Satu bulan yang lalu.
Siang itu Reine berdiri di sebrang jalan. Ia melambaikan tangan ke arah Angel sambil memamerkan donat yang baru saja ia beli. Belum memberikan donat tersebut kepada Angel saja sudah membuat Reine merasakan kebahagiaan wanita tersebut.
"Aku akan menghabiskan donat ini sendirian jika kau tidak berhasil menangkapku!" teriak Reine dengan wajah yang sangat ceria.
Angel menggeleng. Wanita itu merasa pesimis. Ia yakin kalau ia tidak akan pernah berhasil mengejar Reine karena lari Reine sangat cepat jika dibandingkan dengan dirinya. Sudah sering kali ia mencoba hal yang sama namun hasilnya juga sama. Dia kalah. Maka dari itu, Angel memikirkan cara lain agar bisa mengalahkan Reine kali ini. Wanita itu memegang kepalanya dan berdiri sempoyongan. Dari sebrang jalan wajah Reine mulai panik yang menandakan kalau rencana Angel kali ini berhasil.
"Apa yang terjadi? Kenapa Angel memegang kepalanya?" Tanpa pikir panjang, Reine segera berlari sekuat tenaga menyebrang jalan. Ia bahkan tidak sempat melihat kanan dan kiri saat itu. Pikirannya telah dipenuhi dengan kekhawatiran tentang Angel. Wanita itu ingin tiba di dekat Angel sebelum tubuh wanita itu terjatuh di jalan.
Saat berada di tengah jalan, orang-orang pada berteriak. Mendengar teriakan orang yang sangat ramai membuat Reine menghentikan langkahnya. Ia memiringkan tubuhnya ke kanan dan ….
BRUAAKK
Sebuah mini bus menabrak tubuhnya hingga ia terpental ke sisi jalanan. Walau mobil tersebut sudah berusaha mengerem, namun karena kecepatan yang tinggi dan kemunculan Reine secara tiba-tiba. Membuat kecelakaan itu tidak bisa terhindarkan lagi.
Reine mengerjapkan matanya sambil memandang Angel yang berlari menuju ke arahnya. Ia mengukir senyum sebelum semua gelap.
***
Reine membuka matanya dengan wajah kaget. Kejadian kecelakaan itu seperti mimpi buruk baginya. Reine memandang pria yang berdiri di samping tempat tidurnya dengan wajah bingung. Sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit, Reine berusaha mengumpulkan kesadarannya.
"Siapa kau? Kenapa kau bisa ada di sini? Di mana ini? Ruangan apa ini?" tanya Reine seperti orang bingung. Ia berusaha bangkit agar bisa pergi meninggalkan ruangan asing itu. Namun, kepalanya semakin terasa sakit. Pria yang tadi ada di hadapannya segera menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Kenapa aku bisa menyentuhnya?" ucap pria itu bingung.
Reine yang mendengar jelas perkataan pria itu segera menangkis tangannya dan mendorong tubuhnya agar menjauh.
"Apa kau pikir aku ini udara yang tidak bisa di sentuh?" protes Reine kesal.
Teriakan Reine membuat perawat yang ada di depan kamar Reine masuk. Perawat itu tersenyum bahagia melihat Reine sudah duduk di atas tempat tidur. Namun, ia cepat-cepat berlari mendekati Reine agar bisa mencegah wanita itu untuk tidak banyak gerak dulu.
"Nona, anda sudah sadar! Saya akan panggilkan dokter," ucap perawat itu sebelum keluar lagi.
Reine memandang pria yang masih berdiri di dekatnya. Kali ini pria itu menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam.
"Kenapa dia tidak mengusirmu?" tanya Reine bingung.
Pria itu mengangkat kedua bahunya. "Mungkin karena dia tidak bisa melihatku," jawab pria itu santai.
Reine tertawa geli. "Tidak bisa melihat? Apa kau hantu?" ujar Reine masih dengan tawa geli.
Pintu kembali terbuka. Dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam. Sama seperti perawat sebelumnya. Tidak ada satu orangpun yang membahas keberadaan pria itu di dalam kamar Reine.
"Nona, anda sudah sadar?" tanya dokter itu. Ia berjalan melewati pria itu begitu saja. Detik itu Reine masih belum percaya, ia menganggap semua hanya halusinasi saja karena ia baru mengalami kecelakaan.
Reine menepuk-nepuk pipinya sampai merah. Dokter dan para suster saling memandang sebelum mencegah Reine memukul pipinya seperti orang gila.
"Nona, apa yang anda lakukan?" tanya suster disebelahnya.
"Katakan ini semua mimpi. Dia tidak nyata. Kalian semua tidak nyata?" jawab Reine tanpa memandang. Ia bisa melihat jelas ketika dokter tadi menembus tubuh pria yang baru saja berbicara dengannya.
"Nona, tenanglah," bujuk suster itu ketika Reine semakin histeris. Diagnosa pertama mereka mengira Reine gila. Karena mungkin kepalanya mengalami benturan yang keras saat kecelakaan.
"Dia tidak ada," ucap Reine lagi. Kali ini ia kembali memberanikan diri untuk memandang pria di samping dokter itu. Bukan menghilang, justru pria itu menjulurkan lidah dengan wajah meledek. Seketika Reine pingsan. Ia tidak bisa menerima keberadaan makhluk aneh di dekatnya.
"Nona, nona." Dokter kembali memeriksa keadaan Reine. Terutama pada bagian kepala.
Sedangkan pria yang bernama Darren itu melipat tangannya di depan dengan tawa geli. "Wanita yang lucu. Kau tidak akan bisa lepas dariku. Mulai sekarang aku akan selalu berada di sisimu." Hantu pria itu melirik buku data pasien yang di genggam suster. "Reine de Vries," ejanya dengan benar. "Oke, Reine. Mulai sekarang kita berteman!"
Selang satu jam kemudian, Reine kembali sadar. Daren tidak ada lagi di ruangan tersebut. ia tidak mau Reine sampai pingsan lagi. Jadi dia memutuskan untuk membiarkan Reine pulih dan sehat total sebelum mengajak wanita itu mengobrol.
Angel telah duduk di samping ranjang tempat Reine berbaring. Wanita itu kelihatan sedih. Ia merasa bersalah. Karena ide konyol yang ia lakukan. Reina sampai celaka dan kehilangan banyak darah.
"Reine, maafkan aku," lirih Angel sambil memegang tangan Reine.
Reine membuka kedua matanya dan menatap wajah Angel. Tatapannya sangat serius hingga membuat Angel berpikir kalau Reine marah padanya.
"Maafkan aku. Aku tidak memiliki niat untuk membuatmu celaka," ucap Angel dengan sungguh-sungguh.
Reine justru tidak mempedulikan Angel. Ia memandang ke kanan dan ke kiri untuk memastikan keberadaan Daren.
"Dimana dia? Sepertinya memang tadi hanya halusinasiku saja." Reine kembali memandang Angel. Bibirnya tersenyum hingga membuat Angel terlihat lega kala itu. "Aku baik-baik saja. Jangan sedih lagi ya," bujuk Reine.
"Bagaimana dengan lukanya?"
"Luka ini?" Reine menunjuk perban yang ada di kepalanya.
Angel mengangguk cepat. "Pasti rasanya sangat sakit."
"Memang sakit. Tapi, masih bisa aku tahan. Kecelakaan tadi murni karena kecerobohanku. Jadi, jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri ya."
"Reine, kau benar-benar sahabat yang baik. Terima kasih." Angel segera memeluk Reine. Reine tersenyum ketika itu.
Dari sudut yang tidak jauh dari posisi mereka berada, Daren kembali muncul sambil melipat kedua tangannya. Kali ini dia merasa semakin yakin untuk mengikuti hidup Reine seterusnya. Karena hanya Reine satu-satunya manusia yang bisa melihat wajahnya dan bisa ia sentuh.
"Wanita yang baik. Padahal memang jelas-jelas kecelakaan ini disebabkan oleh temannya. Tetapi dia sama sekali tidak mau menyalahkan temannya," gumam Darren. Ia kembali menghilang sebelum Reine menyadari kehadirannya di ruangan tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Kustri
oowh seperti itu awal bertemu sm darrel
lanjuuut
2024-05-07
0