Tugas utamamu adalah terus melangkah maju menggapai harapan mewujudkan cita-cita. Kau tak harus berhenti hanya karena mereka tidak menyertai langkahmu.
****
Langit masih membentangkan kegelapan, suara kokok ayam milik tetangga sudah bersahutan. Sayup-sayup suara adzan subuh digemakan. Gadis itu telah terjaga dengan segala persiapan. Tas besar, tas kecil, dan semua keperluan. Telah dikemas dengan rapi dari sejak semalam.
"Bismillahirrahmanirrahim. Ku awali perjalanan ini dengan menyebut asma-Mu, ya Allah."
Ia bergumam seraya menyeret tas besar tersebut ke teras rumah. Duduk menunggu kedatangan Rayan yang memaksa ingin mengantar.
"Nai!" Panggilan suara seorang perempuan mengalihkan perhatian Naina dari jalanan di depannya.
Ia tersenyum tatkala melihat sahabat yang selama ini menemani dalam suka dan suka. Dialah satu-satunya teman yang tidak pernah merendahkan, apalagi menghina tentang asal-usul Naina. Semua hal Naina ceritakan padanya, dan ia menyimpan semua dengan baik.
"Tiwi?" Naina beranjak dari duduk dan berjalan menghampiri. Keduanya berpelukan, mungkin untuk terakhir kalinya.
"Kamu beneran mau pergi? Kenapa, sih, nggak tinggal di sini aja? Kamu bisa tinggal sama aku. Teman yang lain juga nggak keberatan, kok," rengeknya sembari memegangi bahu Naina.
Gadis Lita itu tersenyum, tersirat kesedihan di kedua maniknya yang berwarna coklat. Hati pun rasa berat meninggalkan kota kelahirannya tersebut. Semua kenangan manis dan pahit berkumpul di sana, termasuk dia pernah memiliki keluarga yang lengkap meski tidak bahagia.
"Aku harus pergi karena ini amanat dari Ibu. Ibu mau aku jadi anak buat paman sama bibi. Kasihan mereka udah tua, tapi nggak punya anak," sahut Naina meski harus membohongi diri sendiri.
Semuanya harus berubah, dia tidak boleh meratapi nasib yang terus menerus ditinggalkan orang-orang yang disayanginya. Semoga di sana, Naina mendapat cerita hidup yang lebih baik. Itulah harapannya.
Tiwi menurunkan bahu lesu, kecewa dengan keputusan Naina yang akan pergi meninggalkan Jakarta.
Tak lama, mobil Rayan datang. Naina bersiap dengan memegangi tasnya, tersenyum menyambut kedatangan laki-laki yang selama ini menjaganya.
"Kakak!" Fathya berlari langsung masuk ke dalam pelukan Naina.
"Kamu ikut antar Kakak juga?"
Gadis remaja itu mengangguk riang. Di belakang mobil Rayan, menyusul mobil Fatih yang akan melepas kepergian anak Lita itu.
Naina berpamitan pada semua orang, Tiwi menangis histeris tak rela satu-satunya sahabat pergi meninggalkan. Sampai mobil yang membawa Naina menghilang, Tiwi masih di sana melambaikan tangan.
****
Setelah menempuh perjalanan selama empat jam lamanya, mereka tiba di desa yang sesuai dengan alamat di kertas Naina. Gadis itu turun dari mobil, berjalan mendekati sebuah warung untuk bertanya tentang alamat rumah tersebut.
"Assalamualaikum. Maaf, Pak, Bu. Saya mau tanya, rumahnya ibu Sumiyati di mana, ya?" tanya Naina pada sekelompok warga yang berkumpul di warung tersebut.
"Oh, Mak Sum. Neng terus aja lurus, nanti ada sekolahan. Masuk ke dalam gang sekolahan itu, nanti juga ketemu," jawab salah satu warga.
Naina tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada semua warga di sana. Ia masuk kembali ke dalam mobil, memberitahu Rayan untuk tetap lurus sampai bertemu dengan sekolahan.
"Di sini?" Rayan menghentikan mobilnya di depan sekolah karena gang tersebut tidak dapat dilalui kendaraan roda empat.
Mereka turun dan menitipkan mobilnya pada warga yang berada di warung depan sekolahan. Bersama memasuki gang sambil melihat-lihat ke kanan dan kiri. Perumahan yang padat, ada banyak warga dan anak-anak yang bermain di gang tersebut.
Naina bertanya pada salah satu warga, mereka membawanya pada sebuah rumah sederhana yang berjualan jajanan anak-anak di depannya.
Ia menghela napas sebelum memasuki teras rumah, melirik kompor di meja. Lalu, mendekati pintu dan mengetuknya.
"Assalamu'alaikum!"
Naina mengucap salam berulang-ulang, tapi tak kunjung mendapat sahutan. Mereka duduk di teras, menunggu dengan sabar. Tak lama, sebuah motor butut berhenti di depan rumah tersebut.
Sepasang paruh baya turun dan terlihat bingung dengan orang-orang yang duduk di teras rumahnya.
"Assalamu'alaikum. Maaf, kalian ini siapa, ya? Dan cari siapa?" tanya wanita paruh baya itu kepada mereka.
Naina berdiri dan memberikan secarik kertas dari Lita sebelum meninggal.
"Ibu yang minta aku datang ke sini. Aku cari Bibi Sumiyati," jawab Naina sembari menatap wajah keriput di depannya.
Wanita tersebut merenung, menatap tulisan tangan Lita dengan dahi yang mengernyit.
"Siapa nama ibu kamu?" tanya wanita tersebut sembari menilik wajah Naina dan mengingat-ingat siapa yang memiliki wajah yang serupa.
"Lita. Nama ibu saya Lita." Naina menatap ragu setelah memberitahu nama ibunya.
"Lita? Kamu, teh, anaknya Lita?"
Naina menganggukkan kepala, tersenyum lebih lepas. Berharap akan diterima dengan baik oleh kedua orang tua itu.
"Maa syaa Allah! Anaknya Lita. Alhamdulillah!" pekik wanita tersebut sembari memeluk Naina, "Pak, anakna Lita, Pak. Anak Lita!" Ia memanggil laki-laki yang bersamanya untuk mendekat.
Naina melepas pelukan, lantas menyalami mereka berdua.
"Ayo, masuk!"
Mereka semua masuk ke dalam, duduk di atas tikar melingkar. Sang pemilik rumah membawakan mereka minuman, menyuguhkan di hadapan semua orang.
"Ini diminum. Ala kadarnya," ucap wanita tersebut dengan ramah.
"Siapa nama kamu, Nak?" tanya sang Paman pada Naina.
"Saya Naina, Paman, dan ini kedua saudara saya. Rayan dan Fathya. Kami memang nggak sedarah, tapi sudah seperti keluarga," jawab Naina memberitahu.
"Di mana ibu kamu, Nak? Kenapa nggak ikut ke sini sekalian?" tanya Sumiyati sembari mengusap bahu Naina.
Gadis itu terus saja murung, senyumnya hilang seketika saat ditanya soal ibunya.
"Ibu ... ibu udah ninggal kemarin, Paman, Bibi. Makanya aku langsung ke sini aja," jawab Naina sembari menundukkan kepala.
Diam-diam mengusap mata menahan tangisnya. Dalam hati selalu teringat pada janjinya kepada Lita untuk tidak menangis lagi.
"Innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji'un. Yang sabar, ya, sayang. Bibi nggak nyangka Lita akan secepat ini meninggalkan kita. Kamu jangan sedih, tinggal di sini aja sama Paman dan Bibi. Anggap kami sebagai orang tua kamu, ya," ucap wanita tersebut sembari mengusap-usap punggung Naina memberinya ketenangan.
Naina terisak, padahal sekuat hatinya telah menahan kesedihan. Ia memeluk tubuh Sumiyati, menumpahkan tangisnya pada wanita yang baru saja ditemuinya itu.
Ia tidak mengucapkan apapun selain menangis di dalam pelukan Sumiyati. Hangatnya pelukan itu membuat hati Naina seolah-olah menemukan kasih sayang ibunya.
"Iya, sayang. Tinggal di sini aja, Lita udah nggak punya siapa-siapa lagi selain kita berdua ini. Kami juga nggak punya anak, dengan adanya kamu di sini. Kami merasa senang," sahut sang laki-laki ikut mengusap bahu Naina.
Fathya memeluk dada Rayan, ikut bersedih melihat Naina menangis histeris dalam pelukan bibinya.
Naina mengangguk pelan, mengurai pelukan dan mengusap air matanya.
"Makasih, Paman, Bibi. Udah nerima Nai dengan baik di sini. Makasih." Ia kembali memeluk wanita paruh baya itu penuh syukur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
Pira Nofrianti
disini yg ad Mayang nya kk😁🙏
2023-01-30
1
🌸ReeN🌸
semoga naina bisa bahagia
2023-01-27
1
Junida Susilo
Semoga kehidupan naina kedepan akan baik baik saja dan bibi paman nya sayang pada naina🙏
2023-01-05
1