"Di mana Naina?" Sang manager bertanya kepada Vita. Berharap Naina masih ada di toko.
"Lho, udah pulang, Pak. Udah dari tadi," jawab Vita terlihat bingung. Timbul pertanyaan dalam benaknya tentang apa yang terjadi di antara mereka berdua.
Seperti dua orang yang sedang bermain kucing-kucingan. Satu bersembunyi, satu mencari. Mendengar itu sang manager segera berlari keluar, menoleh ke kanan dan kiri mencari-cari sosok Naina.
Pandangannya terhenti tepat pada bangunan di seberang tokonya. Di teras masjid itu sedang duduk dua sejoli yang saling bertukar senyum satu sama lain. Ia mengepalkan tangan kuat-kuat hingga setiap bukunya memutih. Rahangnya ikut mengeras, bunyi gemelutuk gigi pun menguar samar.
Melihat Naina berbincang akrab, tertawa bersama laki-laki lain, hatinya bergejolak panas. Rasa cemburu membakar jiwa, sekuat mungkin dia tahan agar tidak meledak. Duda beranak satu itu melengos, masuk kembali ke dalam toko.
Nyaris membanting pintu toko demi bisa meluapkan emosinya. Vita dan yang lain terlonjak kaget ketika pintu ruangan tertutup cukup keras.
"Astaghfirullah al-'adhiim ... astaghfirullah al-'adhiim!" Vita mengurut dadanya yang bertalu-talu karena rasa terkejut.
Menggelengkan kepala, seraya menghela napas panjang. Mereka seperti dua orang remaja labil yang sedang jatuh cinta. Satu mengejar, satu bersikap tak acuh padahal cinta.
Sementara di teras masjid, keduanya masih asyik berbincang hal remeh demi menunggu waktu tiba.
"Ahmad-"
Suara tawa Alfin yang tiba-tiba, menyela kalimat Naina yang bahkan belum terucap. Kening gadis itu mengernyit, merajuk gemas melihat tawa Alfin yang menggelikan.
"Kenapa tiba-tiba ketawa? Emang ada yang lucu?" sungut Naina dengan bibir yang mengerucut lucu.
Alfin mengusap sudut mata, menyudahi tawanya. Ia menoleh, menatap sang gadis dengan sisa tawa di bibir.
"Kamu manggil aku apa?" tanyanya.
"Mmm ... Ahmad?" cetus Naina bingung.
Ia terkekeh mendengar Naina menyebutnya Ahmad. Mungkin karena kartu pelanggan kemarin yang dibuat atas nama Ahmad.
"Lho, emang kenapa? Kok, kamu ketawa lagi? Itu nama kamu, 'kan?" ucap Naina semakin bingung dengan tingkah Alfin.
Pemuda itu menggelengkan kepala, menolak membenarkan nama tersebut.
"Bukan. Namaku bukan Ahmad. Mau kenalan lagi?" tawa Alfin sembari memainkan alisnya naik dan turun.
"Jadi, nama kamu siapa sebenarnya?" Naina bertanya bingung.
Ia menghela napas, membuang pandangan sejenak kemudian kembali pada kedua manik Naina.
"Alfin. Namaku Alfinza Akbar, orang-orang biasa memanggil Alfin. Itu namaku, jangan lupa," ucapnya diakhiri senyum manis yang memporak-porandakan pertahanan Naina.
"O-oh." Naina melengos, menyembunyikan rona merah di pipi. Ia sudah salah menduga, dikiranya itu memang nama si Pemuda, ternyata hanya praduga.
"Terus Ahmad itu siapa?" tanya Naina penasaran.
Suaranya bergetar karena menahan malu, terus berpaling selama kulit wajah masih terasa hangat bahkan memanas.
Alfin menghela napas lagi, tak ada tawa yang menguar untuk kali ini.
"Ahmad itu nama bapakku. Karena kartu itu nggak dipake sama beliau, jadi aku yang pake," jawab Alfin teringat pada laki-laki sepuh di rumahnya.
Naina mengalihkan pandangan padanya, menilik wajah Alfin yang tiba-tiba berubah. Keceriaan yang tadi diperlihatkan, menguap begitu saja. Sebuah rahasia yang mengusik ingatannya.
"Kamu masih punya orang tua?" tanya Naina getir.
Alfin yang memandang langit, berpaling padanya. Tersenyum seraya mengangguk kecil, kemudian mendesah berat.
"Aku masih punya keduanya, kalo kamu mau akan aku ajak berkenalan dengan mereka," ujar Alfin menatap serius kedua manik Naina.
Gadis itu tertegun, beberapa saat terpaku pada sosok di depannya. Kemudian, melengos memalingkan wajah dari tatapan Alfin. Ia menghendikan bahu, tak tahu harus menjawab apa.
"Aku nggak tahu, kayaknya nggak dulu. Mungkin nanti aja." Ia tersenyum, tak enak menolak ajakan Alfin.
Dulu, dua orang laki-laki yang mengaku mencintai pun mengajak Naina ke hadapan orang tua mereka. Awalnya mereka bersikap baik dan menerima Naina apa adanya, tapi setelah tahu asal-usul gadis itu kesemuanya menolak bahkan memandang rendah dia juga sang ibu. Taruma itu menarik kepercayaan dirinya, membuat Naina harus bersembunyi di jurang yang dalam.
Alfin turut tersenyum, mengerti keadaan Naina. Mungkin merasa masih baru saling mengenal, hingga membuat Naina tidak percaya diri untuk dikenalkan pada dua orang tuanya.
"Iya, nggak apa-apa, tapi aku berharap kamu mau dikenalin sama mereka. Aku tunggu aja kapan kamu siapnya," sahut Alfin tak memaksakan keinginannya.
Naina merasa tenang, tidak seperti saat bersama sang manager yang selalu memaksanya untuk mengikuti semua kemauan.
"Makasih, ya. Kamu udah ngertiin aku," tutur Naina dengan tulus.
Alfin menganggukkan kepala, tidak masalah tidak sekarang juga. Ia hanya berharap, suatu saat Naina bersedia untuk berkenalan dengan kedua orang tuanya sebagai calon menantu mereka.
"Aku mau ke sebelah dulu, ya. Mau lihat paman udah selesai apa belum," pamit Naina seraya beranjak turun dari teras masjid.
"Kamu mau pulang? Biar aku yang antar." Alfin menawarkan diri untuk mengantar Naina.
Ia bergegas turun dari teras masjid dan mengejar Naina yang sudah hampir keluar dari area tersebut.
"Nggak usah, nggak apa-apa. Lagian kamu pasti capek abis ngajak anak-anak jalan-jalan di mal," ucap Naina sembari terus melangkah mendekati tempat Asep bekerja.
Alfin terkekeh, menunduk dan memperhatikan sepasang kakinya yang melangkah tak jauh dari Naina.
"Aku nggak capek, kok. Di mal juga cuma lihatin mereka aja, mengawasi gitu. Nggak ikut lari-larian kayak mereka," kata Alfin berharap Naina akan menerima tawarannya untuk pulang bersama.
Langkah mereka terhenti setibanya di tempat kerja Asep. Laki-laki itu masih bekerja, mengaduk adonan dan melansirnya bersama rekan kerja.
"Kayaknya mereka belum selesai. Udah, aku antar aja, ya," cetus Alfin antusias.
Naina menghela napas, memperhatikan Asep yang harus bekerja keras meski usia telah menggerogoti kemampuannya.
"Ntar, aku bilang dulu sama paman, takutnya nyariin lagi," sergah Naina yang hendak pergi, tapi dicegah Alfin.
"Eh, tunggu. Biar aku yang bilang, sekalian izin sama beliau membawa keponakannya." Alfin tersenyum meyakinkan.
Naina tercenung, kemudian mengangguk pelan.
"Itu, yang pake baju hitam topi hitam," beritahu Naina sembari menunjuk Asep yang sedang membuat adona semen.
"Oh, Mang Asep? Jadi, beliau paman kamu?" Alfin berbinar saat mengetahui siapa paman Naina.
Gadis itu mengangguk, ia tahu mereka saling mengenal karena pernah melihat sendiri keduanya berbincang. Alfin menghampiri Asep, berbicara kepadanya sesekali menunjuk Naina yang berdiri di pinggir jalan.
"Mamang takut ngerepotin Nak Alfin." Asep tak enak dengan penawaran Alfin yang ingin mengantar Naina.
"Ah, Mang Asep. Kayak nggak tahu aja anak muda. Udah, ya. Alfin antar Naina dulu, Mang Asep bisa santai aja kerjanya. Dia aman sama Alfin," ujarnya sembari memainkan mata pada laki-laki itu.
Mang Asep membulatkan bibir, manggut-manggut mengerti.
"Dasar, anak muda. Ya udah, Mamang titip Naina, ya. Antar sampai depan rumah," ucap Asep sambil tersenyum-senyum menggoda.
"Siap, Bos!"
Alfin berbalik dengan senyum sumringah di wajahnya. Lantas, mengajak Naina untuk pulang setelah mendapatkan izin dari sang paman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
Enok Wahyu.S GM Surabaya
jika pak manajer tahu Naina mau dianterin sama Alfin Mak makin membara tuh emosi jiwanya...plus cemburu tingkat dewa...secara dia g pernah berhasil ngajakin nganter pulang Naina 🤭🤣🤣🤣
2023-01-13
1
Ia Chia
Semoga Alfin akan selalu baik sama Nai walaupun nanti dia tahu masa lalu Nai
2023-01-12
1
Lin Lin
thorr... Zena ada sekuelnya gak?? sukaa bgt ma Zena
2023-01-12
1