"Nona, ada apa? Untuk apa kita berhenti? Tempat ini sangat sunyi. Bagaimana kalau ada yang berniat jahat kepada kita?" Mora terlihat tidak setuju. Dia meminta pengawal untuk tetap melanjutkan perjalanan. Mengabaikan perintah Reine.
"Tapi aku harus menemui seseorang." Reine memandang ke arah di mana tadi Darren terlihat. Namun ketika dilihat lagi pria itu sudah menghilang.
"Dimana dia? Kenapa dia menghindar seperti ini?" gumam Reine di dalam hati.
Mora menghela napas panjang. Wanita itu memandang ke depan tanpa mau memperdulikan Reine yang masih melihat ke arah luar kereta.
"Nona, sebenarnya siapa yang anda cari?"
"Pacarku," jawab Reine cepat. Jawaban Reine membuat Mora menggeleng kaget.
"Nona, anda sadar dengan apa yang baru saja anda katakan? Anda ini akan segera menikah dengan pangeran. Masih sempat-sempatnya Anda memikirkan pacar anda. Jika salah satu pelayan yang sekarang membawa kita mengadu kepada Ratu. Anda bisa dipenggal hidup-hidup sebelum menikah dengan pangeran." Mora lagi-lagi berusaha untuk memperingati Reine.
"Pacarku bukan seorang manusia. Hanya aku yang bisa melihatnya." Kali ini Reine tidak memiliki pilihan lain selain berkata jujur. Walau Reine sendiri tahu, Mora tidak akan mungkin pernah percaya dengan apa yang dia katakan.
"Nona. Saya tahu Anda pasti anda merasa gugup karena sebentar lagi akan menikah. Maka dari itu Anda membuat cerita-cerita aneh seperti ini. Sebaiknya Anda tenangkan saja pikiran anda dulu. Agar anda benar-benar siap ketika menikah dengan pangeran nanti."
"Ini semua bukan sekedar halusinasi. Aku benar-benar memiliki pacar seorang hantu. Dan apa kau tahu Mora. Wajahnya sangat mirip dengan pangeran. Itu yang membuatku tadi bertanya kepada yang mulia Ratu. Apakah Pangeran memiliki saudara kembar." Padahal Reine sudah memasang wajah yang seserius mungkin. Namun Mora tetap saja tidak percaya dan menganggap Reine sedang bercanda.
"Nona, Sepertinya anda sudah jatuh cinta kepada pangeran. Bahkan ke mana pun anda berada kini Anda sudah membayangkan wajah pangeran," ucap Mora dengan bibir tersenyum.
"Mora, aku serius."
"Aku juga serius, Nona. Mungkin memang Anda dan pangeran sudah berjodoh sejak lama. Sudah ya nona. Sebaiknya anda tidak perlu membuat tubuh anda lelah seperti ini. Jangan pikirkan hal-hal yang tidak penting lagi. Mulai detik ini anda fokus saja untuk mempersiapkan diri menjadi istri pangeran."
Reine kembali diam. Dia tahu Sekuat apapun dia menjelaskan Mora tetapi tidak akan percaya. Di tambah wanita itu tidak bisa melihat Darren secara langsung.
Tetapi itu bukan hal yang harus dipikirkan. Sekarang yang menjadi beban di hati Reine adalah Darren. Pria itu menghilang tanpa kabar. Tadi sempat muncul juga sekarang menghilang lagi. Pria itu seperti mengawasinya dari kejauhan. "Darren, sebenarnya kau ada di mana. Apa kita memang benar-benar akan berpisah. Jika kau bisa mengetahui apa yang aku pikirkan. Muncullah di hadapanku sekarang. Jika kau tidak lagi peduli padaku. Maka jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Aku tahu kita berdua memang berasal dari dunia yang berbeda. Tapi bukankah sejak awal itu tidak pernah jadi masalah." Reine memejamkan mata sejenak. Dia berharap ketika membuka mata lagi Darren sudah ada di hadapannya. Setelah beberapa detik tetap memejamkan mata, Reine mulai membuka matanya secara perlahan. Wajahnya semakin kecewa ketika dia tidak melihat apapun di sana. Darren tidak ada di hadapannya.
"Aku merindukanmu, Darren. "
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments