Beberapa hari berlalu, hari yang dinanti Naina pun tiba. Menurut kabar dari sang paman, ia diterima sebagai kasir di minimarket tersebut. Pagi-pagi sekali telah berpakaian rapi, kemeja putih, celana hitam panjang, rambut disanggul rapi, dengan potongan poni menghiasi dahi.
Tiga hari yang lalu, sang bibi bahkan membelikannya sepatu untuk menyokong penampilan Naina di hari pertamanya bekerja. Ia menatap cerminan dirinya, berputar memantaskan apa yang melekat di tubuhnya.
"Ibu, doain Nai, ya. Semoga Nai bisa diterima kerja," ucap Naina di hadapan foto Lita yang dipajangnya di atas lemari.
Ia mencium foto tersebut, mengambil tas, berjalan keluar menemui paman dan bibinya. Laki-laki itu siap mengantar Naina ke tempat yang dimaksud sekaligus berangkat ke tempatnya bekerja.
"Maa syaa Allah, cantik banget ponakan Bibi! Udah pas kalo jadi orang kantoran, Mah," puji Sumiyati sembari menelisik penampilan Naina dari ujung rambut hingga ujung sepatu yang dikenakannya.
"Makasih, Bi. Ini juga karena bantuan dari Bibi. Nai janji, gaji pertama Nai separuhnya buat Bibi," ucap Naina saking senangnya.
"Aduh, nggak usah. Kamu simpen aja, Bibi punya uang sendiri," sahut Sumiyati penuh haru.
Naina anak yang baik, dia berbakti kepada mereka meskipun bukan orang tua kandungnya.
"Nggak apa-apa, Bibi yang simpen. Ya udah, Nai berangkat, Bi. Assalamu'alaikum!" Naina mengecup kedua pipi Sumiyati.
Ia bergegas mendatangi Asep yang menunggunya di motor.
"Wa'alaikumussalaam, hati-hati," sahut Sumiyati seraya berdiri di teras melepas kepergian keduanya.
Hati tuanya merasa terhibur, kedatangan Naina adalah kesempatan untuknya dapat merasakan memiliki seorang anak, amanah dari Tuhan. Sumiyati tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan akan menjaga Naina dengan baik.
"Mudah-mudahan kebahagiaan menyertai hidup kamu, Nak. Kamu anak yang baik. Lita sangat beruntung punya anak berbakti kayak Naina," gumamnya lirih.
****
Tiba di minimarket yang dimaksud, paman membawa Naina menghadap orang yang bertanggungjawab atas toko tersebut. Melalui wawancara singkat, Naina diterima bekerja sebagai kasir. Mulai hari itu juga, Naina langsung bekerja.
Ia melayani para pembeli dengan sopan dan ramah. Juga sabar tentunya. Tersenyum setiap kali pelanggan datang, menyapa mereka agar tertarik untuk terus datang berbelanja. Begitu keseharian Naina yang menjadi penjaga kasir di sebuah minimarket.
"Naina!" Gadis itu menoleh, lalu tersenyum ketika melihat sang manager berdiri di dekat meja kasir.
"Iya, Pak. Ada apa?"
Ekhem.
Dia berdehem terpesona dengan senyuman indah nan tulus milik gadis itu. Berpaling sembari menetralkan jantungnya yang selalu berpacu bila berhadapan dengan sosok Naina.
Kening gadis itu berkerut, menelisik dengan saksama atasan yang berdiri salah tingkah di depannya.
"Kenapa, Pak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Naina lagi setelah pertanyaan pertama tak digubris sang manager.
"Ah, iya. Kamu udah makan siang?" tanyanya berbasa-basi.
Kerutan di dahi Naina semakin bertumpuk, ia bahkan memiringkan kepala demi dapat melihat dengan jelas wajah yang baru saja menanyainya makan siang.
"Saya bawa bekal, Pak. Ini." Naina mengangkat kotak bekal yang disiapkan Bibi pagi tadi sebelum berangkat.
Laki-laki dewasa itu membulatkan bibir, ia tersenyum kikuk sembari mengusap tengkuk.
"Lain kali nggak usah bawa bekal. Saya mau ngajak kamu makan siang di warung makan sekitar sini," ucapnya diikuti bibir yang digigit sedikit kuat.
Naina terkekeh kecil, menggelengkan kepala tak percaya.
"Kayaknya saya nggak bisa, Pak, karena bibi selalu menyiapkannya setiap pagi. Saya nggak enak kalo nolak, soalnya kasihan juga bibi udah capek masak pagi-pagi." Naina meringis tak enak, tapi lebih tak enak jika meminta Bibi untuk berhenti membekalinya.
"Oh, jadi gitu. Ya udah. Kembali kerja, ya," katanya kecewa. Melengos dari hadapan Naina seraya masuk kembali ke ruangannya.
Naina menghela napas, senyum di bibir kembali terbit saat pelanggan mendatangi mejanya.
"Nai. Udah dzuhur, kamu udah sholat belum?" tegur salah satu teman yang baru saja tiba untuk bergantian shift.
"Iya, aku nungguin Kakak. Dari tadi banyak yang beli. Gantian, ya, Kak. Aku mau sholat dulu," jawab Naina seraya menyelesaikan transaksi terakhirnya sebelum meninggalkan kasir.
Kali ini, dia tidak berniat sholat di tempat karyawan, melainkan pergi dengan membawa tasnya menuju masjid di seberang jalan. Di dekat masjid tersebut pamannya bekerja sebagai kuli bangunan sebuah proyek pertokoan.
Ia membeli sebotol minuman dingin untuk diberikan kepada sang paman.
"Paman!" panggil Naina sembari melambaikan tangan pada seorang laki-laki yang sedang duduk di bawah tumpukan bambu.
Ia tersenyum menyambut kedatangan Naina.
"Kenapa ke sini? Bukannya masih kerja?" tanya Asep sembari menerima botol minuman darinya.
"Mau di sini, makan sama Paman. Paman udah makan? Kita makan sama-sama, yuk," jawab Naina seraya mengeluarkan bekal dari dalam tasnya.
Asep mengangguk, kemudian melakukan hal yang sama seperti Naina. Selayaknya ayah dan anak, keduanya tampak terlihat akrab sekali. Mereka yang tidak mengenal pastilah menganggap Naina adalah anak Asep.
"Nai mau sholat dulu, Paman. Tinggal, ya," pamit Naina setelah menghabiskan bekalnya.
Asep mengangguk, sungguh ia menyayangi anak Lita itu seperti anaknya sendiri. Asep mengusap mata yang tiba-tiba berair, seandainya dia dan istrinya bisa memiliki anak pastilah akan merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang ia rasakan sekarang.
Asep kembali pada kerjaan selesai keponakannya itu menghilang di gerbang masjid. Naina mengambil wudhu, membentang sajadah dan mengenakan rukuh.
Sayup-sayup telinganya mendengar suara gelak tawa anak-anak juga seorang pemuda. Terkadang membahas tentang huruf Hijaiyah, mereka sedang belajar mengaji.
Naina yang penasaran, berdiri dan mengintip dari balik hijab yang membatasi antara laki-laki dan perempuan. Di sana, seorang pemuda alim mengenakan kokok dan sarung juga peci hitam yang bertengger di kepala, dikelilingi lima orang anak kecil.
Diam-diam Naina tersenyum, teringat pada guru ngajinya saat di Jakarta dulu. Ia segera menaikkan hijab tersebut saat mata sang pemuda mengarah padanya. Bergegas melipat mukena dan meninggalkan masjid dengan terburu-buru.
"Lho, kenapa kamu, Nai? Kok, ngos-ngosan kayak abis dikejar setan aja," tanya seorang karyawan yang keluar dari gudang.
"Iya ... aku emang dikejar hantu. Hantu tampan, haha ...." Naina tergelak seraya masuk ke ruang karyawan untuk menyimpan barang-barangnya.
Senyum si pemuda sungguh mengganggu pikiran. Berkali-kali ditepis, tetap saja berseliweran seperti hantu yang bergentayangan.
Tanpa Naina sadari, pemuda itu penasaran padanya. Dia pamit pada anak-anak untuk memeriksa siapa sosok yang mengintip dibalik hijab pembatas masjid.
"Nggak ada siapa-siapa, tapi tadi kayaknya ada yang ngintip. Apa mungkin perasanku aja, ya." Dia bergumam sendiri, kembali menatap ruang tempat sholat perempuan memastikan tak ada siapapun di sana.
Sang Pemuda kembali ke tempat berkumpul bersama anak-anak. Senyuman Naina yang sekilas tertangkap netranya, amat mengganggu pikiran. Lain kali, dia tidak akan kehilangan sosoknya.
Siapa perempuan yang tadi ada di masjid ini, ya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
🌸ReeN🌸
jodoh naina otw nih
2023-01-27
3
Adi Soraya
Jodoh mu nai
2023-01-07
1
🌺aNNa baiTi khaRomaH🌺
semoga laki laki itu jodohmu nai..apapun halangannya, semoga kamu bisa melaluinya dengan ikhlas...
2023-01-07
1