Darren tertawa geli mendengar Reine. Dia mengajak-ngajak rambut Reine dengan gemas. "Aku ini hantu yang tampan bukan seorang drakula. Kebetulan sajak Aku menyukai darahmu. Awal-awalnya aku juga tidak seperti ini. Sejak aku mencicipinya aku menjadi ketagihan. Aku pikir kebiasaanku itu tidak akan menimbulkan masalah. Bukankah kita akan selalu bersama? Aku tidak menyangka kalau kita akan dipisahkan oleh ajang pemilihan permaisuri konyol ini."
"Apa kau sudah tahu kalau aku terpilih menjadi istri pangeran?"
"Aku sudah mengetahuinya. Maka dari itu aku tidak memiliki kekuatan untuk bertemu denganmu. Aku akan membawamu pergi dari sini. Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan pangeran."
"Apa kau tahu kalau wajah Pangeran sangat mirip denganmu?"
Darren terlihat ragu. "Mirip?"
"Ya. Kalian terlihat seperti saudara kembar. Apa kau tidak ingat bagaimana caramu bisa jadi hantu? Maksudku, kau tidak tahu kalau kau memiliki keluarga?"
Darren berusaha mengingatnya. Tapi dia tidak bisa melakukannya. Pria itu seperti tersiksa ketika dia memaksakan dirinya. "Tidak. Aku tidak ingat apapun. Aku hanya tahu kalau aku ini hantu dan kau manusia," jawab Darren.
"Jangan di paksa lagi. Aku tidak mau kau sampai tersiksa." Reine memandang ke samping sambil menebak-nebak. Kira-kira Darren dan Pangeran benar saudara atau tidak. Ketika itu, Darren justru mendekati Reine dan memeluknya dengan begitu erat dari belakang. Pria itu menyingkirkan rambut Reine sebelum mencumbu lehernya dengan mesra. Taring pria itu perlahan muncul. Dia lagi-lagi ingin menghisap darah Reine. Namun suara ketukan pintu menggagalkan semuanya.
"Nona, apa anda di dalam?"
Reine segera melepas Darren. "Ya," teriak Reine. "Aku mau istirahat. Tolong jangan ganggu aku!"
"Nona, tolong buka pintunya sebentar saja," ucap Mora dengan nada memohon. Reine yang tidak tega segera membuka pintunya. Mora segera masuk ke dalam kamar. Anehnya ketika Mora masuk, Darren langsung saja menghilang. Padahal biasanya pria itu bisa tetap bertahan jika Reine bertemu dengan siapapun.
"Kemana Darren? Kenapa dia menghilang? Apa dia takut bertemu dengan Mora?" gumam Reine di dalam hati. "Ada apa?" ketus Reine ketika Mora hanya memandang ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari sesuatu.
"Tidak ada, Nona. Silahkan istirahat lagi. Maaf karena sudah mengganggu anda." Mora memasukkan sebuah gelang ke dalam saku bajunya. Hal itu diketahui oleh Reine. Reine yang merasa curiga segera mencari cara agar bisa merebut gelang tersebut. "Apa gelang itu yang sudah membuat Darren tidak bisa muncul di hadapanku?" gumam Reine di dalam hati.
"Nona, apa yang anda lihat?"
"Gelang itu bagus sekali. Apa aku boleh memakainya?" pinta Reine dengan senyuman.
Mora mengeryitkan dahi. Dia memamerkan gelang pemberian peramal yang memang ditujukan untuk melindungi Reine dari roh jahat. "Tentu saja boleh, Nona. Tapi jangan sampai hilang ya?"
Reine mengangguk. "Tidak akan. Aku sangat menyukainya. Bentuknya unik," puji Reine agar Mora tidak semakin curiga.
"Sepertinya aku tidak perlu khawatir lagi karena Nona Reine sudah memakai gelang itu di tangannya," gumam Mora di dalam hati.
"Kenapa kau diam saja? Cepat sana keluar. Aku mau istirahat," usir Reine lagi.
Mora melangkah menuju ke pintu. Sebelum keluar dia sempat berhenti dan memandang wajah Reine sekali lagi. "Saya akan menjemput anda ketika makan malam telah tiba. Tolong jaga gelang itu dengan baik, Nona."
"Baiklah. Kau bisa percayakan gelang ini kepadaku," ujar Reine. Wanita itu segera menutup pintu dan menguncinya lagi dari dalam. Tanpa pikir-pikir lagi, Reine membuang gelang itu ke tempat tidur. Dia tidak mau sampai Darren menghilang. Reine maunya Darren selalu ada di sisinya seperti tadi.
"Darren, apa kau menghilang karena gelang ini?" tanya Reine dengan nada yang pelan agar orang yang masih berada di luar kamar tidak mendengarnya.
Darren tiba-tiba saja muncul dan itu membuat rem sangat bahagia. Wanita itu segera memeluk Darren dan tidak mau berpisah lagi.
"Ya, setiap kali ada gelang itu aku merasa kepanasan. Tolong jangan pakai gelang itu jika kau ingin aku selalu berada di sisimu."
"Tapi bagaimana caranya? Mora pasti akan curiga jika aku tidak mengenakan gelang itu ketika bersama dengannya."
"Kita harus mencari gelang dengan bentuk yang sama. Dengan begitu dia tidak akan pernah curiga dan selalu berpikir kalau gelangnya selalu kau pakai."
Reine mengganggu setuju. "Baiklah. Tapi aku tidak bisa melakukannya sendiri. Mora selalu tahu dengan apapun yang akan aku lakukan."
"Kau bisa meminta bantuan Angel. Dia pasti akan membantumu. Katakan saja kalau kau telah merusak gelangnya dan kau takut dimarahi oleh Ratu. Jadi kau memintanya untuk mencari gelang yang sama agar Ratu tidak marah."
Reine melebarkan kedua matanya sambil menggangguk-ngangguk. "Ide yang sangat bagus. Besok pagi aku akan membicarakan hal ini sama Angel. Untuk saat ini aku akan menyimpan gelangnya di dalam laci saja. Aku hanya akan memakainya ketika bersama dengan Mora nanti." Reine kembali mengingat apa yang dilakukan Darren sebelum Mora muncul untuk mengganggu mereka. "Darren, apa tadi kau berniat untuk menghisap darahku lagi?"
Darren menyipitkan kedua matanya. "Kenapa kau bisa tahu?"
"Kau selalu menghisap darahku melalui leher. Apa tidak ada jejaknya. Bagaimana kalau ada yang melihat. Mereka bisa berpikir yang aneh-aneh tentangku."
"Tidak akan ada. Sentuhan apapun yang akan aku berikan tidak akan pernah membekas di tubuhmu. Meskipun kau bisa merasakannya."
"Benarkah?" Reine mendekati Darren. Wanita itu mengusap pipi Darren lalu mengecup bibirnya dengan mesra. Sudah lama mereka tidak bercumbu seperti itu.
Darren sendiri juga sudah tidak tahan lagi. Pria itu mengangkat tubuh Reine dan membawanya ke ranjang. Tidak puas baginya jika hanya bercumbu sambil berdiri. Dia ingin menikmati seluruh tubuh Reine. Tubuh wanita yang sangat dia cintai sebelum tubuh itu di sentuh oleh pria lain.
Kali ini Darren benar-benar membuat Reine hilang kendali. Godaannya membuat pertahanan Reine goyah. Wanita itu sudah tidak sadar kalau kini seluruh pakaiannya telah lepas dan tergeletak di lantai. Ia sangat menikmati sentuhan cinta Darren di sekujur tubuhnya.
"Darren, miliki aku. Aku sudah tidak sanggup lagi menahannya," rintih Reine hingga membuat Darren terdiam. Pria itu biasanya menolak. Tapi, entah kenapa kali ini dia justru terlihat bersemangat sekali. Pria itu mendekati bibir Reine lalu mengecupnya dengan penuh godaan. "Baiklah, Tuan Putri. Aku akan membuatmu puas kali ini," bisiknya mesra.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Kustri
gaswat nih
2024-05-07
0