Bab 14

Hening. Kedua tangan laki-laki itu mengepal erat di atas meja. Naina meneguk ludah, mendekap tasnya sendiri.

"Kalo Bapak nggak mau saya temenin, mending saya pergi aja," ucap Naina seraya berdiri hendak pergi.

Mata menyalang itu membelalak, bingung sendiri karena Naina lebih memilih pergi meninggalkannya.

"Eh, tunggu! Kamu mau ke mana?" sergahnya membuat langkah Naina terhenti.

Gadis itu berbalik, menghela napas panjang. Dia benar-benar ingin pergi.

"Duduk! Maafin aku. Ayo, duduk!" titahnya dengan suara yang lembut.

Demi menunaikan janjinya, Naina kembali ke kursi dan duduk berseberangan dengan sang atasan.

Sial! Kenapa aku bisa kalah sama dia, sih?

Laki-laki itu mengumpat dalam hati, melirik Naina yang mulai mengeluarkan bekal makan siang. Sama sekali tidak merasa malu meski beberapa pasang mata memperhatikan dirinya.

Manager di hadapannya menggeram dalam hati, terus menatap Naina sambil mengancam diri sendiri. Tak peduli pada pelayan yang menghidangkan pesanannya di atas meja.

"Ayo, makan, Pak. Bismillahirrahmanirrahim, allaahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa waqinaa 'adzaaban-naar. Aamiin." Naina tersenyum, mulai melakukan suapan pertamanya.

Melihat tingkahnya yang seperti kanak-kanak, membaca doa ketika hendak makan, membuat hati sang manager mencelos. Diam-diam tersenyum, rasa kesal yang sejak tadi menguasai hati pergi begitu saja. Ia pun mulai memakan hidangan di depannya.

Sesekali melirik Naina yang begitu menikmati masakan rumah. Tak sekalipun dia melihat Naina pergi keluar membeli makan, tidak seperti karyawan lainnya yang sering terlihat bolak-balik membeli makanan atau minuman.

****

"Kenapa kamu lebih memilih membawa bekal daripada membelinya di luar!" tanya sang manager begitu selesai dengan makan siangnya.

"Karena masakan rumah tetap yang terbaik. Mulai dari bahan dan proses memasaknya saya tahu, sehingga aman untuk saya nikmati. Kalo di warung kayak gini, saya nggak tahu," jawab Naina sejujurnya, "lagian, kasihan Bibi subuh-subuh udah masak buat nyiapin bekal ini," lanjutnya sembari melirik tas yang berada di pangkuan.

Sang manager manggut-manggut mengerti, apa yang dilakukan Naina membuatnya terkenang pada masa lalu. Di mana saat ia sekolah, Ibu selalu menyiapkan bekal untuknya.

Tanpa sadar tersenyum, membayangkan jika Naina kelak menjadi istrinya dia akan meminta bekal makan siang seperti yang dia lakukan kini.

"Yah, kamu benar. Aku juga sebenarnya lebih suka masakan rumah, tapi nggak ada yang masakin. Maklum, Aku duda. Jadi, sedikit sulit untukku mencari istri," ucapnya sembari menelisik wajah Naina yang terkesan polos.

Gadis itu tahu apa maksud ucapannya, hanya saja dia berpura-pura tidak mengerti agar mereka secepatnya pergi dari sana. Naina yang merasa canggung karena terus menerus diperhatikan, membuang pandangan ke luar jendela.

Bibirnya menyunggingkan senyum ketika melihat Alfin berada di pinggir jalan bersama seorang laki-laki. Di belakangnya anak-anak mengiringi, dia mengajak mereka untuk membeli jajanan.

Dia pemuda yang penyayang terhadap anak-anak. Hmm ... seandainya ....

Hati Naina terkekeh sendiri, menepis angan-angan yang belum tentu menjadi nyata. Melihat gelagat Naina yang aneh, sang manager berbalik untuk dapat mengetahui apa yang mengalihkan perhatian gadis itu darinya.

Ia menghela napas, rasa kesal yang telah hilang kembali datang melihat pemuda yang berhasil membuat hatinya ketar-ketir itu.

"Ekhem! Naina! Aku sarankan kamu jangan dekat-dekat sama pemuda yang di masjid itu," tegur sang manager sembari bersedekap dada.

Senyum di bibir Naina raib, perlahan menoleh pada laki-laki yang tengah menatapnya jengah itu.

"Kenapa emangnya?" tanya Naina tak senang.

"Kamu nggak tahu siapa dia. Dia itu berandalan, suka tawuran, suka mabuk-mabukan, pokoknya segala keburukan dia lakukan. Pemuda itu nggak baik, nggak jelas keluarganya di mana? Siapa orang tuanya? Kamu jangan sampai dekat sama dia," ungkapnya menjelekkan marbot masjid itu.

Aku sendiri juga nggak jelas siapa ayahku? Bila dia tahu tentang itu, aku yakin dia pasti mencampakkan aku sama kayak laki-laki lainnya.

Naina menghela napas, teringat pada dua laki-laki yang dulu dekat dengannya. Memberinya taburan cinta, untuk kemudian membuangnya begitu saja ketika tahu tentang asal-usul Naina.

"Maaf, Pak. Saya permisi, saya harus kerja lagi," pamit Naina dengan cepat berdiri dan pergi begitu saja meninggalkannya sendirian.

"Eh? Naina!" Sang manager bingung sendiri, ia berbalik menatap tak rela dengan kepergian gadis itu.

"Naina!" kejarnya seraya menarik tangan sang gadis yang tak menggubris panggilannya.

Naina berbalik dengan matanya yang memerah. Menepis tangan yang telah lancang menyentuhnya. Apa yang dia ucapkan mengingatkan ia pada kejadian di mana kehilangan satu sandaran hidup.

"Kamu kenapa? Main pergi aja, aku belum selesai ngomong. Kamu-"

"Maaf, Pak. Saya harus kembali kerja. Permisi!" Naina memilih bungkam, dan langsung berbalik tak peduli pada teriakannya.

Gadis itu berlari dengan cepat mendekap tas berisi bekal Bibi sambil berurai air mata. Alfin yang berada di pinggir jalan, terhenyak mendengar nama Naina disebut. Ia menoleh, dan melihat ke arah dua orang yang semakin berjauhan.

"Naina!" gumamnya lirih.

Pandangan Alfin beralih pada sosok laki-laki yang masih berdiri di depan warung makan sambil menatap kepergian Naina. Dia terlihat bingung, entah apa yang terjadi? Yang pasti Alfin melihat Naina menangis.

Sang manager yang merasa diperhatikan, mengalihkan pandangan pada sosok Alfin di tengah jalan. Raut kebingungan yang tadi diperlihatkan berubah menjadi keras. Dia menyalang tajam pada pemuda yang menjadi penghalang tujuannya.

Kedua tangan sang manager mengepal erat, melengos pergi kembali ke dalam warung untuk membayar tagihan. Alfin bersikap biasa saja, tapi tak senang karena laki-laki itu sudah membuat Naina menangis. Dia harus tahu alasannya.

"Kenapa?" tegur pak ustadz sambil menepuk bahunya.

Alfin tersentak, ia tersenyum kikuk tak tahu harus menyahut apa.

"Nggak ada apa-apa, Pak. Udah selesai jajannya?" Alfin mengalihkan perhatian pada anak-anak yang begitu antusias memilih jajanan.

"Udah, Kak!" sahut mereka kompak.

Alfin mengeluarkan uang dari sakunya, dan mengajak mereka semua kembali ke dalam masjid. Pemuda itu lebih senang berada di masjid, dia bahkan tidak bekerja demi menjaga kebersihan rumah Allah itu.

Naina berlari masuk ke dalam gudang, duduk meringkuk di pojokan. Mendekap tubuhnya sendiri. Dia ingin menangis, hanya ingin sendiri.

Ibu, semua laki-laki itu sama. Mereka semua sama jahatnya, Ibu. Aku butuh bahu Ibu untuk bersandar. Pada siapa aku mengadu di dunia, Ibu?

Naina terisak, menumpahkan kesedihan yang mendalam.

Apa gadis sepertiku memang tak dapat diterima kehadirannya? Ya Allah, sungguh berat ujian dari-Mu. Bagaimana aku bisa menjalaninya sementara satu-satunya sandaran hidupku telah pergi menghadap-Mu. Bagaimana aku bisa menjalani ini semua sendirian, ya Allah.

Tubuh Naina terguncang, lupa akan janjinya yang tak akan pernah menangis lagi. Dia rapuh, hatinya tetap rapuh meskipun berpura-pura tegar.

Sang manager terburu-buru membuka pintu dan mencari keberadaan Naina.

"Naina! Di mana Naina?" Ia menatap semua orang di dalam toko.

"Lho, bukannya Nai sama Bapak tadi?" Penjaga kasir balik bertanya karena secara kebetulan dia tidak melihat Naina masuk.

"Astaga! Dia kembali duluan ke sini. Apa kalian nggak ada yang lihat?" katanya frustasi.

Mereka menggelengkan kepala.

"Sial!"

Terpopuler

Comments

Junida Susilo

Junida Susilo

Lelaki yg menjelekan lelaki lain hanya untuk mencapai tujuan nya, sebenarnya lelaki yang buruk perangai dan prilaku nya, mudah marah kasar banget sih jadi laki laki,naina itu perasaan nya halus mudah tersentuh...dan mudah tersakiti hati nya🥺🥺

2023-01-11

0

Ratna Suhartatik

Ratna Suhartatik

belum jadi suami aja udah kasar gmna tar jd suami..ih ngeri

2023-01-11

1

Ati Nurhayati

Ati Nurhayati

Alfin..buruan dong garcep💕💕💕

2023-01-11

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23 Rahasia Besar Alfin
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35 Pertemuan Tak Terduga
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60 Kedatangan Seseorang
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86 Meluluhkan Aminah
87 Bab 87
88 Bab 88 Kemarahan Alfin
89 Bab 89 Pengorbanan Naina I
90 Bab 90 Pengorbanan Naina II
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
156 Bab 156
157 Bab 157
158 Bab 158
159 Bab 159
160 Bab 160
161 Bab 161
162 Bab 162
163 Bab 163
164 Bab 164
165 Bab 165
166 Bab 166
167 Bab 167
168 Bab 168
169 Bab 169
170 Bab 170
171 Bab 171
172 Bab 172
173 Bab 173
174 Bab 174
175 Bab 175
176 Bab 176
177 Bab 177
178 Bab 178
179 Bab 179
180 Bab 180
Episodes

Updated 180 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23 Rahasia Besar Alfin
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35 Pertemuan Tak Terduga
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60 Kedatangan Seseorang
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86 Meluluhkan Aminah
87
Bab 87
88
Bab 88 Kemarahan Alfin
89
Bab 89 Pengorbanan Naina I
90
Bab 90 Pengorbanan Naina II
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155
156
Bab 156
157
Bab 157
158
Bab 158
159
Bab 159
160
Bab 160
161
Bab 161
162
Bab 162
163
Bab 163
164
Bab 164
165
Bab 165
166
Bab 166
167
Bab 167
168
Bab 168
169
Bab 169
170
Bab 170
171
Bab 171
172
Bab 172
173
Bab 173
174
Bab 174
175
Bab 175
176
Bab 176
177
Bab 177
178
Bab 178
179
Bab 179
180
Bab 180

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!