Bab 12

"Nai!"

Suara panggilan serta ketukan pada pintu,

membuat Naina terjaga dari tidur.

"Astaghfirullah!" Ia bangkit sambil mengurut dada, tak sengaja tertidur di sore hari.

"Iya, Bi!" Naina menjawab, seraya keluar dari kamar untuk menemui bibinya. "Kenapa, Bi?" tanyanya ketika mendapati Bibi di depan kamar.

"Ada yang nyariin di luar," ucap Bibi seraya melengos pergi ke belakang.

Naina nampak bingung, ia menggulung rambut, menilik wajahnya sebentar di dalam cermin sebelum keluar untuk menemui orang yang dimaksud Bibi.

Ia membelalak ketika melihat sang atasan duduk di teras sambil menikmati semangkuk seblak buatan Bibi.

"Pak, kenapa Bapak di sini?" tanya Naina tanpa sadar begitu muncul di depan laki-laki itu.

Ia yang sedang asik memakan seblak, mengangkat wajah, kemudian terbatuk-batuk karena tersedak kuah seblaknya.

"Eh?" Naina bingung, mencari-cari keberadaan air, tapi tak menemukannya.

Ketika ia hendak pergi ke dalam, Sumiyati muncul dengan gelas dan teko di tangah. Nyaris keduanya bertabrakan jika saja Naina tak sigap mundur.

"Bibi!"

"Kamu kenapa? Kok, kayak yang lihat hantu gitu?"tanya Sumiyati dengan kedua alis yang beradu.

"Nai cari air, Bi." Naina mengambil alih teko dan gelas dari tangan Bibi, terburu-buru membawanya kepada sang atasan dan memberikannya segelas air.

"Minum, Pak," katanya sembari meringis merasa kasihan melihat wajahnya yang memerah.

Laki-laki itu menerima dan meminumnya dengan segera. Rasa sakit di tenggorokan membuat selera makannya hilang. Ia berdekhem guna menormalkan tenggorokan yang terasa panas dan perih.

"Kenapa kamu ngagetin saya? Jadi nggak enak seblaknya," keluh sang atasan yang tidak terima dikejutkan Naina.

Gadis itu menggaruk kepalanya yang tak gatal, berpaling demi menghindari tatapan tajam laki-laki di depannya.

"Maaf, Pak. Saya nggak sengaja, saya cuma kaget aja kenapa Bapak bisa ada di sini?" jelas Naina tak enak hati.

Laki-laki itu diam-diam tersenyum, tapi ia sembunyikan dari Naina. Mengingat sebuah rencana yang sudah disusunnya sebelum pergi ke rumah gadis itu.

"Kalo kamu mau saya maafin, kamu harus menebusnya karena kamu makanan saya jadi mubajir. Terbuang gitu aja, padahal enak banget seblak di sini," ucapnya memulai rencana.

Naina mengigit bibir, melirik mangkuk yang masih meninggalkan seblak cukup banyak. Rasa bersalah semakin merambat ke mana-mana. Memenuhi relung jiwa, membuatnya ingin bertanggungjawab.

"Baik, Pak. Saya akan tangung jawab, saya akan makan seblak Bapak ini," ucap Naina tanpa keragu-raguan.

Ia menatap kuah merah menggoda, tangannya terjulur hendak menggapai mangkuk, dengan cepat tangan lainnya menyambar.

Naina nampak bodoh, ia mengangkat wajah menatap tak percaya pada sang atasan yang seolah-olah mempermainkannya.

"Apa saya bilang kamu harus makan seblak ini? Nggak, 'kan?" ucapnya membuat Naina sedikit kesal.

Untung ganteng, coba jelek ....

Naina menggeram dalam hati, ia menegakkan tubuhnya kembali.

"Terus apa yang harus saya lakukan?" tanya Naina bersungut-sungut.

"Satu aja, sih. Kamu harus makan siang dengan saya besok. Nggak bisa nolak karena ini bentuk tanggung jawab kamu yang udah ngerusak selera makan saya," tegasnya tak ingin dibantah.

Naina meneguk ludah, dia laki-laki yang pantang menyerah. Apapun dilakukan demi dapat menikmati waktu berdua dengannya. Ia menghela napas, mungkin untuk kali ini saja Naina akan menerima ajakan sang atasan.

"Ok. Besok saya temenin Bapak makan siang. Kalo gitu, saya permisi masuk ke dalam. Silahkan dilanjutkan makannya," ucap Naina masih dengan sopan meskipun kesal.

Ia berbalik dan masuk ke dalam rumah, langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Naina berdiri di bawah pancuran air, membiarkan tubuhnya diguyur untuk beberapa saat lamanya.

Diam-diam Sumiyati dan Asep mengintip, mengira itu kekasih Naina. Akan tetapi, mendengar keponakannya memanggil 'bapak' pada laki-laki itu, mereka kembali lesu.

"Kirain pacarnya si Nai, tahunya atasan." Sumiyati tampak kecewa.

"Ya, mungkin dia suka sama Nai, tapi Nai nggak suka sama dia. Gitu," timpal sang suami.

Sumiyati mengangguk setuju dengan ucapan suaminya.

****

Waktu begitu cepat berlalu, kegelapan yang menyelimuti jagat perlahan memudar digantikan cahaya pagi yang muncul berangsur-angsur.

Naina bersiap mengenakan sepatu, duduk di teras menunggu Asep yang sedang memanaskan motornya. Sumiyati yang tak tahu rencana mereka akan makan siang, membawakan Naina kotak bekalnya.

Ingin menolak, tapi tidak tega. Ia tersenyum menerima benda tersebut dan memasukannya ke dalam tas.

"Nai berangkat, Bi. Assalamu'alaikum," ucapnya seraya menyalami Sumiyati dan naik ke atas motor Asep.

"Wa'alaikumussalaam. Hati-hati, ya."

Sumiyati selalu merasa senang setiap kali melepas mereka untuk bekerja. Asep menurunkan Naina di depan toko, ia bergegas menuju lokasi tempatnya bekerja pula.

Di seberang sana, tepatnya di halaman masjid, Alfin sedang menyapu. Mengumpulkan daun-daun kering yang terjatuh dari pohonnya. Ia tampak khusyuk, tak merasa terganggu sama sekali.

Naina terenyuh, bibirnya menyunggingkan senyum penuh kekaguman. Di zaman yang semakin dewasa ini, di saat pemuda lainnya menghabiskan waktu dengan berfoya-foya, tapi tidak dengan Alfin. Dia mengabdikan diri di rumah Tuhan, menjaganya agar selalu bersih dan nyaman untuk para jamaah yang datang.

Naina berbalik, tepat setelah itu Alfin mengangkat wajah menatapnya. Hanya melihat punggung Naina saja, sudah membuat senyumnya terbit. Pintu toko dibukanya, begitulah bila ia masuk kerja pagi.

"Hah, selalu sendirian," katanya sambil menghela napas panjang.

Ia buka lebar-lebar pintu toko, menyalakan lampu dan mesin kasir. Tak lama rekannya datang untuk bersih-bersih toko sebelum pelanggan datang.

"Pagi semuanya! Kalian tatap semangat, ya!" tegur sang manager yang terlihat lebih ceria dari hari-hari sebelumnya, "ayo, briefing dulu!"

Ia masuk ke gudang, berkumpul dengan semua karyawan untuk melakukan aktifitas pagi sebelum kegiatan. Berkali-kali matanya melirik Naina, tersenyum-senyum tak sadar. Rasanya pagi ingin segera berlalu dan siang cepat datang menjemput.

Naina merasa tak nyaman, juga tak enak pada rekan. Ia terus menunduk, dan segera pergi setelah doa selesai dipanjatkan. Pelanggan mulai berdatangan, kesibukan pun telah dimulai.

"Selamat pagi! Selamat berbelanja!" Senyum Naina mengalahkan cerahnya sang mentari pagi menyambut kedatangan marbot masjid yang datang ke toko.

"Kamu mau belanja banyak lagi?" tanya Naina ketika ia melintasi meja kasir.

"Nggak, kok, cuma mau beli minuman dingin aja. Haus soalnya," ucap Alfin sembari tersenyum pada gadis penjaga kasir itu.

Naina mengangguk, menatap punggung Alfin dengan jantung yang berdegup tak menentu. Ia tersenyum ketika pandang mereka beradu di kejauhan. Tanpa sadar sang manager tengah memperhatikan. Duda anak satu itu tak senang, melirik Alfin dengan tajam.

"Ini aja? Yakin?" tanya Naina saat Alfin membawa sebotol minuman ke mejanya.

"Iya," katanya singkat. Dia hanya ingin melihat senyum gadis itu, minuman tersebut sebagai wasilah pertemuannya.

Sang Manager yang melihat mereka tampak akrab, saling tersenyum satu sama lain. Mengepalkan tangan dengan geram.

Terpopuler

Comments

Junida Susilo

Junida Susilo

jangan GR pak menejer,cinta gak bisa di paksa... sekeras apapun bapak berusaha klw hati nya bukan untuk bapak Terima saja 🤭

2023-01-10

1

Azizah Nur

Azizah Nur

aduuuh kenapa sih pak meneger masih disitu ganggu orang aja yg lg saling mengagumi dan saling dag dig dug serrr😍 kan jdi panas liatnya lanjut semangat up nya

2023-01-10

1

Adi Soraya

Adi Soraya

Lanjutttt

2023-01-10

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23 Rahasia Besar Alfin
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35 Pertemuan Tak Terduga
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60 Kedatangan Seseorang
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86 Meluluhkan Aminah
87 Bab 87
88 Bab 88 Kemarahan Alfin
89 Bab 89 Pengorbanan Naina I
90 Bab 90 Pengorbanan Naina II
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
156 Bab 156
157 Bab 157
158 Bab 158
159 Bab 159
160 Bab 160
161 Bab 161
162 Bab 162
163 Bab 163
164 Bab 164
165 Bab 165
166 Bab 166
167 Bab 167
168 Bab 168
169 Bab 169
170 Bab 170
171 Bab 171
172 Bab 172
173 Bab 173
174 Bab 174
175 Bab 175
176 Bab 176
177 Bab 177
178 Bab 178
179 Bab 179
180 Bab 180
Episodes

Updated 180 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23 Rahasia Besar Alfin
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35 Pertemuan Tak Terduga
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60 Kedatangan Seseorang
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86 Meluluhkan Aminah
87
Bab 87
88
Bab 88 Kemarahan Alfin
89
Bab 89 Pengorbanan Naina I
90
Bab 90 Pengorbanan Naina II
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155
156
Bab 156
157
Bab 157
158
Bab 158
159
Bab 159
160
Bab 160
161
Bab 161
162
Bab 162
163
Bab 163
164
Bab 164
165
Bab 165
166
Bab 166
167
Bab 167
168
Bab 168
169
Bab 169
170
Bab 170
171
Bab 171
172
Bab 172
173
Bab 173
174
Bab 174
175
Bab 175
176
Bab 176
177
Bab 177
178
Bab 178
179
Bab 179
180
Bab 180

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!