Tes kali ini ada berenang. Calon istri pangeran harus pandai berenang. Reine dan kandidat lainnya kini mengenakan pakaian renang dan duduk di kursi yang telah di sediakan. Untuk tes kali ini rasanya tidak mungkin ada yang tersingkir. Semua orang pasti bisa berenang. Negara mereka dipenuhi banyak sungai. Biasanya para wanita suka sekali menghabiskan waktu untuk mandi di sungai. Negara mereka memiliki sungai yang jernih dan cukup dalam untuk berenang.
Reine mencari keberadaan Mora. Sejak masuk ke dalam arena kolam renang, Mora menghilang entah kemana. Reine butuh sesuatu yang tebal untuk menghangatkan diri. Dia sangat kedinginan.
"Berenang di saat musim dingin seperti ini hanya akan membuatmu mati menggigil. Sepertinya ini salah satu trik mereka untuk mengurangi jumlah kalian," bisik Darren di telinga Reine. Pria itu sudah ada di belakangnya. Dia memeluk Reine dengan erat menggunakan jubah yang entah dari mana dia dapat. Reine yang tadinya kedinginan kini mulai merasa hangat karena dia duduk di atas pangkuan kekasih sambil di peluk erat.
"Kenapa tidak dari tadi? Bibirku sudah membiru karena kedinginan," protes Reine dengan suara yang teramat pelan.
"Maafkan aku. Tapi, aku tidak datang terlambat kan?"
Reine mengukir senyuman. Dia satu-satunya orang yang tersenyum saat ini. Semua orang sibuk mencari kain untuk menghangatkan diri. Tetapi mereka tidak diperbolehkan untuk keluar dari tempat itu sambil tim penilaian datang.
"Apa kau yang bernama Reine?"
Reine memandang ke samping dan ni seorang wanita berpakaian renang warna hitam menghampirinya. Reine memandang ke arah lain sebelum mengangguk. Dia terpaksa berdiri karena rasanya tidak sopan berbicara sambil duduk.
"Ya. Ada apa?"
"Ternyata kau yang sudah membuat kakak sepupuku dikeluarkan tanpa alasan! Ternyata kau ini biasa saja. Apa yang sudah membuatmu terlihat spesial di mata tim penilai?" ketus wanita itu dengan sombongnya.
"Soal itu saya tidak tahu. Tetapi memang sejak awal kakak sepupu anda yang mencari masalah terlebih dahulu. Jadi, jangan salahkan saya. Saya juga sudah berusaha membuat kesalahan agar saya dikeluarkan."
"Omong kosong! Bilang saja ini hanya trik saja kan?" umpat wanita itu tidak percaya.
Terdengar suara pengumuman agar semua peserta di persilahkan masuk ke ruangan yang sudah ditentukan. Pintu yang ada di dekat kolam renang terbuka lebar. Semua peserta segera berlari karena tidak mau kedinginan.
Reine melirik pintu itu sebelum memandang wanita di depannya. "Kita harus segera masuk. Jika kau ingin tetap di sini, silahkan!" Reine melirik Darren sejenak sebelum melangkah menuju ke pintu. Dia tidak mau terlalu lama berdebat dengan wanita tadi.
"Dasar wanita pembawa sial!"
Tiba-tiba saja wanita yang tadi mengajak Reine bicara mendorongnya hingga tercebur ke kolam. Wanita itu tertawa puas melihat Reine kembali basah dan tenggelam.
"Rasakan! Semoga saja kakimu kram karena kedinginan dan kau mati tenggelam di dalam sana!" Wanita itu pergi setelah menyumpahi Reine.
Darren yang menyaksikan kejadian itu terlihat tidak terima. Berulang kali dia berusaha memberi pelajaran kepada wanita yang sudah mencelakai Reine tetap gagal. Dia memandang ke kolam dan melihat Reine tidak lagi muncul. Pria itu segera melompat ke kolam renang yang airnya sangat-sangat dingin.
"Reine, dimana kau?" Darren mencari Reine ke segala arah. Lampu dimatikan membuat Darren kesulitan mencari Reine.
Reine menggerakkan seluruh tubuhnya ingin naik ke permukaan. Tetapi entah kenapa kakinya terasa begitu sakit. Rasanya seperti di tusuk pisau hingga membuatnya kesulitan bergerak.
"Darren, kau dimana? Aku sudah tidak bisa bernapas lagi. Dingin. Sangat dingin." Samar-samar Reine melihat pria yang sangat ia cintai muncul di hadapannya. Wanita itu sudah berhenti bergerak karena kaku. Semakin dalam kolam, suhunya semakin dingin. Reine berharap kekasihnya bisa menariknya ke permukaan.
"Darren, aku sudah tidak kuat ...." Pria itu menarik tangan Reine dan memeluknya. Darren mengusap pipi Reine dengan wajah yang bingung.
"Kenapa harus sekarang? Kenapa aku juga tidak bisa menolong Reine di saat dia membutuhkan bantuanku?" gumam Darren di dalam hati. Dia berusaha mencium bibir kekasihnya dan memberikannya napas buatan agar dia tetap hidup.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments