Bab 4

Merantaulah, niscaya akan kau dapatkan pengganti bagi orang yang kau tinggalkan. Berusahalah, karena nikmatnya hidup itu ada dalam usaha.

Sesungguhnya aku melihat diamnya air itu membuatnya menjadi buruk. Air menjadi baik jika mengalir, dan menjadi buruk jika menggenang.

Singa jika tidak keluar dari semak-semak, takkan mendapatkan mangsa.

Demikian pula anak panah, jika tidak melesat dari busurnya, takkan mengenai sasaran.

(Imam Asy-Syafi'i).

****

Gadis itu masih menangis di hadapan gundukan merah yang baru saja mengubur sang ibu. Di samping makam Zafran, Lita dikuburkan. Air matanya terus menetes menjatuhi pusara Lita.

Naina mendekap nisannya, meratapi nasibnya yang entah akan seperti apa setelah kepergian sang ibu.

Kenapa Ibu juga pergi begitu cepat? Nai belum siap kehilangan Ibu. Nai masih butuh Ibu. Kenapa takdir ini begitu kejam terhadap Nai, Bu? Dia merenggut satu per satu orang yang Nai sayang. Nenek, Ayah, terus sekarang Ibu juga pergi ninggalin Nai sendiri.

Batin Naina meratap pilu.

Fathya memeluk tubuh Rayan, membenamkan wajah di dada bidang sang kakak. Begitu pula dengan Seira, kepergian Lita meninggalkan kesedihan mendalam di hati mereka.

Walaupun kamu pernah ngerusak kehidupan aku sampai aku benci sama kamu, tapi kamu tetap teman aku, Lita. Kamu temen aku yang baik. Aku udah maafin semua kesalahan kamu. Tenanglah kamu di sana, semoga mendapat tempat terbaik di sisi Allah.

Seira bergumam, berdoa tulus untuk kemudahan perjalanan Lita menuju sisi Tuhan. Sungguh tiada lagi dendam, apalagi kebencian. Meski luka itu tetap ada, dan akan terkenang bila diingatkan. Akan tetapi, semua sudah berlalu dan Lita sudah menyesali semuanya.

Fatih memeluk tubuh berguncang sang istri, betapa mengerti akan kesedihan yang dirasakan hatinya. Terlebih saat melihat Naina yang hidup sendirian setelah ini.

Gadis kecil yang kini sudah tumbuh dewasa, gadis yang tangguh. Bertubi-tubi menghadapi masalah, dia tetap tegar berdiri di atas kakinya sendiri.

Seorang gadis lainnya berjongkok di dekat Naina, mengusap punggung anak Lita itu menyalurkan kekuatan.

"Udah, Nai. Ini udah sore. Sebaiknya kita kembali, ya. Nggak baik terus menerus menangisi orang yang udah pergi. Ikhlasin, Nai. Semua ini sudah kehendak Allah," ucapnya dengan bijak.

Naina perlahan beranjak, menatap tulisan pada batu nisan dan mengusapnya. Sungguh tak rela meninggalkan Lita sendirian di dalam kubur.

"Nai pasti kuat, Bu. Nai janji sama Ibu nggak akan jadi gadis yang cengeng. Nai nggak akan jadi gadis yang lemah walaupun seluruh dunia mencaci Nai. Nai anak Ibu yang kuat. Ibu yang tenang di sisi Allah, Nai akan selalu kirim doa buat Ibu," ungkap Naina penuh tekad.

Ia mengusap air matanya, menyudahi kesedihan. Perlahan mengangkat kedua sudut bibir ke atas membentuk sebuah senyuman.

"Selamat tinggal, Ibu. Nai pasti akan datang jengukin Ibu," ucapnya seraya berdiri diikuti temannya tadi.

Naina berbalik dan menatap Seira yang berada dalam pelukan Fatih juga Fathya dan Rayan yang terlihat berduka atas kepergian Lita. Naina tersenyum seraya mendekat.

"Nai, mau pergi ke rumah paman. Ibu minta Nai untuk tinggal di sana. Makasih karena Ibu udah baik sama Nai, padahal dulu ibu Nai begitu jahat. Nai minta maaf atas nama ibu," ucap Naina terdengar lebih tegar dari sebelumnya.

Seira menggeleng, menjauh dari tubuh Fatih dan memeluk gadis itu. Menumpahkan kesedihan di hatinya atas semua yang dilakukan Naina untuk Lita.

"Nggak apa-apa, sayang. Ibu udah maafin semua kesalahan ibu kamu. Nggak usah diingat-ingat lagi, kita doakan saja semoga ibu mendapat tempat terbaik di sisi Allah." Seira mengusap rambutnya dengan lembut.

Naina memejamkan mata, membalas pelukan hangat wanita itu. Air matanya kembali menetes, tapi ia seka dengan cepat bila mengingat janjinya kepada Lita.

"Kakak, kenapa Kakak harus pergi? Kenapa nggak tinggal sama kita aja? Mamah, Papah, biarin Kak Nai tinggal sama kita." Fathya bersuara mengungkapkan isi hatinya.

Ia mendekati Fatih, memohon lewat sorot matanya. Laki-laki itu mengusap pipi sang putri, tersenyum penuh haru.

"Ayah nggak bisa maksa seseorang untuk menuruti keinginan Ayah. Semua itu hak Naina, akan tinggal di mana dan dengan siapa. Yang penting dia bahagia," ungkap Fatih sejujurnya.

Fathya tidak bisa menerima, dia bersikeras walau hanya di dalam hati. Naina mengurai pelukan, menatap gadis remaja yang selalu bermanja padanya itu.

"Bukannya Kakak nggak mau, tapi Kakak cuma mau menunaikan amanat dari ibu Kakak. Ibu meminta Kakak untuk pergi ke rumah paman, karena mereka nggak punya anak. Jadi, maafin Kakak, ya. Karena nggak bisa menuhin keinginan kamu," ucap Naina sembari tersenyum meski hati getir terluka.

Fathya mendekat, memeluk tubuh gadis itu.

"Tapi Kakak janji nggak akan lupain aku. Kakak juga harus selalu kasih kabar aku," pintanya tak rela.

Naina terenyuh, kemudian mengecup ubun-ubunnya penuh kasih.

"Iya, Kakak janji," katanya seraya melepas pelukan.

Rayan berjalan ke hadapan, berhenti di depan keduanya.

"Kapan Kakak akan berangkat. Biar aku yang antar. Untuk yang ini Kakak nggak bisa nolak karena aku akan memaksa," tanya Rayan tanpa ingin dibantah.

Naina tersenyum, kemudian mengangguk setuju.

"Besok pagi. Kakak tunggu di rumah besok pagi. Jangan telat, ya," jawab Naina dengan pasti.

"Secepat itu? Terus gimana sama kuliah kamu?" pekik gadis lain yang merupakan sahabat Naina di kampus.

"Iya. Nggak gimana-gimana. Mungkin aku nggak akan kuliah lagi. Aku mau cari kerja aja di sana nanti," sahutnya tanpa keragu-raguan.

"Yah, Nai. Nggak asik kalo nggak ada kamu. Aku gimana, dong," rengeknya sembari memegangi tangan Naina.

"Aku pasti sering-sering main ke sini. Udah, nggak usah mewek. Ntar hilang cantiknya."

Mereka tertawa, kemudian beranjak meninggalkan pemakaman. Naina menoleh ke belakang, sekali lagi melihat makam Lita sebelum kembali ke rumah.

****

"Mamah, kenapa ka Naina harus pergi ke kota lain? Kenapa nggak tinggal di sini aja? Di rumah kita, 'kan, bisa," tanya Fathya yang masih tak rela dengan rencana kepergian Naina.

Mereka berada di kamar, berbaring di atas ranjang.

"Mamah nggak bisa maksa Naina buat tinggal di sini, sayang. Dia udah dewasa, udah bisa nentuin sendiri pilihan yang terbaik buat dia. Udah, kamu tidur, ya. Besok mau ikut kakak, 'kan?"

Fathya mengangguk, kemudian membenarkan posisinya berbaring dengan nyaman. Seira menyelimuti, mengecup dahi gadis remaja itu sebelum pergi meninggalkan kamar sang anak.

Di rumahnya, Naina tak dapat memejamkan mata sama sekali. Ia berdiri di dekat jendela, menatap gumpalan awan hitam yang menutupi cahaya rembulan.

Bukannya tak sedih, sebenarnya dia ingin terus menangis. Namun, ia sadar, menangis tidak akan mengembalikan Lita kepadanya.

"Ibu, mulai sekarang Ibu hanya akan melihat senyum Naina. Nai nggak akan peduli sama hinaan mereka, Ibu. Nai nggak mau bikin ibu kecewa. Nai sayang ibu."

Ia mendekap gambar Lita bersama dirinya. Menahan kerinduan yang membuncah. Satu per satu kenangan saat Lita masih hidup, muncul mengundang rindu yang dalam. Dia harus terbiasa hidup sendiri sekarang.

Terpopuler

Comments

Yunior

Yunior

Rani sama Nania kan tuaan Nania, kenapa Nania masih kuliah & Rani sdh jadi dokter

2023-10-09

1

Anisul Mukaromah

Anisul Mukaromah

itulah makanya kenapa zina dilarang karena yang menerima akibatnya bukan hanya si pelaku zina tetapi anak hasil dari zina yang gak tau apa2 ikut menanggung akibatnya,,,semoga anak2 kita dan keturunan kita semua terhindar dari perbuatan zina

2023-02-16

3

🌸ReeN🌸

🌸ReeN🌸

semoga paman sama bibi nya baik sama nai, kasihan nai dari kecil sengsara terus pdhl nai anak yg baik bgt

2023-01-27

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23 Rahasia Besar Alfin
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35 Pertemuan Tak Terduga
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60 Kedatangan Seseorang
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86 Meluluhkan Aminah
87 Bab 87
88 Bab 88 Kemarahan Alfin
89 Bab 89 Pengorbanan Naina I
90 Bab 90 Pengorbanan Naina II
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
156 Bab 156
157 Bab 157
158 Bab 158
159 Bab 159
160 Bab 160
161 Bab 161
162 Bab 162
163 Bab 163
164 Bab 164
165 Bab 165
166 Bab 166
167 Bab 167
168 Bab 168
169 Bab 169
170 Bab 170
171 Bab 171
172 Bab 172
173 Bab 173
174 Bab 174
175 Bab 175
176 Bab 176
177 Bab 177
178 Bab 178
179 Bab 179
180 Bab 180
Episodes

Updated 180 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23 Rahasia Besar Alfin
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35 Pertemuan Tak Terduga
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60 Kedatangan Seseorang
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86 Meluluhkan Aminah
87
Bab 87
88
Bab 88 Kemarahan Alfin
89
Bab 89 Pengorbanan Naina I
90
Bab 90 Pengorbanan Naina II
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155
156
Bab 156
157
Bab 157
158
Bab 158
159
Bab 159
160
Bab 160
161
Bab 161
162
Bab 162
163
Bab 163
164
Bab 164
165
Bab 165
166
Bab 166
167
Bab 167
168
Bab 168
169
Bab 169
170
Bab 170
171
Bab 171
172
Bab 172
173
Bab 173
174
Bab 174
175
Bab 175
176
Bab 176
177
Bab 177
178
Bab 178
179
Bab 179
180
Bab 180

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!