Bab 9

"Kenapa sama Naina? Kok, kelihatanya dia sedih gitu pas denger soal laki-laki yang mau melamarnya," tanya Asep yang sempat memperhatikan wajah Naina.

"Nggak tahu, Pak. Mungkin dia sedih keingetan ibunya, Pak. Bisa aja," sahut Sumiyati mengira-ngira.

Mata tua itu sesekali melirik pintu kamar Naina yang tertutup rapat. Mereka bahkan mendengar suara kunci. Untuk malam itu, mereka akan membiarkan Naina melepaskan semua beban. Dia butuh waktu untuk sendiri.

"Hhmm ... iya, Ibu bener. Dia baru ditinggal pergi sama Lita. Kasihan dia, pasti masih belum bisa ngerelain," timpal Asep menatap sendu pintu kamar yang tertutup itu.

Sumiyati kembali pada pekerjaannya menyiapkan berbagai bahan untuk jualan besok. Dibantu Asep, mereka tetap romantis walaupun tak dikaruniai anak hingga tua. Saling menerima satu sama lain tanpa mengeluhkan kekurangan yang mereka miliki.

Sementara Naina, mendekap bantal menumpahkan kesedihan. Masih terngiang dengan jelas ucapan ibu laki-laki yang melamarnya di Jakarta. Amat sakit, dan sangat membekas dalam ingatan.

Hingga mata terpejam dengan sendirinya, kantuk melanda membawanya ke dalam buaian alam mimpi belaka.

"Ibu!"

"Naina! Apa itu kamu, Nak?"

Lita terduduk di atas sebuah batu mengenakan gaun berwarna putih bersih dan bersinar. Ia tersenyum, senyum yang tiada luka. Senyum yang menepis keresahan, juga segala gundah yang melanda.

"Kemari, sayang. Ibu kangen sama kamu," ucap Lita sembari membentang tangan menyambut kedatangan putrinya.

"Ibu!" Naina berlari sambil berderai air mata. Masuk ke dalam pelukan Lita menumpahkan segala kerinduan.

"Jangan nangis. Bukannya Nai udah janji sama Ibu nggak akan nangis lagi? Kenapa masih nangis?" Lita mengelus rambut panjang Naina.

Sungguh, gadis itu amat merindukan buaiannya. Ia memejamkan mata, semakin dalam menelusup ke dada sang ibu. Hangat dan tak ingin kehilangan lagi.

"Nai mau ikut sama Ibu aja. Nai mau temenin Ibu di sini. Di sana selalu bikin Nai nangis," ucap Naina hampir tenggelam dalam dekapan Lita.

Kedua tangan sang ibu menangkup wajah gadis itu, dikecup dahinya dengan hangat dan penuh cinta. Ia tersenyum, mendamaikan hati Naina.

"Naina anak Ibu yang kuat, 'kan? Nai pasti bisa melewati semua ujian. Percaya sama Ibu, kebahagiaan sedang menunggu Nai di sana. Nai jangan menangis lagi, lewati semua ujian dengan tabah dan serahkan semuanya kepada Allah. Nai pasti akan menemukan ketenangan," ucapnya sembari mengusap pipi gadis itu.

Naina kembali memeluk tubuh Lita, menghirup aroma bebungaan yang menguar dari tubuhnya. Harum dan menenangkan.

"Ibu, apakah ini surga?" tanya Naina tanpa mengangkat wajah dan terus terpejam.

Tak ada sahutan, tak ada buaian. Keadaan sunyi senyap, semua kedamaian lenyap begitu saja.

"Ibu!" Naina meraba permukaan, tak ada apapun.

"Ibu!" Suaranya menggema di tengah kesunyian malam.

"Ibu!" Tangis Naina pecah membangunkan dua paruh baya yang terlelap di kamar mereka.

"Naina! Ya Allah!" Sumiyati beranjak dan turun dari ranjang, berjalan cepat mendatangi kamar Naina sambil menggelung rambutnya asal.

"Ibu!" Naina menangis sambil memanggil-manggil ibunya.

"Naina! Ada apa, Nak?" Sumiyati memanggil sambil mengetuk pintu kamar Naina. Namun, gadis itu terus meracau memanggil ibunya.

"Nai! Naina, bangun! Ada apa?" Suara Sumiyati terdengar cemas, ia terus mengetuk pintu tersebut berharap Naina akan terbangun dan membukanya.

"Kenapa, Bu?" Asep muncul sambil mengenakan sarung.

"Ini, Pak. Naina kayaknya mimpi, coba Bapak dengerin." Ia menjauh dari pintu dan membiarkan Asep untuk mendengarkan suara lirih tangisan Naina.

"Di mana serepnya? Buka aja," ucap Asep sembari menadahkan tangan meminta kunci cadangan.

Sumiyati bergegas pergi ke dapur mencari kunci cadangan pintu kamar Naina. Sementara itu, Asep mencoba mengetuk pintu membangunkannya.

"Ini, Pak!" Sumiyati datang dengan cepat dan menyerahkan kunci tersebut kepada Asep.

Keduanya menerobos masuk dan mendapati Naina yang terlentang dengan dahi dipenuhi keringat.

"Ya Allah, Nai!" Sumiyati berlari mendekat, duduk di tepi ranjang, mengusap keringat di dahi gadis itu.

"Nai! Bangun, Nak. Bangun!" Ia membangunkan Naina yang terus meracau memanggil ibunya.

"Bismillahirrahmanirrahim, allaahumma sholli 'alaa sayyidinaa Muhammad wa 'ala aali sayyidinaa Muhammad." Asep membacakan sholawat, kemudian mengambil air membasahi tangannya seraya mengusap wajah Naina dengan air tersebut.

Gadis itu terdiam, tak lagi meracau dan menangis. Perlahan membuka mata, menatap sekitar.

"Alhamdulillah!"

Ia menoleh pada Sumiyati dan Asep yang berasa di sisi kanan ranjangnya. Beranjak duduk dibantu sang bibi.

"Paman, Bibi? Kenapa kalian di sini? Ada apa?" tanya Naina bingung. Ia mengusap wajahnya yang basah, menyusut air mata di pipi.

"Minum dulu, Nak. Tadi kamu mimpi," ucap Sumiyati sembari memberikan segelas air kepada Naina.

Gadis itu menerimanya, membasahi tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering. Sang Bibi mengusap-usap rambut di punggung Naina dengan lembut, menyalurkan ketenangan untuk hatinya yang gelisah.

"Tadi Nai mimpi apa? Kok, sampe nangis-nangis segala," tanya Bibi.

Naina tertunduk, senyum Lita yang baru saja ditemuinya membayang dalam pelupuk. Ia menghela napas, menahan kesedihan yang menumpuk.

"Nai mimpi ketemu sama Ibu, Bi. Nai kangen sama Ibu," lirih Naina bergetar menahan kesedihan.

Sumiyati melirik suaminya, mereka faham dengan perasaan Naina saat ini. Ia mendekap gadis itu, memberikannya kasih sayang pengganti sebagai penghibur.

Naina membalas dekapan sang bibi, menjatuhkan kepala di bahu ringkih itu. Sekuat mungkin menahan tangis, agar tidak tumpah ruah.

"Ya udah. Ibu tidur di sini aja, temenin Naina. Dia butuh teman, Bapak tidur di depan," ujar Asep seraya keluar kamar Naina dan menutup pintunya.

Sumiyati mengurai pelukan, menangkup wajah Naina dan menatapnya dalam-dalam.

"Jangan lupa doain Ibu setiap abis shalat. Cuma kamu yang diharapkan olehnya di dunia ini," ucap Sumiyati sembari tersenyum tulus.

Naina mengangguk, itulah yang dia lakukan setiap selesai sholat fardhu ataupun sunah. Mendoakan Lita, memohon ampunan kepada Allah untuknya.

"Ya udah, sekarang kamu tidur lagi, ya. Masih malam, biar Bibi temenin di sini."

Ia membantu Naina merebahkan diri, menarik selimut menutupi tubuh mereka. Naina berbalik, memeluk tubuh sang bibi, membayangkan jika itu adalah Lita.

****

Suara kokok ayam menyambut pagi, membangunkan semua orang dari lelapnya buaian alam mimpi. Naina terjaga dengan rasa damai di hati, ia melirik tempat tidur mencari keberadaan Sumiyati.

Gadis itu segera turun dari ranjang begitu mendengar suara peralatan masak yang dimainkan.

"Bibi, kenapa nggak bangunin Nai?" tanya Naina sambil mendekat.

"Bibi nggak tega, abis tidur kamu pules banget. Udah, mandi sana. Udah mau subuh," sahut Sumiyati sembari mengangkat ikan terakhir yang digorengnya.

Melihat tak ada lagi yang harus dikerjakan, Naina berbalik dan masuk ke kamar mandi membersihkan diri sekalian mengambil wudhu.

Pagi yang cerah, sinar hangat sang mentari mengantarkannya pergi bekerja. Hari Jum'at, hari yang mulia. Semoga keberkahan menyertainya.

Dengan senyum hangat yang tersemat, ia menyambut para pelanggan yang berdatangan.

"Selamat pagi, selamat datang di ...." Lidah Naina kelu saat sadar siapa yang membuka pintu.

Dia ....

Terpopuler

Comments

Adi Soraya

Adi Soraya

Lanjutttttt....

2023-01-08

1

Junida Susilo

Junida Susilo

pasti si babang masjid 🤭😍

2023-01-08

2

Yani Sri

Yani Sri

ceritanya lanjut dong

2023-01-08

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23 Rahasia Besar Alfin
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35 Pertemuan Tak Terduga
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60 Kedatangan Seseorang
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86 Meluluhkan Aminah
87 Bab 87
88 Bab 88 Kemarahan Alfin
89 Bab 89 Pengorbanan Naina I
90 Bab 90 Pengorbanan Naina II
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
156 Bab 156
157 Bab 157
158 Bab 158
159 Bab 159
160 Bab 160
161 Bab 161
162 Bab 162
163 Bab 163
164 Bab 164
165 Bab 165
166 Bab 166
167 Bab 167
168 Bab 168
169 Bab 169
170 Bab 170
171 Bab 171
172 Bab 172
173 Bab 173
174 Bab 174
175 Bab 175
176 Bab 176
177 Bab 177
178 Bab 178
179 Bab 179
180 Bab 180
Episodes

Updated 180 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23 Rahasia Besar Alfin
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35 Pertemuan Tak Terduga
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60 Kedatangan Seseorang
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86 Meluluhkan Aminah
87
Bab 87
88
Bab 88 Kemarahan Alfin
89
Bab 89 Pengorbanan Naina I
90
Bab 90 Pengorbanan Naina II
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155
156
Bab 156
157
Bab 157
158
Bab 158
159
Bab 159
160
Bab 160
161
Bab 161
162
Bab 162
163
Bab 163
164
Bab 164
165
Bab 165
166
Bab 166
167
Bab 167
168
Bab 168
169
Bab 169
170
Bab 170
171
Bab 171
172
Bab 172
173
Bab 173
174
Bab 174
175
Bab 175
176
Bab 176
177
Bab 177
178
Bab 178
179
Bab 179
180
Bab 180

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!