Bab 7

Beberapa hari berlalu, hari yang dinanti Naina pun tiba. Menurut kabar dari sang paman, ia diterima sebagai kasir di minimarket tersebut. Pagi-pagi sekali telah berpakaian rapi, kemeja putih, celana hitam panjang, rambut disanggul rapi, dengan potongan poni menghiasi dahi.

Tiga hari yang lalu, sang bibi bahkan membelikannya sepatu untuk menyokong penampilan Naina di hari pertamanya bekerja. Ia menatap cerminan dirinya, berputar memantaskan apa yang melekat di tubuhnya.

"Ibu, doain Nai, ya. Semoga Nai bisa diterima kerja," ucap Naina di hadapan foto Lita yang dipajangnya di atas lemari.

Ia mencium foto tersebut, mengambil tas, berjalan keluar menemui paman dan bibinya. Laki-laki itu siap mengantar Naina ke tempat yang dimaksud sekaligus berangkat ke tempatnya bekerja.

"Maa syaa Allah, cantik banget ponakan Bibi! Udah pas kalo jadi orang kantoran, Mah," puji Sumiyati sembari menelisik penampilan Naina dari ujung rambut hingga ujung sepatu yang dikenakannya.

"Makasih, Bi. Ini juga karena bantuan dari Bibi. Nai janji, gaji pertama Nai separuhnya buat Bibi," ucap Naina saking senangnya.

"Aduh, nggak usah. Kamu simpen aja, Bibi punya uang sendiri," sahut Sumiyati penuh haru.

Naina anak yang baik, dia berbakti kepada mereka meskipun bukan orang tua kandungnya.

"Nggak apa-apa, Bibi yang simpen. Ya udah, Nai berangkat, Bi. Assalamu'alaikum!" Naina mengecup kedua pipi Sumiyati.

Ia bergegas mendatangi Asep yang menunggunya di motor.

"Wa'alaikumussalaam, hati-hati," sahut Sumiyati seraya berdiri di teras melepas kepergian keduanya.

Hati tuanya merasa terhibur, kedatangan Naina adalah kesempatan untuknya dapat merasakan memiliki seorang anak, amanah dari Tuhan. Sumiyati tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan akan menjaga Naina dengan baik.

"Mudah-mudahan kebahagiaan menyertai hidup kamu, Nak. Kamu anak yang baik. Lita sangat beruntung punya anak berbakti kayak Naina," gumamnya lirih.

****

Tiba di minimarket yang dimaksud, paman membawa Naina menghadap orang yang bertanggungjawab atas toko tersebut. Melalui wawancara singkat, Naina diterima bekerja sebagai kasir. Mulai hari itu juga, Naina langsung bekerja.

Ia melayani para pembeli dengan sopan dan ramah. Juga sabar tentunya. Tersenyum setiap kali pelanggan datang, menyapa mereka agar tertarik untuk terus datang berbelanja. Begitu keseharian Naina yang menjadi penjaga kasir di sebuah minimarket.

"Naina!" Gadis itu menoleh, lalu tersenyum ketika melihat sang manager berdiri di dekat meja kasir.

"Iya, Pak. Ada apa?"

Ekhem.

Dia berdehem terpesona dengan senyuman indah nan tulus milik gadis itu. Berpaling sembari menetralkan jantungnya yang selalu berpacu bila berhadapan dengan sosok Naina.

Kening gadis itu berkerut, menelisik dengan saksama atasan yang berdiri salah tingkah di depannya.

"Kenapa, Pak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Naina lagi setelah pertanyaan pertama tak digubris sang manager.

"Ah, iya. Kamu udah makan siang?" tanyanya berbasa-basi.

Kerutan di dahi Naina semakin bertumpuk, ia bahkan memiringkan kepala demi dapat melihat dengan jelas wajah yang baru saja menanyainya makan siang.

"Saya bawa bekal, Pak. Ini." Naina mengangkat kotak bekal yang disiapkan Bibi pagi tadi sebelum berangkat.

Laki-laki dewasa itu membulatkan bibir, ia tersenyum kikuk sembari mengusap tengkuk.

"Lain kali nggak usah bawa bekal. Saya mau ngajak kamu makan siang di warung makan sekitar sini," ucapnya diikuti bibir yang digigit sedikit kuat.

Naina terkekeh kecil, menggelengkan kepala tak percaya.

"Kayaknya saya nggak bisa, Pak, karena bibi selalu menyiapkannya setiap pagi. Saya nggak enak kalo nolak, soalnya kasihan juga bibi udah capek masak pagi-pagi." Naina meringis tak enak, tapi lebih tak enak jika meminta Bibi untuk berhenti membekalinya.

"Oh, jadi gitu. Ya udah. Kembali kerja, ya," katanya kecewa. Melengos dari hadapan Naina seraya masuk kembali ke ruangannya.

Naina menghela napas, senyum di bibir kembali terbit saat pelanggan mendatangi mejanya.

"Nai. Udah dzuhur, kamu udah sholat belum?" tegur salah satu teman yang baru saja tiba untuk bergantian shift.

"Iya, aku nungguin Kakak. Dari tadi banyak yang beli. Gantian, ya, Kak. Aku mau sholat dulu," jawab Naina seraya menyelesaikan transaksi terakhirnya sebelum meninggalkan kasir.

Kali ini, dia tidak berniat sholat di tempat karyawan, melainkan pergi dengan membawa tasnya menuju masjid di seberang jalan. Di dekat masjid tersebut pamannya bekerja sebagai kuli bangunan sebuah proyek pertokoan.

Ia membeli sebotol minuman dingin untuk diberikan kepada sang paman.

"Paman!" panggil Naina sembari melambaikan tangan pada seorang laki-laki yang sedang duduk di bawah tumpukan bambu.

Ia tersenyum menyambut kedatangan Naina.

"Kenapa ke sini? Bukannya masih kerja?" tanya Asep sembari menerima botol minuman darinya.

"Mau di sini, makan sama Paman. Paman udah makan? Kita makan sama-sama, yuk," jawab Naina seraya mengeluarkan bekal dari dalam tasnya.

Asep mengangguk, kemudian melakukan hal yang sama seperti Naina. Selayaknya ayah dan anak, keduanya tampak terlihat akrab sekali. Mereka yang tidak mengenal pastilah menganggap Naina adalah anak Asep.

"Nai mau sholat dulu, Paman. Tinggal, ya," pamit Naina setelah menghabiskan bekalnya.

Asep mengangguk, sungguh ia menyayangi anak Lita itu seperti anaknya sendiri. Asep mengusap mata yang tiba-tiba berair, seandainya dia dan istrinya bisa memiliki anak pastilah akan merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang ia rasakan sekarang.

Asep kembali pada kerjaan selesai keponakannya itu menghilang di gerbang masjid. Naina mengambil wudhu, membentang sajadah dan mengenakan rukuh.

Sayup-sayup telinganya mendengar suara gelak tawa anak-anak juga seorang pemuda. Terkadang membahas tentang huruf Hijaiyah, mereka sedang belajar mengaji.

Naina yang penasaran, berdiri dan mengintip dari balik hijab yang membatasi antara laki-laki dan perempuan. Di sana, seorang pemuda alim mengenakan kokok dan sarung juga peci hitam yang bertengger di kepala, dikelilingi lima orang anak kecil.

Diam-diam Naina tersenyum, teringat pada guru ngajinya saat di Jakarta dulu. Ia segera menaikkan hijab tersebut saat mata sang pemuda mengarah padanya. Bergegas melipat mukena dan meninggalkan masjid dengan terburu-buru.

"Lho, kenapa kamu, Nai? Kok, ngos-ngosan kayak abis dikejar setan aja," tanya seorang karyawan yang keluar dari gudang.

"Iya ... aku emang dikejar hantu. Hantu tampan, haha ...." Naina tergelak seraya masuk ke ruang karyawan untuk menyimpan barang-barangnya.

Senyum si pemuda sungguh mengganggu pikiran. Berkali-kali ditepis, tetap saja berseliweran seperti hantu yang bergentayangan.

Tanpa Naina sadari, pemuda itu penasaran padanya. Dia pamit pada anak-anak untuk memeriksa siapa sosok yang mengintip dibalik hijab pembatas masjid.

"Nggak ada siapa-siapa, tapi tadi kayaknya ada yang ngintip. Apa mungkin perasanku aja, ya." Dia bergumam sendiri, kembali menatap ruang tempat sholat perempuan memastikan tak ada siapapun di sana.

Sang Pemuda kembali ke tempat berkumpul bersama anak-anak. Senyuman Naina yang sekilas tertangkap netranya, amat mengganggu pikiran. Lain kali, dia tidak akan kehilangan sosoknya.

Siapa perempuan yang tadi ada di masjid ini, ya?

Terpopuler

Comments

🌸ReeN🌸

🌸ReeN🌸

jodoh naina otw nih

2023-01-27

3

Adi Soraya

Adi Soraya

Jodoh mu nai

2023-01-07

1

🌺aNNa baiTi khaRomaH🌺

🌺aNNa baiTi khaRomaH🌺

semoga laki laki itu jodohmu nai..apapun halangannya, semoga kamu bisa melaluinya dengan ikhlas...

2023-01-07

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23 Rahasia Besar Alfin
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35 Pertemuan Tak Terduga
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60 Kedatangan Seseorang
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86 Meluluhkan Aminah
87 Bab 87
88 Bab 88 Kemarahan Alfin
89 Bab 89 Pengorbanan Naina I
90 Bab 90 Pengorbanan Naina II
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
156 Bab 156
157 Bab 157
158 Bab 158
159 Bab 159
160 Bab 160
161 Bab 161
162 Bab 162
163 Bab 163
164 Bab 164
165 Bab 165
166 Bab 166
167 Bab 167
168 Bab 168
169 Bab 169
170 Bab 170
171 Bab 171
172 Bab 172
173 Bab 173
174 Bab 174
175 Bab 175
176 Bab 176
177 Bab 177
178 Bab 178
179 Bab 179
180 Bab 180
Episodes

Updated 180 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23 Rahasia Besar Alfin
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35 Pertemuan Tak Terduga
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60 Kedatangan Seseorang
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86 Meluluhkan Aminah
87
Bab 87
88
Bab 88 Kemarahan Alfin
89
Bab 89 Pengorbanan Naina I
90
Bab 90 Pengorbanan Naina II
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155
156
Bab 156
157
Bab 157
158
Bab 158
159
Bab 159
160
Bab 160
161
Bab 161
162
Bab 162
163
Bab 163
164
Bab 164
165
Bab 165
166
Bab 166
167
Bab 167
168
Bab 168
169
Bab 169
170
Bab 170
171
Bab 171
172
Bab 172
173
Bab 173
174
Bab 174
175
Bab 175
176
Bab 176
177
Bab 177
178
Bab 178
179
Bab 179
180
Bab 180

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!