Bab 13

Menjelang siang hari, Naina menyusun pendapatan. Memisahkan uang sesuai nominal dan menyatukannya. Merapikan rak-rak bila tak ada yang dikerjakan, apa saja dilakukan untuk mengusir jemu yang melanda ketika tak ada pelanggan.

Semua yang dilakukan Naina tak luput dari perhatian sang manager yang sejak beberapa saat lalu, berdiam di pintu ruangan menatap dirinya. Seorang teman yang memperhatikan, mendatangi Naina memberitahu perihal atasan mereka.

"Nai. Kayaknya pak manager suka sama kamu, deh," bisiknya sembari ikut membantu Naina merapikan rak agar tidak dicurigai laki-laki itu.

Naina menjeda gerakan tangannya melirik kemudian, tapi dengan cepat dicegah temannya itu.

"Jangan nengok, dia lagi ngeliatin ke sini. Emang kamu nggak sadar apa? Tiap hari dia selalu merhatiin kamu. Dia suka sama kamu, Nai," bisiknya lagi semakin memperjelas ucapan.

"Masa, sih? Aku nggak ngeh, deh. Apa iya atasan kita itu suka sama aku?" Naina ikut berbisik.

Bukannya dia tak tahu, tapi dia tak ingin tahu. Lebih tepatnya, tak ingin terlalu berharap. Untuk saat ini saja dia tidak memikirkan tentang laki-laki mana dan seperti apa yang akan menjadi suaminya kelak.

Dua kali penolakan, membuatnya trauma untuk dekat-dekat dengan lawan jenis. Akan tetapi, sosok Alfin berbeda. Caranya berbicara sangat sederhana. Dia seperti magnet yang menarik hati Naina.

"Dia duda, Nai. Anak satu, dengar-dengar lagi nyari istri. Mungkin pilihannya jatuh sama kamu," beritahu temannya itu dengan antusias.

Naina tersenyum, menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Tak peduli bujang atau duda, dia sama sekali tidak tertarik untuk membalas perhatiannya.

"Tapi untuk sekarang, aku nggak lagi mikirin laki-laki. Aku mau fokus cari uang buat bantu paman sama bibi," ucapnya sembari menoleh dan berdiri dari rak yang dekat dengan pintu ruangan.

Ia berbalik memilih jalan memutar untuk kembali ke kasir. Kalimatnya didengar samar oleh sang manager, senyum di bibir berkumis itu surut, tapi dia tidak akan pernah menyerah.

Naina kembali pada pekerjaan, menatap sambil tersenyum para pelanggan yang berdatangan. Bersikap seolah biasa-biasa saja, tanpa ada yang memperhatikan.

****

Gema adzan Dzuhur berkumandang, Naina berdiam di balik meja kasir menunggu giliran. Menoleh ke masjid, ingin rasanya pergi ke sana untuk menunaikan sholat jamaah. Sayangnya, tak ada siapapun yang menggantikan dan dia harus menunggu kedatangan seorang teman.

"Nai!"

Naina yang berada di bawah meja menengadah ketika namanya dipanggil. Ia berdiri dan bergegas menunaikan kewajiban setelah tiba waktunya.

Sepanjang menunaikan ibadah, laki-laki itu bahkan menunggui Naina di depan ruangan. Rasa tak nyaman karena diperhatikan, membuat Naina tak mendapatkan kekhusyuan dalam sholat.

Gadis itu buru-buru beranjak, berjalan hendak kembali ke kasir. Akan tetapi, tubuh tinggi sang manager menghalangi jalannya. Ia terus menunduk, tak berani menatap wajah di hadapan.

"Kamu nggak lupa, 'kan?" tanyanya sembari menilik wajah sederhana di depannya.

"Nggak, kok, Pak. Saya nggak lupa," jawab Naina yang menerbitkan senyum sang manager.

"Kalo gitu, kita pergi sekarang. Aku udah lapar, ke warung samping aja, ya," katanya lagi seraya melengos dari hadapan Naina.

Gadis itu menghela napas, terus melanjutkan langkah menyimpan mukena dan mengambil tasnya yang berisi bekal dari Bibi.

Naina pergi ke tempat kasir, berpamitan pada rekan sejawatnya untuk pergi makan siang terlebih dahulu. Ia melangkah dengan gontai, sungguh malas sebenarnya jika saja tidak terlanjur mengucap janji.

Warung nasi padang yang tak jauh dari toko tempatnya bekerja. Warung tersebut selalu ramai dikunjungi pembeli karena terkenal dengan makanannya yang enak. Namun, bagi Naina, makanan dari rumah tetap yang terbaik.

Ia mendekap tas berisi bekal dari Bibi, tersenyum sambil melangkah mendekati warung makan tersebut. Di sana, sang manager sudah berdiri menunggunya.

Alfin yang melihat Naina keluar dari toko, tersenyum dan berniat menghampiri. Namun, langkahnya terhenti, kala ia melihat seorang laki-laki dewasa berdiri menunggunya. Pandangan laki-laki itu begitu tajam tatkala bertabrakan dengan manik Alfin.

Ia menghela napas, melengos hendak berbalik. Raut wajahnya tampak kecewa karena berpikir Naina telah memiliki pendamping di sisinya.

"Kamu kenapa? Kok, lesu?" tegur pak ustadz begitu Alfin tiba dengan wajah yang kuyu.

Pemuda itu menghela napas, duduk di samping laki-laki bersorban yang memperhatikan dirinya.

"Jangan percaya sama mata kamu sendiri. Terkadang semua yang kita lihat belum tentu benar sepenuhnya. Jangan isi pikiran kamu dengan hal-hal buruk yang belum tentu benarnya. Positif, supaya hidup kamu tenang," ucap pak ustadz sembari menepuk bahu Alfin memberinya dukungan.

"Dari mana Pak Ustadz tahu kalo saya abis lihat sesuatu?" tanya Alfin penasaran.

Matanya yang memancarkan kekecewaan, sudah memberitahu laki-laki paruh baya itu apa yang sudah menimpa padanya. Laki-laki bersorban itu tersenyum, menunduk untuk kemudian menatap kolam ikan di samping masjid.

"Kelihatan dari muka kamu. Apa kamu lihat perempuan itu?"

Alfin tersentak, ia membelalak sebentar. Lalu, berpaling menyembunyikan kegugupan.

"Aku tadi lihat dia makan sama laki-laki, Pak. Aku nggak tahu, apa itu kekasihnya atau bukan? Semuanya masih samar," ucap Alfin sembari mendesah berat. Ia menunduk, menatap kakinya yang memainkan kerikil.

"Cemburu. Itu artinya udah ada rasa cinta di hati kamu, tapi jangan sampai rasa kamu itu membuat cemburu DIA Yang Maha Pemilik Cinta," ujar pak ustadz, seraya berdiri dan pergi meninggalkan serambi masjid juga pemuda yang langsung tercenung karena ucapannya.

"Cemburu? Apa benar aku cemburu?" Dia bergumam pada dirinya sendiri.

Entah seperti apa mengartikan perasaannya saat ini. Ia sendiri tidak tahu.

Sementara di warung makan itu, Naina sudah duduk berhadapan dengan sang atasan. Meja di depan mereka masih kosong, laki-laki itu belum memesan makanannya.

Seorang pelayan datang membawa buku catatan, bertanya pada keduanya tentang makanan yang akan mereka pesan. Laki-laki itu memilih beberapa makanan. Lalu, menatap Naina yang masih terdiam sejak kedatangan mereka di warung makan tersebut.

"Kamu pesen apa, Nai?" tanya sang manager sembari mengulas senyum.

Naina tersenyum, kemudian menggelengkan kepala.

"Nggak usah, Pak. Saya bawa makanan sendiri. Biar saya makan ini aja. Nggak apa-apa, 'kan, Mas?" ujar Naina seraya bertanya pada pelayan warung makan itu.

Ia mengangguk dengan tetap memasang senyum. Lalu, melengos pergi membawa pesanan sang manager. Yang Naina tidak tahu, laki-laki di depannya tengah menahan diri supaya tidak terbawa emosi.

Kedua tangannya mengepal, rahang ikut mengeras. Geram dengan Naina yang tidak pernah mengerti tentangnya.

"Kenapa kamu masih bawa-bawa bekal? Bukannya kamu tahu kalo kita mau makan?" tegur sang manager berdesis dari balik giginya yang merapat.

Naina mengernyit, seraya menyahut, "Bapak, 'kan, nggak bilang kalo saya nggak boleh bawa bekal. Lagian saya nggak enak kalo nolak makanan yang disiapin Bibi."

Argh ... sial!

Terpopuler

Comments

Megawati Goanidjaja

Megawati Goanidjaja

Yang penting makan siangnya sama Naina pak....😁

2023-01-10

1

Junida Susilo

Junida Susilo

maksa banget kan menejer nya,bikin naina ilfil...semoga aja menejer nggak berlaku jahat sama naina 🙏

2023-01-10

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23 Rahasia Besar Alfin
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35 Pertemuan Tak Terduga
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60 Kedatangan Seseorang
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86 Meluluhkan Aminah
87 Bab 87
88 Bab 88 Kemarahan Alfin
89 Bab 89 Pengorbanan Naina I
90 Bab 90 Pengorbanan Naina II
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
156 Bab 156
157 Bab 157
158 Bab 158
159 Bab 159
160 Bab 160
161 Bab 161
162 Bab 162
163 Bab 163
164 Bab 164
165 Bab 165
166 Bab 166
167 Bab 167
168 Bab 168
169 Bab 169
170 Bab 170
171 Bab 171
172 Bab 172
173 Bab 173
174 Bab 174
175 Bab 175
176 Bab 176
177 Bab 177
178 Bab 178
179 Bab 179
180 Bab 180
Episodes

Updated 180 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23 Rahasia Besar Alfin
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35 Pertemuan Tak Terduga
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60 Kedatangan Seseorang
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86 Meluluhkan Aminah
87
Bab 87
88
Bab 88 Kemarahan Alfin
89
Bab 89 Pengorbanan Naina I
90
Bab 90 Pengorbanan Naina II
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155
156
Bab 156
157
Bab 157
158
Bab 158
159
Bab 159
160
Bab 160
161
Bab 161
162
Bab 162
163
Bab 163
164
Bab 164
165
Bab 165
166
Bab 166
167
Bab 167
168
Bab 168
169
Bab 169
170
Bab 170
171
Bab 171
172
Bab 172
173
Bab 173
174
Bab 174
175
Bab 175
176
Bab 176
177
Bab 177
178
Bab 178
179
Bab 179
180
Bab 180

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!