Semua orang yang ada di sana segera bertepuk tangan untuk mengucapkan selamat atas terpilihnya Reine sebagai istri pangeran. Beberapa orang justru mendekati Reine untuk mengucapkan selamat secara langsung. Semua orang terlihat sangat gembira. Dua kandidat yang tidak terpilih juga mengucapkan selamat kepada Reine. Mereka sama sekali tidak peduli dengan latar belakang Reine. Mereka bisa menerima keputusan ini dengan begitu lapang dada.
"Reine, selamat ya. Kau memang yang terbaik. Sepertinya aku harus banyak belajar darimu." Wanita itu segera pergi. Reine memandangnya hingga beberapa detik sebelum menghela napas panjang.
Berbeda dengan Reine. Dari semua orang yang terlihat bahagia, Reine satu-satunya orang yang terlihat sedih. Wanita itu belum siap untuk menjadi istri pangeran. Dia harus bertemu dengan Darren sekali lagi. Meskipun mungkin itu akan jadi pertemuan mereka yang terakhir.
"Nona, selamat. Saya sudah yakin sejak awal kalau Anda pasti akan terpilih. Dari semua kandidat yang ada hanya anda yang auranya terlihat sangat menonjol. Bahkan Anda wanita paling cantik dari kandidat lainnya," ucap Mora sambil tersenyum bahagia. "Jika anda sudah memakai gaun dan perhiasan, anda akan terlihat seperti keturunan bangsawan."
Mora merasa sangat bangga karena Nona yang selama ini ia dampingi akhirnya terpilih menjadi istri pangeran. Berbeda dengan pelayan yang mendampingi kandidat lainnya. Mereka semua merasa sedih. Sesuai dengan perjanjian awal kalau Nona yang mereka dampingi tidak terpilih maka nyawa mereka akan menjadi taruhannya.
Hari bahagia memang akan segera tiba karena pesta pernikahan akan segera digelar. Namun hari yang memilukan juga akan segera terjadi. Di mana para pelayan harus meminum racun dan akan tewas secara bersamaan. Itu merupakan momen yang tidak pernah dibayangkan oleh Mora. Dia merasa sangat bersyukur karena tidak harus mengakhiri hidupnya dengan cara tragis seperti temannya yang lain.
"Yang Mulia, sebelum menikah dengan pangeran saya ingin mengajukan beberapa persyaratan," ucap Reine secara tiba-tiba hingga membuat semua orang yang tadinya terlihat tertawa bahagia kini kembali membisu.
"Nona, apa yang anda katakan? Anda sudah terpilih dan sebaiknya anda tidak cari masalah lagi. Ratu bisa marah dan akan menghukum anda nanti," bisik Mora yang saat itu berusaha untuk memperingati
Reine.
"Silahkan," jawab Ratu dengan senyuman.
"Sebelum pesta pernikahan digelar, saya ingin pulang ke asrama. Saya ingin bertemu dengan keluarga saya yang ada di sana. Setelah menikah dengan pangeran Saya tidak tahu kapan bisa ke sana lagi."
"Baiklah. Saya akan mengizinkanmu untuk pulang ke asrama sebelum pesta pernikahan digelar. Tetapi kau tidak akan pulang sendirian. Pengawal akan menjagamu dengan ketat untuk menjamin keselamatanmu," jawab Ratu.
Reine tersenyum bahagia. "Baik, yang mulia. Terima kasih sebelumnya."
"Lalu apa persyaratan selanjutnya?" tanya Ratu. Tadi Reine sempat berkata ingin mengajukan beberapa persyaratan itu berarti tidak hanya satu saja persyaratan yang ingin dia katakan.
Reine memandang wajah Pangeran sejenak sebelum memandang Ratu lagi. "Saya ingin bertanya. Apakah Pangeran memiliki saudara kembar?"
Pertanyaan itu membuat kaget semua orang. Termasuk ratu dan pangeran. Entah dari mana Reine memiliki ide untuk menanyakan hal aneh seperti itu. Ratu terlihat tidak nyaman atas pertanyaan Reine kali ini. Namun dia tidak mungkin untuk tidak menjawabnya. Ada banyak pasang mata yang kini memandangnya dan menanti jawabannya.
"Tidak. Pangeran tidak memiliki saudara kembar. Aku hanya melahirkan satu orang putra 30 tahun yang lalu."
"Lalu, kenapa wajah mereka bisa sangat mirip seperti itu?" gumam Reine di dalam hati. Namun dia tidak ingin mengatakannya secara langsung.
"Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?"
"Tidak ada, Yang Mulia."
"Baiklah, kalau begitu aku pamit undur diri. Sebaiknya kau juga kembali ke kamarmu untuk istirahat, Kau pasti kelelahan karena melewati begitu banyak seleksi selama beberapa waktu terakhir ini."
"Baik, Yang mulia. Terima kasih atas perhatian anda.
Semua orang yang ada di sana berdiri dan menunduk hormat ketika Ratu dan Pangeran ingin pergi meninggalkan ruangan tersebut. Tanpa sengaja Reine memperhatikan peramal yang kini memandangnya dengan tatapan tidak terbaca. "Apa peramal itu tahu kalau aku dekat dengan hantu? Jika dia tahu, apa dia bisa membantuku untuk bertemu dengan Darren?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Kustri
lhaaaa... kasian amat temen" mora, sadis itu!!!
2024-05-07
0