"Nai!"
Suara panggilan serta ketukan pada pintu,
membuat Naina terjaga dari tidur.
"Astaghfirullah!" Ia bangkit sambil mengurut dada, tak sengaja tertidur di sore hari.
"Iya, Bi!" Naina menjawab, seraya keluar dari kamar untuk menemui bibinya. "Kenapa, Bi?" tanyanya ketika mendapati Bibi di depan kamar.
"Ada yang nyariin di luar," ucap Bibi seraya melengos pergi ke belakang.
Naina nampak bingung, ia menggulung rambut, menilik wajahnya sebentar di dalam cermin sebelum keluar untuk menemui orang yang dimaksud Bibi.
Ia membelalak ketika melihat sang atasan duduk di teras sambil menikmati semangkuk seblak buatan Bibi.
"Pak, kenapa Bapak di sini?" tanya Naina tanpa sadar begitu muncul di depan laki-laki itu.
Ia yang sedang asik memakan seblak, mengangkat wajah, kemudian terbatuk-batuk karena tersedak kuah seblaknya.
"Eh?" Naina bingung, mencari-cari keberadaan air, tapi tak menemukannya.
Ketika ia hendak pergi ke dalam, Sumiyati muncul dengan gelas dan teko di tangah. Nyaris keduanya bertabrakan jika saja Naina tak sigap mundur.
"Bibi!"
"Kamu kenapa? Kok, kayak yang lihat hantu gitu?"tanya Sumiyati dengan kedua alis yang beradu.
"Nai cari air, Bi." Naina mengambil alih teko dan gelas dari tangan Bibi, terburu-buru membawanya kepada sang atasan dan memberikannya segelas air.
"Minum, Pak," katanya sembari meringis merasa kasihan melihat wajahnya yang memerah.
Laki-laki itu menerima dan meminumnya dengan segera. Rasa sakit di tenggorokan membuat selera makannya hilang. Ia berdekhem guna menormalkan tenggorokan yang terasa panas dan perih.
"Kenapa kamu ngagetin saya? Jadi nggak enak seblaknya," keluh sang atasan yang tidak terima dikejutkan Naina.
Gadis itu menggaruk kepalanya yang tak gatal, berpaling demi menghindari tatapan tajam laki-laki di depannya.
"Maaf, Pak. Saya nggak sengaja, saya cuma kaget aja kenapa Bapak bisa ada di sini?" jelas Naina tak enak hati.
Laki-laki itu diam-diam tersenyum, tapi ia sembunyikan dari Naina. Mengingat sebuah rencana yang sudah disusunnya sebelum pergi ke rumah gadis itu.
"Kalo kamu mau saya maafin, kamu harus menebusnya karena kamu makanan saya jadi mubajir. Terbuang gitu aja, padahal enak banget seblak di sini," ucapnya memulai rencana.
Naina mengigit bibir, melirik mangkuk yang masih meninggalkan seblak cukup banyak. Rasa bersalah semakin merambat ke mana-mana. Memenuhi relung jiwa, membuatnya ingin bertanggungjawab.
"Baik, Pak. Saya akan tangung jawab, saya akan makan seblak Bapak ini," ucap Naina tanpa keragu-raguan.
Ia menatap kuah merah menggoda, tangannya terjulur hendak menggapai mangkuk, dengan cepat tangan lainnya menyambar.
Naina nampak bodoh, ia mengangkat wajah menatap tak percaya pada sang atasan yang seolah-olah mempermainkannya.
"Apa saya bilang kamu harus makan seblak ini? Nggak, 'kan?" ucapnya membuat Naina sedikit kesal.
Untung ganteng, coba jelek ....
Naina menggeram dalam hati, ia menegakkan tubuhnya kembali.
"Terus apa yang harus saya lakukan?" tanya Naina bersungut-sungut.
"Satu aja, sih. Kamu harus makan siang dengan saya besok. Nggak bisa nolak karena ini bentuk tanggung jawab kamu yang udah ngerusak selera makan saya," tegasnya tak ingin dibantah.
Naina meneguk ludah, dia laki-laki yang pantang menyerah. Apapun dilakukan demi dapat menikmati waktu berdua dengannya. Ia menghela napas, mungkin untuk kali ini saja Naina akan menerima ajakan sang atasan.
"Ok. Besok saya temenin Bapak makan siang. Kalo gitu, saya permisi masuk ke dalam. Silahkan dilanjutkan makannya," ucap Naina masih dengan sopan meskipun kesal.
Ia berbalik dan masuk ke dalam rumah, langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Naina berdiri di bawah pancuran air, membiarkan tubuhnya diguyur untuk beberapa saat lamanya.
Diam-diam Sumiyati dan Asep mengintip, mengira itu kekasih Naina. Akan tetapi, mendengar keponakannya memanggil 'bapak' pada laki-laki itu, mereka kembali lesu.
"Kirain pacarnya si Nai, tahunya atasan." Sumiyati tampak kecewa.
"Ya, mungkin dia suka sama Nai, tapi Nai nggak suka sama dia. Gitu," timpal sang suami.
Sumiyati mengangguk setuju dengan ucapan suaminya.
****
Waktu begitu cepat berlalu, kegelapan yang menyelimuti jagat perlahan memudar digantikan cahaya pagi yang muncul berangsur-angsur.
Naina bersiap mengenakan sepatu, duduk di teras menunggu Asep yang sedang memanaskan motornya. Sumiyati yang tak tahu rencana mereka akan makan siang, membawakan Naina kotak bekalnya.
Ingin menolak, tapi tidak tega. Ia tersenyum menerima benda tersebut dan memasukannya ke dalam tas.
"Nai berangkat, Bi. Assalamu'alaikum," ucapnya seraya menyalami Sumiyati dan naik ke atas motor Asep.
"Wa'alaikumussalaam. Hati-hati, ya."
Sumiyati selalu merasa senang setiap kali melepas mereka untuk bekerja. Asep menurunkan Naina di depan toko, ia bergegas menuju lokasi tempatnya bekerja pula.
Di seberang sana, tepatnya di halaman masjid, Alfin sedang menyapu. Mengumpulkan daun-daun kering yang terjatuh dari pohonnya. Ia tampak khusyuk, tak merasa terganggu sama sekali.
Naina terenyuh, bibirnya menyunggingkan senyum penuh kekaguman. Di zaman yang semakin dewasa ini, di saat pemuda lainnya menghabiskan waktu dengan berfoya-foya, tapi tidak dengan Alfin. Dia mengabdikan diri di rumah Tuhan, menjaganya agar selalu bersih dan nyaman untuk para jamaah yang datang.
Naina berbalik, tepat setelah itu Alfin mengangkat wajah menatapnya. Hanya melihat punggung Naina saja, sudah membuat senyumnya terbit. Pintu toko dibukanya, begitulah bila ia masuk kerja pagi.
"Hah, selalu sendirian," katanya sambil menghela napas panjang.
Ia buka lebar-lebar pintu toko, menyalakan lampu dan mesin kasir. Tak lama rekannya datang untuk bersih-bersih toko sebelum pelanggan datang.
"Pagi semuanya! Kalian tatap semangat, ya!" tegur sang manager yang terlihat lebih ceria dari hari-hari sebelumnya, "ayo, briefing dulu!"
Ia masuk ke gudang, berkumpul dengan semua karyawan untuk melakukan aktifitas pagi sebelum kegiatan. Berkali-kali matanya melirik Naina, tersenyum-senyum tak sadar. Rasanya pagi ingin segera berlalu dan siang cepat datang menjemput.
Naina merasa tak nyaman, juga tak enak pada rekan. Ia terus menunduk, dan segera pergi setelah doa selesai dipanjatkan. Pelanggan mulai berdatangan, kesibukan pun telah dimulai.
"Selamat pagi! Selamat berbelanja!" Senyum Naina mengalahkan cerahnya sang mentari pagi menyambut kedatangan marbot masjid yang datang ke toko.
"Kamu mau belanja banyak lagi?" tanya Naina ketika ia melintasi meja kasir.
"Nggak, kok, cuma mau beli minuman dingin aja. Haus soalnya," ucap Alfin sembari tersenyum pada gadis penjaga kasir itu.
Naina mengangguk, menatap punggung Alfin dengan jantung yang berdegup tak menentu. Ia tersenyum ketika pandang mereka beradu di kejauhan. Tanpa sadar sang manager tengah memperhatikan. Duda anak satu itu tak senang, melirik Alfin dengan tajam.
"Ini aja? Yakin?" tanya Naina saat Alfin membawa sebotol minuman ke mejanya.
"Iya," katanya singkat. Dia hanya ingin melihat senyum gadis itu, minuman tersebut sebagai wasilah pertemuannya.
Sang Manager yang melihat mereka tampak akrab, saling tersenyum satu sama lain. Mengepalkan tangan dengan geram.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
Junida Susilo
jangan GR pak menejer,cinta gak bisa di paksa... sekeras apapun bapak berusaha klw hati nya bukan untuk bapak Terima saja 🤭
2023-01-10
1
Azizah Nur
aduuuh kenapa sih pak meneger masih disitu ganggu orang aja yg lg saling mengagumi dan saling dag dig dug serrr😍 kan jdi panas liatnya lanjut semangat up nya
2023-01-10
1
Adi Soraya
Lanjutttt
2023-01-10
1