Di dalam ruangan yang dipenuhi dengan peralatan medis, juga beberapa pasien dengan sekat masing-masing, Naina mendatangi ranjang di mana Lita berada. Wanita itu bernapas dibantu selang oksigen, infus terpasang di tangan kiri, terpejam dengan damai, dada naik dan turun dengan berat.
Naina mengusap air mata, menahan tangisnya. Dia tidak boleh terlihat lemah, dia harus menjadi kekuatan untuk wanita yang tak berdaya di sana.
Ia berdiri di sisi ranjang Lita, menatap dengan hati yang sakit melihat kondisi tubuh dari wanita paruh baya itu. Tubuh kurus tinggal tulang yang dibalut kulit, tak lagi dapat dibanggakan seperti saat muda dulu.
Naina duduk di kursi samping ranjang, meraih tangan Lita dan menggenggamnya dengan hangat. Ditempelkannya tangan itu ke pipi, seraya dikecupnya cukup lama untuk merasai kasih sayang yang dilimpahkan Lita padanya.
Lita membuka mata, menatap putri satu-satunya yang tampak cantik seiring waktu mendewasakan.
"Gimana perasaan Ibu? Udah baikan?" tanya Naina bergetar menahan tangis.
Lita tersenyum, mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari wajah cantik sang putri. Genggaman tangan mereka menguat, perasaan pun membuncah, ketakutan muncul menyerang.
"Kenapa, Bu? Ada apa?" tanya Naina lagi ketika Lita hanya diam dan terus menatap wajahnya.
Lita mengeluarkan sesuatu dari kepalan tangan yang lain, memberikannya kepada Naina. Secarik kertas yang bertuliskan sebuah alamat.
"Alamat siapa ini, Bu?" tanya Naina setelah membaca deretan huruf di permukaannya.
"I-itu alamat paman dan bibi kamu. Kalo Ibu nanti nggak ada, pergilah ke sana. Tinggal sama mereka. Mereka nggak punya anak, dan mereka orang yang baik," ucap Lita nyaris seperti bisikan.
"Paman dan bibi?" Naina bergumam dengan kerutan di dahi. Pasalnya, dia tak pernah tahu jika masih memiliki keluarga lain selain Lita.
"Iya, Nak. Ibu akan tenang kalo kamu tinggal sama mereka. Ibu ngantuk, Ibu mau tidur dulu. Bismillahirrahmanirrahim," jawab Lita lagi seraya memejamkan mata karena rasa kantuk datang melanda.
Naina menyimpan kertas tersebut di sakunya, mengusap dahi Lita yang berkeringat banyak. Dikecupnya kedua pipi sang ibu, kemudian duduk kembali menunggui.
"Bu! Apa Ibu udah tidur? Nai mau tanya sesuatu sama Ibu," ucap Naina sembari mengguncang tubuh Lita dengan pelan.
Kelopak itu kembali terbuka, menunggu pertanyaan darinya.
"Apa Ibu tahu, siapa ayah biologis Nai?" tanyanya ingin tahu meskipun percuma.
Lita tersenyum, kembali mengangguk pelan menjawab pertanyaan Naina.
"Yang sabar, ya, Nak. Perjalanan hidup nggak selamanya mudah dilalui. Kamu orang-orang pilihan yang harus berjalan di atas rasa sabar. Hinaan, cacian, makian, semua yang mereka lakukan sama kamu anggap sebagai batu pijakan untuk menuju hidup lebih baik lagi. Dengerin Ibu, Nak. Jangan dengerin orang lain. Kamu anak yang istimewa, jangan pernah merasa jadi orang paling rendah di muka bumi. Kamu istimewa ... istimewa."
Lita berdesis setelah menuntaskan kalimatnya, terpejam sembari menghela napas panjang. Kalimat thoyibah menguar lirih dari sela-sela bibirnya yang nyaris terkatup. Semakin lama semakin tak jelas.
"Ibu, Ibu kenapa? Jangan nakut-nakutin Nai, Bu." Naina gemetar panik.
Ia menoleh kian kemari mencari siapa saja untuk membantu. Lita menarik tangannya ketika Naina hendak beranjak.
"Ajal itu pasti, Nak. Semua makhluk yang bernapas pasti akan bertemu dengan ajalnya. Inilah waktu Ibu ... Allah ... Naina anak yang kuat, Naina anak yang baik. Argh ... ya Allah."
Napas Lita semakin berat dan sesak, genggaman tangannya menguat seolah-olah ingin berbagi rasa sakit yang sedang dirasakannya.
"Ibu. Jangan tinggalin Nai. Nai nggak mau Ibu pergi tinggalin Nai, Bu. Nai sama siapa kalo Ibu pergi. Jangan pergi, Bu!" Naina memeluk tubuh Lita. Menumpahkan tangisan mendalam, ketakutan itu akhirnya datang. Perpisahan tak terelakan.
Tautan tangan mereka yang menguat beberapa saat lamanya, perlahan mengendur dan tangan Lita jatuh terkulai. Naina panik dan takut, ia beranjak dari tubuh Lita dengan perasaan tak menentu. Matanya tak henti berkedip, napas semakin kuat memburu.
"IBU!" jeritnya cukup kuat, mengundang perhatian semua orang.
Para tenaga medis berdatangan, dengan cepat menangani Lita.
"IBU! JANGAN PERGI! JANGAN TINGGALIN NAI, BU!" Suara Naina cukup lantang, ia jatuh tersungkur menabrak sebuah kursi roda ketika seorang petugas medis mendorongnya menjauh.
Tirai ditutup, menghalangi pandangan Naina dari menatap sang ibu. Ia tak berdaya, bahkan untuk bangkit pun rasanya tak mampu. Hilang kekuatannya, hilang sandaran hidupnya, pada siapa lagi dia akan mengadu tentang mereka yang selalu merendahkannya.
Pada siapa lagi dia akan berlabuh ketika hidup terus menerus membuatnya lelah. Ibu, satu sandaran kokoh telah hilang dan tak akan pernah ia temukan lagi. Seperti si Buta yang kehilangan tongkat dan tak dapat melakukan apapun.
"IBU!" Naina meremas udara, menyesali ketidakberdayaannya.
Seira dan kedua anaknya yang menunggu di luar, tersentak ketika mendengar suara jeritan Naina. Mereka menerobos masuk dan mendapati gadis itu sedang duduk di lantai sambil menangis.
"Naina! Ya Allah!" pekik Seira bergegas mendatanginya.
Ia memeluk gadis itu dan membantunya untuk beranjak.
"Ibu ... Ibu ... Ibu mau pergi tinggalin Nai. Ibu juga mau pergi, Bu. Tolong bilang sama Ibu jangan pergi. Jangan tinggalin Nai sendiri. Tolong bilang sama Ibu, Bu," ratap gadis itu sembari memohon kepada Seira.
Melihat air matanya yang terus jatuh, Seira tak mampu menahan tangis. Ia memeluk tubuh Naina dengan erat. Teringat pada saat dia kecil dulu, memohon maaf untuk Lita.
"Bilang sama Ibu jangan pergi. Rayan, Fathya, tolong pinta Ibu jangan pergi. Ibu nggak boleh pergi tinggalin Kakak. Ibu nggak boleh pergi!"
Fathya memalingkan wajah, membenamkannya di dada Rayan. Menyembunyikan tangis karena tak kuasa melihat Naina yang terus memohon. Pemuda itu pun terguncang, kali ini ia tak berdaya karena tak dapat melakukan apapun untuk mencegah kematian yang datang.
"Udah, sayang. Udah. Nai harus kuat, ya. Nai nggak boleh lemah kayak gini. Ibu pasti nggak akan senang kalo Nai jadi lemah kayak gini," ucap Seira menenangkan.
Ia mengurai pelukan, mengusap wajah Naina yang basah. Gadis itu tak henti menangis, merasa dipermainkan takdir. Satu per satu orang-orang yang disayanginya pergi. Meninggalkan dia sendiri.
"Ibu ... jangan tinggalin Nai, Bu." Dia terus meracau mencegah kepergian Lita.
Tirai dibuka, mereka melihat dengan jelas seorang petugas medis menutup tubuh Lita dengan kain putih.
"IBU! NGGAK! IBU NGGAK BOLEH MATI! IBU NGGAK BOLEH MATI!" teriak Naina sembari berlari mendekati ranjang Lita dan memeluk jasad yang telah terbujur kaku itu.
Ia menggelengkan kepala, menolak takdir perpisahan. Rayan sungguh tak tega, pemuda itu bergegas keluar setelah melepas pelukan Fathya. Tak kuasa berada di dalam ruangan yang membuatnya lemah tak berdaya.
"Kakak!" Fathya menyusul keluar.
Sementara Seira, mendekati Naina yang menangisi jasad Lita. Mengusap punggung gadis itu, menatap wajah damai seorang sahabat yang pernah menjadi musuhnya dalam selimut.
"Innaa lillaahi wa Inna ilaihi raaji'uun. Semuanya datang dari Allah, dan akan kembali kepada-Nya. Ajal adalah sesuatu yang pasti, dan tidak dapat ditolak datangnya."
Mendengar kalimat Seira, tangis Naina perlahan mereda. Mulai beranjak dari tubuh Lita yang terbujur. Air mata tak henti mengalir, terus menetes menjatuhi selimut yang menutupi tubuh itu.
"Nai, jangan memberatkan kepergian Ibu menghadap Allah, Nak. Dengan kamu yang terus menerus menangis, langkah Ibu menuju sisi Tuhan menjadi berat. Ikhlaskan, Naina. Ikhlas, karena kematian tidak dapat ditolak dengan obat," ucap Seira memberi pengertian kepada Naina.
Gadis itu terus meratap, memandangi wajah sang ibu dengan lekat. Biarlah untuk terakhir kali sebelum jasad itu berkalang tanah.
****
“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS. Al-A'raaf:34).
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
Suhaja Uke
uuffffff,,,,yg naroh bawang dsni sapa yaa😭😭
2023-04-17
0
Ashry Huda Huda
thor tdix aku sangsi yg mn crta aku yg kau buang lupa2 ingat lama2 tk bc sampai bwah oh akhirx ktmu jg sukses sllu thor karyamu emng the best
2023-03-09
1
ruswandi jayanegara
lama gk baca karya aisy hilyah sekali nya baca langsung 😭😭😭😭
2023-02-26
1