Perselisihan

Seleksi itu sungguh di luar akal sehat. Reine merasa terjebak. Sangat-sangat terjebak. Andai waktu bisa di putar kembali, dia lebih memilih untuk kabur dan bersembunyi di suatu tempat bersama Darren daripada harus mengikuti seleksi ini.

Reine harus rela tubuhnya di pertonton orang banyak. Seluruh tubuhnya harus terlihat jelas. Tidak memakai sehelai benangpun! Ya, wanita itu harus berpenampilan polos di depan tim seleksi yang terdiri dari tiga wanita. Walau yang melihat juga wanita, tetap saja Reine tidak nyaman.

Setelah penilaian seluruh lekuk tubuh, para wanita harus melewati tahap seleksi keperawanan. Dari sini sudah terlihat, siapa yang bertahan dan siapa yang harus pulang. Bahkan yang membuat Reine sampai geleng kepala, tim seleksi bisa tahu wanita mana yang belum pernah berciuman dan wanita mana yang sudah pernah.

Seumur-umur Reine hanya berciuman dengan Darren. Hal itu membuat penilaian terhadap dirinya tinggi karena hanya dia satu-satunya wanita yang belum pernah berciuman dengan pria. Mungkin karena Darren hantu, jadi tidak terdeteksi kalau mereka sering melakukannya.

"Nona, seleksi kali ini anda pasti lolos. Saya yakin," ujar pelayan wanita yang kini berdiri di samping Reine. Reine memandang ke depan sejenak sebelum memijat dahiny. Sejak dia membuka baju, Darren tidak lagi terlihat. Kali ini Reine yakin kalau Darren benar-benar marah. Bahkan mungkin memutuskan untuk meninggalkannya.

"Mora, aku mau ke kamar mandi," ucap Reine. Mora mengangguk setuju.

"Mari Nona saya antar," ajak Mora. Dia berjalan lebih dulu untuk mengawal Reine dan menjaga wanita itu dari bahaya. Padahal sebenarnya Reine tahu dimana letak kamar mandinya. Namun ini semua sudah menjadi aturan. Setiap pelayan harus menjaga wanita yang mereka kawal agar tidak kabur meninggalkan istana. Hanya orang-orang yang tidak terpilih saja yang boleh mengangkat kakinya dari istana megah itu.

Di kamar mandi Reine bertemu dengan seorang wanita cantik berpakaian seksi. Dia tahu wanita itu adalah salah satu putri orang penting yang paling di segani. Reine memilih untuk ke toilet tanpa mau menyapa wanita itu duluan. Namun, hal tidak terduga terjadi. Tiba-tiba saja wanita itu melempar air di sebuah gayung ke arah tubuh Reine hingga membuat basah kuyup. Kain putih yang menutupi tubuh Reine kini justru membuat wanita itu terlihat semakin seksi.

"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau melemparku dengan air. Kita tidak pernah bertemu dan kita tidak pernah memiliki masalah. Jadi tolonglah bersikap lebih sportif lagi," teriak Reine tidak terima.

"Wanita miskin sepertimu seharusnya tidak ada di sini. Kau tidak tahu malu. Lebih baik pergi saja sekarang juga. Bukankah seharusnya kau itu sadar diri sejak awal dan tidak memutuskan untuk mengikuti seleksi ini." Wanita itu terlihat tidak suka melihat Reine. Dia memperhatikan penampilan Reine dari ujung kaki hingga ujung kepala sebelum akhirnya tertawa meledek. "Kau pantasnya menjadi pelayan di istana ini. Bahkan dibandingkan dengan pelayan yang kini berdiri disampingmu, kau terlihat jauh lebih buruk."

Reine memandang ke arah Mora. Namun wanita diam saja. Reine tahu kalau Mora tidak memiliki keberanian membantah perkataan wanita di depannya. Reine justru ingin memanfaatkan kesempatan ini. Dia ingin ribut saja dengan wanita itu agar segera dikeluarkan dari istana. Bukankah tutur kata yang sopan merupakan salah satu syarat untuk menjadi istri pangeran?

"Dasar jala*Ng!" Reine berjalan maju dan menjambak wanita itu.

Wanita itu tidak berontak. Padahal Reine tahu kalau dia bisa melawan. Dia berteriak minta tolong. Pelayan yang mendampinginya juga berteriak dan keluar. Reine tersenyum puas. Sama halnya dengan wanita itu. Dia juga tersenyum berharap Reine keluar dari istana karena tindakan tidak terpuji yang kini dia lakukan.

"Berhenti!"

Reine melepas jambakannya di rambut wanita itu setelah mendengar teriakan seseorang. Wanita di depannya menangis tersedu-sedu dan berlari mendekati pria yang kini menghampiri mereka.

"Dia menjambak rambutku. Mencaciku dengan begitu buruk. Mengucapkan semua kata-kata kotor yang bahkan aku sendiri tidak pernah mendengarnya. Kami ini berasal dari keluarga terhormat. Saya tidak terima jika ada orang yang merendahkan keluarga kami hingga seperti ini."

"Bagus. Terus saja beli penilaian buruk tentang diriku agar mereka mengeluarkanku dari neraka ini," gumam Reine di dalam hati.

Pria itu memandang Reine. "Apa benar yang dia katakan?"

"Dia tidak akan mungkin jujur. Dia pasti tidak mengakui kesalahan yang sudah dia perbuat. Sebelum kalian tiba dia benar-benar menyiksaku. Bahkan dia terus menjambakku sampai kalian tiba di sini. Bukankah tadi kalian bisa melihat sendiri kan kalau dia masih menjambakku?" Wanita itu berusaha agar pria di depannya percaya.

"Apa yang dia katakan benar. Aku baru saja menyiksanya," jawab Reine dengan santai. Bukan hanya membuat pria itu saja yang bingung tetapi Reine juga membuat wanita yang tadi sempat menghinanya kaget bukan main. Seharusnya saat ini Reine membela diri mati-matian. Tetapi tidak wanita itu justru menjelek-jelekkan dirinya sendiri agar tidak terpilih.

Mora berlutut di hadapan pria itu sambil menangis. Kepalanya menunduk. "Tidak seperti itu, Tuan. Nona ini yang menyakiti Nona saya lebih dulu."

Lalu pelayan yang menjadi pelayan wanita itu juga berlutut di lantai. "Apa yang dikatakan oleh Mora benar Tuan. Nona saya yang lebih dulu menyakiti Nona itu."

Wanita itu dan juga Reine sama-sama melebarkan kedua matanya. Mereka tidak menyangka kalau dua pelayan yang bekerja untuk mereka itu mengatakan yang sebenarnya terjadi dengan jujur.

"Norah, apa yang kau katakan?" tanya Reine tidak suka.

"Maafkan kami, nona. Tapi anda harus tahu kalau tidak ada yang bisa berbohong di istana ini. Jika sampai ketahuan dia akan dipenggal," jawab Mora.

Pria itu tersenyum penuh arti hingga membuat wanita yang yang tadi sempat menganiaya Reine ketakutan. "Karena kau sudah bicara dengan jujur maka kau akan bebas dari hukuman. Meskipun wanita yang kau dampingi tidak terpilih."

"Maksud anda?" Wanita itu panik.

"Maafkan kami, Nona. Tapi di sini kami tidak memandang bulu. Tujuan kami mencari wanita yang terbaik dari yang baik untuk dijadikan istri pangeran. Kami tidak perlu wanita yang pandai bicara. Kami hanya perlu wanita yang benar-benar siap untuk menjadi istri pangeran. Dan kriteria itu ada pada diri Nona Reine. Dia wanita yang bijaksana. Dia mau mengakui kesalahan yang dia perbuat."

"What?" Reine benar-benar tidak habis pikir. Kejujurannya lagi-lagi membawa malapetaka. Melihat wanita di depannya diseret pergi dari toilet membuat Reine hanya bisa memejamkan mata dan menarik nafasnya perlahan. Mora menggandeng lengan Reine dan tersenyum bahagia. Nona, akhirnya kita masih bisa bersama.

Reine menghela nafas kasar. "Kita tidak saling kenal. Jangan bersikap seolah kita saudara kandung!" umat Reine kesal sebelum pergi meninggalkan toilet itu juga.

Terpopuler

Comments

Ramlah

Ramlah

wkwkwk 🤣 🤣 🤣

2024-09-09

0

Ezar Faruq

Ezar Faruq

nah gitu!!!!! kalo kejujuran dijunjung tinggi maka tidak akan ada yang namanya penghianat.suka sama peraturannya meskipun ada beberapa peraturan yang aneh tapi semuanya good!!!!!junjung terus kejujuran bohong dikit kepala melayang.ha....ha....ha.....

2023-12-06

0

lihat semua
Episodes
1 Permintaan Ibu
2 Penolakan
3 Awal Mula
4 Salah Paham
5 Seleksi Pertama
6 Perselisihan
7 Terpilih
8 Pilihan Sulit
9 Seleksi 10 besar
10 Keanehan
11 Mereka Sama?
12 Ada yang Aneh
13 Gelang Ajaib
14 Penolakan
15 Peramal Hebat
16 Kelemahan Darren
17 Sambutan Asrama
18 Maaf Darren
19 Aku Hantu Tampan
20 Apa Aku Masih Suci?
21 Cerita Malam
22 Kembali ke Istana
23 Pangeran Dalson Steward
24 Pernikahan
25 Malam Pertama
26 Hukuman
27 Bukan Malam Pertama
28 Setelah Kejadian
29 Kembali Tersiksa
30 Bersama Darren
31 Yang Mulia Ratu
32 Cerita Rahasia
33 Hukuman Mora
34 Kehilangan.
35 Kenyataan
36 Harus Hamil
37 Bujuk Rayu
38 Ratu Kejam
39 Berhasil Kabur
40 Malam Panjang
41 Alasan Tepat
42 Rencana Jitu
43 Kehamilan
44 Bernegosiasi
45 Kabar Buruk
46 Sudah Tiada
47 Bukan Darren
48 Hampir Saja
49 Mulai Perhatian
50 Merasa Aneh
51 Jebakan
52 Terus Bersama
53 Dia Musuh
54 Rencana Darren
55 Rencana Besar
56 Jawaban Pangeran
57 Pembunuh Bayaran
58 Perjuangan Pangeran Dalson
59 Anak Kita?
60 Siapa yang Salah?
61 Keadaan Reine
62 Kembali Pulang
63 Sekamar
64 Serba Salah
65 Lain Haluan
66 Emosi tak Terkendali
67 Tidak Percaya
68 Jebakan Ratu
69 Semakin Kuat
70 Kejujuran
71 Darren lagi
72 Racun Berbahaya
73 Rencana Jahat
74 Usaha Tabib Tua
75 Tidak Aman
76 Penawaran Terakhir
77 Keterlaluan
78 Tidak Bermanfaat
79 Jalan Rahasia
80 Kode Mora
81 Berusaha Keras
82 Tidak Tertandingi
83 Solusi Akhir
84 Semudah Itu
85 Kota Kenangan
86 Tidak Siap
87 Kemampuan Darren
88 Perebutan Kekuasaan
89 Hukuman
90 Menyerah
91 Happy Ending
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Permintaan Ibu
2
Penolakan
3
Awal Mula
4
Salah Paham
5
Seleksi Pertama
6
Perselisihan
7
Terpilih
8
Pilihan Sulit
9
Seleksi 10 besar
10
Keanehan
11
Mereka Sama?
12
Ada yang Aneh
13
Gelang Ajaib
14
Penolakan
15
Peramal Hebat
16
Kelemahan Darren
17
Sambutan Asrama
18
Maaf Darren
19
Aku Hantu Tampan
20
Apa Aku Masih Suci?
21
Cerita Malam
22
Kembali ke Istana
23
Pangeran Dalson Steward
24
Pernikahan
25
Malam Pertama
26
Hukuman
27
Bukan Malam Pertama
28
Setelah Kejadian
29
Kembali Tersiksa
30
Bersama Darren
31
Yang Mulia Ratu
32
Cerita Rahasia
33
Hukuman Mora
34
Kehilangan.
35
Kenyataan
36
Harus Hamil
37
Bujuk Rayu
38
Ratu Kejam
39
Berhasil Kabur
40
Malam Panjang
41
Alasan Tepat
42
Rencana Jitu
43
Kehamilan
44
Bernegosiasi
45
Kabar Buruk
46
Sudah Tiada
47
Bukan Darren
48
Hampir Saja
49
Mulai Perhatian
50
Merasa Aneh
51
Jebakan
52
Terus Bersama
53
Dia Musuh
54
Rencana Darren
55
Rencana Besar
56
Jawaban Pangeran
57
Pembunuh Bayaran
58
Perjuangan Pangeran Dalson
59
Anak Kita?
60
Siapa yang Salah?
61
Keadaan Reine
62
Kembali Pulang
63
Sekamar
64
Serba Salah
65
Lain Haluan
66
Emosi tak Terkendali
67
Tidak Percaya
68
Jebakan Ratu
69
Semakin Kuat
70
Kejujuran
71
Darren lagi
72
Racun Berbahaya
73
Rencana Jahat
74
Usaha Tabib Tua
75
Tidak Aman
76
Penawaran Terakhir
77
Keterlaluan
78
Tidak Bermanfaat
79
Jalan Rahasia
80
Kode Mora
81
Berusaha Keras
82
Tidak Tertandingi
83
Solusi Akhir
84
Semudah Itu
85
Kota Kenangan
86
Tidak Siap
87
Kemampuan Darren
88
Perebutan Kekuasaan
89
Hukuman
90
Menyerah
91
Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!