"Kak, aku duluan, ya. Selamat bekerja!" Naina berpamitan pada semua rekan di tempatnya bekerja.
Matahari mulai condong ke arah barat, waktu ashar baru saja lewat. Waktunya Naina kembali pulang, mengistirahatkan tubuhnya yang lelah karena hampir seharian berdiri di meja kasir.
Ia keluar toko, berniat menghampiri pamannya yang juga baru selesai bekerja. Namun, tubuh Naina mematung, saat melihat pemuda itu berdiri di sana bersama sang paman.
"Bukannya itu pemuda yang tadi sama anak-anak di masjid? Apa paman kenal sama dia, ya?" gumam Naina sembari mendaratkan bokong di kursi depan toko.
Menunggu sampai pembicaraan mereka selesai. Naina tersenyum melihat perangai sang pemuda yang beradab. Diam-diam mengagumi meskipun tidak saling mengenal. Terlebih saat beberapa anak datang menghampirinya, bersalaman satu per satu.
"Siapa dia, ya? Apa dia guru ngaji di masjid itu? Tapi kelihatannya masih muda banget." Naina bermonolog lirih, pandangannya tak lepas dari sosok bersahaja yang tampan di tempat kerja Asep.
Naina berpaling, berpura-pura memainkan ponsel ketika pemuda itu menoleh padanya. Melirik tanpa mengangkat wajah, memastikan dia masih ada di sana bersama sang paman.
"Mang Asep, maaf. Perempuan yang di sana itu apa Mamang kenal? Siapa, ya?" tanya sang pemuda sembari menunjuk Naina yang tertunduk memainkan ponselnya.
Mata Paman yang sudah tua tak dapat melihat dengan jelas apalagi mengenali sosok yang duduk di depan toko tersebut.
"Maaf, Jang. Mamang nggak bisa lihat dengan jelas siapa yang ada di sana. Di mata Mamang itu cuma kayak asap putih aja, nggak tahu bentuknya," sahut Asep menjelaskan sembari tersenyum tak enak.
Sang Pemuda menganggukkan kepala, terus mengerti dengan kondisi mata tua Asep yang sudah ikut menua seiring usia bertambah.
"Oh, iya udah nggak apa-apa, Mang. Saya permisi dulu, udah banyak anak-anak soalnya. Assalamu'alaikum!" pamit pemuda itu seraya berbalik dan masuk kembali ke dalam masjid setelah Asep menjawab salamnya.
Ia kembali melirik Naina, berharap gadis itu akan mengangkat wajah sebelum berkumpul bersama anak-anak di dalam masjid. Helaan nafasnya terdengar berat, rasa kecewa menghampiri ketika Naina tak kunjung memperlihatkan wajahnya.
Anak Lita itu baru mengangkat kepala ketika sosok sang pemuda telah menghilang dibalik pintu masjid.
"Lho, Nai! Kok, masih di sini? Belum pulang?" tegur sang manager yang kebetulan keluar toko.
"Eh, iya, Pak. Lagi nungguin Paman selesai kerja," jawab Naina seraya berdiri dari duduknya.
"Paman?" Laki-laki dewasa itu mengernyit, mendengar jawaban gadis di depannya.
"Iya, Pak. Paman saya kerja di sana ... itu, yang berdiri di sana itu paman saja. Kayaknya beliau udah nungguin. Saya permisi dulu, Pak. Assalamu'alaikum!" Naina mengangguk sopan sebelum membawa langkahnya menyebrangi jalan untuk menemui sang paman.
Dia tidak ingin berharap pada semua perhatian yang diberikan sang manager padanya. Sadar akan diri sendiri, juga tempat di mana dia seharusnya berada. Laki-laki yang menolak kemarin pun, memiliki pangkat yang sama dengannya. Naina tak ingin merasakan sakit lagi, tak ingin direndahkan lagi. Apalagi soal asal-usulnya jika diketahui.
Namun, sang manager yang menaruh hati padanya, tidak akan menyerah untuk bisa mendapatkan hati Naina. Dia seorang duda beranak satu, bercerai dengan istrinya karena satu hal.
"Kenapa dia selalu menghindar setiap kali aku ajak bicara? Gimana biar dia nggak menghindar lagi, ya?" Sang manager menggigit bibir, memikirkan cara untuk dapat berbincang lama dengan Naina.
Sejak pertama kali Naina datang sebagai karyawan, dia sudah tertarik pada kesopanannya. Ditambah wajah yang manis, dan selalu tersenyum ramah. Hatinya terpincut kesederhanaan anak Lita itu.
"Paman!" panggil Naina setelah dekat dengan posisi pamannya itu.
"Nai! Paman kira siapa, soalnya nggak kelihatan mukanya." Asep tersenyum dan mengajak Naina menuju motornya. Tak lupa mengenakan kacamata yang selalu ia simpan di dalam jok, dan akan dikeluarkan ketika hendak mengendarai motor.
Hati Naina ingin sekali bertanya tentang pemuda yang tadi berbincang dengannya. Akan tetapi, lidah tak mampu melakukan. Terlalu malu membahas soal laki-laki disaat ia ingin melupakan semua hal tentang mereka. Tentang cinta juga janji yang mereka umbar.
"Besok Paman libur kerja. Setiap hari Jum'at semua pekerja diliburkan. Kamu nggak apa-apa, 'kan, berangkat sendiri?" ujar sang paman memberitahu.
"Iya. Nggak apa-apa, kok. Nai, 'kan, udah gede. Biar berangkat sendiri aja," sahut Naina tidak keberatan sama sekali.
"Kalo nggak kamu bawa aja motor Paman ini ... oh, gini aja. Nanti Paman antar kamu aja, ya," ucap Asep setelah menimbang keputusan.
"Nggak apa-apa, Paman. Nggak usah. Biar Nai berangkat sendiri aja. Ada banyak ojek ini di sini," jawab Naina merasa kasihan pada laki-laki yang tak lagi muda itu.
Asep tertegun sebentar, untuk kemudian dia mengangguk. Biarlah Naina belajar mandiri dulu. Supaya kelak ketika mereka meninggalkannya sendiri, dia sudah terbiasa dan dapat melakukan segala hal sendirian tanpa merepotkan orang lain.
"Wah, banyak banget yang beli, Bi. Sampe antri kayak gini, kayak kereta," ujar Naina setelah tiba di rumah sang bibi dan mendapati antrian pembeli yang mengular.
"Iya, ini. Alhamdulillah." Bibi menerima uluran tangan Naina untuk bersalaman. Gadis itu masuk ke dalam, meletakkan tas, dan kembali keluar sambil menggelung rambutnya.
"Nai bantuin, Bi. Kayaknya kewalahan," ucap Naina seraya melipat kertas nasi menyiapkan pesanan.
"Udah nggak apa-apa, Nai. Kamu pasti capek baru pulang kerja. Udah istirahat aja, ya," tolak Bibi yang merass kasihan terhadap Naina.
"Nggak, kok, Bi. Nanti kalo udah beres Nai mandi terus istirahat. Sekarang Nai mau bantu Bibi dulu," keukeuh Naina ingin membantu melayani pembeli.
Sumiyati tersenyum, ia benar-benar mengagumi sosok Naina yang baik dan rendah hati. Selama tinggal bersama mereka, tak pernah sekalipun gadis itu merepotkannya. Justru, dia banyak membantu meringankan pekerjaan.
Naina tidak terlalu dekat dengan tetangga di sekitar rumah karena sejak kedatangannya ke kota itu, ia jarang sekali keluar apalagi berbincang dengan mereka. Naina gadis yang ramah, tapi tertutup. Tak banyak bicara, tapi terlihat rajin. Ia tak segan menyapa bila berpapasan dengan tetangga.
"Nai, tadi ada tetangga yang mau ngelamar kamu jadi istri anaknya. Katanya, suka sama kamu. Ya, Bibi nggak bisa jawab karena semua itu hak kamu yang menentukan," ucap Bibi di malam hari saat mereka baru saja selesai makan.
Mendengar kata lamaran, Naina tercenung. Trauma karena pernah mendapat penolakan sekaligus penghinaan. Naina menundukkan kepala, rasa sakit yang sedang ia obati sedikit demi sedikit kembali terkuak dan membuatnya sesak.
"Nai, kenapa, Nak? Kalo kamu nggak mau, Bibi nggak maksa. Bibi cuma nyampein amanat aja," ucap Sumiyati sembari mengusap-usap punggung Naina.
Gadis itu menghela napas, mengangkat wajah pelan.
"Maaf, Bi. Nai nggak bisa terima. Nai belum mikirin soal itu. Nanti Bibi bilang aja sama orang yang mau melamar Nai, ya." Mata Naina berkaca, teringat penolakan terakhir yang dilakukan kekasih juga keluarganya. Mengakibatkan Naina kehilangan sosok sandaran hidup untuk selamanya.
Ia berdiri dan segera berlari ke kamarnya. Menangis saat terkenang kembali hari di mana Lita meninggalkannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
Ashry Huda Huda
kasihan jg ya thor aku pnya ank prempuan tpi Alhamdulillah sdah menikah semua
2023-03-10
1
Fitra Smart
sabar Nai... hikmahnya besar nanty
2023-03-06
1
Junida Susilo
kamu berhak bahagia nai 😍
2023-01-08
1