Peramal Hebat

Reine bukan segera datang ke kamar. Wanita itu justru tertarik untuk mendatangi peramal yang sejak tadi memperhatikannya. Dia penasaran dan ingin berbincang dengan peramal sakti tersebut.

Reine duduk dan memperhatikan peramal itu dengan saksama. Rasanya ingin sekali dia bertanya duluan. Tetapi peramal itu seperti sedang sibuk membaca sesuatu. Mulutnya komat-kamit tidak jelas dan itu membuat Reine ingin tertawa.

"Apa anda sudah selesai?" tanya Reine dengan hati-hati.

"Kenapa anda melepas gelang yang saya berikan, Nona?" Peramal itu melirik pergelangan tangan Reine dengan kecewa.

"Aku tidak suka memakai gelang," dusta Reine.

Peramal itu hanya tertawa pelan. Sepertinya dia tahu kalau Reine sedang berbohong. "Anda takut hantu itu tidak bisa menemui anda?"

Reine melebarkan kedua matanya. "Anda juga bisa melihatnya?"

Peramal itu menggeleng pelan. "Saya tidak bisa melihatnya. Tetapi saya bisa merasakan kehadirannya. Tetapi selama saya ada di istana ini, dia tidak akan bisa mendekati anda lagi. Saya sudah memberi penangkal pada diri anda. Pastinya anda tidak bisa melepasnya lagi."

"Kenapa anda melakukan semua ini? Saya ingin bertemu dengannya. Saya ingin menyampaikan sesuatu sebelum menikah dengan pangeran." Reine terlihat sangat sedih. Dia ingin bertemu dengan Darren dan memberi tahu pria itu kalau pangeran sangat mirip dengannya.

"Maafkan saya, Nona. Tetapi jika saya sampai membuka penangkalnya, anda akan mati. Di luar istana ada banyak sekali wanita yang iri dengan anda. Sebelum pesta pernikahan di gelar saya tidak bisa melepasnya. Bahkan ada yang berniat untuk membuat wajah anda cacat. Bukankah itu beresiko sekali?"

Reine diam karena tidak tahu harus bagaimana. Hatinya sangat sedih jika pertemuan kemarin adalah pertemuan terakhirnya dengan Darren.

"Nona, kereta sudah siap. Anda mau berangkat kapan?"

Mora muncul di belakang Reine. Reine memandang peramal itu sekali lagi. "Terima kasih karena sudah melindungi saya. Saya permisi."

Peramal itu mengangguk pelan. "Hati-hati Nona."

Mora memandang peramal itu sejenak sebelum memegang tangan Reine. Wanita itu ingin tahu sebenarnya apa saja yang baru saja dikatakan Reine bersama peramal itu. Kenapa mereka berdua terlihat serius sekali.

"Nona, apa anda baik-baik saja?"

"Sampai kapan pak tua itu ada di sini?"

"Maksud anda peramal itu, nona?"

"Hemm."

"Dia akan menetap di istana ini nona. Tapi sesekali dia akan pergi karena ada urusan. Ada apa Nona? Kenapa anda bertanya seperti itu?"

"Tidak ada. Ayo kita pergi. Kita bisa kemalaman di jalan nanti," ajak Reine tanpa mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. "Aku harap ketika nanti aku tiba di asrama Darren bisa kembali muncul."

Peramal itu memperhatikan Reine dan Mora sampai wanita itu benar-benar jauh. Ketika itu seorang pelayan yang biasa melayani Ratu mendekati peramal tersebut.

"Tuan, ratu ingin bertemu dengan anda," ucap pelayan tersebut.

Peramal itu diam dengan tatapan penuh arti. "Sudah ku duga sejak awal. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan ratu dari semua orang," gumamnya di dalam hati. "Baiklah. Aku akan segera ke sana," jawab peramal tersebut. Dia segera beranjak dan mengikuti pelayan yang saat itu menjemputnya.

***

Setibanya di ruangan ratu, peramal itu dipersilahkan duduk di kursi yang telah disediakan. Ratu belum ada di sana. Peramal itu dipersilahkan meminum teh yang sudah di hidangkan di meja.

"Sepertinya anda sudah tahu kalau akan di panggil ke sini," ujar Ratu yang baru saja muncul.

Peramal itu tersenyum sebelum berdiri dan menunduk hormat. "Ada apa, Yang Mulia Ratu? Sepertinya ada yang penting hingga anda harus repot-repot bertemu dengan saya secara langsung."

"Kau benar. Ini masalah yang serius." Ratu duduk di kursi yang disiapkan lalu memandang peramal itu. "Kau boleh duduk."

"Terima kasih, Yang Mulia Ratu." Peramal itu kembali duduk dan memandang Ratu lagi. "Apa masalah ini berhubungan dengan Nona Reine?"

"Benar. Hanya kita yang tahu. Kenapa dia bisa bertanya seperti itu? Apa dia mengetahui sesuatu? Apa dia tahu kalau pangeran memiliki saudara kembar?" Ratu terlihat ketakutan dan sangat khawatir.

"Tidak, Yang Mulia Ratu. Dia tidak mengetahui apapun. Dia hanya menebak saja. Asal bicara. Mungkin dia pernah bertemu dengan pangeran. Bukankah pangeran suka sekali keluar istana dengan penampilan yang sederhana?"

Ratu mengangguk pelan. "Kau benar. Tapi Pangeran tidak mengenal wanita itu."

"Ini semua bukan masalah dan Nona Reine bukan ancaman bagi kita. Sebaiknya jangan terlalu anda pikirkan. Untuk saat ini saya sedang melindungi Nona Reine dari pengaruh roh jahat yang ingin menyakitinya."

"Menyakiti?"

"Seseorang menginginkan nyawa Nona Reine. Sepertinya dia tidak suka Nona Reine terpilih menjadi permaisuri, Yang Mulia."

"Ini sudah biasa terjadi. Apa kau bisa mengatasinya?"

"Sampai detik ini saya masih bisa mengatasinya Nona."

"Lalu, bagaimana jika Reine jauh dari istana?"

Peramal itu tersenyum. "Selama Mora ada di samping Nona Reine semua akan baik-baik saja. Karena saya telah memberikan penangkal roh jahat kepada Mora."

Ratu mengangguk setuju. "Kau memang cerdas. Tidak salah aku memilihmu dan mempercayaimu sampai sekarang."

"Terima kasih, Yang Mulia."

"Bahkan Reine juga kau yang memilihnya bukan? Aku harap Reine bisa memberi pengaruh baik kepada Pangeran. Aku tidak mau pangeran terus-menerus bersikap seperti itu." Wajah Ratu kembali sedih.

"Semua akan berjalan seperti ramalan saya Yang Mulia. Anda tenang saja," jawab peramal dengan penuh percaya diri.

Di sisi lain, Reine merasa sangat bahagia ketika kereta kuda yang membawanya telah berhasil meninggalkan istana. Reine terlihat seperti orang yang baru saja keluar dari penjara. Wanita itu bersorak gembira hingga membuat beberapa pelayan dan pengawal yang mendengarnya bingung. Terutama Mora. Berulang kali wanita itu geleng-geleng kepala karena tidak habis pikir dengan kelakuan Nona nya.

"Nona, di asrama ada siapa saja? Apa Anda mau menceritakan sedikit tentang asrama kepada saya?" Mora ingin tahu sebenarnya bagaimana kehidupan Reine sebelum wanita itu menginjakkan kakinya di istana.

"Ada ibu asrama. Aku memiliki banyak teman di sana. Kami saling menyayangi dan saling melindungi satu sama lain. Walaupun kami tinggal di lingkungan yang sederhana tetapi setiap harinya kami tidak pernah tidak tertawa. Makan apa adanya terasa nikmat jika kami makan bersama-sama."

"Nona, Apa anda tahu apa yang menyebabkan Anda bisa sampai ada di asrama?" Mora bertanya dengan hati-hati takut pertanyaannya menyinggung perasaan Reine.

"Sepertinya memang sudah takdir. Aku juga tidak menyalahkan orang yang sudah meletakkanku di asrama. Justru aku ingin mengucapkan terima kasih karena dia telah mengenalkanku dengan orang-orang baik," jawab Reine tanpa mau menceritakan yang sebenarnya terjadi. Baginya itu adalah hal yang privasi. Hanya dirinya dan ibu asrama yang boleh mengetahuinya. Mora tidak berhak mengetahuinya. Apa lagi mereka baru saja kenal.

Mora kembali diam ketika Reine tidak mau menceritakan asal usulnya bisa tiba di asrama. Pada saat itu, Reine memandang keluar dan melihat Darren berdiri di tengah Padang rumput sambil memandang ke arahnya. Reine terlihat kaget. Wanita itu ingin sekali bertemu dengan Darren. Dia tidak mau sampai kehilangan Darren lagi.

"Berhenti!" teriaknya.

Terpopuler

Comments

Kustri

Kustri

wah bener nih ratu punya anak kembar, yg 1meninggal tp ratu tdk tau
hehee.... nebak aja dr pd g komen

2024-05-07

1

lihat semua
Episodes
1 Permintaan Ibu
2 Penolakan
3 Awal Mula
4 Salah Paham
5 Seleksi Pertama
6 Perselisihan
7 Terpilih
8 Pilihan Sulit
9 Seleksi 10 besar
10 Keanehan
11 Mereka Sama?
12 Ada yang Aneh
13 Gelang Ajaib
14 Penolakan
15 Peramal Hebat
16 Kelemahan Darren
17 Sambutan Asrama
18 Maaf Darren
19 Aku Hantu Tampan
20 Apa Aku Masih Suci?
21 Cerita Malam
22 Kembali ke Istana
23 Pangeran Dalson Steward
24 Pernikahan
25 Malam Pertama
26 Hukuman
27 Bukan Malam Pertama
28 Setelah Kejadian
29 Kembali Tersiksa
30 Bersama Darren
31 Yang Mulia Ratu
32 Cerita Rahasia
33 Hukuman Mora
34 Kehilangan.
35 Kenyataan
36 Harus Hamil
37 Bujuk Rayu
38 Ratu Kejam
39 Berhasil Kabur
40 Malam Panjang
41 Alasan Tepat
42 Rencana Jitu
43 Kehamilan
44 Bernegosiasi
45 Kabar Buruk
46 Sudah Tiada
47 Bukan Darren
48 Hampir Saja
49 Mulai Perhatian
50 Merasa Aneh
51 Jebakan
52 Terus Bersama
53 Dia Musuh
54 Rencana Darren
55 Rencana Besar
56 Jawaban Pangeran
57 Pembunuh Bayaran
58 Perjuangan Pangeran Dalson
59 Anak Kita?
60 Siapa yang Salah?
61 Keadaan Reine
62 Kembali Pulang
63 Sekamar
64 Serba Salah
65 Lain Haluan
66 Emosi tak Terkendali
67 Tidak Percaya
68 Jebakan Ratu
69 Semakin Kuat
70 Kejujuran
71 Darren lagi
72 Racun Berbahaya
73 Rencana Jahat
74 Usaha Tabib Tua
75 Tidak Aman
76 Penawaran Terakhir
77 Keterlaluan
78 Tidak Bermanfaat
79 Jalan Rahasia
80 Kode Mora
81 Berusaha Keras
82 Tidak Tertandingi
83 Solusi Akhir
84 Semudah Itu
85 Kota Kenangan
86 Tidak Siap
87 Kemampuan Darren
88 Perebutan Kekuasaan
89 Hukuman
90 Menyerah
91 Happy Ending
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Permintaan Ibu
2
Penolakan
3
Awal Mula
4
Salah Paham
5
Seleksi Pertama
6
Perselisihan
7
Terpilih
8
Pilihan Sulit
9
Seleksi 10 besar
10
Keanehan
11
Mereka Sama?
12
Ada yang Aneh
13
Gelang Ajaib
14
Penolakan
15
Peramal Hebat
16
Kelemahan Darren
17
Sambutan Asrama
18
Maaf Darren
19
Aku Hantu Tampan
20
Apa Aku Masih Suci?
21
Cerita Malam
22
Kembali ke Istana
23
Pangeran Dalson Steward
24
Pernikahan
25
Malam Pertama
26
Hukuman
27
Bukan Malam Pertama
28
Setelah Kejadian
29
Kembali Tersiksa
30
Bersama Darren
31
Yang Mulia Ratu
32
Cerita Rahasia
33
Hukuman Mora
34
Kehilangan.
35
Kenyataan
36
Harus Hamil
37
Bujuk Rayu
38
Ratu Kejam
39
Berhasil Kabur
40
Malam Panjang
41
Alasan Tepat
42
Rencana Jitu
43
Kehamilan
44
Bernegosiasi
45
Kabar Buruk
46
Sudah Tiada
47
Bukan Darren
48
Hampir Saja
49
Mulai Perhatian
50
Merasa Aneh
51
Jebakan
52
Terus Bersama
53
Dia Musuh
54
Rencana Darren
55
Rencana Besar
56
Jawaban Pangeran
57
Pembunuh Bayaran
58
Perjuangan Pangeran Dalson
59
Anak Kita?
60
Siapa yang Salah?
61
Keadaan Reine
62
Kembali Pulang
63
Sekamar
64
Serba Salah
65
Lain Haluan
66
Emosi tak Terkendali
67
Tidak Percaya
68
Jebakan Ratu
69
Semakin Kuat
70
Kejujuran
71
Darren lagi
72
Racun Berbahaya
73
Rencana Jahat
74
Usaha Tabib Tua
75
Tidak Aman
76
Penawaran Terakhir
77
Keterlaluan
78
Tidak Bermanfaat
79
Jalan Rahasia
80
Kode Mora
81
Berusaha Keras
82
Tidak Tertandingi
83
Solusi Akhir
84
Semudah Itu
85
Kota Kenangan
86
Tidak Siap
87
Kemampuan Darren
88
Perebutan Kekuasaan
89
Hukuman
90
Menyerah
91
Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!