Bab 5

Tugas utamamu adalah terus melangkah maju menggapai harapan mewujudkan cita-cita. Kau tak harus berhenti hanya karena mereka tidak menyertai langkahmu.

****

Langit masih membentangkan kegelapan, suara kokok ayam milik tetangga sudah bersahutan. Sayup-sayup suara adzan subuh digemakan. Gadis itu telah terjaga dengan segala persiapan. Tas besar, tas kecil, dan semua keperluan. Telah dikemas dengan rapi dari sejak semalam.

"Bismillahirrahmanirrahim. Ku awali perjalanan ini dengan menyebut asma-Mu, ya Allah."

Ia bergumam seraya menyeret tas besar tersebut ke teras rumah. Duduk menunggu kedatangan Rayan yang memaksa ingin mengantar.

"Nai!" Panggilan suara seorang perempuan mengalihkan perhatian Naina dari jalanan di depannya.

Ia tersenyum tatkala melihat sahabat yang selama ini menemani dalam suka dan suka. Dialah satu-satunya teman yang tidak pernah merendahkan, apalagi menghina tentang asal-usul Naina. Semua hal Naina ceritakan padanya, dan ia menyimpan semua dengan baik.

"Tiwi?" Naina beranjak dari duduk dan berjalan menghampiri. Keduanya berpelukan, mungkin untuk terakhir kalinya.

"Kamu beneran mau pergi? Kenapa, sih, nggak tinggal di sini aja? Kamu bisa tinggal sama aku. Teman yang lain juga nggak keberatan, kok," rengeknya sembari memegangi bahu Naina.

Gadis Lita itu tersenyum, tersirat kesedihan di kedua maniknya yang berwarna coklat. Hati pun rasa berat meninggalkan kota kelahirannya tersebut. Semua kenangan manis dan pahit berkumpul di sana, termasuk dia pernah memiliki keluarga yang lengkap meski tidak bahagia.

"Aku harus pergi karena ini amanat dari Ibu. Ibu mau aku jadi anak buat paman sama bibi. Kasihan mereka udah tua, tapi nggak punya anak," sahut Naina meski harus membohongi diri sendiri.

Semuanya harus berubah, dia tidak boleh meratapi nasib yang terus menerus ditinggalkan orang-orang yang disayanginya. Semoga di sana, Naina mendapat cerita hidup yang lebih baik. Itulah harapannya.

Tiwi menurunkan bahu lesu, kecewa dengan keputusan Naina yang akan pergi meninggalkan Jakarta.

Tak lama, mobil Rayan datang. Naina bersiap dengan memegangi tasnya, tersenyum menyambut kedatangan laki-laki yang selama ini menjaganya.

"Kakak!" Fathya berlari langsung masuk ke dalam pelukan Naina.

"Kamu ikut antar Kakak juga?"

Gadis remaja itu mengangguk riang. Di belakang mobil Rayan, menyusul mobil Fatih yang akan melepas kepergian anak Lita itu.

Naina berpamitan pada semua orang, Tiwi menangis histeris tak rela satu-satunya sahabat pergi meninggalkan. Sampai mobil yang membawa Naina menghilang, Tiwi masih di sana melambaikan tangan.

****

Setelah menempuh perjalanan selama empat jam lamanya, mereka tiba di desa yang sesuai dengan alamat di kertas Naina. Gadis itu turun dari mobil, berjalan mendekati sebuah warung untuk bertanya tentang alamat rumah tersebut.

"Assalamualaikum. Maaf, Pak, Bu. Saya mau tanya, rumahnya ibu Sumiyati di mana, ya?" tanya Naina pada sekelompok warga yang berkumpul di warung tersebut.

"Oh, Mak Sum. Neng terus aja lurus, nanti ada sekolahan. Masuk ke dalam gang sekolahan itu, nanti juga ketemu," jawab salah satu warga.

Naina tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada semua warga di sana. Ia masuk kembali ke dalam mobil, memberitahu Rayan untuk tetap lurus sampai bertemu dengan sekolahan.

"Di sini?" Rayan menghentikan mobilnya di depan sekolah karena gang tersebut tidak dapat dilalui kendaraan roda empat.

Mereka turun dan menitipkan mobilnya pada warga yang berada di warung depan sekolahan. Bersama memasuki gang sambil melihat-lihat ke kanan dan kiri. Perumahan yang padat, ada banyak warga dan anak-anak yang bermain di gang tersebut.

Naina bertanya pada salah satu warga, mereka membawanya pada sebuah rumah sederhana yang berjualan jajanan anak-anak di depannya.

Ia menghela napas sebelum memasuki teras rumah, melirik kompor di meja. Lalu, mendekati pintu dan mengetuknya.

"Assalamu'alaikum!"

Naina mengucap salam berulang-ulang, tapi tak kunjung mendapat sahutan. Mereka duduk di teras, menunggu dengan sabar. Tak lama, sebuah motor butut berhenti di depan rumah tersebut.

Sepasang paruh baya turun dan terlihat bingung dengan orang-orang yang duduk di teras rumahnya.

"Assalamu'alaikum. Maaf, kalian ini siapa, ya? Dan cari siapa?" tanya wanita paruh baya itu kepada mereka.

Naina berdiri dan memberikan secarik kertas dari Lita sebelum meninggal.

"Ibu yang minta aku datang ke sini. Aku cari Bibi Sumiyati," jawab Naina sembari menatap wajah keriput di depannya.

Wanita tersebut merenung, menatap tulisan tangan Lita dengan dahi yang mengernyit.

"Siapa nama ibu kamu?" tanya wanita tersebut sembari menilik wajah Naina dan mengingat-ingat siapa yang memiliki wajah yang serupa.

"Lita. Nama ibu saya Lita." Naina menatap ragu setelah memberitahu nama ibunya.

"Lita? Kamu, teh, anaknya Lita?"

Naina menganggukkan kepala, tersenyum lebih lepas. Berharap akan diterima dengan baik oleh kedua orang tua itu.

"Maa syaa Allah! Anaknya Lita. Alhamdulillah!" pekik wanita tersebut sembari memeluk Naina, "Pak, anakna Lita, Pak. Anak Lita!" Ia memanggil laki-laki yang bersamanya untuk mendekat.

Naina melepas pelukan, lantas menyalami mereka berdua.

"Ayo, masuk!"

Mereka semua masuk ke dalam, duduk di atas tikar melingkar. Sang pemilik rumah membawakan mereka minuman, menyuguhkan di hadapan semua orang.

"Ini diminum. Ala kadarnya," ucap wanita tersebut dengan ramah.

"Siapa nama kamu, Nak?" tanya sang Paman pada Naina.

"Saya Naina, Paman, dan ini kedua saudara saya. Rayan dan Fathya. Kami memang nggak sedarah, tapi sudah seperti keluarga," jawab Naina memberitahu.

"Di mana ibu kamu, Nak? Kenapa nggak ikut ke sini sekalian?" tanya Sumiyati sembari mengusap bahu Naina.

Gadis itu terus saja murung, senyumnya hilang seketika saat ditanya soal ibunya.

"Ibu ... ibu udah ninggal kemarin, Paman, Bibi. Makanya aku langsung ke sini aja," jawab Naina sembari menundukkan kepala.

Diam-diam mengusap mata menahan tangisnya. Dalam hati selalu teringat pada janjinya kepada Lita untuk tidak menangis lagi.

"Innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji'un. Yang sabar, ya, sayang. Bibi nggak nyangka Lita akan secepat ini meninggalkan kita. Kamu jangan sedih, tinggal di sini aja sama Paman dan Bibi. Anggap kami sebagai orang tua kamu, ya," ucap wanita tersebut sembari mengusap-usap punggung Naina memberinya ketenangan.

Naina terisak, padahal sekuat hatinya telah menahan kesedihan. Ia memeluk tubuh Sumiyati, menumpahkan tangisnya pada wanita yang baru saja ditemuinya itu.

Ia tidak mengucapkan apapun selain menangis di dalam pelukan Sumiyati. Hangatnya pelukan itu membuat hati Naina seolah-olah menemukan kasih sayang ibunya.

"Iya, sayang. Tinggal di sini aja, Lita udah nggak punya siapa-siapa lagi selain kita berdua ini. Kami juga nggak punya anak, dengan adanya kamu di sini. Kami merasa senang," sahut sang laki-laki ikut mengusap bahu Naina.

Fathya memeluk dada Rayan, ikut bersedih melihat Naina menangis histeris dalam pelukan bibinya.

Naina mengangguk pelan, mengurai pelukan dan mengusap air matanya.

"Makasih, Paman, Bibi. Udah nerima Nai dengan baik di sini. Makasih." Ia kembali memeluk wanita paruh baya itu penuh syukur.

Terpopuler

Comments

Pira Nofrianti

Pira Nofrianti

disini yg ad Mayang nya kk😁🙏

2023-01-30

1

🌸ReeN🌸

🌸ReeN🌸

semoga naina bisa bahagia

2023-01-27

1

Junida Susilo

Junida Susilo

Semoga kehidupan naina kedepan akan baik baik saja dan bibi paman nya sayang pada naina🙏

2023-01-05

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23 Rahasia Besar Alfin
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35 Pertemuan Tak Terduga
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60 Kedatangan Seseorang
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86 Meluluhkan Aminah
87 Bab 87
88 Bab 88 Kemarahan Alfin
89 Bab 89 Pengorbanan Naina I
90 Bab 90 Pengorbanan Naina II
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
156 Bab 156
157 Bab 157
158 Bab 158
159 Bab 159
160 Bab 160
161 Bab 161
162 Bab 162
163 Bab 163
164 Bab 164
165 Bab 165
166 Bab 166
167 Bab 167
168 Bab 168
169 Bab 169
170 Bab 170
171 Bab 171
172 Bab 172
173 Bab 173
174 Bab 174
175 Bab 175
176 Bab 176
177 Bab 177
178 Bab 178
179 Bab 179
180 Bab 180
Episodes

Updated 180 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23 Rahasia Besar Alfin
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35 Pertemuan Tak Terduga
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60 Kedatangan Seseorang
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86 Meluluhkan Aminah
87
Bab 87
88
Bab 88 Kemarahan Alfin
89
Bab 89 Pengorbanan Naina I
90
Bab 90 Pengorbanan Naina II
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155
156
Bab 156
157
Bab 157
158
Bab 158
159
Bab 159
160
Bab 160
161
Bab 161
162
Bab 162
163
Bab 163
164
Bab 164
165
Bab 165
166
Bab 166
167
Bab 167
168
Bab 168
169
Bab 169
170
Bab 170
171
Bab 171
172
Bab 172
173
Bab 173
174
Bab 174
175
Bab 175
176
Bab 176
177
Bab 177
178
Bab 178
179
Bab 179
180
Bab 180

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!