Beberapa hari tinggal di rumah paman dan bibi, Naina yang belum terbiasa masih mengurung diri di dalam rumah. Menimang ijazah di tangan, sebuah sertifikat kelulusan dengan nilai terbaik di sekolah Menengah Atas.
Ia menghela napas, menjatuhkan tubuh di kasur kembali. Selembar foto dirinya bersama sang ibu, terjatuh dari selipan buku yang dipegang. Gambar yang akan menemani perjalanan hidupnya di dunia ini.
"Ibu, doakan Nai. Hari ini Nai mau ngelamar pekerjaan. Mudah-mudahan bisa cepat dapet kerjaan supaya nggak nyusahin paman sama bibi," gumamnya sembari tersenyum.
Disapunya gambar tersebut dengan ibu jari, di sanalah ia menggantungkan segala asa.
"Nai! Makan dulu, atuh. Ini Bibi udah siapin," teriak Bibi dari dapur.
Naina memanjangkan leher untuk menjawab panggilan sang bibi, "Iya, Bi. Sebentar."
Ia menyimpan berkas-berkas tadi, juga foto mereka ke dalam lemari kecil yang disiapkan bibi. Lalu, beranjak sambil mengikat rambutnya menuju dapur. Makanan yang berbau khas, menyeruak memenuhi indera pembaunya.
"Wah, masakan apa ini, Bi?" pekiknya dengan binar di kedua mata.
"Ini soto mie namanya. Ayo, makan nanti keburu dingin," ujar Bibi sembari menyerahkan piring kepada Naina.
Berselang, paman Naina yang baru saja pulang bekerja ikut duduk di meja makan. Ia terlihat lesu, keringat masih memenuhi wajah. Pakaiannya basah menandakan betapa kerasnya dia bekerja.
"Gimana kerjaannya, Pak?" tanya Sumiyati pada suaminya.
"Alhamdulillah, lancar. Oya, Bu. Di sekitar sini ada yang mau ngelamar kerja nggak, ya? Itu minimarket di seberang masjid tempat Bapak kerja itu udah selesai dibangun. Pasti butuh karyawan," tanya Asep, paman Naina.
Mendengar itu, Naina menghentikan mengunyah makanan. Ia meletakkan sendok di piring menatap pamannya yang sedang menyeruput es.
"Nai mau, Paman. Nai bisa, kok, jadi kasir. Bisa nggak Nai ngelamar di situ. Yah, ijazah Nai cuma lulusan SMA, sih," ucap Naina menatap penuh harap pada laki-laki itu.
Sang Paman meliriknya dari balik gelas, kemudian menaruh benda tersebut di meja. Ia menghela napas panjang, mendengar keinginan gadis remaja itu.
"Buat apa kamu kerja? Ibu kamu minta kamu datang ke sini bukan buat kerja. Udah, kamu di rumah aja. Pikirin sekolah kamu, jangan pikirin cari duit. Biar Paman aja yang kerja," sahut Asep menolak keinginan Naina untuk bekerja.
Naina cemberut tak senang, ia tampak kecewa. Kedatangannya ke rumah tersebut bukan untuk berleha-leha, dia bahkan tidak berniat melanjutkan sekolah apalagi sampai menyusahkan kedua paruh baya itu.
"Bukan maksud Paman melarang kamu bekerja, Nak, tapi sebaiknya kamu lanjutin sekolah dulu. Nanti kalo sekolah kamu udah selesai, baru kamu boleh kerja. Di mana pun kamu mau, ya," timpal Bibi sambil membelai rambut Naina dengan lembut.
Gadis itu menunduk, mereka terlalu baik untuk dibuat repot oleh kehadirannya. Beberapa saat terdiam, Naina mengangkat wajah menatap mereka. Matanya memancar penuh tekad.
"Paman, Bibi, Nai nggak berniat melanjutkan sekolah. Nai juga nggak mau buat kalian repot karena harus ngurusin Nai. Makanya, Nai mau kerja aja. Lagian Paman sama Bibi udah sepuh, udah nggak seharusnya kerja berat. Biar Nai yang kerja, Paman kerjain yang ringan-ringan aja. Ini bukan permintaan, tapi ini kemauan Naina sendiri," ungkapnya sembari memegang tangan sang bibi dengan hangat.
Bibirnya tersenyum tulus, ia tampak ikhlas mengatakan kemauannya. Kedua paruh baya itu saling menatap satu sama lain, hati mereka terharu dengan tekad yang terpancar dari kedua matanya.
Sumiyati beralih pada Naina, membelai rambut panjang anak Lita itu dengan penuh kasih.
"Apa kamu yakin sama keputusan kamu ini? Nggak akan nyesel?" tanya Sumiyati memastikan keputusan yang diambil Naina.
Gadis itu mengangguk, tersenyum tanpa beban. Ini adalah keinginan yang tidak dipaksa keadaan. Kemalasan bukanlah sifat seorang Naina yang sejak kecil sudah merasakan getirnya kehidupan.
"Aku yakin. Paman sama Bibi nggak usah khawatir. Aku nggak akan menyesali keputusan aku ini," jawab Naina bersungguh-sungguh.
Bibi membungkuk, mengecup dahinya dengan lembut. Mereka menganggap Naina seperti anak mereka sendiri. Ia anak yang rajin, senang membantu dan mandiri tentunya.
"Ya udah, besok Paman bawa berkasnya. Minggu depan minimarket itu udah mulai beroperasi. Mudah-mudahan kamu keterima kerja di sana, ya," ucap Asep pada akhirnya menyetujui keinginan Naina berkerja.
Gadis itu berdiri, memeluk Paman dan Bibi sambil mengucapkan terima kasih. Bertekad dalam hati, akan bekerja dengan giat dan tidak bermalas-malasan.
****
Di Jakarta, Rayan tercenung memikirkan Naina. Ia duduk di taman kampus bersama seorang teman, tapi pikirannya jauh mengawang mencemaskan keadaan kakaknya itu.
"Mudah-mudahan, hidupnya lebih baik di sana. Bertemu dengan laki-laki baik yang bisa menerima dia apa adanya," gumam Rayan penuh harap.
"Woy!" Teman yang duduk bersamanya menyenggol bahu Rayan, mengejutkannya karena tanpa sadar bergumam sendirian.
"Ngomong sendiri aja kayak orang nggak waras," ejeknya sambil cengengesan.
Rayan tersenyum, melengos dari tatapan curiga temannya. Tak berniat memberitahu perihal Naina yang telah berpindah tempat tinggal.
"Udah, ah. Jangan mau tahu. Yuk!" ajaknya seraya berdiri hendak memasuki kelas.
Namun, kehadiran sosok seorang gadis mengalihkan tujuan. Ia berpamitan pada temannya dan pergi menemui Rani yang berdiri di gerbang kampus. Gadis itu mengenakan seragam kuliahnya, dia seorang mahasiswi kedokteran yang berbakat.
Pihak rumah sakit terkadang membutuhkan bantuannya ketika mereka kekurangan tenaga medis.
"Rani! Kamu ngapain di sini? Emang nggak kerja?" tanya Rayan setelah berada di hadapan gadis itu.
"Kerja, kerja. Emang siapa yang udah kerja?" Rani tertawa kecil, Rayan selalu berbicara seperti itu padanya.
"Kemarin, kamu dipanggil dokter waktu di rumah sakit. Itu apa namanya kalo bukan kerja," ingat Raja saat membawa Lita ke rumah sakit kemarin.
"Ya, calon dokter maksudnya. Aamiin." Keduanya tertawa terlihat bahagia.
"Kamu udah selesai kuliahnya?" tanya Rani berharap bisa pergi bersama hari itu.
Rayan menghendikan bahu, memperlihatkan buku di tangan bahwa ia masih ada kelas.
"Abis dzuhur, ya. Tunggu aja di rumah, nanti aku jemput," janji Rayan pada putri Jago itu.
"Ok." Rani berbalik pergi, masuk ke dalam mobilnya sendiri.
Berharap Dzuhur akan segera tiba dan berlalu dengan sempurna. Rayan melambaikan tangan melepas kepergian mobil Rani. Ia tersenyum manis, rona merah menyembul di kedua pipinya.
Selalu ada bahagia setiap kali mereka bisa bertemu karena Rani jarang sekali mendapatkan hari libur untuk dapat bersama dengannya.
****
"Mah, gimana kabar kak Naina, ya? Apa kakak di sana betah? Siapa yang nemenin kakak nantinya?" tanya Fathya pada Seira.
Keduanya sedang menghabiskan waktu bersama di teras belakang rumah menunggu waktu berlalu.
"Yah, doain aja. Semoga kak Naina menemukan kebahagiaan di mana pun berada," sahut Seira sembari mengusap rambut putrinya.
"Aamiin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
Pira Nofrianti
Mayang sama raja salah masuk kamar ni kk🤣🤣🙏
2023-01-30
2
Junida Susilo
kerja part time kan bisa sambil melanjutkan kuliah,biar kedepannya bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik 🤗
2023-01-06
3
Enok Wahyu.S GM Surabaya
Ditunggu nextnya ya Thor 🤗🥰
2023-01-06
2