Bab 10

Laki-laki itu pun tertegun sejenak melihat wanita yang beberapa hari terakhir membuatnya penasaran. Akan tetapi, ia pandai menyimpan rasa dan bersikap layaknya pelanggan biasa. Masuk kemudian setelah melirik gadis penjaga kasir itu.

"Selamat ... berbelanja," lirih Naina nyaris tenggelam kegugupannya sendiri.

Ia memburu udara demi menetralkan jantung yang tiba-tiba berdegup kencang. Dipeganginya dada sembari menenggelamkan diri di bawah meja kasir.

"Astaghfirullah! Kenapa ini? Sesak banget rasanya." Diremasnya bagian dada kiri, berharap sesak akan segera pergi.

Rasa panas menjalar ketika membayangkan tatapan manik hitam yang menghujam dalam. Berkali-kali lisannya bergumam, mengucap kalimat istighfar untuk menghilangkan kegugupan.

"Mbak!" Teguran seorang pelanggan membuat Naina tersentak.

Ia menengadah, tersenyum kikuk kemudian berdiri salah tingkah.

"Ini saja? Ada lagi? Tebus murahnya, Bu. Beli dua gratis satu," tawar Naina sedikit gugup.

"Ah, nggak, deh, Mbak. Lain kali aja," jawab si Pelanggan sembari memperhatikan wajah Naina.

"Baik. Totalnya ...."

Diam-diam laki-laki yang baru saja membuat Naina salah tingkah, memperhatikan dari balik rak. Ia mengulas senyum tipis, merasa tertarik dengan sosok dibalik meja itu.

Senyum tulus dan manis yang dimiliki Naina, juga keramahan sikap, membuatnya berdecak kagum. Ia menggelengkan kepala, menepis apa yang melintas dalam alam hayalnya.

Melanjutkan berbelanja membeli beberapa keperluan untuk anak-anak di masjid.

"Naina!" Panggilan seorang laki-laki untuk seseorang dengan cepat mengalihkan perhatiannya.

"Iya!"

"Oh, jadi namanya Naina. Manis kayak orangnya," gumamnya sembari tersenyum.

Ia memperhatikan interaksi Naina dengan seorang laki-laki dewasa yang memanggilnya tadi. Kagum, satu kata itulah yang terbesit dalam hati. Melihat Naina yang menjaga jarak tidak seperti kebanyakan orang yang tak segan bersentuhan dengan lawan jenis.

Naina tahu batasannya meskipun ia belum menyempurnakan penampilan.

"Boleh nggak, ya, berkenalan?" Dia bertanya pada dirinya sendiri. Lalu, menertawakan diri sendiri dan melanjutkan berbelanja.

Pemuda itu menenteng dua keranjang penuh belanjaan, kesemuanya adalah kebutuhan anak-anak. Meletakkannya satu di atas meja, dan satu di bawah menunggu antrian.

Naina membelalak, hatinya bertanya-tanya sendiri.

Buat apa makanan sebanyak ini? Apa buat stok sebulan? Banyak banget.

Naina tertawa dalam hati, mulai menghitung jumlah belanjaan. Dibantu seorang karyawan laki-laki yang memasukkan semua barang ke dalam kantong belanja.

"Ada lagi? Tebus murahnya, cuma lima ribu. Ada roti beli dua gratis satu, ada anggur dan mangga cuma lima belas ribu aja. Silahkan!" tawarnya dengan lihai sambil menunjuk satu per satu dari barang-barang yang sedang dipromosikan.

Pemuda itu melihat satu per satu barang yang ditunjuk sang penjaga kasir tanpa senyum. Sangat berbeda sekali dengan pemuda yang dilihat Naina di dalam masjid kemarin. Ia mengambil satu demi satu dari barang-barang yang disebutkan tadi dan meletakkannya menjadi satu bersama belanjaan yang lain.

Naina mengedipkan mata tak percaya, menahan napas karena sungguh tak menduga dia melakukan apa yang diucapkannya. Gadis itu kembali menghitung, menjumlahkan total belanjaan miliknya.

"Ada kartu member?" tanya Naina lagi sambil mengetik angka-angka.

Tak dinyana, pemuda tersebut mengeluarkan kartu dan Naina mengambilnya.

"Atas nama Bapak Ahmad, ya? Benar?"

Ia mengangguk ketika Naina menyebutkan namanya sambil melirik. Dalam hati gadis itu bersorak mengetahui nama pemuda yang membuatnya terkagum-kagum.

Ia menyebutkan total semua belanjaan, menerima uang dan menyerahkan barang serta struk toko.

"Terima kasih, selamat datang kembali!" ucapnya sembari menangkupkan kedua tangan di dada.

Tak sepatah pun keluar dari lisan pemuda itu. Bibir merah alaminya terus terkatup selama interaksi mereka berlangsung. Ia menenteng belanjaan, tersenyum sekilas sebelum berbalik hendak meninggalkan toko.

"Mmm ... Pak, apa Anda butuh bantuan? Biar saya bantu bawakan," tawar Naina melihatnya yang kepayahan membawa lima kantong plastik besar belanjaan.

"Boleh. Tolong, ya," sahutnya sembari meletakkan dua kantong plastik di lantai dan langsung keluar lebih dulu dari toko.

"Kak, aku antar pelanggan dulu, ya. Minta tolong gantikan sebentar," pinta Naina kepada rekan sejawatnya.

"Iya."

Ia membawa dua kantong plastik membuntuti si Pemuda yang telah menyeberang menuju masjid. Kening Naina mengernyit, tapi langkah terus berlanjut mengekor.

Ada banyak suara anak-anak di dalam sana, juga box-box nasi yang telah tersusun rapi di serambi masjid. Naina tercenung, apakah ada santunan? Di dalam sana, seorang ustadz memberikan tausiyah kepada anak-anak.

"Setiap hari Jum'at di sini selalu ada santunan. Di dalam sana itu anak-anak yatim dan sebagian dari mereka yatim piatu. Ini semua dari seseorang yang dermawan menyisihkan sedikit rezekinya untuk anak-anak di sini," jelas sang pemuda ketika mendapati Naina yang tak lepas menatap ke dalam masjid.

Bibir gadis itu membulat, takjub dengan keramaian masjid.

"Taruh aja di situ, biar nanti saya yang membaginya," ucap pemuda itu lagi meminta Naina meletakkan barang belanjaan.

"Ah, iya. Maaf, kalo boleh tahu kamu ngajar ngaji di sini, ya?" tanya Naina teringat kemarin yang melihatnya berkumpul dengan anak-anak.

Pemuda itu tersenyum, berbeda dengan dia yang waktu di toko tadi.

"Aku cuma marbot di sini, sekalian aja ngajar mereka ngaji abis ashar. Kamu baru, ya?" Pemuda itu balik bertanya kepada Naina.

Sambil mengangguk ia menyahut, "Iya, aku baru mau sebulan tinggal di sini. Ya udah, aku pergi kerja lagi. Assalamu'alaikum!"

"Wa'alaikumussalaam!"

Naina berbalik dan pergi, sekali lagi melirik ke dalam masjid merasa tertarik untuk bergabung. Sayang, ia harus bekerja. Naina menghela napas menunduk sambil terus berjalan, tapi sebuah panggilan menghentikan laju kakinya.

"Naina!" panggil pemuda itu.

"Ya." Naina berbalik, menatap bingung pada sang pemuda karena mengetahui namanya.

"Nama kamu Naina, 'kan?" tanyanya sambil mengulas senyum.

Naina mengangguk tersipu.

"Aku ...."

"Ahmad, 'kan? Aku tahu, tadi aku baca nama kartu langganan kamu," sambar Naina.

Laki-laki itu tertegun sejenak, kemudian mengangguk pelan.

"Terima kasih, ya, karena udah bantu bawain belanjaan," tuturnya dengan tulus.

"Sama-sama. Aku pergi, ya."

Ia mengangguk dan melepas Naina dengan hati yang tak rela hingga kedua kakinya enggan beranjak sampai gadis itu menghilang dibalik pintu toko.

"Kakak!" tegur salah satu anak yang sukses menyentak tubuhnya.

"Astaghfirullah al-'adhiim! Kamu bikin kaget Kakak aja," pekiknya sambil mengusap dada.

"Lagian Kakak ngelamun aja, sih. Lihatin apaan, sih?" Penasaran. Anak itu melongo ke arah jalan kepergian Naina.

"Nggak ada. Ayo, masuk lagi. Nanti nggak dapat bagian, lho," sahut sang pemuda seraya mengajaknya kembali masuk ke dalam masjid.

Sementara Naina, masuk ke dalam toko, ia ambruk di bawah meja kasir sambil memburu udara. Tak tahu kenapa, pemuda itu selalu membuat jantungnya berdetak tidak normal.

"Kamu kenapa? Kok, kayak yang abis lomba lari gitu?" tegur rekan sejawat menatap bingung pada sosoknya.

Naina menengadah, tersenyum sambil menggelengkan kepala. Dia sendiri tidak tahu apa yang sedang menimpa pada hatinya. Perasaan yang sangat aneh menurutnya.

"Aneh kamu," sindir temannya itu sembari meninggalkan Naina di meja kasir untuk menjalankan tugasnya.

Kenapa dia selalu bikin hati aku deg-degan kayak gini, sih. Padahal nggak kenal sama sekali. Ahmad, ya ... namanya Ahmad. Bagus, perangainya sesuai dengan nama.

Naina tersenyum, rona merah di pipinya muncul menjadi hiasan. Tersipu saat membayangkan dia memanggil namanya.

Ahmad.

****

Niatnya mau up dua bab, tapi apalah daya kondisi tubuh tidak mendukung. Maaf, ya, Kakak semua dan selamat membaca.

Terpopuler

Comments

Herni Rosita

Herni Rosita

abang marbot

2023-01-23

1

Megawati Goanidjaja

Megawati Goanidjaja

tetap semangat dan jaga kesehatan Author 😘😘

2023-01-09

1

Alfiyati Al-Ikhlas

Alfiyati Al-Ikhlas

mangats thor

2023-01-09

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23 Rahasia Besar Alfin
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35 Pertemuan Tak Terduga
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60 Kedatangan Seseorang
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86 Meluluhkan Aminah
87 Bab 87
88 Bab 88 Kemarahan Alfin
89 Bab 89 Pengorbanan Naina I
90 Bab 90 Pengorbanan Naina II
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
156 Bab 156
157 Bab 157
158 Bab 158
159 Bab 159
160 Bab 160
161 Bab 161
162 Bab 162
163 Bab 163
164 Bab 164
165 Bab 165
166 Bab 166
167 Bab 167
168 Bab 168
169 Bab 169
170 Bab 170
171 Bab 171
172 Bab 172
173 Bab 173
174 Bab 174
175 Bab 175
176 Bab 176
177 Bab 177
178 Bab 178
179 Bab 179
180 Bab 180
Episodes

Updated 180 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23 Rahasia Besar Alfin
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35 Pertemuan Tak Terduga
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60 Kedatangan Seseorang
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86 Meluluhkan Aminah
87
Bab 87
88
Bab 88 Kemarahan Alfin
89
Bab 89 Pengorbanan Naina I
90
Bab 90 Pengorbanan Naina II
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155
156
Bab 156
157
Bab 157
158
Bab 158
159
Bab 159
160
Bab 160
161
Bab 161
162
Bab 162
163
Bab 163
164
Bab 164
165
Bab 165
166
Bab 166
167
Bab 167
168
Bab 168
169
Bab 169
170
Bab 170
171
Bab 171
172
Bab 172
173
Bab 173
174
Bab 174
175
Bab 175
176
Bab 176
177
Bab 177
178
Bab 178
179
Bab 179
180
Bab 180

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!