Bab 8

"Kak, aku duluan, ya. Selamat bekerja!" Naina berpamitan pada semua rekan di tempatnya bekerja.

Matahari mulai condong ke arah barat, waktu ashar baru saja lewat. Waktunya Naina kembali pulang, mengistirahatkan tubuhnya yang lelah karena hampir seharian berdiri di meja kasir.

Ia keluar toko, berniat menghampiri pamannya yang juga baru selesai bekerja. Namun, tubuh Naina mematung, saat melihat pemuda itu berdiri di sana bersama sang paman.

"Bukannya itu pemuda yang tadi sama anak-anak di masjid? Apa paman kenal sama dia, ya?" gumam Naina sembari mendaratkan bokong di kursi depan toko.

Menunggu sampai pembicaraan mereka selesai. Naina tersenyum melihat perangai sang pemuda yang beradab. Diam-diam mengagumi meskipun tidak saling mengenal. Terlebih saat beberapa anak datang menghampirinya, bersalaman satu per satu.

"Siapa dia, ya? Apa dia guru ngaji di masjid itu? Tapi kelihatannya masih muda banget." Naina bermonolog lirih, pandangannya tak lepas dari sosok bersahaja yang tampan di tempat kerja Asep.

Naina berpaling, berpura-pura memainkan ponsel ketika pemuda itu menoleh padanya. Melirik tanpa mengangkat wajah, memastikan dia masih ada di sana bersama sang paman.

"Mang Asep, maaf. Perempuan yang di sana itu apa Mamang kenal? Siapa, ya?" tanya sang pemuda sembari menunjuk Naina yang tertunduk memainkan ponselnya.

Mata Paman yang sudah tua tak dapat melihat dengan jelas apalagi mengenali sosok yang duduk di depan toko tersebut.

"Maaf, Jang. Mamang nggak bisa lihat dengan jelas siapa yang ada di sana. Di mata Mamang itu cuma kayak asap putih aja, nggak tahu bentuknya," sahut Asep menjelaskan sembari tersenyum tak enak.

Sang Pemuda menganggukkan kepala, terus mengerti dengan kondisi mata tua Asep yang sudah ikut menua seiring usia bertambah.

"Oh, iya udah nggak apa-apa, Mang. Saya permisi dulu, udah banyak anak-anak soalnya. Assalamu'alaikum!" pamit pemuda itu seraya berbalik dan masuk kembali ke dalam masjid setelah Asep menjawab salamnya.

Ia kembali melirik Naina, berharap gadis itu akan mengangkat wajah sebelum berkumpul bersama anak-anak di dalam masjid. Helaan nafasnya terdengar berat, rasa kecewa menghampiri ketika Naina tak kunjung memperlihatkan wajahnya.

Anak Lita itu baru mengangkat kepala ketika sosok sang pemuda telah menghilang dibalik pintu masjid.

"Lho, Nai! Kok, masih di sini? Belum pulang?" tegur sang manager yang kebetulan keluar toko.

"Eh, iya, Pak. Lagi nungguin Paman selesai kerja," jawab Naina seraya berdiri dari duduknya.

"Paman?" Laki-laki dewasa itu mengernyit, mendengar jawaban gadis di depannya.

"Iya, Pak. Paman saya kerja di sana ... itu, yang berdiri di sana itu paman saja. Kayaknya beliau udah nungguin. Saya permisi dulu, Pak. Assalamu'alaikum!" Naina mengangguk sopan sebelum membawa langkahnya menyebrangi jalan untuk menemui sang paman.

Dia tidak ingin berharap pada semua perhatian yang diberikan sang manager padanya. Sadar akan diri sendiri, juga tempat di mana dia seharusnya berada. Laki-laki yang menolak kemarin pun, memiliki pangkat yang sama dengannya. Naina tak ingin merasakan sakit lagi, tak ingin direndahkan lagi. Apalagi soal asal-usulnya jika diketahui.

Namun, sang manager yang menaruh hati padanya, tidak akan menyerah untuk bisa mendapatkan hati Naina. Dia seorang duda beranak satu, bercerai dengan istrinya karena satu hal.

"Kenapa dia selalu menghindar setiap kali aku ajak bicara? Gimana biar dia nggak menghindar lagi, ya?" Sang manager menggigit bibir, memikirkan cara untuk dapat berbincang lama dengan Naina.

Sejak pertama kali Naina datang sebagai karyawan, dia sudah tertarik pada kesopanannya. Ditambah wajah yang manis, dan selalu tersenyum ramah. Hatinya terpincut kesederhanaan anak Lita itu.

"Paman!" panggil Naina setelah dekat dengan posisi pamannya itu.

"Nai! Paman kira siapa, soalnya nggak kelihatan mukanya." Asep tersenyum dan mengajak Naina menuju motornya. Tak lupa mengenakan kacamata yang selalu ia simpan di dalam jok, dan akan dikeluarkan ketika hendak mengendarai motor.

Hati Naina ingin sekali bertanya tentang pemuda yang tadi berbincang dengannya. Akan tetapi, lidah tak mampu melakukan. Terlalu malu membahas soal laki-laki disaat ia ingin melupakan semua hal tentang mereka. Tentang cinta juga janji yang mereka umbar.

"Besok Paman libur kerja. Setiap hari Jum'at semua pekerja diliburkan. Kamu nggak apa-apa, 'kan, berangkat sendiri?" ujar sang paman memberitahu.

"Iya. Nggak apa-apa, kok. Nai, 'kan, udah gede. Biar berangkat sendiri aja," sahut Naina tidak keberatan sama sekali.

"Kalo nggak kamu bawa aja motor Paman ini ... oh, gini aja. Nanti Paman antar kamu aja, ya," ucap Asep setelah menimbang keputusan.

"Nggak apa-apa, Paman. Nggak usah. Biar Nai berangkat sendiri aja. Ada banyak ojek ini di sini," jawab Naina merasa kasihan pada laki-laki yang tak lagi muda itu.

Asep tertegun sebentar, untuk kemudian dia mengangguk. Biarlah Naina belajar mandiri dulu. Supaya kelak ketika mereka meninggalkannya sendiri, dia sudah terbiasa dan dapat melakukan segala hal sendirian tanpa merepotkan orang lain.

"Wah, banyak banget yang beli, Bi. Sampe antri kayak gini, kayak kereta," ujar Naina setelah tiba di rumah sang bibi dan mendapati antrian pembeli yang mengular.

"Iya, ini. Alhamdulillah." Bibi menerima uluran tangan Naina untuk bersalaman. Gadis itu masuk ke dalam, meletakkan tas, dan kembali keluar sambil menggelung rambutnya.

"Nai bantuin, Bi. Kayaknya kewalahan," ucap Naina seraya melipat kertas nasi menyiapkan pesanan.

"Udah nggak apa-apa, Nai. Kamu pasti capek baru pulang kerja. Udah istirahat aja, ya," tolak Bibi yang merass kasihan terhadap Naina.

"Nggak, kok, Bi. Nanti kalo udah beres Nai mandi terus istirahat. Sekarang Nai mau bantu Bibi dulu," keukeuh Naina ingin membantu melayani pembeli.

Sumiyati tersenyum, ia benar-benar mengagumi sosok Naina yang baik dan rendah hati. Selama tinggal bersama mereka, tak pernah sekalipun gadis itu merepotkannya. Justru, dia banyak membantu meringankan pekerjaan.

Naina tidak terlalu dekat dengan tetangga di sekitar rumah karena sejak kedatangannya ke kota itu, ia jarang sekali keluar apalagi berbincang dengan mereka. Naina gadis yang ramah, tapi tertutup. Tak banyak bicara, tapi terlihat rajin. Ia tak segan menyapa bila berpapasan dengan tetangga.

"Nai, tadi ada tetangga yang mau ngelamar kamu jadi istri anaknya. Katanya, suka sama kamu. Ya, Bibi nggak bisa jawab karena semua itu hak kamu yang menentukan," ucap Bibi di malam hari saat mereka baru saja selesai makan.

Mendengar kata lamaran, Naina tercenung. Trauma karena pernah mendapat penolakan sekaligus penghinaan. Naina menundukkan kepala, rasa sakit yang sedang ia obati sedikit demi sedikit kembali terkuak dan membuatnya sesak.

"Nai, kenapa, Nak? Kalo kamu nggak mau, Bibi nggak maksa. Bibi cuma nyampein amanat aja," ucap Sumiyati sembari mengusap-usap punggung Naina.

Gadis itu menghela napas, mengangkat wajah pelan.

"Maaf, Bi. Nai nggak bisa terima. Nai belum mikirin soal itu. Nanti Bibi bilang aja sama orang yang mau melamar Nai, ya." Mata Naina berkaca, teringat penolakan terakhir yang dilakukan kekasih juga keluarganya. Mengakibatkan Naina kehilangan sosok sandaran hidup untuk selamanya.

Ia berdiri dan segera berlari ke kamarnya. Menangis saat terkenang kembali hari di mana Lita meninggalkannya.

Terpopuler

Comments

Ashry Huda Huda

Ashry Huda Huda

kasihan jg ya thor aku pnya ank prempuan tpi Alhamdulillah sdah menikah semua

2023-03-10

1

Fitra Smart

Fitra Smart

sabar Nai... hikmahnya besar nanty

2023-03-06

1

Junida Susilo

Junida Susilo

kamu berhak bahagia nai 😍

2023-01-08

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23 Rahasia Besar Alfin
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35 Pertemuan Tak Terduga
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60 Kedatangan Seseorang
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86 Meluluhkan Aminah
87 Bab 87
88 Bab 88 Kemarahan Alfin
89 Bab 89 Pengorbanan Naina I
90 Bab 90 Pengorbanan Naina II
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
156 Bab 156
157 Bab 157
158 Bab 158
159 Bab 159
160 Bab 160
161 Bab 161
162 Bab 162
163 Bab 163
164 Bab 164
165 Bab 165
166 Bab 166
167 Bab 167
168 Bab 168
169 Bab 169
170 Bab 170
171 Bab 171
172 Bab 172
173 Bab 173
174 Bab 174
175 Bab 175
176 Bab 176
177 Bab 177
178 Bab 178
179 Bab 179
180 Bab 180
Episodes

Updated 180 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23 Rahasia Besar Alfin
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35 Pertemuan Tak Terduga
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60 Kedatangan Seseorang
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86 Meluluhkan Aminah
87
Bab 87
88
Bab 88 Kemarahan Alfin
89
Bab 89 Pengorbanan Naina I
90
Bab 90 Pengorbanan Naina II
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155
156
Bab 156
157
Bab 157
158
Bab 158
159
Bab 159
160
Bab 160
161
Bab 161
162
Bab 162
163
Bab 163
164
Bab 164
165
Bab 165
166
Bab 166
167
Bab 167
168
Bab 168
169
Bab 169
170
Bab 170
171
Bab 171
172
Bab 172
173
Bab 173
174
Bab 174
175
Bab 175
176
Bab 176
177
Bab 177
178
Bab 178
179
Bab 179
180
Bab 180

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!