh, tunggu! Kamu mau ke mana?" sergahnya membuat langkah Naina terhenti.
Gadis itu berbalik, menghela napas panjang. Dia benar-benar ingin pergi.
"Duduk! Maafin aku. Ayo, duduk!" titahnya dengan suara yang lembut.
Demi menunaikan janjinya, Naina kembali ke kursi dan duduk berseberangan dengan sang atasan.
Sial! Kenapa aku bisa kalah sama dia, sih?
Laki-laki itu mengumpat dalam hati, melirik Naina yang mulai mengeluarkan bekal makan siang. Sama sekali tidak merasa malu meski beberapa pasang mata memperhatikan dirinya.
Manager di hadapannya menggeram dalam hati, terus menatap Naina sambil mengancam diri sendiri. Tak peduli pada pelayan yang menghidangkan pesanannya di atas meja.
"Ayo, makan, Pak. Bismillahirrahmanirrahim, allaahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa waqinaa 'adzaaban-naar. Aamiin." Naina tersenyum, mulai melakukan suapan pertamanya.
Melihat tingkahnya yang seperti kanak-kanak, membaca doa ketika hendak makan, membuat hati sang manager mencelos. Diam-diam tersenyum, rasa kesal yang sejak tadi menguasai hati pergi begitu saja. Ia pun mulai memakan hidangan di depannya.
Sesekali melirik Naina yang begitu menikmati masakan rumah. Tak sekalipun dia melihat Naina pergi keluar membeli makan, tidak seperti karyawan lainnya yang sering terlihat bolak-balik membeli makanan atau minuman.
****
"Kenapa kamu lebih memilih membawa bekal daripada membelinya di luar!" tanya sang manager begitu selesai dengan makan siangnya.
"Karena masakan rumah tetap yang terbaik. Mulai dari bahan dan proses memasaknya saya tahu, sehingga aman untuk saya nikmati. Kalo di warung kayak gini, saya nggak tahu," jawab Naina sejujurnya, "lagian, kasihan Bibi subuh-subuh udah masak buat nyiapin bekal ini," lanjutnya sembari melirik tas yang berada di pangkuan.
Sang manager manggut-manggut mengerti, apa yang dilakukan Naina membuatnya terkenang pada masa lalu. Di mana saat ia sekolah, Ibu selalu menyiapkan bekal untuknya.
Tanpa sadar tersenyum, membayangkan jika Naina kelak menjadi istrinya dia akan meminta bekal makan siang seperti yang dia lakukan kini.
"Yah, kamu benar. Aku juga sebenarnya lebih suka masakan rumah, tapi nggak ada yang masakin. Maklum, Aku duda. Jadi, sedikit sulit untukku mencari istri," ucapnya sembari menelisik wajah Naina yang terkesan polos.
Gadis itu tahu apa maksud ucapannya, hanya saja dia berpura-pura tidak mengerti agar mereka secepatnya pergi dari sana. Naina yang merasa canggung karena terus menerus diperhatikan, membuang pandangan ke luar jendela.
Bibirnya menyunggingkan senyum ketika melihat Alfin berada di pinggir jalan bersama seorang laki-laki. Di belakangnya anak-anak mengiringi, dia mengajak mereka untuk membeli jajanan.
Dia pemuda yang penyayang terhadap anak-anak. Hmm ... seandainya ....
Hati Naina terkekeh sendiri, menepis angan-angan yang belum tentu menjadi nyata. Melihat gelagat Naina yang aneh, sang manager berbalik untuk dapat mengetahui apa yang mengalihkan perhatian gadis itu darinya.
Ia menghela napas, rasa kesal yang telah hilang kembali datang melihat pemuda yang berhasil membuat hatinya ketar-ketir itu.
"Ekhem! Naina! Aku sarankan kamu jangan dekat-dekat sama pemuda yang di masjid itu," tegur sang manager sembari bersedekap dada.
Senyum di bibir Naina raib, perlahan menoleh pada laki-laki yang tengah menatapnya jengah itu.
"Kenapa emangnya?" tanya Naina tak senang.
"Kamu nggak tahu siapa dia. Dia itu berandalan, suka tawuran, suka mabuk-mabukan, pokoknya segala keburukan dia lakukan. Pemuda itu nggak baik, nggak jelas keluarganya di mana? Siapa orang tuanya? Kamu jangan sampai dekat sama dia," ungkapnya menjelekkan marbot masjid itu.
Aku sendiri juga nggak jelas siapa ayahku? Bila dia tahu tentang itu, aku yakin dia pasti mencampakkan aku sama kayak laki-laki lainnya.
Naina menghela napas, teringat pada dua laki-laki yang dulu dekat dengannya. Memberinya taburan cinta, untuk kemudian membuangnya begitu saja ketika tahu tentang asal-usul Naina.
"Maaf, Pak. Saya permisi, saya harus kerja lagi," pamit Naina dengan cepat berdiri dan pergi begitu saja meninggalkannya sendirian.
"Eh? Naina!" Sang manager bingung sendiri, ia berbalik menatap tak rela dengan kepergian gadis itu.
"Naina!" kejarnya seraya menarik tangan sang gadis yang tak menggubris panggilannya.
Naina berbalik dengan matanya yang memerah. Menepis tangan yang telah lancang menyentuhnya. Apa yang dia ucapkan mengingatkan ia pada kejadian di mana kehilangan satu sandaran hidup.
"Kamu kenapa? Main pergi aja, aku belum selesai ngomong. Kamu-"
"Maaf, Pak. Saya harus kembali kerja. Permisi!" Naina memilih bungkam, dan langsung berbalik tak peduli pada teriakannya.
Gadis itu berlari dengan cepat mendekap tas berisi bekal Bibi sambil berurai air mata. Alfin yang berada di pinggir jalan, terhenyak mendengar nama Naina disebut. Ia menoleh, dan melihat ke arah dua orang yang semakin berjauhan.
"Naina!" gumamnya lirih.
Pandangan Alfin beralih pada sosok laki-laki yang masih berdiri di depan warung makan sambil menatap kepergian Naina. Dia terlihat bingung, entah apa yang terjadi? Yang pasti Alfin melihat Naina menangis.
Sang manager yang merasa diperhatikan, mengalihkan pandangan pada sosok Alfin di tengah jalan. Raut kebingungan yang tadi diperlihatkan berubah menjadi keras. Dia menyalang tajam pada pemuda yang menjadi penghalang tujuannya.
Kedua tangan sang manager mengepal erat, melengos pergi kembali ke dalam warung untuk membayar tagihan. Alfin bersikap biasa saja, tapi tak senang karena laki-laki itu sudah membuat Naina menangis. Dia harus tahu alasannya.
"Kenapa?" tegur pak ustadz sambil menepuk bahunya.
Alfin tersentak, ia tersenyum kikuk tak tahu harus menyahut apa.
"Nggak ada apa-apa, Pak. Udah selesai jajannya?" Alfin mengalihkan perhatian pada anak-anak yang begitu antusias memilih jajanan.
"Udah, Kak!" sahut mereka kompak.
Alfin mengeluarkan uang dari sakunya, dan mengajak mereka semua kembali ke dalam masjid. Pemuda itu lebih senang berada di masjid, dia bahkan tidak bekerja demi menjaga kebersihan rumah Allah itu.
Naina berlari masuk ke dalam gudang, duduk meringkuk di pojokan. Mendekap tubuhnya sendiri. Dia ingin menangis, hanya ingin sendiri.
Ibu, semua laki-laki itu sama. Mereka semua sama jahatnya, Ibu. Aku butuh bahu Ibu untuk bersandar. Pada siapa aku mengadu di dunia, Ibu?
Naina terisak, menumpahkan kesedihan yang mendalam.
Apa gadis sepertiku memang tak dapat diterima kehadirannya? Ya Allah, sungguh berat ujian dari-Mu. Bagaimana aku bisa menjalaninya sementara satu-satunya sandaran hidupku telah pergi menghadap-Mu. Bagaimana aku bisa menjalani ini semua sendirian, ya Allah.
Tubuh Naina terguncang, lupa akan janjinya yang tak akan pernah menangis lagi. Dia rapuh, hatinya tetap rapuh meskipun berpura-pura tegar.
Sang manager terburu-buru membuka pintu dan mencari keberadaan Naina.
"Naina! Di mana Naina?" Ia menatap semua orang di dalam toko.
"Lho, bukannya Nai sama Bapak tadi?" Penjaga kasir balik bertanya karena secara kebetulan dia tidak melihat Naina masuk.
"Astaga! Dia kembali duluan ke sini. Apa kalian nggak ada yang lihat?" katanya frustasi.
Mereka menggelengkan kepala.
"Sial!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
Junida Susilo
Lelaki yg menjelekan lelaki lain hanya untuk mencapai tujuan nya, sebenarnya lelaki yang buruk perangai dan prilaku nya, mudah marah kasar banget sih jadi laki laki,naina itu perasaan nya halus mudah tersentuh...dan mudah tersakiti hati nya🥺🥺
2023-01-11
0
Ratna Suhartatik
belum jadi suami aja udah kasar gmna tar jd suami..ih ngeri
2023-01-11
1
Ati Nurhayati
Alfin..buruan dong garcep💕💕💕
2023-01-11
1