Reine menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Setiap kandidat diberi satu kamar untuk mereka istirahat dan bersiap-siap. Reine tidak sendirian di sana. Ada Mora yang selalu mendampinginya kemanapun dan di mana pun dia berada.
Reine Sudah tidak sanggup menanggung rindu. Dia ingin Darren muncul dan memeluknya seperti biasa. Reine ingin berteriak agar kekasihnya itu muncul namun dia tidak mau disangka wanita gila oleh Mora.
"Nona, anda masih marah pada saya. Apa yang anda lakukan itu tidak benar. Saya tidak akan bicara soal keselamatan nyawa saya. Tetapi saya ingin menyadarkan Anda kalau masa depan anda akan indah jika anda sampai bisa menikah dengan pangeran." Mora lagi-lagi merayu Reine agar mau berjuang untuk menjadi istri pangeran.
"Bukankah sejak awal aku sudah bilang kalau aku memiliki kekasih itu berarti aku tidak akan pernah bisa menikah dengan pangeran karena aku tidak akan pernah mencintainya," jawab Reine mantap.
"Pria paling kaya yang ada di negara ini hanya Pangeran, Nona. Bagaimana bisa anda lebih memilih kekasih Anda daripada seorang pangeran." Mora memandang ke samping. "Sayangnya anda tidak boleh bertemu dengan pangeran. Jika Anda bertemu dengan pangeran, saya yakin anda tidak akan mungkin menolaknya lagi. Pangeran tampan dan gagah, Nona. Semua wanita ingin sekali menjadi istrinya. Beberapa wanita bahkan sampai berlutut demi mendapatkan perhatian pangeran. Tetapi pangeran itu unik. Dia tidak mudah membuka hatinya.
Reine masih bersikeras untuk keluar dari istana. Apapun bujuk rayu yang diucapkan oleh Mora tetap saja tidak ia pedulikan. Reine tidak akan sampai terhasut. Satu-satunya pria tampan yang ia kenal hanya Darren. Reine yakin tidak ada pria manapun yang bisa mengalahkan ketampanan kekasihnya itu.
"Mora, bisakah kau tinggalkan aku di ruangan ini sendirian? Aku butuh ketenangan. Kepalaku pusing sekali. Jika seperti ini, aku tidak siap mengikuti tes selanjutnya."
"Tidak bisa, Nona. Ini akan melanggar aturan."
"Kalau begitu aku mau mandi saja. Apa kau mau ikut jika aku masuk kamar mandi?"
Mora tertawa geli. "Nona, jika anda marah-marah seperti itu hanya akan membuat Anda semakin cantik. Baiklah jika anda butuh ketenangan saya akan keluar dari ruangan ini. Saya akan mengambilkan makanan untuk anda. Ingat nona, jangan pernah lakukan hal yang ceroboh."
"Tidak akan. Aku hanya akan tidur saja," sahut Reine sebelum menarik selimut dan menutup mata. Setelah Mora menutup pintu lagi, Reine segera menghempaskan selimutnya dan kembali duduk.
"Darren ... aku merindukanmu."
Sebuah embusan angin membuat Reine memejamkan mata karena geli. Di telinganya, pria itu menghembus mesra. Dia menggoda Reine. "Aku juga merindukanmu. Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?"
Reine mengeryitkan dahinya. Ia memandang Darren lalu menggeleng pelan. "Kau nakal. Kenapa kau tidak berdiri di sampingku?"
"Aku ingin membunuh semua orang yang memintamu membuka baju. Tapi aku tidak bisa. Aku sangat marah! Aku memutuskan pergi karena tidak mau sampai sakit hati."
"Maafkan aku." Reine mengecup bibir Darren. "Maafkan aku."
Darren mengambil tangan Reine dan mengecupnya dengan lembut. "Aku tidak tahan lagi. Aku ingin kau kembali menjadi Reine yang pernah aku kenal. Ayo pergi dari sini. Reine, aku ingin kau hanya menjadi milikku."
"Darren ...." Kedua mata Reine berkaca-kaca melihat Darren yang begitu tersiksa. "Jika kita berhubungan badan, apa aku tidak perawan lagi?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Elvi Nopricha
ah bodoh fikir kn masa depan panti asuhan jgn cm mkir ke senangan sendiri
2023-02-01
1