Episode. 20 - Gejala Monster

Gillsouth bersiap dengan senapannya yang terus di acungkan ke arah Ayhner. Sementara Ainsley yang berada di barisan para pasukan, sangat menunggu saat-saat Gillsouth membunuh Ayhner menggunakan kedua tangannya sendiri. Namun, dia tidak kunjung mendapatkannya karena Eldric yang terus menghalangi.

”Kau ragu untuk membunuhku kan?” ucap Ayhner, menatapnya dengan serius. ”... Kau tidak bisa menjadi seorang pemimpin jika selalu ada keraguan dalam pikiranmu. Kalau kau akhirnya memutuskan kalau aku ini Monster, mengapa tidak langsung membunuhku? Apa kau masih bertanya-tanya, mungkin inilah hasil dari percobaan manusia yang dilakukan oleh profesor Edmund padaku?”

Gillsouth tampak sedang menggigit bibirnya. Bertanda kalau saat ini dia benar-benar ragu untuk melakukannya. Sebelumnya, saat wabah ini masih menyebar, dia bisa membunuh siapa pun yang menunjukkan gejala perubahan monster meski mereka masih memiliki kesadaran manusia. Tetapi, entah kenapa dia merasa Ayhner berbeda dengan orang-orang yang sudah dibunuhnya saat itu.

”Kapten! Kumohon jangan membunuhnya! Kita bisa mencari cara lain untuk menyembuhkannya. Ayhner bukanlah monster! Dia itu tetap manusia.” ucap Eldric berusaha untuk menghalanginya.

Semua orang melihat dan terdiam seolah menunggu hal yang akan terjadi berikutnya. Mereka penasaran dengan keputusan Gillsouth yang akan membunuh Ayhner hanya karena dia memiliki gejala perubahan monster.

”Jujur saja. Kau tidak bisa membunuhnya kan? Lantas, mengapa kau tidak menurunkan senapanmu?” ucap seorang laki-laki yang berjalan menghampirinya dari belakang.

Dari sana, laki-laki itu tampak memakai jaket hitam panjang, syal merah dan pakaian bahan berwarna abu-abu. Dia juga memiliki rambut merah sepanjang bawah telinga. Matanya berwarna merah, mirip sekali dengan mata milik Ayhner. Tak ada seorang pun yang mampu mengenalinya. Hanya untuk berjaga-jaga saja, semua orang di sana langsung mengacungkan senjatanya ke arah laki-laki itu. Sementara orang yang mendapatkan sambutan tidak ramah ini hanya diam, dengan senyumnya yang terkesan meremehkan semua orang di sini.

”Aku cukup terkesan dengan tingkat kewaspadaan kalian. Melebihi tingkat kewaspadaan ketika gunung aktif meletus. Tapi, seperti inikah cara kalian menyambut tamu tidak diundang?” laki-laki itu memperhatikan terutama pada Ainsley yang mendapatkan tatapan lebih darinya. Ainsley membalasnya dengan tatapan serius.

Ayhner mengeraskan kepalan tangannya. Memang ini bukan pertemuan pertama mereka berdua. Orang ini yang sudah menyuntikkan sejenis obat ke dalam tubuhnya ketika dia nyaris sekarat. Karena itu dia sangat kesal dan ingin segera meninju wajahnya.

Laki-laki itu menatap Ayhner dengan tatapan tak bersalah kemudian berkata, ”Kita bertemu lagi, Ayhner Leory.”

Dalam sekali kejap, Ayhner langsung berlari ke arah laki-laki dan meninju wajahnya. Namun, kepalan tangannya berhasil ditahan olehnya sehingga membuat langkahnya langsung terhenti.

”Aku tahu kau kesal dan segera ingin membunuhku. Tapi, tunda sebentar tujuanmu itu. Ada sesuatu yang harus aku lakukan. Kau bisa membunuhku jika aku sudah tidak lagi berguna.” laki-laki itu menghempaskan tangan Ayhner ke sisi samping. Kemudian berbalik menatap Gillsouth yang tidak juga menurunkan senapannya juga menatap Eldric yang tampaknya khawatir dengan keberadaannya.

”Kau ini siapa? Kenapa tidak mengenalkan dirimu terlebih dahulu? Dan apa hubunganmu dengan Ayhner?” tanya Eldric berusaha untuk sopan terhadapnya.

Mendengarnya membuat laki-laki itu merasa lucu. Dia menyentil dahi Eldric kemudian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya. ”... Sebenarnya aku ingin menyembunyikan identitas ku lebih lama lagi. Tetapi, ada seseorang yang terus mendesak ku untuk datang kemari. Tapi, bisakah kau menurunkan senapanmu itu sebelum aku menjelaskannya? Tenang saja, tidak akan ada yang melawan di sini.” ucap laki-laki sembari menunjuk ke arah Gillsouth.

Gillsouth sempat berpikir selama beberapa saat sebelum akhirnya, dia memutuskan untuk menurunkan senapannya. ”Bicaralah!” singkatnya.

”Baiklah.” laki-laki itu melanjutkan, ”... Pertama-tama, aku ingin menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi di sini mengenai gejala perubahan monster yang Ayhner miliki saat ini. Aku memang tidak bisa mengelak kalau yang terjadi pada Ayhner memang benar adalah gejala perubahan monster. Tetapi, itu tidak akan membuatnya berubah menjadi monster. Aku yakin kau sudah pernah melihat monster yang menyerupai manusia. Dia monster yang cukup berbahaya kan? Tapi, apakah sekarang ini kau berpikir kalau Ayhner akan berubah menjadi monster dengan wujud mengerikan dan akan membunuh kalian jika dia benar-benar berubah?”

Lantas semua orang terkejut saat mendengarnya. Monster dengan wujud manusia lebih berbahaya dibandingkan dengan monster kebanyakan. Mereka akan lebih sering waspada terhadap pergerakan Ayhner jika ucapannya memang benar.

”Cih! Monster tetaplah monster! Tidak ada bedanya!” Ainsley tampak marah. Dia langsung mengacungkan senapannya dan bersiap untuk menembak pelurunya.

”Tenang sebentar, Nona Mehlin. Aku tahu kau ini pemarah. Tetapi, aku tidak akan membiarkanmu membunuhnya.” ucap laki-laki hingga membuat Ainsley terkejut. Orang ini telah mengetahui nama belakangnya padahal dia tidak pernah mengenalinya atau bahkan saling berpapasan sekali pun.

”Kalau begitu, benar kan? Ayhner itu bukan monster!” Eldric berusaha meyakinkan semua orang dan mempertajam penjelasan laki-laki ini.

”Anak ini cukup baik. Tentu apa yang kau katakan itu tidak sepenuhnya benar.” jawab laki-laki. ”... Benar. Ayhner sudah menjadi monster. Tetapi, monster yang berbeda dari monster kebanyakan. Dia masih memiliki kesadaran manusianya. Tetapi, jika kesadarannya itu hilang, cobalah untuk menebak apa yang akan terjadi pada kalian. Sudah berapa banyak dia memperlihatkan kekuatan yang berada di luar nalar manusia? Bahkan monster tadi hancur dalam sekali tembakan. Jika monster sebesar itu bisa dikalahkannya, apa yang akan terjadi pada kalian jika dia melakukan hal yang sama?”

”Berhenti menggertak mereka! Memangnya kau ini siapa?” ucap Ayhner sedikit membentak padanya. Dia tidak mengerti mengapa harus dia yang menjadi topik permalasahan ini.

Laki-laki itu tampak sedang berpikir. Dia mengusap bagian belakang kepalanya lalu bertanya, ”Itu aneh. Bagaimana bisa kau tidak mengenalku? Kita sudah pernah bertemu saat kau masih bayi.”

”Bagaiman aku bisa mengingatnya?! Kau pikir bayi bisa menyimpan ingatannya dengan baik sampai dia dewasa?!” lagi-lagi Ayhner membentaknya karena sudah terlanjur kesal dengan sifat yang ditunjukkan laki-laki ini padanya.

”Aduh,... Rumit sekali ya. Kalau aku mengatakannya, aku takut mendapatkan bogem mentah darimu. Aku sudah kapok dengan lemparan gagang sapu dari Ibumu saat aku ingin mengunjungimu.”

”Sudah jelas kalau kedatanganmu itu membuatnya takut! Hidupmu saja tampaknya sudah sangat berantakan! Masih untung bumi tidak melemparmu ke planet lain karena kau itu adalah beban dunia!”

Ucapan Ayhner jelas sangat menusuk dirinya. Dia tidak menduga Ayhner akan membela Ibunya meski Ibunya sudah melakukan hal buruk padanya. ”... Aku tidak menyangka, kau bisa mengatakan hal sejahat itu padaku.” ucap laki-laki sembari memegang dadanya.

”Untuk apa aku merasa bersalah padamu? Aku bebas melakukan apa yang aku mau.” ucap Ayhner tak peduli sembari menatapnya sinis.

”Oh ya? Bagaimana kalau sekarang aku mengatakan hal yang sebenarnya?! Kalau aku...” ucap laki-laki yang mulai serius. ”... Aku ini adalah Ayahmu!”

”.....”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!