"Naina! Aku antar," ucap suara sang manager membuat Naina terlonjak kaget. Pasalnya pintu toko telah terkunci dan semua karyawan sudah pulang sejak beberapa menit lalu.
Naina beranjak menjauh, menjaga jarak dengan atasannya itu.
"Maaf, Pak. Terima kasih, tapi saya lagi nunggu jemputan," jawab Naina sembari menunduk sopan.
Laki-laki itu bergeming dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Mematri tatapan pada gadis yang masih saja menunduk dan tak sedetik pun mengangkat wajahnya.
"Kenapa kamu menghindar?" tanyanya penuh penekanan.
Naina menghela napas, kali ini mengangkat wajah menatap masjid di seberang jalan. Ia menunggu Alfin menjemput.
"Maaf, Pak. Saya nggak menghindar, saya cuma nggak mau ngasih harapan buat Bapak. Jadi, saya minta tolong sama Bapak jangan kayak gini sama saya, Pak. Saya cuma mau nyari uang buat bantu paman sama bibi. Tolong, bersikap biasa aja kayak karyawan lainnya. Saya mohon sama Bapak," pinta Naina sambil berderai air mata.
Ia menunduk kembali mengusap matanya yang basah. Melihat Naina menangis, juga mendengarnya memohon, ia sadar pada akhirnya harus menyerah. Naina tidak pernah memiliki perasaan apa-apa terhadapnya.
"Tapi aku cinta sama kamu, Nai. Aku mau kamu jadi istriku, jadi ibu buat anakku," ungkapnya dengan penuh perasaan.
Naina menggelengkan kepala, dia benar-benar tidak bisa menerima perasaan atasannya itu. Dia sama saja dengan laki-laki lainnya, sekarang menerima, besok pasti akan menghina.
"Maaf, Pak. Saya nggak bisa. Saya benar-benar nggak bisa. Tolong ngerti, Pak. Masih banyak wanita lain yang lebih sempurna daripada saya. Saya sudah lelah, Pak. Sangat lelah," tutur Naina sama sekali tidak menatap wajah laki-laki yang menjadi lawan bicaranya itu.
Dia bergeming, tetap menatap garis wajah sederhana yang berhasil mencuri hatinya itu. Menghela napas berat, memperhatikan gerakan tangannya yang berkali-kali mengusap mata. Laki-laki berstatus manager itu menunduk sejenak membuang segala perasaan yang tak mengenakan.
Diangkatnya kembali pandangan, ditatapnya Naina yang berpaling.
"Baik. Tolong maafin aku, karena aku udah maksa kamu buat nerima perasaan aku," ucapnya beberapa saat masih berdiri di sana tak ingin kehilangan wajah cantik itu.
"Makasih." Naina berucap lirih, kemudian berjalan meninggalkan toko menghindari tatapan sang atasan.
Laki-laki tersebut menghela napas lagi, berbalik dan menaiki motornya. Kemudian pergi dengan perasaan yang tidak menentu.
Berselang, Alfin keluar menggunakan motor. Ia sengaja menunggu memberi waktu mereka untuk berbicara.
"Nai!"
Naina menghentikan langkah, berbalik dan naik ke atas motornya tanpa kata. Malam sudah mulai sepi, tidak seperti di Jakarta yang selalu ramai meski sudah mencapai puncaknya.
"Kenapa lama banget?" tegur Naina sembari melirik punggung Alfin yang dibalut kokok saja.
"Maaf, tadi sebenarnya aku udah mau keluar, tapi lihat kamu lagi ngobrol serius sama atasan kamu jadilah aku nunggu. Maaf, ya," sahut Alfin sejujurnya.
Naina mengangkat wajah, menatap langit yang bertabur bintang. Cerah dengan diterangi cahaya rembulan, mereka seolah-olah sedang menari gembira. Tak seperti dirinya, yang selalu dirundung rasa takut karena trauma di masa lalu.
"Hati-hati, ya. Salam sama anak-anak," ucap Naina begitu tiba di depan rumah bibi.
Alfin tersenyum, mengangguk pelan sembari menelisik beberapa saat wajah sembab gadis di hadapannya. Ia mendesah, seandainya mereka sudah dihalalkan, ia tak akan pernah membiarkannya menangis.
"Aku pulang, ya. Salam juga sama paman dan bibi kamu. Udah, kamu masuk duluan sana. Di sini sepi banget, takut ada yang iseng," titah Alfin setelah menatap sekeliling lingkungan tempat Naina tinggal.
Gadis itu tersenyum, membuka pintu dan berbalik menatap Alfin di sana. Lalu, menutup pintu kembali, membuka tirai jendela untuk melepas kepergian sang pujaan hati. Naina melambaikan tangan sambil mengulas senyum. Berdiri di jendela sampai sosok laki-laki tersebut menghilang.
"Diantar nak Alfin lagi?" tegur Bibi yang membuat tubuh Naina terlonjak kaget.
Ia berbalik dengan mata terpejam, berdesis karena jantungnya hampir saja lepas.
"Astaghfirullah, Bibi. Ngagetin aja, jantung Nai mau copot nih," gerutunya sambil mengurut-urut dada yang berdebar-debar kencang.
Bibi tertawa melihat wajah merajuk Naina. Ia senang keponakannya itu dekat dengan Alfin. Sosok pemuda yang memiliki adab, sopan dan menghormati orang tua. Dia adalah calon suami idaman setiap orang.
Hanya saja, pekerjaan Alfin yang sebagai marbot masjid itu yang membuat para orang tua gadis enggan menerimanya sebagai menantu. Dengan berbagai alasan, padahal karena Alfin tidak memiliki pekerjaan.
"Lagian serius amat di jendela, kirain siapa? Nggak tahunya ...." Bibi menggelengkan kepala.
Meminta Naina untuk segera beristirahat di kamarnya.
"Kalo mau makan lagi, ayo Bibi temenin," ucap Sumiyati.
Naina menggelengkan kepala, dia sudah memakan bekal yang dibawanya dari rumah.
"Nai mau langsung tidur aja, Bi. Ngantuk banget," sahut Naina seraya masuk ke kamarnya setelah Bibi mengangguk.
Dia membanting diri di atas dipan kayu, menengadah menghadap langit-langit kamar. Hatinya merasa lega setelah berbicara dengan sang atasan. Ke depannya, dia akan bersikap biasa saja seperti halnya karyawan yang lain.
Naina yang hendak memejamkan mata, urung karena bunyi notifikasi pesan mengusik telinga. Ia mengambil ponsel, membukanya untuk melihat siapa yang mengirim pesan.
Alfin?
Naina membuka pesan tersebut, membaca deretan huruf yang dituangkan pemuda itu dalam pesan singkat ke ponselnya.
Selamat malam, Naina. Semoga malammmu diberkahi Allah. Jangan lupa bersyukur untuk harimu, dan berdoa untuk hari esok.
Naina tersenyum, tapi seperti kebanyakan laki-laki apakah Alfin akan bisa menerima masa lalunya? Ataukah dia sama saja seperti laki-laki lainnya.
Naina mendesah, menurunkan ponsel ke perut, terbayang wajah Alfin yang selalu mendamaikan hati bila dilihat.
Ia mengetik pesan balasan, mengucapkan terima kasih juga selamat malam. Hanya seperti itu saja, sudah membuat hati keduanya berbunga.
Naina menaruh ponselnya, menarik selimut bersiap untuk tidur. Namun, belum lama terpejam, bahkan pun belum tertidur, pesan lainnya masuk mengganggu. Naina menghela napas lelah, kemudian membuka ponselnya lagi untuk melihat si pengirim kedua.
Ia mengernyit ketika pesan itu hanya berisi gambar seorang anak kecil yang tertidur pulas di kasurnya. Pesan dari sang atasan, menunjukkan anaknya untuk meluluhkan hati Naina.
Gadis itu tidak berniat membalas pesan tersebut, tapi pesan lain menyusul sebuah kalimat yang mengungkapkan isi hatinya.
Apa kamu nggak kasihan lihat dia? Anak sekecil ini harus ditinggalkan ibunya pergi. Dia butuh seorang ibu, dan setiap hari bertanya kapan ayah membawa ibu?
Hati Naina serasa tercubit, tapi mungkin ibu yang dimaksud anak itu bukanlah dirinya.
"Mudah-mudahan kamu dapat ibu pengganti yang baik dan sayang sama kamu, Nak. Jangan kayak aku, ya."
Naina tersenyum getir, meletakkan kembali ponselnya dan berbaring di bawah selimut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
🌸ReeN🌸
ampun deh tuh atasan, masih maksa aja, kayanya orangnya tempramen deh marah2 melulu
2023-01-27
1
Alfiyati Al-Ikhlas
aamiin
2023-01-13
0