Laki-laki itu pun tertegun sejenak melihat wanita yang beberapa hari terakhir membuatnya penasaran. Akan tetapi, ia pandai menyimpan rasa dan bersikap layaknya pelanggan biasa. Masuk kemudian setelah melirik gadis penjaga kasir itu.
"Selamat ... berbelanja," lirih Naina nyaris tenggelam kegugupannya sendiri.
Ia memburu udara demi menetralkan jantung yang tiba-tiba berdegup kencang. Dipeganginya dada sembari menenggelamkan diri di bawah meja kasir.
"Astaghfirullah! Kenapa ini? Sesak banget rasanya." Diremasnya bagian dada kiri, berharap sesak akan segera pergi.
Rasa panas menjalar ketika membayangkan tatapan manik hitam yang menghujam dalam. Berkali-kali lisannya bergumam, mengucap kalimat istighfar untuk menghilangkan kegugupan.
"Mbak!" Teguran seorang pelanggan membuat Naina tersentak.
Ia menengadah, tersenyum kikuk kemudian berdiri salah tingkah.
"Ini saja? Ada lagi? Tebus murahnya, Bu. Beli dua gratis satu," tawar Naina sedikit gugup.
"Ah, nggak, deh, Mbak. Lain kali aja," jawab si Pelanggan sembari memperhatikan wajah Naina.
"Baik. Totalnya ...."
Diam-diam laki-laki yang baru saja membuat Naina salah tingkah, memperhatikan dari balik rak. Ia mengulas senyum tipis, merasa tertarik dengan sosok dibalik meja itu.
Senyum tulus dan manis yang dimiliki Naina, juga keramahan sikap, membuatnya berdecak kagum. Ia menggelengkan kepala, menepis apa yang melintas dalam alam hayalnya.
Melanjutkan berbelanja membeli beberapa keperluan untuk anak-anak di masjid.
"Naina!" Panggilan seorang laki-laki untuk seseorang dengan cepat mengalihkan perhatiannya.
"Iya!"
"Oh, jadi namanya Naina. Manis kayak orangnya," gumamnya sembari tersenyum.
Ia memperhatikan interaksi Naina dengan seorang laki-laki dewasa yang memanggilnya tadi. Kagum, satu kata itulah yang terbesit dalam hati. Melihat Naina yang menjaga jarak tidak seperti kebanyakan orang yang tak segan bersentuhan dengan lawan jenis.
Naina tahu batasannya meskipun ia belum menyempurnakan penampilan.
"Boleh nggak, ya, berkenalan?" Dia bertanya pada dirinya sendiri. Lalu, menertawakan diri sendiri dan melanjutkan berbelanja.
Pemuda itu menenteng dua keranjang penuh belanjaan, kesemuanya adalah kebutuhan anak-anak. Meletakkannya satu di atas meja, dan satu di bawah menunggu antrian.
Naina membelalak, hatinya bertanya-tanya sendiri.
Buat apa makanan sebanyak ini? Apa buat stok sebulan? Banyak banget.
Naina tertawa dalam hati, mulai menghitung jumlah belanjaan. Dibantu seorang karyawan laki-laki yang memasukkan semua barang ke dalam kantong belanja.
"Ada lagi? Tebus murahnya, cuma lima ribu. Ada roti beli dua gratis satu, ada anggur dan mangga cuma lima belas ribu aja. Silahkan!" tawarnya dengan lihai sambil menunjuk satu per satu dari barang-barang yang sedang dipromosikan.
Pemuda itu melihat satu per satu barang yang ditunjuk sang penjaga kasir tanpa senyum. Sangat berbeda sekali dengan pemuda yang dilihat Naina di dalam masjid kemarin. Ia mengambil satu demi satu dari barang-barang yang disebutkan tadi dan meletakkannya menjadi satu bersama belanjaan yang lain.
Naina mengedipkan mata tak percaya, menahan napas karena sungguh tak menduga dia melakukan apa yang diucapkannya. Gadis itu kembali menghitung, menjumlahkan total belanjaan miliknya.
"Ada kartu member?" tanya Naina lagi sambil mengetik angka-angka.
Tak dinyana, pemuda tersebut mengeluarkan kartu dan Naina mengambilnya.
"Atas nama Bapak Ahmad, ya? Benar?"
Ia mengangguk ketika Naina menyebutkan namanya sambil melirik. Dalam hati gadis itu bersorak mengetahui nama pemuda yang membuatnya terkagum-kagum.
Ia menyebutkan total semua belanjaan, menerima uang dan menyerahkan barang serta struk toko.
"Terima kasih, selamat datang kembali!" ucapnya sembari menangkupkan kedua tangan di dada.
Tak sepatah pun keluar dari lisan pemuda itu. Bibir merah alaminya terus terkatup selama interaksi mereka berlangsung. Ia menenteng belanjaan, tersenyum sekilas sebelum berbalik hendak meninggalkan toko.
"Mmm ... Pak, apa Anda butuh bantuan? Biar saya bantu bawakan," tawar Naina melihatnya yang kepayahan membawa lima kantong plastik besar belanjaan.
"Boleh. Tolong, ya," sahutnya sembari meletakkan dua kantong plastik di lantai dan langsung keluar lebih dulu dari toko.
"Kak, aku antar pelanggan dulu, ya. Minta tolong gantikan sebentar," pinta Naina kepada rekan sejawatnya.
"Iya."
Ia membawa dua kantong plastik membuntuti si Pemuda yang telah menyeberang menuju masjid. Kening Naina mengernyit, tapi langkah terus berlanjut mengekor.
Ada banyak suara anak-anak di dalam sana, juga box-box nasi yang telah tersusun rapi di serambi masjid. Naina tercenung, apakah ada santunan? Di dalam sana, seorang ustadz memberikan tausiyah kepada anak-anak.
"Setiap hari Jum'at di sini selalu ada santunan. Di dalam sana itu anak-anak yatim dan sebagian dari mereka yatim piatu. Ini semua dari seseorang yang dermawan menyisihkan sedikit rezekinya untuk anak-anak di sini," jelas sang pemuda ketika mendapati Naina yang tak lepas menatap ke dalam masjid.
Bibir gadis itu membulat, takjub dengan keramaian masjid.
"Taruh aja di situ, biar nanti saya yang membaginya," ucap pemuda itu lagi meminta Naina meletakkan barang belanjaan.
"Ah, iya. Maaf, kalo boleh tahu kamu ngajar ngaji di sini, ya?" tanya Naina teringat kemarin yang melihatnya berkumpul dengan anak-anak.
Pemuda itu tersenyum, berbeda dengan dia yang waktu di toko tadi.
"Aku cuma marbot di sini, sekalian aja ngajar mereka ngaji abis ashar. Kamu baru, ya?" Pemuda itu balik bertanya kepada Naina.
Sambil mengangguk ia menyahut, "Iya, aku baru mau sebulan tinggal di sini. Ya udah, aku pergi kerja lagi. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalaam!"
Naina berbalik dan pergi, sekali lagi melirik ke dalam masjid merasa tertarik untuk bergabung. Sayang, ia harus bekerja. Naina menghela napas menunduk sambil terus berjalan, tapi sebuah panggilan menghentikan laju kakinya.
"Naina!" panggil pemuda itu.
"Ya." Naina berbalik, menatap bingung pada sang pemuda karena mengetahui namanya.
"Nama kamu Naina, 'kan?" tanyanya sambil mengulas senyum.
Naina mengangguk tersipu.
"Aku ...."
"Ahmad, 'kan? Aku tahu, tadi aku baca nama kartu langganan kamu," sambar Naina.
Laki-laki itu tertegun sejenak, kemudian mengangguk pelan.
"Terima kasih, ya, karena udah bantu bawain belanjaan," tuturnya dengan tulus.
"Sama-sama. Aku pergi, ya."
Ia mengangguk dan melepas Naina dengan hati yang tak rela hingga kedua kakinya enggan beranjak sampai gadis itu menghilang dibalik pintu toko.
"Kakak!" tegur salah satu anak yang sukses menyentak tubuhnya.
"Astaghfirullah al-'adhiim! Kamu bikin kaget Kakak aja," pekiknya sambil mengusap dada.
"Lagian Kakak ngelamun aja, sih. Lihatin apaan, sih?" Penasaran. Anak itu melongo ke arah jalan kepergian Naina.
"Nggak ada. Ayo, masuk lagi. Nanti nggak dapat bagian, lho," sahut sang pemuda seraya mengajaknya kembali masuk ke dalam masjid.
Sementara Naina, masuk ke dalam toko, ia ambruk di bawah meja kasir sambil memburu udara. Tak tahu kenapa, pemuda itu selalu membuat jantungnya berdetak tidak normal.
"Kamu kenapa? Kok, kayak yang abis lomba lari gitu?" tegur rekan sejawat menatap bingung pada sosoknya.
Naina menengadah, tersenyum sambil menggelengkan kepala. Dia sendiri tidak tahu apa yang sedang menimpa pada hatinya. Perasaan yang sangat aneh menurutnya.
"Aneh kamu," sindir temannya itu sembari meninggalkan Naina di meja kasir untuk menjalankan tugasnya.
Kenapa dia selalu bikin hati aku deg-degan kayak gini, sih. Padahal nggak kenal sama sekali. Ahmad, ya ... namanya Ahmad. Bagus, perangainya sesuai dengan nama.
Naina tersenyum, rona merah di pipinya muncul menjadi hiasan. Tersipu saat membayangkan dia memanggil namanya.
Ahmad.
****
Niatnya mau up dua bab, tapi apalah daya kondisi tubuh tidak mendukung. Maaf, ya, Kakak semua dan selamat membaca.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
Herni Rosita
abang marbot
2023-01-23
1
Megawati Goanidjaja
tetap semangat dan jaga kesehatan Author 😘😘
2023-01-09
1
Alfiyati Al-Ikhlas
mangats thor
2023-01-09
1