Merantaulah, niscaya akan kau dapatkan pengganti bagi orang yang kau tinggalkan. Berusahalah, karena nikmatnya hidup itu ada dalam usaha.
Sesungguhnya aku melihat diamnya air itu membuatnya menjadi buruk. Air menjadi baik jika mengalir, dan menjadi buruk jika menggenang.
Singa jika tidak keluar dari semak-semak, takkan mendapatkan mangsa.
Demikian pula anak panah, jika tidak melesat dari busurnya, takkan mengenai sasaran.
(Imam Asy-Syafi'i).
****
Gadis itu masih menangis di hadapan gundukan merah yang baru saja mengubur sang ibu. Di samping makam Zafran, Lita dikuburkan. Air matanya terus menetes menjatuhi pusara Lita.
Naina mendekap nisannya, meratapi nasibnya yang entah akan seperti apa setelah kepergian sang ibu.
Kenapa Ibu juga pergi begitu cepat? Nai belum siap kehilangan Ibu. Nai masih butuh Ibu. Kenapa takdir ini begitu kejam terhadap Nai, Bu? Dia merenggut satu per satu orang yang Nai sayang. Nenek, Ayah, terus sekarang Ibu juga pergi ninggalin Nai sendiri.
Batin Naina meratap pilu.
Fathya memeluk tubuh Rayan, membenamkan wajah di dada bidang sang kakak. Begitu pula dengan Seira, kepergian Lita meninggalkan kesedihan mendalam di hati mereka.
Walaupun kamu pernah ngerusak kehidupan aku sampai aku benci sama kamu, tapi kamu tetap teman aku, Lita. Kamu temen aku yang baik. Aku udah maafin semua kesalahan kamu. Tenanglah kamu di sana, semoga mendapat tempat terbaik di sisi Allah.
Seira bergumam, berdoa tulus untuk kemudahan perjalanan Lita menuju sisi Tuhan. Sungguh tiada lagi dendam, apalagi kebencian. Meski luka itu tetap ada, dan akan terkenang bila diingatkan. Akan tetapi, semua sudah berlalu dan Lita sudah menyesali semuanya.
Fatih memeluk tubuh berguncang sang istri, betapa mengerti akan kesedihan yang dirasakan hatinya. Terlebih saat melihat Naina yang hidup sendirian setelah ini.
Gadis kecil yang kini sudah tumbuh dewasa, gadis yang tangguh. Bertubi-tubi menghadapi masalah, dia tetap tegar berdiri di atas kakinya sendiri.
Seorang gadis lainnya berjongkok di dekat Naina, mengusap punggung anak Lita itu menyalurkan kekuatan.
"Udah, Nai. Ini udah sore. Sebaiknya kita kembali, ya. Nggak baik terus menerus menangisi orang yang udah pergi. Ikhlasin, Nai. Semua ini sudah kehendak Allah," ucapnya dengan bijak.
Naina perlahan beranjak, menatap tulisan pada batu nisan dan mengusapnya. Sungguh tak rela meninggalkan Lita sendirian di dalam kubur.
"Nai pasti kuat, Bu. Nai janji sama Ibu nggak akan jadi gadis yang cengeng. Nai nggak akan jadi gadis yang lemah walaupun seluruh dunia mencaci Nai. Nai anak Ibu yang kuat. Ibu yang tenang di sisi Allah, Nai akan selalu kirim doa buat Ibu," ungkap Naina penuh tekad.
Ia mengusap air matanya, menyudahi kesedihan. Perlahan mengangkat kedua sudut bibir ke atas membentuk sebuah senyuman.
"Selamat tinggal, Ibu. Nai pasti akan datang jengukin Ibu," ucapnya seraya berdiri diikuti temannya tadi.
Naina berbalik dan menatap Seira yang berada dalam pelukan Fatih juga Fathya dan Rayan yang terlihat berduka atas kepergian Lita. Naina tersenyum seraya mendekat.
"Nai, mau pergi ke rumah paman. Ibu minta Nai untuk tinggal di sana. Makasih karena Ibu udah baik sama Nai, padahal dulu ibu Nai begitu jahat. Nai minta maaf atas nama ibu," ucap Naina terdengar lebih tegar dari sebelumnya.
Seira menggeleng, menjauh dari tubuh Fatih dan memeluk gadis itu. Menumpahkan kesedihan di hatinya atas semua yang dilakukan Naina untuk Lita.
"Nggak apa-apa, sayang. Ibu udah maafin semua kesalahan ibu kamu. Nggak usah diingat-ingat lagi, kita doakan saja semoga ibu mendapat tempat terbaik di sisi Allah." Seira mengusap rambutnya dengan lembut.
Naina memejamkan mata, membalas pelukan hangat wanita itu. Air matanya kembali menetes, tapi ia seka dengan cepat bila mengingat janjinya kepada Lita.
"Kakak, kenapa Kakak harus pergi? Kenapa nggak tinggal sama kita aja? Mamah, Papah, biarin Kak Nai tinggal sama kita." Fathya bersuara mengungkapkan isi hatinya.
Ia mendekati Fatih, memohon lewat sorot matanya. Laki-laki itu mengusap pipi sang putri, tersenyum penuh haru.
"Ayah nggak bisa maksa seseorang untuk menuruti keinginan Ayah. Semua itu hak Naina, akan tinggal di mana dan dengan siapa. Yang penting dia bahagia," ungkap Fatih sejujurnya.
Fathya tidak bisa menerima, dia bersikeras walau hanya di dalam hati. Naina mengurai pelukan, menatap gadis remaja yang selalu bermanja padanya itu.
"Bukannya Kakak nggak mau, tapi Kakak cuma mau menunaikan amanat dari ibu Kakak. Ibu meminta Kakak untuk pergi ke rumah paman, karena mereka nggak punya anak. Jadi, maafin Kakak, ya. Karena nggak bisa menuhin keinginan kamu," ucap Naina sembari tersenyum meski hati getir terluka.
Fathya mendekat, memeluk tubuh gadis itu.
"Tapi Kakak janji nggak akan lupain aku. Kakak juga harus selalu kasih kabar aku," pintanya tak rela.
Naina terenyuh, kemudian mengecup ubun-ubunnya penuh kasih.
"Iya, Kakak janji," katanya seraya melepas pelukan.
Rayan berjalan ke hadapan, berhenti di depan keduanya.
"Kapan Kakak akan berangkat. Biar aku yang antar. Untuk yang ini Kakak nggak bisa nolak karena aku akan memaksa," tanya Rayan tanpa ingin dibantah.
Naina tersenyum, kemudian mengangguk setuju.
"Besok pagi. Kakak tunggu di rumah besok pagi. Jangan telat, ya," jawab Naina dengan pasti.
"Secepat itu? Terus gimana sama kuliah kamu?" pekik gadis lain yang merupakan sahabat Naina di kampus.
"Iya. Nggak gimana-gimana. Mungkin aku nggak akan kuliah lagi. Aku mau cari kerja aja di sana nanti," sahutnya tanpa keragu-raguan.
"Yah, Nai. Nggak asik kalo nggak ada kamu. Aku gimana, dong," rengeknya sembari memegangi tangan Naina.
"Aku pasti sering-sering main ke sini. Udah, nggak usah mewek. Ntar hilang cantiknya."
Mereka tertawa, kemudian beranjak meninggalkan pemakaman. Naina menoleh ke belakang, sekali lagi melihat makam Lita sebelum kembali ke rumah.
****
"Mamah, kenapa ka Naina harus pergi ke kota lain? Kenapa nggak tinggal di sini aja? Di rumah kita, 'kan, bisa," tanya Fathya yang masih tak rela dengan rencana kepergian Naina.
Mereka berada di kamar, berbaring di atas ranjang.
"Mamah nggak bisa maksa Naina buat tinggal di sini, sayang. Dia udah dewasa, udah bisa nentuin sendiri pilihan yang terbaik buat dia. Udah, kamu tidur, ya. Besok mau ikut kakak, 'kan?"
Fathya mengangguk, kemudian membenarkan posisinya berbaring dengan nyaman. Seira menyelimuti, mengecup dahi gadis remaja itu sebelum pergi meninggalkan kamar sang anak.
Di rumahnya, Naina tak dapat memejamkan mata sama sekali. Ia berdiri di dekat jendela, menatap gumpalan awan hitam yang menutupi cahaya rembulan.
Bukannya tak sedih, sebenarnya dia ingin terus menangis. Namun, ia sadar, menangis tidak akan mengembalikan Lita kepadanya.
"Ibu, mulai sekarang Ibu hanya akan melihat senyum Naina. Nai nggak akan peduli sama hinaan mereka, Ibu. Nai nggak mau bikin ibu kecewa. Nai sayang ibu."
Ia mendekap gambar Lita bersama dirinya. Menahan kerinduan yang membuncah. Satu per satu kenangan saat Lita masih hidup, muncul mengundang rindu yang dalam. Dia harus terbiasa hidup sendiri sekarang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
Yunior
Rani sama Nania kan tuaan Nania, kenapa Nania masih kuliah & Rani sdh jadi dokter
2023-10-09
1
Anisul Mukaromah
itulah makanya kenapa zina dilarang karena yang menerima akibatnya bukan hanya si pelaku zina tetapi anak hasil dari zina yang gak tau apa2 ikut menanggung akibatnya,,,semoga anak2 kita dan keturunan kita semua terhindar dari perbuatan zina
2023-02-16
3
🌸ReeN🌸
semoga paman sama bibi nya baik sama nai, kasihan nai dari kecil sengsara terus pdhl nai anak yg baik bgt
2023-01-27
1