Salah Paham

Reine terperanjat kaget ketika Angel tiba-tiba saja menepuk pundaknya. Wanita itu terlalu asik melamun hingga akhirnya dia tidak sadar kalau sahabatnya sudah ada di dalam kamar. Sudah satu bulan Reine dan Darren bersama. Sejak pertemuan pertama di rumah sakit mereka menjadi sangat dekat.

Memang awalnya Reine menolak keras tiap kali Darren ada di dekatnya. Tapi lama-kelamaan Reine mulai terbiasa akan hadirnya Darren di sisinya. Pria itu selalu bisa membuatnya tertawa bahagia. Hingga akhirnya Reine jatuh cinta.

"Kau sudah makan?" tanya Angel. Wanita itu duduk di samping Reine. Dia mengambil novel yang tergeletak di meja lalu membacanya.

"Aku baru saja selesai makan. Kepalaku sedikit pusing hari ini. Aku merasa seperti tidak enak badan." Reine memijat kepalanya secara perlahan.

"Apakah kau sudah siap?"

"Siap untuk apa?" Reine mengeryitkan dahi dengan bingung.

"Bukankah hari ini orang-orang istana akan datang ke asrama kita untuk melihatmu secara langsung. Jika kau benar-benar memenuhi kriteria yang mereka cari, mereka akan segera membawamu ke istana," ucap Angel tanpa memandang.

Dari sikapnya bisa terlihat kalau sebenarnya wanita itu iri melihat Reine. Selama ini dia berusaha menjaga tubuhnya dan wajahnya agar bisa mendapat kesempatan untuk menikah dengan pangeran.

Pada akhirnya justru wanita yang tidak pernah mempedulikan kecantikannya yang terpilih. Tetapi Angel tidak bisa menyalakan sahabatnya. Bagaimanapun juga keputusan ada pada pihak istana. Dia juga tahu kalau sahabatnya itu tidak suka berhubungan dengan orang yang ada di istana.

"Apa kau marah padaku?" tanya Reine. Dia merasa tidak enak dengan Angel. Sekolah dia telah merebut impian sahabatnya sendiri.

"Untuk apa aku marah padamu? Ada beberapa hal yang mengganggu pikiranku hari ini. Aku tidak mau kehilangan sahabatku." Angel memandang Reine lalu dia menutup buku novelnya. "Aku takut kau tidak bahagia. Karena aku tahu kau belum siap untuk menikah."

Reine tertawa kecil. "Angel, Kalau menurutku acara ini hanya formalitas saja. Tidak mungkin seorang pangeran yang tampan dan kaya raya mau menikah dengan wanita biasa sepertiku. Bukankah kabar yang kudengar kalau beberapa wanita dari kerajaan lain juga mencalonkan diri sebagai kandidat. Aku sama sekali tidak merasa mampu untuk bersaing dengan para putri dari kerajaan lain. Percayalah padaku tidak akan ada yang berubah. Walaupun hari ini aku harus pergi ke istana, secepatnya aku akan kembali lagi ke sini. Mereka tidak akan mungkin memilihku. Jika mereka sampai memilihku itu tandanya orang yang telah memilihku salah minum obat," ucapnya dengan penuh keyakinan.

'Tapi di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Bagaimana kalau kau terpilih menjadi istri pangeran. Apa kau sudah siap?"

Reine kembali diam. "Sampai saat ini aku belum siap untuk menikah. Aku rela hidup sendiri sampai tua daripada aku harus menikah dengan pria yang tidak aku cintai. Tapi dari awal kita lahir takdir kita sudah ditentukan oleh pencipta. Kematian dan jodoh kita sudah ada di garis tangan kita. Apapun yang terjadi nanti aku akan menghadapinya. Walaupun aku tahu akan banyak hal yang harus dikorbankan."

"Reine, aku hanya bisa berdoa agar kau selalu bahagia. Jangan pernah lupakan aku jika nanti kau sudah menjadi permaisuri di kerajaan." Angel memegang tangan Reine.

"Tidak akan. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Jika aku benar-benar menikah dengan pangeran, setelah hari pernikahan aku akan datang ke sini. Aku akan bawakan banyak makanan agar teman-teman kita yang ada di asrama ini bisa makan dengan enak. Bukan hanya itu saja, ketika pesta pernikahan nanti aku akan mengundang kalian semua untuk datang ke istana." Reine sebenarnya hanya bercanda saja. Dia ingin sahabatnya kembali tersenyum.

"Aku tidak tahu harus senang atau sedih." Angel memeluk Reine sambil menangis. Reine sendiri hanya bisa mengusap pundak wanita itu dengan lembut.

Wajahnya terlihat panik ketika dia melihat Darren yang sudah berdiri di samping Angel. Entah sejak kapan pria itu muncul. Namun dilihat dari ekspresi Darren saat ini bisa dipastikan kalau pria itu mendengar apa saja yang dikatakan oleh Angel dan Reine.

"Aku mau keluar cari angin. Apakah kamu ikut?" ajak Reine. Sebenarnya dia ingin bicara dengan Darren agar pria itu tidak salah paham. Reine sendiri juga belum siap kalau Darren sampai marah padanya dan meninggalkannya. Jika Darren seorang manusia, jika hilang mungkin pria itu masih bisa dicari. Tapi Darren seorang hantu. Reine tidak tahu ke mana harus mencari hantu yang pergi.

"Aku mau istirahat saja. Sebaiknya tetap Jaga kesehatanmu. Jangan buat malu nama baik asrama kita."

Reine menepuk pundak Angel. "Kau tenang saja," ucapnya sebelum melangkah pergi meninggalkan kamar.

Reine melangkah pelan menuju ke taman yang ada di halaman samping. Sambil berjalan wanita itu memikirkan jawaban apa yang akan dia ucapkan nanti. Reine yakin kalau Darren pasti marah besar saat ini. Karena dilihat dari apa saja yang ia ucapkan tadi, menunjukkan kalau seolah-olah Reine ini bahagia menikah dengan pangeran.

Padahal sebenarnya tidak seperti itu. Obrolannya bersama Angel tadi hanya candaan semata. Namun Reine tidak tahu, apakah seorang hantu bisa bercanda juga Karena manusia. Sejauh ini dari yang terlihat, Darren sangat serius ketika berbicara. Bahkan pria itu kelihatannya juga sangat benci akan lelucon.

"Mau kabur ke mana?"

"Au!" Reine menabrak tubuh Darren. Wanita itu mengusap kepalanya yang terkena dagu Darren. Ia memandang ke kanan ke kiri untuk memastikan lokasi di sana tidak ada siapapun selain mereka berdua. "Kenapa kau tiba-tiba muncul di hadapanku. Apa tidak bisa muncul di samping ku saja agar aku tidak kaget?" protes Reine sambil mengusap kepalanya.

"Kau belum menjawab pertanyaanku. Ke mana kau akan pergi?"

"Kau pasti sudah mendengarnya. Tadi aku katakan kepada Angel kalau aku ingin mencari udara segar di luar."

"Sebenarnya kau ingin menghindar dariku kan? Kau sudah tidak cinta lagi padaku."

"Siapa yang bilang seperti itu. Aku masih sangat mencintaimu. Semua yang kau dengar tadi tidak sama dengan apa yang kau pikirkan." Reine berusaha membela diri.

"Lalu yang sebenarnya terjadi seperti apa?" Darren masih mau memberikan kesempatan kepada Reine untuk menjelaskan semuanya.

"Aku mencintaimu. Aku tidak mau menikah dengan pria lain selain dirimu. Aku hanya ingin kaulah satu-satunya pria yang ada di sampingku sampai aku tutup usia."

"Kau sedang membujukku agar aku tidak marah."

"Tidak. Aku tidak perlu membujukmu karena kau tidak akan mungkin bisa marah padaku. Bukankah Kau juga sangat mencintaiku. Kau pasti tidak mau melihatku sampai menangis bukan?"

"Curang. Kau hanya bisa mempermainkan perasaanku dan memanfaatkan rasa cinta yang aku miliki."

"Aku tidak mempermainkan perasaanmu. Aku hanya ingin kau tahu kalau aku juga tidak bisa hidup tanpamu." Reine mengusap wajah Darren sambil tersenyum. "Jangan pernah tinggalkan aku apapun yang terjadi."

Prok prok prok.

Reine langsung menjauh ketika mendengar seseorang sedang tepuk tangan. Wanita itu memandang ke samping dan menemukan Ibu asrama berdiri di sana. Entah sejak kapan wanita itu ada di sana. Reine terlihat sangat khawatir.

"Kata-kata yang manis Ren. Apa kau sedang berlatih agar tidak canggung ketika bertemu dengan pangeran nanti. Kata-kata mu sangat bagus, Ibu sangat suka. Ibu doakan agar kau bisa diterima di istana. Dengan begitu asrama kita tidak akan dipandang rendah lagi.

Reine terpaksa berbohong lagi. Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya terjadi kepada Ibu asrama. "Debaran jantungku tidak tenang. Aku tidak tahu harus bicara apa nanti ketika bertemu dengan pangeran."

"Seiring berjalannya waktu kau akan terbiasa. Kalian akan diseleksi dan dilatih untuk menjadi istri yang benar-benar sempurna. Ibu memilihmu karena ibu sangat yakin kalau kau pasti akan terpilih."

Reine hanya diam saja. Dia memandang wajah Darren sejenak sebelum memandang Ibu asrama lagi. "Reine mau keluar dulu ya Bu."

"Silakan nak. Puas-puasin mengelilingi asrama karena sebentar lagi kau tidak tinggal di sini," ucap Ibu asrama.

"Permisi ibu."

Reine segera pergi meninggalkan ibu asrama yang masih berdiri di sana. Tidak lupa wanita itu mengajak Darren agar ikut bersama dengannya.

"Untungnya aku bukan Pinokio yang setiap berbohong hidungnya akan panjang," gumam Reine dalam hati.

Terpopuler

Comments

Yonn dandels

Yonn dandels

Ditunggu kelanjutannya bos 😊

2023-01-01

1

lihat semua
Episodes
1 Permintaan Ibu
2 Penolakan
3 Awal Mula
4 Salah Paham
5 Seleksi Pertama
6 Perselisihan
7 Terpilih
8 Pilihan Sulit
9 Seleksi 10 besar
10 Keanehan
11 Mereka Sama?
12 Ada yang Aneh
13 Gelang Ajaib
14 Penolakan
15 Peramal Hebat
16 Kelemahan Darren
17 Sambutan Asrama
18 Maaf Darren
19 Aku Hantu Tampan
20 Apa Aku Masih Suci?
21 Cerita Malam
22 Kembali ke Istana
23 Pangeran Dalson Steward
24 Pernikahan
25 Malam Pertama
26 Hukuman
27 Bukan Malam Pertama
28 Setelah Kejadian
29 Kembali Tersiksa
30 Bersama Darren
31 Yang Mulia Ratu
32 Cerita Rahasia
33 Hukuman Mora
34 Kehilangan.
35 Kenyataan
36 Harus Hamil
37 Bujuk Rayu
38 Ratu Kejam
39 Berhasil Kabur
40 Malam Panjang
41 Alasan Tepat
42 Rencana Jitu
43 Kehamilan
44 Bernegosiasi
45 Kabar Buruk
46 Sudah Tiada
47 Bukan Darren
48 Hampir Saja
49 Mulai Perhatian
50 Merasa Aneh
51 Jebakan
52 Terus Bersama
53 Dia Musuh
54 Rencana Darren
55 Rencana Besar
56 Jawaban Pangeran
57 Pembunuh Bayaran
58 Perjuangan Pangeran Dalson
59 Anak Kita?
60 Siapa yang Salah?
61 Keadaan Reine
62 Kembali Pulang
63 Sekamar
64 Serba Salah
65 Lain Haluan
66 Emosi tak Terkendali
67 Tidak Percaya
68 Jebakan Ratu
69 Semakin Kuat
70 Kejujuran
71 Darren lagi
72 Racun Berbahaya
73 Rencana Jahat
74 Usaha Tabib Tua
75 Tidak Aman
76 Penawaran Terakhir
77 Keterlaluan
78 Tidak Bermanfaat
79 Jalan Rahasia
80 Kode Mora
81 Berusaha Keras
82 Tidak Tertandingi
83 Solusi Akhir
84 Semudah Itu
85 Kota Kenangan
86 Tidak Siap
87 Kemampuan Darren
88 Perebutan Kekuasaan
89 Hukuman
90 Menyerah
91 Happy Ending
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Permintaan Ibu
2
Penolakan
3
Awal Mula
4
Salah Paham
5
Seleksi Pertama
6
Perselisihan
7
Terpilih
8
Pilihan Sulit
9
Seleksi 10 besar
10
Keanehan
11
Mereka Sama?
12
Ada yang Aneh
13
Gelang Ajaib
14
Penolakan
15
Peramal Hebat
16
Kelemahan Darren
17
Sambutan Asrama
18
Maaf Darren
19
Aku Hantu Tampan
20
Apa Aku Masih Suci?
21
Cerita Malam
22
Kembali ke Istana
23
Pangeran Dalson Steward
24
Pernikahan
25
Malam Pertama
26
Hukuman
27
Bukan Malam Pertama
28
Setelah Kejadian
29
Kembali Tersiksa
30
Bersama Darren
31
Yang Mulia Ratu
32
Cerita Rahasia
33
Hukuman Mora
34
Kehilangan.
35
Kenyataan
36
Harus Hamil
37
Bujuk Rayu
38
Ratu Kejam
39
Berhasil Kabur
40
Malam Panjang
41
Alasan Tepat
42
Rencana Jitu
43
Kehamilan
44
Bernegosiasi
45
Kabar Buruk
46
Sudah Tiada
47
Bukan Darren
48
Hampir Saja
49
Mulai Perhatian
50
Merasa Aneh
51
Jebakan
52
Terus Bersama
53
Dia Musuh
54
Rencana Darren
55
Rencana Besar
56
Jawaban Pangeran
57
Pembunuh Bayaran
58
Perjuangan Pangeran Dalson
59
Anak Kita?
60
Siapa yang Salah?
61
Keadaan Reine
62
Kembali Pulang
63
Sekamar
64
Serba Salah
65
Lain Haluan
66
Emosi tak Terkendali
67
Tidak Percaya
68
Jebakan Ratu
69
Semakin Kuat
70
Kejujuran
71
Darren lagi
72
Racun Berbahaya
73
Rencana Jahat
74
Usaha Tabib Tua
75
Tidak Aman
76
Penawaran Terakhir
77
Keterlaluan
78
Tidak Bermanfaat
79
Jalan Rahasia
80
Kode Mora
81
Berusaha Keras
82
Tidak Tertandingi
83
Solusi Akhir
84
Semudah Itu
85
Kota Kenangan
86
Tidak Siap
87
Kemampuan Darren
88
Perebutan Kekuasaan
89
Hukuman
90
Menyerah
91
Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!