Reine merasa bahagia ketika dia terpilih lagi ke dalam 10 besar. Hari ini akan ada tes untuk menentukan 5 besar. Sesuai dengan janjinya, Mora membawa Reine mengintip pangeran yang sedang berkuda. Ketika jam istirahat, mereka menggunakan waktu itu untuk mengendap-endap agar bisa mengintip pangeran.
"Mora, kau yakin lewat sini?" Reine mulai ragu ketika Mora membawanya ke tempat yang sunyi dan bau. Mereka harus melewati kandang kuda yang saat itu sedang mengeluarkan kotoran. Reine merasa terjebak sekarang. Mundur tidak bisa maju juga mulai ragu.
"Nona, sabarlah. Sedikit lagi kita sampai. Jika sampai kelihatan pengawal, kita bisa di penggal. Tidak boleh ada yang melihat wajah pangeran tanpa ijin dari Ratu."
"Semua penghuni istana tidak ada yang pernah bertemu dengan pangeran?" tanya Reine kurang percaya.
"Hanya beberapa saja Nona. Tetapi untuk semua peserta diperbolehkan melihat wajah pangeran jika sudah terpilih menjadi istri pangeran. Memang seperti ini syarat agar para kandidat bisa berjuang dengan semaksimal mungkin."
Reine berhenti. "Pangeran tidak cacat kan?"
"Nona, apa yang anda katakan?" Mora terlihat marah. "Jangan bicara seperti itu. Jika ada yang dengar bisa gawat. Ini bisa jadi masalah besar walau hanya sekedar kata."
"Baiklah. Maafkan aku. Aku hanya ingin memastikan saja kalau dia tidak seperti tokoh novel yang sering aku baca."
Mora menahan langkah kakinya. Wanita itu berjongkok dan mendekati dinding kayu yang ada di depannya. Reine yang bingung hanya diam saja dengan tangan terlipat di depan perut.
"Nona, kemarilah. Itu pangeran." Mora menarik tangan Reine. Secara otomatis Reine terduduk di samping Mora. Namun dia tidak bisa melihat apapun karena memang di depannya hanya ada dinding kayu yang usianya sudah sangat tua.
"Mora, jangan bercanda. Apa yang harus aku lihat aku tidak lihat apapun di sini!"
Mora menggeser posisinya. Dia meminta Reine untuk berjongkok di posisi dia tadi. Setelah itu tangannya menunjuk pada lubang yang ada pada kayu tersebut.
"Lihat dari sini Nona, maka anda bisa melihat jelas wajah pangeran."
Karena sudah sangat penasaran Reine mengikuti apa yang dikatakan oleh Mora. Wanita itu segera mengintip untuk melihat wajah sang pangeran. Alisnya saling bertaut ketika dia tidak bisa melihat wajah pangeran dengan jelas. Kebetulan pangeran sedang berdiri dengan posisi membelakangi mereka.
"Pangeran sedang berbicara dengan seseorang. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Selain dari sini apa tidak ada tempat lain untuk mengintip. Lubang ini sangat kecil. Posisi kita juga sangat jauh. Bahkan mendengar apa yang mereka bicarakan saja tidak bisa."
"Nona, tujuan kita datang ke sini hanya untuk melihat wajah Pangeran. Bukan untuk menguping apa yang dibicarakan oleh pangeran."
"Ya, Maafkan Aku." Lagi-lahi Reine berusaha untuk mengetahui wajah sang pangeran. Dilihat dari gaya Pangeran berdiri saja sudah bisa dipastikan Kalau pria itu sangat tampan. Tubuhnya tinggi. Pakaian yang melekat di tubuhnya menjadi sangat sempurna. Sambil memegang kuda, Pangeran terlihat sangat gagah. Benar apa yang dikatakan Mora. Bahwa di negeri itu hanya Pangeran satu-satunya pria yang tampan dan nyaris sempurna. Tidak ada pria manapun yang bisa menandinginya.
"Mora, aku lelah. Aku tidak mau mengintip lagi."
Reine menjauhi lubang itu dan tidak mau mengintip.
"Coba sekali lagi Nona. Anda jangan mudah menyerah seperti ini.
Reine menghela nafas panjang. "Ini yang terakhir." Wanita itu segera mengintip lagi. Wajahnya mematung ketika melihat wajah pangeran.
"Darren?"
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Ramlah
kembar
2024-09-09
0
Kustri
woooooo koq darrel?
2024-05-07
0