Menjelang siang hari, Naina menyusun pendapatan. Memisahkan uang sesuai nominal dan menyatukannya. Merapikan rak-rak bila tak ada yang dikerjakan, apa saja dilakukan untuk mengusir jemu yang melanda ketika tak ada pelanggan.
Semua yang dilakukan Naina tak luput dari perhatian sang manager yang sejak beberapa saat lalu, berdiam di pintu ruangan menatap dirinya. Seorang teman yang memperhatikan, mendatangi Naina memberitahu perihal atasan mereka.
"Nai. Kayaknya pak manager suka sama kamu, deh," bisiknya sembari ikut membantu Naina merapikan rak agar tidak dicurigai laki-laki itu.
Naina menjeda gerakan tangannya melirik kemudian, tapi dengan cepat dicegah temannya itu.
"Jangan nengok, dia lagi ngeliatin ke sini. Emang kamu nggak sadar apa? Tiap hari dia selalu merhatiin kamu. Dia suka sama kamu, Nai," bisiknya lagi semakin memperjelas ucapan.
"Masa, sih? Aku nggak ngeh, deh. Apa iya atasan kita itu suka sama aku?" Naina ikut berbisik.
Bukannya dia tak tahu, tapi dia tak ingin tahu. Lebih tepatnya, tak ingin terlalu berharap. Untuk saat ini saja dia tidak memikirkan tentang laki-laki mana dan seperti apa yang akan menjadi suaminya kelak.
Dua kali penolakan, membuatnya trauma untuk dekat-dekat dengan lawan jenis. Akan tetapi, sosok Alfin berbeda. Caranya berbicara sangat sederhana. Dia seperti magnet yang menarik hati Naina.
"Dia duda, Nai. Anak satu, dengar-dengar lagi nyari istri. Mungkin pilihannya jatuh sama kamu," beritahu temannya itu dengan antusias.
Naina tersenyum, menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Tak peduli bujang atau duda, dia sama sekali tidak tertarik untuk membalas perhatiannya.
"Tapi untuk sekarang, aku nggak lagi mikirin laki-laki. Aku mau fokus cari uang buat bantu paman sama bibi," ucapnya sembari menoleh dan berdiri dari rak yang dekat dengan pintu ruangan.
Ia berbalik memilih jalan memutar untuk kembali ke kasir. Kalimatnya didengar samar oleh sang manager, senyum di bibir berkumis itu surut, tapi dia tidak akan pernah menyerah.
Naina kembali pada pekerjaan, menatap sambil tersenyum para pelanggan yang berdatangan. Bersikap seolah biasa-biasa saja, tanpa ada yang memperhatikan.
****
Gema adzan Dzuhur berkumandang, Naina berdiam di balik meja kasir menunggu giliran. Menoleh ke masjid, ingin rasanya pergi ke sana untuk menunaikan sholat jamaah. Sayangnya, tak ada siapapun yang menggantikan dan dia harus menunggu kedatangan seorang teman.
"Nai!"
Naina yang berada di bawah meja menengadah ketika namanya dipanggil. Ia berdiri dan bergegas menunaikan kewajiban setelah tiba waktunya.
Sepanjang menunaikan ibadah, laki-laki itu bahkan menunggui Naina di depan ruangan. Rasa tak nyaman karena diperhatikan, membuat Naina tak mendapatkan kekhusyuan dalam sholat.
Gadis itu buru-buru beranjak, berjalan hendak kembali ke kasir. Akan tetapi, tubuh tinggi sang manager menghalangi jalannya. Ia terus menunduk, tak berani menatap wajah di hadapan.
"Kamu nggak lupa, 'kan?" tanyanya sembari menilik wajah sederhana di depannya.
"Nggak, kok, Pak. Saya nggak lupa," jawab Naina yang menerbitkan senyum sang manager.
"Kalo gitu, kita pergi sekarang. Aku udah lapar, ke warung samping aja, ya," katanya lagi seraya melengos dari hadapan Naina.
Gadis itu menghela napas, terus melanjutkan langkah menyimpan mukena dan mengambil tasnya yang berisi bekal dari Bibi.
Naina pergi ke tempat kasir, berpamitan pada rekan sejawatnya untuk pergi makan siang terlebih dahulu. Ia melangkah dengan gontai, sungguh malas sebenarnya jika saja tidak terlanjur mengucap janji.
Warung nasi padang yang tak jauh dari toko tempatnya bekerja. Warung tersebut selalu ramai dikunjungi pembeli karena terkenal dengan makanannya yang enak. Namun, bagi Naina, makanan dari rumah tetap yang terbaik.
Ia mendekap tas berisi bekal dari Bibi, tersenyum sambil melangkah mendekati warung makan tersebut. Di sana, sang manager sudah berdiri menunggunya.
Alfin yang melihat Naina keluar dari toko, tersenyum dan berniat menghampiri. Namun, langkahnya terhenti, kala ia melihat seorang laki-laki dewasa berdiri menunggunya. Pandangan laki-laki itu begitu tajam tatkala bertabrakan dengan manik Alfin.
Ia menghela napas, melengos hendak berbalik. Raut wajahnya tampak kecewa karena berpikir Naina telah memiliki pendamping di sisinya.
"Kamu kenapa? Kok, lesu?" tegur pak ustadz begitu Alfin tiba dengan wajah yang kuyu.
Pemuda itu menghela napas, duduk di samping laki-laki bersorban yang memperhatikan dirinya.
"Jangan percaya sama mata kamu sendiri. Terkadang semua yang kita lihat belum tentu benar sepenuhnya. Jangan isi pikiran kamu dengan hal-hal buruk yang belum tentu benarnya. Positif, supaya hidup kamu tenang," ucap pak ustadz sembari menepuk bahu Alfin memberinya dukungan.
"Dari mana Pak Ustadz tahu kalo saya abis lihat sesuatu?" tanya Alfin penasaran.
Matanya yang memancarkan kekecewaan, sudah memberitahu laki-laki paruh baya itu apa yang sudah menimpa padanya. Laki-laki bersorban itu tersenyum, menunduk untuk kemudian menatap kolam ikan di samping masjid.
"Kelihatan dari muka kamu. Apa kamu lihat perempuan itu?"
Alfin tersentak, ia membelalak sebentar. Lalu, berpaling menyembunyikan kegugupan.
"Aku tadi lihat dia makan sama laki-laki, Pak. Aku nggak tahu, apa itu kekasihnya atau bukan? Semuanya masih samar," ucap Alfin sembari mendesah berat. Ia menunduk, menatap kakinya yang memainkan kerikil.
"Cemburu. Itu artinya udah ada rasa cinta di hati kamu, tapi jangan sampai rasa kamu itu membuat cemburu DIA Yang Maha Pemilik Cinta," ujar pak ustadz, seraya berdiri dan pergi meninggalkan serambi masjid juga pemuda yang langsung tercenung karena ucapannya.
"Cemburu? Apa benar aku cemburu?" Dia bergumam pada dirinya sendiri.
Entah seperti apa mengartikan perasaannya saat ini. Ia sendiri tidak tahu.
Sementara di warung makan itu, Naina sudah duduk berhadapan dengan sang atasan. Meja di depan mereka masih kosong, laki-laki itu belum memesan makanannya.
Seorang pelayan datang membawa buku catatan, bertanya pada keduanya tentang makanan yang akan mereka pesan. Laki-laki itu memilih beberapa makanan. Lalu, menatap Naina yang masih terdiam sejak kedatangan mereka di warung makan tersebut.
"Kamu pesen apa, Nai?" tanya sang manager sembari mengulas senyum.
Naina tersenyum, kemudian menggelengkan kepala.
"Nggak usah, Pak. Saya bawa makanan sendiri. Biar saya makan ini aja. Nggak apa-apa, 'kan, Mas?" ujar Naina seraya bertanya pada pelayan warung makan itu.
Ia mengangguk dengan tetap memasang senyum. Lalu, melengos pergi membawa pesanan sang manager. Yang Naina tidak tahu, laki-laki di depannya tengah menahan diri supaya tidak terbawa emosi.
Kedua tangannya mengepal, rahang ikut mengeras. Geram dengan Naina yang tidak pernah mengerti tentangnya.
"Kenapa kamu masih bawa-bawa bekal? Bukannya kamu tahu kalo kita mau makan?" tegur sang manager berdesis dari balik giginya yang merapat.
Naina mengernyit, seraya menyahut, "Bapak, 'kan, nggak bilang kalo saya nggak boleh bawa bekal. Lagian saya nggak enak kalo nolak makanan yang disiapin Bibi."
Argh ... sial!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
Megawati Goanidjaja
Yang penting makan siangnya sama Naina pak....😁
2023-01-10
1
Junida Susilo
maksa banget kan menejer nya,bikin naina ilfil...semoga aja menejer nggak berlaku jahat sama naina 🙏
2023-01-10
2