”Ayhner! Benar kau sudah tidak apa-apa?” tanya Eldric, berjalan di belakang Ayhner sembari memperhatikan. Dia pantas khawatir karena sebelumnya, Ainsley menembakkan puluhan peluru ke tubuh Ayhner hingga dia tumbang, tak bergerak sama sekali. Bahkan Eldric sempat khawatir Ayhner tak akan bisa terselamatkan. Namun, ketika Gillsouth mengatakan kalau dia masih bernafas, itu membuatnya sedikit merasa lega.
”Menurutmu bagaimana? Apakah aku terlihat baik-baik saja?” Ayhner menunjukkan wajahnya yang terlihat pucat karena kehabisan darah setelah lukanya kembali terbuka dan menutup kembali satu jam kemudian. Langkahnya juga terlihat sempoyongan sejak tadi. Mungkin ada baiknya jika mereka tinggal sebentar di markas para pasukan pembasmi lalu pergi pagi-pagi buta. Namun, Ayhner sudah terlanjur membenci mereka sehingga dia tidak bisa kembali ke sana.
”Ayhner. Kita istirahat sebentar. Di toko tua itu sepertinya aman untuk bersembunyi.” Eldric menunjuk ke arah sebuah toko yang ditanami oleh bunga-bunga yang sudah layu karena tak terurus sejak lama. Hari juga sudah cukup malam dan diantara semua bangunan yang ada di sana, hanya bangunan yang ditunjuk Eldric yang paling layak saat ini.
”Itu bagus. Tapi aku lapar. Kita cari supermarket dulu baru pergi mencari tempat.” Ayhner kembali berjalan dengan langkahnya yang sama. Dia bahkan tak fokus menatap ke depan. Itu semua karena pandangannya mulai kabur dan dia sangat sulit melihat ke depan. Berulang kali, kakinya menyandung beberapa benda besar yang seharusnya bisa terlihat dan berulang kali dia mencoba berdiri dari posisinya yang menyedihkan.
”Sudahlah, Ayhner! Kau beristirahat dulu! Aku akan mencarikan mu makanan.” ucap Eldric yang langsung menyeret Ayhner menuju bekas toko bunga yang ada di dekatnya.
Tidak biasanya Ayhner begitu penurut. Dia langsung berjalan mengikuti Eldric dari belakang seperti anak baik kebanyakan. Eldric mulai menyadari masalah yang terjadi pada Ayhner saat ini. Dia mungkin terlalu banyak menggunakan kekuatannya untuk berjalan dan berlari sampai dia tidak sadar kalau dia sudah kehabisan darah.
Sampai di sana, Eldric menyandarkan tubuh Ayhner di belakang meja kasir yang tertutup jika ada monster yang menatap ke arah jendela. Dari ujung kepala, Ayhner terlihat sangat berkeringat dan terus memejamkan matanya. Alisnya terus berkerut karena menahan sakit.
Eldric berinisiatif menyentuh dahi Ayhner yang tertutup rambut poninya. Belum ada beberapa detik dia menyentuhnya, Eldric langsung melepasnya kembali.
”Sangat panas! Ayhner! Kau demam!”
Ayhner berusaha membuka matanya. ”Terima kasih sudah mengingatkannya.” ucapnya penuh kesusahan setelah itu dia kembali memejamkan matanya.
Eldric meraba-raba kantongnya. Tetapi dia tidak menemukan apa pun. Dia berharap dia memiliki obat penurun demam. Namun, dia tidak bisa membedakan obat demam dan obat yang lain. Menggunakan jubahnya, Eldric menyelimuti tubuh Ayhner yang sudah tak bisa melakukan apa pun. Dia merasa sudah merepotkan Ayhner selama ini hingga membuatnya demam tak karuan.
Eldric baru sadar kalau beberapa blok dari sini ada sebuah toko obat yang mungkin masih menyediakan obat yang diinginkannya. Dia segera berdiri kembali dan memperhatikan sekitar. Tak ada satu pun monster yang berkeliaran di sekitar toko ini. Dia mulai menyusun rencana agar dia bisa menembus benteng-benteng para monster untuk sampai ke toko obat yang memerlukan waktu sekitar sepuluh menit.
”Tunggu di sini. Aku akan segera mencarikan obat.”
”Jangan!” Ayhner langsung menjawab dan menahan pergelangan kaki Eldric yang hendak berlari pergi. ”... Terlalu berbahaya di sana. Untuk saat ini, aku hanya perlu tidur.”
”Tapi, Ayhner! Aku tidak bisa membiarkanmu terus seperti ini. Aku akan segera mencarinya.” Eldric langsung mengabaikan Ayhner dan berlari pergi meninggalkan bangunan. Ayhner ingin mengejar. Namun, dia langsung terjatuh saat dia hampir sampai ke pintu keluar.
...~o0o~...
”Hari sudah hampir malam. Kemana kapten Gill berada saat ini?” ketus Ainsley marah sampai membanting gelasnya di atas meja.
Aaron menjawab dengan tenang, ”Tenanglah wakil Ainsley. Aku yakin sebentar lagi kapten Gill akan segera kembali.”
Di sisi lain, Gillsouth tengah berada di sebuah jalan yang tak berpenghuni. Ada beberapa bangunan yang masih berdiri namun sudah rapuh. Belum lagi mengenai monster yang juga bersembunyi di dalamnya dan bersiap untuk memangsa siapa pun yang melintas di bawahnya. Ada beberapa tumpukan mobil yang sudah usang dan tidak bisa digunakan lagi. Jalanan yang beraspal juga ikut terbelah meski tidak terlalu dalam.
”Aku tidak bisa menggunakan anak itu lagi untuk menemukan profesor Edmund. Terpaksa, aku harus mencarinya sendiri.” gumam Gillsouth, meraih sebuah gulungan kertas koran yang tergeletak di bawah kakinya.
Koran itu memberitakan tentang keberadaan seseorang yang mengaku dirinya sebagai orang yang berasal dari masa depan. Dan orang itu mengatakan kalau era kehancuran manusia akan dimulai sebentar lagi. Tentu semua ini sebabkan karena sifat buruk manusia yang mudah tertular seperti penyakit. Orang itu tidak menceritakan awal mula dari munculnya wabah monster ini. Dia bahkan sama sekali tidak menyebut profesor Edmund dalam kalimatnya. Mungkin saja di masa depan, kehancuran ini masih berlangsung dan belum ditemukan apa penyebabnya.
Ada satu lagi berita mengenai ledakan besar yang terjadi di suatu tempat. Mirip dengan apa yang ditemukannya di dalam internet. Dan lagi-lagi, koran itu tidak menyebutkan dimana letak dan foto ledakan itu terjadi.
”Apakah tidak ada cara ampuh selain mengandalkan anak itu sekarang?”
Belum selesai dia menggerutu, suara dentuman ini muncul berkali-kali seperti monster yang sedang mengejar sesuatu. Tak lama, dari kejauhan sana Gillsouth melihat sesosok monster yang berlari mengejar seseorang yang membawa sesuatu di tangannya.
Gillsouth orang yang tak bisa mengabaikan pekerjaannya. Dia langsung bergerak cepat menuju monster yang memiliki puluhan ekor, mirip sekali dengan akar pohon yang menukik ke atas tanah. Gillsouth kehabisan obat yang membantunya memperkuat kekuatannya saat ini. Karena itu, dia hanya bisa mengulur waktu selama beberapa saat.
Tongkat besi yang berada di dekatnya langsung dilemparkan ke arah monster yang berjalan menggunakan ekornya. Namun, itu tak akan membuatnya terluka sama sekali. Dia langsung berlari menghampiri laki-laki itu dan menariknya menjauh dari monster yang menyerangnya.
”Kapten Gill! Kenapa Anda bisa ada di sini?” Eldric baru menyadarinya begitu juga yang dialami Gillsouth.
”Oh? Jadi itu kau? Kemana perginya temanmu itu? Apa dia sudah melupakanmu?” tanya Gillsouth.
”Tidak. Ayhner sudah menungguku di bangunan toko. Aku harus segera pergi ke sana.”
”Orang macam apa yang menyuruh temannya sendiri melakukan hal yang berbahaya seperti ini?” Gillsouth melancarkan beberapa peluru ke mata monster hingga gerakan monster itu perlahan melambat.
”Itu dia! Beberapa bangunan lagi kita akan sampai ke sana. Cuma itu tempat yang aman.” Eldric mendahului Gillsouth. Melihat monster yang tak bisa melihat selama beberapa saat, membuka kesempatan bagi mereka berdua untuk segera bersembunyi di tempat yang Eldric maksud.
Bangunan itu memang terlihat cukup tertutup karena dihalangi oleh beberapa gedung-gedung perusahaan. Gillsouth mengikuti sembari mewaspadai sekitar. Pandangannya ini seketika langsung tertuju begitu dia melihat teriakan Eldric yang terkejut setelah melihat Ayhner sudah telungkup di atas lantai, tepat di depan pintu masuk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments