Apa Aku Masih Suci?

Reine membuka kedua matanya ketika mendengar suara ketukan pintu yang begitu berisik. Wanita itu kaget bukan main ketika melihat tubuhnya yang tanpa busana. Hanya selembar selimut yang menutupi tubuhnya. Reine segera berlari menuju ke kamar mandi sambil mengutip baju-baju yang tergeletak di lantai. Sambil berjalan dia mengumpat di dalam hati karena Darren tidak membangunkannya.

Setibanya di dalam kamar mandi, Darren kembali muncul dan menatap Reine dengan tatapan penuh arti. Sepertinya pria itu merasa sangat puas karena sudah berhasil memiliki kekasihnya tadi. Tidak ada yang harus dia takuti lagi karena kekuatannya semakin hari semakin bertambah berkat darah suci Reine.

"Kau menyebalkan . Sekarang bagaimana? Mereka akan curiga jika aku tidak segera membuka pintu," protes Reine sambil memakai bajunya.

"Mereka akan mendobrak pintunya karena terlalu khawatir. Tapi kau tenang saja mereka tidak akan tahu dengan apa yang sudah kita lakukan. Semua itu akan menjadi rahasia kita berdua saja," ucap Darren dengan santai.

"Sebenarnya apa yang sudah kita lakukan? Kenapa aku tidak ingat apapun?"

Darren tersenyum penuh arti. Sebenarnya semua yang terjadi itu hanya ada di dalam mimpi Reine saja. Pada kenyataannya tidak sama seperti yang dia pikirkan. Darren sengaja membuat semua itu seolah nyata agar Reine tidak lagi memintanya melakukan hal-hal bodoh seperti tadi. Setidaknya wanita yang ia cintai pernah merasakan bersetubuh dengan seorang hantu seperti dia. Meskipun pada kenyataannya Reine tetap masih virgin.

"Kau ingin mengulanginya lagi agar bisa mengingatnya?" tawar Darren.

"Tidak!" tolak Reine. Wanita itu merapikan rambutnya sebelum keluar dari kamar mandi. Darren memandang pantulan dirinya sendiri sebelum menghilang lagi.

"Nona, apa anda baik-baik saja?" teriak Mora dengan suara yang semakin keras. Lima menit lagi dia berteriak dan Reine belum membukakan pintu, maka dia akan meminta pengawal untuk mendobrak pintu kamar itu saja. Itu solusi terbaik daripada Mora harus merasa khawatir seperti sekarang.

"Ya. Aku ada di kamar mandi!" sahut Reine sambil membuka pintu.

Mora memandang Reine dengan wajah curiga. Dari kamar mandi tetapi rambut Reine tidak basah. Satu lagi yang membuatnya tidak percaya dengan perkataan Reine. Baju wanita itu belum terganti. Bajunya masih sama dengan yang sebelumnya di pakai Reine ketika mereka berangkat dari istana.

"Anda bohong, Nona." Mora menerobos masuk. Wanita itu segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam.

"Berbohong? Kenapa kau bisa menuduhku berbohong? Aku memang baru saja dari kamar mandi. Perutku terasa sakit. Ketika aku baru saja membuka bajuku kau tiba-tiba memanggilku dengan keras. Aku terpaksa memakai baju ini lagi karena terburu-buru. Tidak mungkin aku membukakan pintu sambil menggunakan handuk. Bagaimana kalau pengawal yang bersamamu memandangku tanpa memakai baju?" Reine sendiri tidak menyangka kalau dia bisa berdusta seperti itu. Mungkin bakat Darren telah tumbuh di dalam dirinya. Hingga akhirnya dia bisa berkata seperti sekarang.

"Anda benar-benar tidak berbohong, Nona?" Dilihat dari ekspresi Mora, wanita itu sepertinya percaya dengan apa yang dikatakan oleh Reine.

"Untuk apa aku berbohong? Bukankah kita sudah seperti saudara? Aku tidak mungkin mengecewakanmu. Kau satu-satunya orang yang paling dekat denganku ketika aku tinggal di istana nanti." Nada bicara Reine meninggi dan itu membuat Mora panik.

Mora tiba-tiba menuduh hormat dengan wajah bersalah. "Maafkan saya, Nona. Karena saya sudah melupakan batasan yang ada di antara kita. Tugas saya itu hanya untuk mengingatkan anda dan menjaga anda saja. Bukan menuduh anda dan mencurigai Anda seperti tadi. Tolong jangan laporkan perbuatan saya kepada Yang Mulia Ratu. Saya sangat-sangat menyesal dan tidak akan mengulanginya lagi. Saya akan berubah untuk menjadi yang lebih baik. Saya janji, Nona."

Melihat Mora merasa bersalah seperti itu membuat Reine merasa tidak tega. Namun untuk memberitahu apa yang sebenarnya terjadi juga tidak mungkin. "Mora, Jangan bersikap seolah ada batasan di antara kita. Meskipun semua orang memandang kita sebagai bawahan dan atasan, tetapi di mataku kita sama. Kita sama-sama wanita yang memiliki tujuan hidup untuk menjadi lebih baik. Aku tidak akan melaporkanmu kepada Yang Mulia Ratu. Jika pun suatu saat nanti Yang Mulia Ratu bertanya tentangmu, aku pasti akan menjawab yang baik-baik saja. Aku tidak akan membiarkanmu dihukum apalagi sampai di penggal seperti teman-temanmu yang lain."

"Nona, Terima kasih karena Anda sudah baik sama saya dan memperlakukan saya seperti ini. Bolehkah saya memeluk Anda, Nona?"

"Tentu saja." Reine segera membuka kedua tangannya dan memeluk Mora dengan begitu erat.

Reine sudah biasa hidup dengan saudara-saudaranya di asrama. Memaafkan kesalahan orang lain adalah hal yang biasa bagi Reine. Tidak pernah sekalipun Ia memiliki dendam kepada saudaranya selama tinggal di asrama. Bahkan Reine lebih sering mengalah untuk menghindari perdebatan. Hal itu yang membuat Ibu asrama memilih Reine untuk menjadi kandidat sang pangeran. Waktu itu Ibu asrama percaya kalau Reine adalah wanita yang pantas untuk mendapatkan posisi tersebut. Dia wanita yang baik dan sangat pemaaf. Sejahat-jahatnya orang pasti akan luluh jika sudah bersama dengannya.

"Nona, apa sekarang anda mau mandi?" tanya Mora setelah pelukan hangat itu terlepas.

"Ya. Tapi kali ini aku mengizinkanmu untuk menunggu di kamar. Aku juga tidak mau ketika sedang mandi pintu kamarku digedor-gedor seperti tadi," ledek Reine sambil mencubit pipi Mora.

"Maafkan saya, Nona. Saya tidak akan mengulanginya lagi." Mora menunduk karena malu.

"Oh ya, gelang yang tadi aku simpan di laci. Aku tidak biasa memakai apapun ketika mandi. Kau jangan berpikir kalau gelangnya aku buang ya. Jika tidak percaya, kau bisa memeriksa laci meja yang ada di sana," ucap Reine sambil menunjuk laci yang menjadi tempat gelangnya tersimpan.

"Saya percaya dengan apa yang Anda katakan, Nona. Mulai hari ini saya tidak akan mencurigai anda lagi. Lakukan saja hal apapun yang membuat anda merasa jauh lebih nyaman. Karena mulai hari ini saya yang akan mengikuti aturan anda bukan Anda lagi yang mengikuti aturan yang saya buat. Jadilah diri anda sendiri maka itu akan membuat anda merasa jauh lebih nyaman."

Reine mengeryitkan dahinya. "Mora, kenapa kau berubah menjadi seperti ini? Apa ini karena kau baru saja berkeliling bersama Angel?"

"Bukan karena Nona Angel yang sudah membuat saya berubah menjadi seperti sekarang. Tetapi asrama ini yang sudah membuka pikiran saya. Selama ini saya terlalu banyak mengeluh dengan kehidupan enak yang saya miliki. Mungkin jika saya menjadi salah satu penghuni asrama ini, saya tidak akan sanggup untuk menjalaninya. Seberat apapun cobaan hidup tidak akan terasa jika kita selalu bersyukur."

"Mora, sepertinya kau mendapat banyak pelajaran ketika berada di asrama ini. Nanti kita mengobrol lagi setelah aku mandi." Reine segera masuk ke kamar mandi dan tidak mau menunda lagi. Jam makan malam akan segera tiba. Reine tidak mau terlambat ketika makan malam bersama saudara-saudaranya yang ada di asrama. Momen makan malam seperti itu yang sudah sangat ia rindukan.

"Baik, Nona." Mora menunduk sejenak sebelum memandang ke tempat tidur. Wanita itu menggeleng kepalanya melihat tempat tidur Reine yang berantakan. "Biasanya tempat tidur Nona Reine selalu rapi meskipun dia baru saja menidurinya. Kenapa sekarang terlihat berantakan sekali?" gumam Mora di dalam hati. Wanita itu segera merapikan kamar Reine karena nanti malam kamar itu akan menjadi tempat istirahat mereka berdua.

Di dalam kamar mandi, Reine memandang Darren yang saat itu duduk dengan santai di atas meja wastafel. "Apa kau mau mengintipku mandi?"

"Ya. Aku sudah melihat semuanya. Untuk apa kau malu lagi?" ledek Darren.

"Pergi atau aku akan marah!" ancam Reine.

"Bailklah," jawab Darren dengan wajah kecewa. Pria itu segera menghilang karena tidak mau Reine marah.

"Nona, anda bicara sama siapa?" tanya Mora di depan kamar mandi.

"Tidak! Aku bicara pada diriku sendiri. Dia kotor sekali," teriak Reine dari dalam.

Di depan kamar mandi, Mora hanya menggeleng-geleng saja mendengar jawaban Reine. Wanita itu lanjut lagi membereskan kamar tidur Reine.

Episodes
1 Permintaan Ibu
2 Penolakan
3 Awal Mula
4 Salah Paham
5 Seleksi Pertama
6 Perselisihan
7 Terpilih
8 Pilihan Sulit
9 Seleksi 10 besar
10 Keanehan
11 Mereka Sama?
12 Ada yang Aneh
13 Gelang Ajaib
14 Penolakan
15 Peramal Hebat
16 Kelemahan Darren
17 Sambutan Asrama
18 Maaf Darren
19 Aku Hantu Tampan
20 Apa Aku Masih Suci?
21 Cerita Malam
22 Kembali ke Istana
23 Pangeran Dalson Steward
24 Pernikahan
25 Malam Pertama
26 Hukuman
27 Bukan Malam Pertama
28 Setelah Kejadian
29 Kembali Tersiksa
30 Bersama Darren
31 Yang Mulia Ratu
32 Cerita Rahasia
33 Hukuman Mora
34 Kehilangan.
35 Kenyataan
36 Harus Hamil
37 Bujuk Rayu
38 Ratu Kejam
39 Berhasil Kabur
40 Malam Panjang
41 Alasan Tepat
42 Rencana Jitu
43 Kehamilan
44 Bernegosiasi
45 Kabar Buruk
46 Sudah Tiada
47 Bukan Darren
48 Hampir Saja
49 Mulai Perhatian
50 Merasa Aneh
51 Jebakan
52 Terus Bersama
53 Dia Musuh
54 Rencana Darren
55 Rencana Besar
56 Jawaban Pangeran
57 Pembunuh Bayaran
58 Perjuangan Pangeran Dalson
59 Anak Kita?
60 Siapa yang Salah?
61 Keadaan Reine
62 Kembali Pulang
63 Sekamar
64 Serba Salah
65 Lain Haluan
66 Emosi tak Terkendali
67 Tidak Percaya
68 Jebakan Ratu
69 Semakin Kuat
70 Kejujuran
71 Darren lagi
72 Racun Berbahaya
73 Rencana Jahat
74 Usaha Tabib Tua
75 Tidak Aman
76 Penawaran Terakhir
77 Keterlaluan
78 Tidak Bermanfaat
79 Jalan Rahasia
80 Kode Mora
81 Berusaha Keras
82 Tidak Tertandingi
83 Solusi Akhir
84 Semudah Itu
85 Kota Kenangan
86 Tidak Siap
87 Kemampuan Darren
88 Perebutan Kekuasaan
89 Hukuman
90 Menyerah
91 Happy Ending
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Permintaan Ibu
2
Penolakan
3
Awal Mula
4
Salah Paham
5
Seleksi Pertama
6
Perselisihan
7
Terpilih
8
Pilihan Sulit
9
Seleksi 10 besar
10
Keanehan
11
Mereka Sama?
12
Ada yang Aneh
13
Gelang Ajaib
14
Penolakan
15
Peramal Hebat
16
Kelemahan Darren
17
Sambutan Asrama
18
Maaf Darren
19
Aku Hantu Tampan
20
Apa Aku Masih Suci?
21
Cerita Malam
22
Kembali ke Istana
23
Pangeran Dalson Steward
24
Pernikahan
25
Malam Pertama
26
Hukuman
27
Bukan Malam Pertama
28
Setelah Kejadian
29
Kembali Tersiksa
30
Bersama Darren
31
Yang Mulia Ratu
32
Cerita Rahasia
33
Hukuman Mora
34
Kehilangan.
35
Kenyataan
36
Harus Hamil
37
Bujuk Rayu
38
Ratu Kejam
39
Berhasil Kabur
40
Malam Panjang
41
Alasan Tepat
42
Rencana Jitu
43
Kehamilan
44
Bernegosiasi
45
Kabar Buruk
46
Sudah Tiada
47
Bukan Darren
48
Hampir Saja
49
Mulai Perhatian
50
Merasa Aneh
51
Jebakan
52
Terus Bersama
53
Dia Musuh
54
Rencana Darren
55
Rencana Besar
56
Jawaban Pangeran
57
Pembunuh Bayaran
58
Perjuangan Pangeran Dalson
59
Anak Kita?
60
Siapa yang Salah?
61
Keadaan Reine
62
Kembali Pulang
63
Sekamar
64
Serba Salah
65
Lain Haluan
66
Emosi tak Terkendali
67
Tidak Percaya
68
Jebakan Ratu
69
Semakin Kuat
70
Kejujuran
71
Darren lagi
72
Racun Berbahaya
73
Rencana Jahat
74
Usaha Tabib Tua
75
Tidak Aman
76
Penawaran Terakhir
77
Keterlaluan
78
Tidak Bermanfaat
79
Jalan Rahasia
80
Kode Mora
81
Berusaha Keras
82
Tidak Tertandingi
83
Solusi Akhir
84
Semudah Itu
85
Kota Kenangan
86
Tidak Siap
87
Kemampuan Darren
88
Perebutan Kekuasaan
89
Hukuman
90
Menyerah
91
Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!