Bab 11

"Nai! Aku antar, ya," ucap sang manager ketika Naina sedang menunggu ojek yang dipesannya.

"Eh, Bapak. Nggak usah, Pak. Bentar lagi juga sampe ojeknya," sahut Naina tak enak dengan penawaran laki-laki itu.

"Nai, kenapa kamu selalu nolak setiap kali aku mau membantu?" tanya sang manager tak bisa lagi menahannya.

Naina tertunduk, sungguh rasanya tak enak. Dia tak ingin bermimpi terlalu tinggi, jika pada akhirnya akan kembali jatuh ke jurang yang dalam.

"Maaf, Pak. Sa-saya ...."

"Naina?"

Gadis itu mengangkat wajah ketika seseorang memanggilnya. Naina mengangguk pelan, menatap seorang laki-laki dengan jaket khas yang duduk di atas motor sambil memegangi ponsel.

"Ah, iya. Saya," jawab Naina seraya berbalik menghadap sang manager.

"Maaf, Pak. Lain kali kita ngobrol lagi. Saya pulang dulu, assalamualaikum," pamit Naina seraya berbalik dan naik ke atas motor tanpa menunggu balasan salam darinya.

Laki-laki tersebut menghela napas, menatap sayu sosok Naina yang pergi bersama tukang ojek. Ia melengos masuk ke dalam, kembali pada pekerjaannya.

Naina melirik saat melintasi masjid, melihat sang pemuda yang sedang membagikan makanan pada semua anak yang berbaris. Ia tersenyum, semakin kagum dengan sosoknya yang bersahaja.

Sadar ada yang memperhatikan, pemuda yang mengaku bernama Ahmad itu mengangkat kepala untuk memeriksa keadaan. Sayang, Naina sudah tak lagi nampak di sana.

Ia menggelengkan kepala, berharap gadis itu muncul sekali lagi sebelum hari beranjak. Namun, semua itu hanyalah keinginan nalarnya, sementara kenyataan tak sesuai dengan keinginan.

Naina menjatuhkan diri di kursi depan kamarnya, merenung sembari menatap langit-langit membayangkan pertemuan mereka. Bibirnya tanpa sadar tersenyum, lisannya bergumam pelan menyebutkan nama sang pemuda.

"Nai!"

"Eh, i-iya, Bi. Kenapa?" Naina gelagapan ketika suara Bibi memanggilnya dengan tiba-tiba.

"Kenapa, kok, senyum-senyum sendiri? Lagi seneng, ya?" goda sang bibi sembari tersenyum mengejeknya.

Naina melengos menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Nggak, kok, Bi. Nai biasa-biasa aja," katanya berbohong, padahal hati cenat-cenut tak menentu.

"Mudah-mudahan emang biasa-biasa aja. Nggak sampe kesambet setan sono." Sumiyati tertawa ketika Naina menoleh dengan mata melotot.

Sosoknya hilang dibalik pintu depan, melayani para pelanggan setia seblaknya. Naina menggeleng sembari tersipu malu. Dia memang kesambet, kesambet setan tampan di tempat kerjanya.

"Ahmad. Namanya bagus, agamis sesuai sama orangnya. Apa dia, ya, yang suka ngaji kalo Maghrib di masjid itu? Suaranya merdu banget, ya Allah," gumam Naina sembari terpejam mengingat-ingat suara ayat suci Al-Quran yang dilantunkan seseorang di masjid setiap kali ia berjaga malam.

"Tuh, 'kan ... kesurupan. Tadi senyum-senyum sekarang jingkrak-jingkrak. Kenapa, ih? Bibi, mah, jadi takut." Sumiyati bergidik sembari berjalan cepat melewati kursi tempat Naina duduk.

Gadis itu menggaruk rambutnya, melihat sekitar kemudian masuk ke kamarnya sendiri. Ia menjatuhkan tubuh, berbaring terlentang menatap langit-langit kamar. Tanpa terasa, rasa lelah membawanya pada alam mimpi. Dia terlelap di sore hari.

****

Di minimarket tempatnya bekerja, sepeninggal Naina dari sana sang manager dilanda gelisah. Menimbang rencana untuk datang ke rumah Naina sesuai alamat yang tertera pada dokumen lamaran kerjanya.

"Apa aku datangin dia aja ke rumahnya, ya?" gumamnya sembari melipat bibir berpikir baik dan tidaknya.

Ia tercenung ketika mendengar suara obrolan para karyawan di luar ruangan. Terbersit ide lain yang menerbitkan senyumnya. Laki-laki itu beranjak, langsung menuju meja kasir di mana teman Naina bekerja.

"Vit, aku mau tanya sama kamu," ucapnya ketika tiba di dekat meja kasir.

"Tanya apa, Pak? Soal Naina, ya?" goda sang karyawan yang membuatnya tak dapat mengelak.

"Ekhem. Tahu aja kamu." Ia tersipu.

"Tahu, dong. Bapak, 'kan, sering ngajak dia ngobrol. Kejar terus, Pak, kalo emang Bapak suka sama dia. Tenang aja, setahu aku dia masih jomblo. Belum ada yang punya," bisiknya menyemangati sang atasan.

Hati laki-laki itu berbunga demi mendengar jawaban yang ingin dia tanyakan. Senyuman semakin nyata, rona merah di pipi semakin menyebar. Dia benar-benar jatuh cinta kepada Naina.

"Oh. Ok. Makasih, ya. Kerja yang bener," katanya seraya melengos pergi begitu saja.

Teman Naina itu mendengus, kemudian tertawa. Naina gadis yang tertutup, tak banyak bicara jika tak perlu. Namun, dia gadis yang baik, suka menolong tanpa segan juga tanpa pamrih.

"Mudah-mudahan sukses, Pak. Kejar terus cinta Naina!" gumamnya seorang diri kemudian tertawa sendiri.

Sang Manager masuk ke ruangannya lagi, membuka ponsel dan memandangi gambar Naina yang dia curi.

"Aku nggak akan nyerah buat dapetin hati kamu, Naina. Sampai kapanpun aku akan terus mengejar kamu. Kamu berbeda dari kebanyakan perempuan, ramah dan sopan, tapi sayangnya tertutup."

Ia bergumam sembari memandangi ponselnya. Disapunya gambar Naina, sebuah gambar yang natural tidak dibuat-buat. Senyum yang apa adanya, membuat hati gelisah tak menentu.

****

Di masjid pula, pemuda yang baru saja selesai membagikan makanan pada semua anak-anak di sana, duduk tercenung di serambi masjid. Bersandar pada satu pilar, menatap arak-arakan awan yang sekejap lagi berubah warna.

"Naina ... Naina."

Lisan menggumamkan nama gadis yang berhasil mencuri hatinya. Tersenyum sendiri membayangkan perkenalan mereka yang singkat.

"Mungkin kita bisa ketemu tiap hari, ya. Rasanya aku pengen kenal lebih dekat sama dia." Dia terus saja bergumam sampai tak sadar jika seseorang sedang berdiri di belakangnya sambil tersenyum-senyum.

"Ekhem. Perempuan mana yang berhasil memikat hati seorang Alfinza? Saya mau tahu jadinya," seloroh orang tersebut mengejek pemuda yang bernama Alfinza.

Pemuda itu tersentak, meneguk ludahnya malu. Ia berbalik dan tersenyum malu kala melihat seorang laki-laki bersorban hijau tersenyum padanya.

"Eh, Pak Ustadz. Dari kapan berdiri di situ? Kok, nggak bilang-bilang?" katanya gugup.

Rona merah di pipi tak dapat ia sembunyikan hadirnya, rasa malu pun menjalar di seluruh bagian hati karena ketahuan sedang memikirkan seorang wanita.

Laki-laki yang dipanggilnya ustadz itu, duduk di samping Alfin. Menekuk lutut dan memeluknya, memandang ikan-ikan hias yang berada di kolam samping masjid.

"Ya, nggak apa-apa. Emang udah waktunya kamu mikirin soal istri. Umur kamu udah sangat cukup buat menikah, pekerjaan nggak perlu mikirin lagi. Rumah dan segala apapun yang berkaitan dengan rumah tangga insya Allah akan mengikuti. Nggak usah risau sama rezeki, semua ada takarannya nggak akan tertukar. Ya, kalo udah mantap, jangan sungkan bilang sama saya. Kita langsung lamar dia," cetus pak ustadz sembari menelisik wajah Alfin yang tampak muram.

"Ada apa?"

Ia menghela napas, memikirkan tentang Naina apakah dia memiliki rasa yang sama seperti dirinya.

"Aku nggak tahu, Pak Ustadz. Soalnya baru pertama ketemu dan baru kenal hari ini." Ia menghela napas lagi masih berpikir tentang Naina.

"Yah, tenang aja. Kalo dia emang jodoh kamu, nggak akan ke mana," ucapnya sambil menepuk-nepuk bahu Alfin memberi dukungan.

Pemuda itu tersenyum, mengangguk sangat mengerti.

Terpopuler

Comments

Junida Susilo

Junida Susilo

jodoh tidak akan tertukar juga 🤭 klw jodoh selalu diberi Allah kemudahan 😍

2023-01-09

2

Ia Chia

Ia Chia

Semoga berjodoh

2023-01-09

1

Fe

Fe

aku berharap bgt mpin bisa sama nai lah.. dan nai juga bisa ketemu sama bokap biologis nya.. kasian bgt deh si nai..

2023-01-09

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23 Rahasia Besar Alfin
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35 Pertemuan Tak Terduga
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60 Kedatangan Seseorang
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86 Meluluhkan Aminah
87 Bab 87
88 Bab 88 Kemarahan Alfin
89 Bab 89 Pengorbanan Naina I
90 Bab 90 Pengorbanan Naina II
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
156 Bab 156
157 Bab 157
158 Bab 158
159 Bab 159
160 Bab 160
161 Bab 161
162 Bab 162
163 Bab 163
164 Bab 164
165 Bab 165
166 Bab 166
167 Bab 167
168 Bab 168
169 Bab 169
170 Bab 170
171 Bab 171
172 Bab 172
173 Bab 173
174 Bab 174
175 Bab 175
176 Bab 176
177 Bab 177
178 Bab 178
179 Bab 179
180 Bab 180
Episodes

Updated 180 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23 Rahasia Besar Alfin
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35 Pertemuan Tak Terduga
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60 Kedatangan Seseorang
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86 Meluluhkan Aminah
87
Bab 87
88
Bab 88 Kemarahan Alfin
89
Bab 89 Pengorbanan Naina I
90
Bab 90 Pengorbanan Naina II
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155
156
Bab 156
157
Bab 157
158
Bab 158
159
Bab 159
160
Bab 160
161
Bab 161
162
Bab 162
163
Bab 163
164
Bab 164
165
Bab 165
166
Bab 166
167
Bab 167
168
Bab 168
169
Bab 169
170
Bab 170
171
Bab 171
172
Bab 172
173
Bab 173
174
Bab 174
175
Bab 175
176
Bab 176
177
Bab 177
178
Bab 178
179
Bab 179
180
Bab 180

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!