Reine menutup pintu kamarnya dengan hati-hati. Di dalam kamar itu dia tidak tidur sendirian. Angel juga tidur bersamanya. Tempat tidur mereka berdampingan. Reine mengitari isi kamarnya. Ia mencari keberadaan Darren. Biasanya pria itu akan muncul ketika dirinya sudah kembali ke dalam kamar. Tapi, tidak tahu kenapa kali ini pria itu tidak muncul di hadapannya.
"Di mana Darren?" gumam Reine.
Reine meletakkan obat yang diberikan ibu di atas meja yang ada di dekat tempat tidur. Setelah itu Reine berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Ia juga ingin membuka perban di kepalanya agar bisa dengan mudah diberi obat yang tadi di kasih ibu.
Reine menghidupkan kran air sebelum membasuh wajahnya. Saat ia mengangkat kepalanya tiba-tiba Darren sudah berdiri di sampingnya.
"DARREN!" Reine segera memutar tubuhnya dan menghadap ke Darren. "Aku melarangmu masuk ke kamar mandi."
"Kau pasti melarangku bicara jika sudah malam seperti ini. Reine, aku tidak setuju!" Darren terlihat kesal dan marah.
"Tidak setuju?" Reine pura-pura bodoh.
"Kau tidak mencintaiku lagi? Apa kau ingin menjadi istri dari pria berkuasa?" protes Darren lagi. "Aku tahu dia seorang pangeran. Tapi, dia tidak baik. Dia jahat sekali. Dia pria yang kejam di negara ini."
Reine mengukir senyuman. Ia mengusap wajah Darren yang mulai keras karena marah. "Kau cemburu?"
"Jelas saja. Hal itu tidak perlu aku katakan lagi."
"Bukankah kau bisa ikut bersamaku?"
"Reine, aku tidak boleh menyentuh wanita yang sudah memiliki suami. Kau tahu itu."
"Darren, belum tentu aku terpilih. Aku hanya pergi untuk seleksi. Kau bisa ikut bersamaku dan melindungiku. Kita akan buat kesalahan agar segera dikeluarkan dari istana," sangkal Reine.
Darren menggeleng pelan. "Istana bukan tempat yang sama seperti panti ini, Reine."
"Aku tahu."
"Reine, aku tidak bisa menyentuh orang lain. Hanya dirimu. Itu juga saat kau berada dalam kesulitan, aku tidak bisa turun tangan menolongmu. Apa yang harus aku lakukan jika kau menderita di hadapanku nanti? Reine, pikirkan perasaanku. Setelah masuk ke dalam istana, hanya ada wanita jahat yang haus akan kekuasaan yang akan kau temui di sana. Kau tidak akan menemui wanita seperti Angel atau ibu panti!"
Reine mulai ragu. Sebenarnya sejak tadi hatinya juga masih ragu dan takut. Tapi, apa daya dirinya yang hanya anak pungut. Jika tanpa ibu panti mungkin kini dirinya tidak akan hidup sampai sekarang. Menikmati kebebasan dan menikmati hidup dengan penuh cinta.
"Reine, lakukan sesuatu. Jangan pergi … aku mohon." Darren memegang kedua tangan Reine. Pria itu terlihat tulus menyayanginya dan benar-benar tidak mau kehilangan Reine.
"Darren, andai aku punya cara untuk menolak permintaan ibu. Maafkan aku, aku tahu kau sangat kecewa. Tapi, semua ini memang harus aku lakukan. Aku tidak bisa menjadi anak angkat yang durhaka. Aku harap suatu saat nanti kau mengerti apa yang aku pikirkan," gumam Reine di dalam hati. Satu hal yang menjadi penyelamat Reine selama ini adalah berbicara di dalam hati. Darren tidak pernah bisa membaca apa yang ia pikirkan.
Darren mengangkat tangannya dan menyentil kepala Reine. Ia tahu kalau kini Reine sedang memikirkan sesuatu. "Apa yang kau pikirkan? Kau mengumpat diriku?"
"Darren, ini sakit." Reine mengelus kepalanya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Darren lagi.
"Tidak ada. Bisakah kau bantu aku melepas perban ini? Aku sudah ngantuk dan ingin tidur."
Darren tidak memiliki pilihan lain. Ia mengangkat tubuh Reine di atas meja wastafel dan mulai membuka perban di kepala wanita tersebut. Darren melakukannya dengan hati-hati agar Reine tidak merasa sakit.
Setelah selesai, Darren membuang perban itu ke tong sampah. Ia menatap wajah Darren lagi dan mengusap lembut pipi kekasihnya. "Malam ini kau sangat cantik, Reine …."
Reine hanya tersenyum mendengar pujian sang kekasih. Secara perlahan, wajah mereka saling berdekatan. Darren menyentuh bibir Reine yang merah sebelum mendaratkan bibirnya di sana. Satu tangannya menahan pinggang Reine yang kini masih dalam posisi duduk. Posisi mereka sangat pas karena Darren tidak perlu menunduk untuk mengimbangi wajah mereka.
Reine memegang wajah tampan milik Darren. Rahang tegas itu memang selalu saja membuatnya tergila-gila. Mereka sama-sama fokus dengan bibir mereka yang kini saling beradu. Tangan Darren masuk ke dalam piyama Reine untuk mengusap punggung mulus milik kekasihnya. Ciuman Darren memang selalu bisa membuat Reine melayang. Terkadang Reine sendiri tidak habis pikir, bagaimana bisa ia terhanyut ketika berciuman dengan pria yang dunianya berbeda dengan dirinya. Bisa di bilang Darren adalah hantu yang hanya bisa bersentuhan dan berbicara dengan dirinya.
"Hmmmm, Darren. Jangan lakukan itu." Reine berusaha menjauhkan tangan Darren yang sudah berada di depan dadanya. Darren hanya menurut dan melanjutkan cumbuannya. Ia mengecup leher jenjang Reine hingga membuat rasa nikmat yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Membuat leher Reine menjadi basah memang sudah menjadi hobi Darren selama ini.
"Aku mencintaimu, Reine …," bisik Darren sebelum mengulum telinga Reine. Kali ini Reine benar-benar melayang hingga tanpa ia sadari, ia membimbing Darren agar bermain di dua gunung sintalnya. Wanita itu terbuai dan ingin sentuhan lebih dari kekasihnya.
Tok tok. "Reine, apa kau di dalam?"
Secara spontan Reine mendorong tubuh Darren. Wanita itu turun dari meja wastafel dan merapikan penampilannya. Napasnya terengah-engah dan wajahnya terlihat panik. Ia tidak menyangka kalau Angel harus terbangun di momen manis yang ia lakukan bersama sang kekasih.
"Reine, apa kau baik-baik saja?"
Reine mengatur napasnya agar kembali normal. Ia memandang Darren yang kini tersenyum penuh arti kepadanya. "Ya."
"Kenapa kau lama sekali? Aku mengkhawatirkanmu," ucap Angel lagi.
"Aku baik-baik saja. Perutku sedikit sakit," dusta Reine karena ia tidak tahu harus berbicara apa lagi untuk mengelabuhi Angel.
"Apa kau perlu obat?"
"Tidak. Aku akan segera keluar." Reine kembali membasuh wajahnya dengan air. Saat napasnya sudah normal dan penampilannya sudah rapi, ia baru berani keluar dari kamar mandi. Secara perlahan Reine membuka pintu kamar mandi tersebut.
Angel berdiri dengan rambut yang tidak rapi. "Sebenarnya perutku juga sakit." Angel memegang perutnya.
"Benarkah? Mungkin karena tadi kita terlalu banyak makan pedas."
"Ya, mungkin saja." Angel masuk ke kamar mandi bergantian dengan Reine. Sedangkan Reine memandang wajah Darren yang kini sudah berbaring di atas tempat tidurnya. Dengan santai pria itu menepuk lengannya untuk dijadikan bantal oleh Reine.
"Ayo kita tidur."
Reine menghela napas sebelum melangkah. Wanita itu segera naik ke atas tempat tidur dan berbaring di sana. Ia bahkan tidak lagi ingat dengan obat yang ibu panti berikan tadi. Kedua matanya segera terpejam karena ia ingin mencegah Darren membahas apa yang terjadi di kamar mandi tadi. Sedangkan Darren hanya tersenyum. Pria itu memeluk tubuh Reine dari belakang layaknya guling yang empuk.
"Selamat tidur Reine sayang …."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments