"Kenapa sama Naina? Kok, kelihatanya dia sedih gitu pas denger soal laki-laki yang mau melamarnya," tanya Asep yang sempat memperhatikan wajah Naina.
"Nggak tahu, Pak. Mungkin dia sedih keingetan ibunya, Pak. Bisa aja," sahut Sumiyati mengira-ngira.
Mata tua itu sesekali melirik pintu kamar Naina yang tertutup rapat. Mereka bahkan mendengar suara kunci. Untuk malam itu, mereka akan membiarkan Naina melepaskan semua beban. Dia butuh waktu untuk sendiri.
"Hhmm ... iya, Ibu bener. Dia baru ditinggal pergi sama Lita. Kasihan dia, pasti masih belum bisa ngerelain," timpal Asep menatap sendu pintu kamar yang tertutup itu.
Sumiyati kembali pada pekerjaannya menyiapkan berbagai bahan untuk jualan besok. Dibantu Asep, mereka tetap romantis walaupun tak dikaruniai anak hingga tua. Saling menerima satu sama lain tanpa mengeluhkan kekurangan yang mereka miliki.
Sementara Naina, mendekap bantal menumpahkan kesedihan. Masih terngiang dengan jelas ucapan ibu laki-laki yang melamarnya di Jakarta. Amat sakit, dan sangat membekas dalam ingatan.
Hingga mata terpejam dengan sendirinya, kantuk melanda membawanya ke dalam buaian alam mimpi belaka.
"Ibu!"
"Naina! Apa itu kamu, Nak?"
Lita terduduk di atas sebuah batu mengenakan gaun berwarna putih bersih dan bersinar. Ia tersenyum, senyum yang tiada luka. Senyum yang menepis keresahan, juga segala gundah yang melanda.
"Kemari, sayang. Ibu kangen sama kamu," ucap Lita sembari membentang tangan menyambut kedatangan putrinya.
"Ibu!" Naina berlari sambil berderai air mata. Masuk ke dalam pelukan Lita menumpahkan segala kerinduan.
"Jangan nangis. Bukannya Nai udah janji sama Ibu nggak akan nangis lagi? Kenapa masih nangis?" Lita mengelus rambut panjang Naina.
Sungguh, gadis itu amat merindukan buaiannya. Ia memejamkan mata, semakin dalam menelusup ke dada sang ibu. Hangat dan tak ingin kehilangan lagi.
"Nai mau ikut sama Ibu aja. Nai mau temenin Ibu di sini. Di sana selalu bikin Nai nangis," ucap Naina hampir tenggelam dalam dekapan Lita.
Kedua tangan sang ibu menangkup wajah gadis itu, dikecup dahinya dengan hangat dan penuh cinta. Ia tersenyum, mendamaikan hati Naina.
"Naina anak Ibu yang kuat, 'kan? Nai pasti bisa melewati semua ujian. Percaya sama Ibu, kebahagiaan sedang menunggu Nai di sana. Nai jangan menangis lagi, lewati semua ujian dengan tabah dan serahkan semuanya kepada Allah. Nai pasti akan menemukan ketenangan," ucapnya sembari mengusap pipi gadis itu.
Naina kembali memeluk tubuh Lita, menghirup aroma bebungaan yang menguar dari tubuhnya. Harum dan menenangkan.
"Ibu, apakah ini surga?" tanya Naina tanpa mengangkat wajah dan terus terpejam.
Tak ada sahutan, tak ada buaian. Keadaan sunyi senyap, semua kedamaian lenyap begitu saja.
"Ibu!" Naina meraba permukaan, tak ada apapun.
"Ibu!" Suaranya menggema di tengah kesunyian malam.
"Ibu!" Tangis Naina pecah membangunkan dua paruh baya yang terlelap di kamar mereka.
"Naina! Ya Allah!" Sumiyati beranjak dan turun dari ranjang, berjalan cepat mendatangi kamar Naina sambil menggelung rambutnya asal.
"Ibu!" Naina menangis sambil memanggil-manggil ibunya.
"Naina! Ada apa, Nak?" Sumiyati memanggil sambil mengetuk pintu kamar Naina. Namun, gadis itu terus meracau memanggil ibunya.
"Nai! Naina, bangun! Ada apa?" Suara Sumiyati terdengar cemas, ia terus mengetuk pintu tersebut berharap Naina akan terbangun dan membukanya.
"Kenapa, Bu?" Asep muncul sambil mengenakan sarung.
"Ini, Pak. Naina kayaknya mimpi, coba Bapak dengerin." Ia menjauh dari pintu dan membiarkan Asep untuk mendengarkan suara lirih tangisan Naina.
"Di mana serepnya? Buka aja," ucap Asep sembari menadahkan tangan meminta kunci cadangan.
Sumiyati bergegas pergi ke dapur mencari kunci cadangan pintu kamar Naina. Sementara itu, Asep mencoba mengetuk pintu membangunkannya.
"Ini, Pak!" Sumiyati datang dengan cepat dan menyerahkan kunci tersebut kepada Asep.
Keduanya menerobos masuk dan mendapati Naina yang terlentang dengan dahi dipenuhi keringat.
"Ya Allah, Nai!" Sumiyati berlari mendekat, duduk di tepi ranjang, mengusap keringat di dahi gadis itu.
"Nai! Bangun, Nak. Bangun!" Ia membangunkan Naina yang terus meracau memanggil ibunya.
"Bismillahirrahmanirrahim, allaahumma sholli 'alaa sayyidinaa Muhammad wa 'ala aali sayyidinaa Muhammad." Asep membacakan sholawat, kemudian mengambil air membasahi tangannya seraya mengusap wajah Naina dengan air tersebut.
Gadis itu terdiam, tak lagi meracau dan menangis. Perlahan membuka mata, menatap sekitar.
"Alhamdulillah!"
Ia menoleh pada Sumiyati dan Asep yang berasa di sisi kanan ranjangnya. Beranjak duduk dibantu sang bibi.
"Paman, Bibi? Kenapa kalian di sini? Ada apa?" tanya Naina bingung. Ia mengusap wajahnya yang basah, menyusut air mata di pipi.
"Minum dulu, Nak. Tadi kamu mimpi," ucap Sumiyati sembari memberikan segelas air kepada Naina.
Gadis itu menerimanya, membasahi tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering. Sang Bibi mengusap-usap rambut di punggung Naina dengan lembut, menyalurkan ketenangan untuk hatinya yang gelisah.
"Tadi Nai mimpi apa? Kok, sampe nangis-nangis segala," tanya Bibi.
Naina tertunduk, senyum Lita yang baru saja ditemuinya membayang dalam pelupuk. Ia menghela napas, menahan kesedihan yang menumpuk.
"Nai mimpi ketemu sama Ibu, Bi. Nai kangen sama Ibu," lirih Naina bergetar menahan kesedihan.
Sumiyati melirik suaminya, mereka faham dengan perasaan Naina saat ini. Ia mendekap gadis itu, memberikannya kasih sayang pengganti sebagai penghibur.
Naina membalas dekapan sang bibi, menjatuhkan kepala di bahu ringkih itu. Sekuat mungkin menahan tangis, agar tidak tumpah ruah.
"Ya udah. Ibu tidur di sini aja, temenin Naina. Dia butuh teman, Bapak tidur di depan," ujar Asep seraya keluar kamar Naina dan menutup pintunya.
Sumiyati mengurai pelukan, menangkup wajah Naina dan menatapnya dalam-dalam.
"Jangan lupa doain Ibu setiap abis shalat. Cuma kamu yang diharapkan olehnya di dunia ini," ucap Sumiyati sembari tersenyum tulus.
Naina mengangguk, itulah yang dia lakukan setiap selesai sholat fardhu ataupun sunah. Mendoakan Lita, memohon ampunan kepada Allah untuknya.
"Ya udah, sekarang kamu tidur lagi, ya. Masih malam, biar Bibi temenin di sini."
Ia membantu Naina merebahkan diri, menarik selimut menutupi tubuh mereka. Naina berbalik, memeluk tubuh sang bibi, membayangkan jika itu adalah Lita.
****
Suara kokok ayam menyambut pagi, membangunkan semua orang dari lelapnya buaian alam mimpi. Naina terjaga dengan rasa damai di hati, ia melirik tempat tidur mencari keberadaan Sumiyati.
Gadis itu segera turun dari ranjang begitu mendengar suara peralatan masak yang dimainkan.
"Bibi, kenapa nggak bangunin Nai?" tanya Naina sambil mendekat.
"Bibi nggak tega, abis tidur kamu pules banget. Udah, mandi sana. Udah mau subuh," sahut Sumiyati sembari mengangkat ikan terakhir yang digorengnya.
Melihat tak ada lagi yang harus dikerjakan, Naina berbalik dan masuk ke kamar mandi membersihkan diri sekalian mengambil wudhu.
Pagi yang cerah, sinar hangat sang mentari mengantarkannya pergi bekerja. Hari Jum'at, hari yang mulia. Semoga keberkahan menyertainya.
Dengan senyum hangat yang tersemat, ia menyambut para pelanggan yang berdatangan.
"Selamat pagi, selamat datang di ...." Lidah Naina kelu saat sadar siapa yang membuka pintu.
Dia ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
Adi Soraya
Lanjutttttt....
2023-01-08
1
Junida Susilo
pasti si babang masjid 🤭😍
2023-01-08
2
Yani Sri
ceritanya lanjut dong
2023-01-08
0