Bab 3

Di dalam ruangan yang dipenuhi dengan peralatan medis, juga beberapa pasien dengan sekat masing-masing, Naina mendatangi ranjang di mana Lita berada. Wanita itu bernapas dibantu selang oksigen, infus terpasang di tangan kiri, terpejam dengan damai, dada naik dan turun dengan berat.

Naina mengusap air mata, menahan tangisnya. Dia tidak boleh terlihat lemah, dia harus menjadi kekuatan untuk wanita yang tak berdaya di sana.

Ia berdiri di sisi ranjang Lita, menatap dengan hati yang sakit melihat kondisi tubuh dari wanita paruh baya itu. Tubuh kurus tinggal tulang yang dibalut kulit, tak lagi dapat dibanggakan seperti saat muda dulu.

Naina duduk di kursi samping ranjang, meraih tangan Lita dan menggenggamnya dengan hangat. Ditempelkannya tangan itu ke pipi, seraya dikecupnya cukup lama untuk merasai kasih sayang yang dilimpahkan Lita padanya.

Lita membuka mata, menatap putri satu-satunya yang tampak cantik seiring waktu mendewasakan.

"Gimana perasaan Ibu? Udah baikan?" tanya Naina bergetar menahan tangis.

Lita tersenyum, mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari wajah cantik sang putri. Genggaman tangan mereka menguat, perasaan pun membuncah, ketakutan muncul menyerang.

"Kenapa, Bu? Ada apa?" tanya Naina lagi ketika Lita hanya diam dan terus menatap wajahnya.

Lita mengeluarkan sesuatu dari kepalan tangan yang lain, memberikannya kepada Naina. Secarik kertas yang bertuliskan sebuah alamat.

"Alamat siapa ini, Bu?" tanya Naina setelah membaca deretan huruf di permukaannya.

"I-itu alamat paman dan bibi kamu. Kalo Ibu nanti nggak ada, pergilah ke sana. Tinggal sama mereka. Mereka nggak punya anak, dan mereka orang yang baik," ucap Lita nyaris seperti bisikan.

"Paman dan bibi?" Naina bergumam dengan kerutan di dahi. Pasalnya, dia tak pernah tahu jika masih memiliki keluarga lain selain Lita.

"Iya, Nak. Ibu akan tenang kalo kamu tinggal sama mereka. Ibu ngantuk, Ibu mau tidur dulu. Bismillahirrahmanirrahim," jawab Lita lagi seraya memejamkan mata karena rasa kantuk datang melanda.

Naina menyimpan kertas tersebut di sakunya, mengusap dahi Lita yang berkeringat banyak. Dikecupnya kedua pipi sang ibu, kemudian duduk kembali menunggui.

"Bu! Apa Ibu udah tidur? Nai mau tanya sesuatu sama Ibu," ucap Naina sembari mengguncang tubuh Lita dengan pelan.

Kelopak itu kembali terbuka, menunggu pertanyaan darinya.

"Apa Ibu tahu, siapa ayah biologis Nai?" tanyanya ingin tahu meskipun percuma.

Lita tersenyum, kembali mengangguk pelan menjawab pertanyaan Naina.

"Yang sabar, ya, Nak. Perjalanan hidup nggak selamanya mudah dilalui. Kamu orang-orang pilihan yang harus berjalan di atas rasa sabar. Hinaan, cacian, makian, semua yang mereka lakukan sama kamu anggap sebagai batu pijakan untuk menuju hidup lebih baik lagi. Dengerin Ibu, Nak. Jangan dengerin orang lain. Kamu anak yang istimewa, jangan pernah merasa jadi orang paling rendah di muka bumi. Kamu istimewa ... istimewa."

Lita berdesis setelah menuntaskan kalimatnya, terpejam sembari menghela napas panjang. Kalimat thoyibah menguar lirih dari sela-sela bibirnya yang nyaris terkatup. Semakin lama semakin tak jelas.

"Ibu, Ibu kenapa? Jangan nakut-nakutin Nai, Bu." Naina gemetar panik.

Ia menoleh kian kemari mencari siapa saja untuk membantu. Lita menarik tangannya ketika Naina hendak beranjak.

"Ajal itu pasti, Nak. Semua makhluk yang bernapas pasti akan bertemu dengan ajalnya. Inilah waktu Ibu ... Allah ... Naina anak yang kuat, Naina anak yang baik. Argh ... ya Allah."

Napas Lita semakin berat dan sesak, genggaman tangannya menguat seolah-olah ingin berbagi rasa sakit yang sedang dirasakannya.

"Ibu. Jangan tinggalin Nai. Nai nggak mau Ibu pergi tinggalin Nai, Bu. Nai sama siapa kalo Ibu pergi. Jangan pergi, Bu!" Naina memeluk tubuh Lita. Menumpahkan tangisan mendalam, ketakutan itu akhirnya datang. Perpisahan tak terelakan.

Tautan tangan mereka yang menguat beberapa saat lamanya, perlahan mengendur dan tangan Lita jatuh terkulai. Naina panik dan takut, ia beranjak dari tubuh Lita dengan perasaan tak menentu. Matanya tak henti berkedip, napas semakin kuat memburu.

"IBU!" jeritnya cukup kuat, mengundang perhatian semua orang.

Para tenaga medis berdatangan, dengan cepat menangani Lita.

"IBU! JANGAN PERGI! JANGAN TINGGALIN NAI, BU!" Suara Naina cukup lantang, ia jatuh tersungkur menabrak sebuah kursi roda ketika seorang petugas medis mendorongnya menjauh.

Tirai ditutup, menghalangi pandangan Naina dari menatap sang ibu. Ia tak berdaya, bahkan untuk bangkit pun rasanya tak mampu. Hilang kekuatannya, hilang sandaran hidupnya, pada siapa lagi dia akan mengadu tentang mereka yang selalu merendahkannya.

Pada siapa lagi dia akan berlabuh ketika hidup terus menerus membuatnya lelah. Ibu, satu sandaran kokoh telah hilang dan tak akan pernah ia temukan lagi. Seperti si Buta yang kehilangan tongkat dan tak dapat melakukan apapun.

"IBU!" Naina meremas udara, menyesali ketidakberdayaannya.

Seira dan kedua anaknya yang menunggu di luar, tersentak ketika mendengar suara jeritan Naina. Mereka menerobos masuk dan mendapati gadis itu sedang duduk di lantai sambil menangis.

"Naina! Ya Allah!" pekik Seira bergegas mendatanginya.

Ia memeluk gadis itu dan membantunya untuk beranjak.

"Ibu ... Ibu ... Ibu mau pergi tinggalin Nai. Ibu juga mau pergi, Bu. Tolong bilang sama Ibu jangan pergi. Jangan tinggalin Nai sendiri. Tolong bilang sama Ibu, Bu," ratap gadis itu sembari memohon kepada Seira.

Melihat air matanya yang terus jatuh, Seira tak mampu menahan tangis. Ia memeluk tubuh Naina dengan erat. Teringat pada saat dia kecil dulu, memohon maaf untuk Lita.

"Bilang sama Ibu jangan pergi. Rayan, Fathya, tolong pinta Ibu jangan pergi. Ibu nggak boleh pergi tinggalin Kakak. Ibu nggak boleh pergi!"

Fathya memalingkan wajah, membenamkannya di dada Rayan. Menyembunyikan tangis karena tak kuasa melihat Naina yang terus memohon. Pemuda itu pun terguncang, kali ini ia tak berdaya karena tak dapat melakukan apapun untuk mencegah kematian yang datang.

"Udah, sayang. Udah. Nai harus kuat, ya. Nai nggak boleh lemah kayak gini. Ibu pasti nggak akan senang kalo Nai jadi lemah kayak gini," ucap Seira menenangkan.

Ia mengurai pelukan, mengusap wajah Naina yang basah. Gadis itu tak henti menangis, merasa dipermainkan takdir. Satu per satu orang-orang yang disayanginya pergi. Meninggalkan dia sendiri.

"Ibu ... jangan tinggalin Nai, Bu." Dia terus meracau mencegah kepergian Lita.

Tirai dibuka, mereka melihat dengan jelas seorang petugas medis menutup tubuh Lita dengan kain putih.

"IBU! NGGAK! IBU NGGAK BOLEH MATI! IBU NGGAK BOLEH MATI!" teriak Naina sembari berlari mendekati ranjang Lita dan memeluk jasad yang telah terbujur kaku itu.

Ia menggelengkan kepala, menolak takdir perpisahan. Rayan sungguh tak tega, pemuda itu bergegas keluar setelah melepas pelukan Fathya. Tak kuasa berada di dalam ruangan yang membuatnya lemah tak berdaya.

"Kakak!" Fathya menyusul keluar.

Sementara Seira, mendekati Naina yang menangisi jasad Lita. Mengusap punggung gadis itu, menatap wajah damai seorang sahabat yang pernah menjadi musuhnya dalam selimut.

"Innaa lillaahi wa Inna ilaihi raaji'uun. Semuanya datang dari Allah, dan akan kembali kepada-Nya. Ajal adalah sesuatu yang pasti, dan tidak dapat ditolak datangnya."

Mendengar kalimat Seira, tangis Naina perlahan mereda. Mulai beranjak dari tubuh Lita yang terbujur. Air mata tak henti mengalir, terus menetes menjatuhi selimut yang menutupi tubuh itu.

"Nai, jangan memberatkan kepergian Ibu menghadap Allah, Nak. Dengan kamu yang terus menerus menangis, langkah Ibu menuju sisi Tuhan menjadi berat. Ikhlaskan, Naina. Ikhlas, karena kematian tidak dapat ditolak dengan obat," ucap Seira memberi pengertian kepada Naina.

Gadis itu terus meratap, memandangi wajah sang ibu dengan lekat. Biarlah untuk terakhir kali sebelum jasad itu berkalang tanah.

****

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS. Al-A'raaf:34).

Terpopuler

Comments

Suhaja Uke

Suhaja Uke

uuffffff,,,,yg naroh bawang dsni sapa yaa😭😭

2023-04-17

0

Ashry Huda Huda

Ashry Huda Huda

thor tdix aku sangsi yg mn crta aku yg kau buang lupa2 ingat lama2 tk bc sampai bwah oh akhirx ktmu jg sukses sllu thor karyamu emng the best

2023-03-09

1

ruswandi jayanegara

ruswandi jayanegara

lama gk baca karya aisy hilyah sekali nya baca langsung 😭😭😭😭

2023-02-26

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23 Rahasia Besar Alfin
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35 Pertemuan Tak Terduga
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60 Kedatangan Seseorang
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86 Meluluhkan Aminah
87 Bab 87
88 Bab 88 Kemarahan Alfin
89 Bab 89 Pengorbanan Naina I
90 Bab 90 Pengorbanan Naina II
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
156 Bab 156
157 Bab 157
158 Bab 158
159 Bab 159
160 Bab 160
161 Bab 161
162 Bab 162
163 Bab 163
164 Bab 164
165 Bab 165
166 Bab 166
167 Bab 167
168 Bab 168
169 Bab 169
170 Bab 170
171 Bab 171
172 Bab 172
173 Bab 173
174 Bab 174
175 Bab 175
176 Bab 176
177 Bab 177
178 Bab 178
179 Bab 179
180 Bab 180
Episodes

Updated 180 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23 Rahasia Besar Alfin
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35 Pertemuan Tak Terduga
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60 Kedatangan Seseorang
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86 Meluluhkan Aminah
87
Bab 87
88
Bab 88 Kemarahan Alfin
89
Bab 89 Pengorbanan Naina I
90
Bab 90 Pengorbanan Naina II
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155
156
Bab 156
157
Bab 157
158
Bab 158
159
Bab 159
160
Bab 160
161
Bab 161
162
Bab 162
163
Bab 163
164
Bab 164
165
Bab 165
166
Bab 166
167
Bab 167
168
Bab 168
169
Bab 169
170
Bab 170
171
Bab 171
172
Bab 172
173
Bab 173
174
Bab 174
175
Bab 175
176
Bab 176
177
Bab 177
178
Bab 178
179
Bab 179
180
Bab 180

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!