Episode. 13 - Ruang Terbuka

Ayhner berjalan tanpa arah menuju sebuah ruangan luas yang sepi. Terdapat jendela ventilasi yang berada di bagian teratas dinding beton. Tak ada lampu yang menyala. Ruangan itu hanya mengandalkan cahaya yang masuk melalui jendela. Dan karena hari ini sudah cukup malam, ruangan itu menjadi sedikit lebih gelap karena cahaya yang masuk hanya sedikit.

Tangannya meremas dinding sedangkan tangannya yang lain meremas dada kirinya seakan dia ingin menghancurkan jantungnya dari luar. Padahal, udara malam ini terasa cukup dingin. Tetapi, dia terus mengeluarkan keringat hingga menetes ke lantai. Nafasnya terengah-engah seperti baru saja melakukan lari bolak-balik tangga. Padahal, untuk sampai di sini dia hanya perlu berjalan santai beberapa menit.

Kakinya lemah, tak bisa menopang tubuhnya sendiri hingga pada akhirnya dia terjatuh, menekuk kedua lututnya dengan posisi tangan yang sama.

”Sial! Racunnya terlalu kuat! Bisa-bisa aku akan mati sekarang!” gumam Ayhner yang terus menahan rasa sakitnya.

”Haha! Kau tidak mengerti apa yang aku katakan sebelumnya, nomor 97? Nikmati penderitaanmu sampai hari kematianmu tiba.” suara laki-laki yang tadi kembali muncul dan kali ini dia mengatakannya sambil menepuk pelan kedua tangannya. Tentu Ayhner merasa sangat terkejut dan dia langsung menatap sepasang mata biru yang tampak dalam kegelapan.

”Kau!” Ayhner langsung mengambil pistolnya dan menembakkan pelurunya. Namun, peluru itu meleset jauh dari target yang diincarnya. Tangannya begitu gemetar dan dia tidak bisa menghentikan getaran yang terjadi padanya.

”Biasanya kau tidak meleset seperti tadi. Mengapa tanganmu gemetar? Apakah kau tidak bisa membunuhku? Atau kau takut melakukannya?” cibir laki-laki.

”Brengsek! Aku seperti ini karena ulahmu!” batin Ayhner kesal.

”Apa perlu aku ingatkan sekali lagi? Racun yang ada di dalam tubuhmu tidak akan bisa membunuhmu. Racun itu hanya bisa memberikanmu rasa sakit yang tak berujung tanpa kematian. Aku sudah bilang, Profesor Edmund ingin kau terus menderita sampai hari kematianmu tiba. Kau tahu apa artinya itu?” laki-laki itu terhenti dan menyempatkan diri untuk tersenyum seringai padanya.

Dia melanjutkan, ”... Itu artinya kau harus menikmati penderitaanmu sendiri sampai tuhan menentukan hari kematianmu.”

DORR!!!

Tembakan itu berlangsung beberapa kali, mengarah pada laki-laki di depannya. Namun, sangat di sayangkan laki-laki itu berhasil menghindari seluruh serangannya. Peluru itu bukan berasal dari Ayhner yang meluncurkannya. Melainkan dari seseorang yang datang dari arah belakangnya.

Mata biru?

Gillsouth?

Benar dugaan Ayhner. Gillsouth datang dari arah belakang dan berdiri tepat di sampingnya. Tampaknya dia sudah mendengar seluruh perbicangan mereka berdua. Tatapannya terlihat dingin saat menatap sepasang mata biru yang bentuknya nyaris sama dengannya.

”Mundurlah.” ucap Gillsouth sembari menarik mundur Ayhner. Namun, Ayhner menolak dan tetap berdiri tak jauh di depannya.

”Tidak mau! Ini urusanku dan aku yang akan menyelesaikannya.” ucap Ayhner.

HOEKK!!!

Belum selesai dia berbicara, darah memuncrat keluar dari dalam mulutnya. Racun yang ada di dalam tubuhnya tidak sepenuhnya dijinakkan. Orang-orang yang bekerja di laboratorium, tidak mungkin bisa dikalahkan oleh seorang dokter biasa seperti Aaron.

Laki-laki di depannya tertawa, menatap penderitaan yang dialami Ayhner saat ini. ”... Racun itu tidak akan berhenti memberikan rasa terbakar pada seluruh organ dalammu. Lama kelamaan kau akan lumpuh sepenuhnya dan tidak bisa melakukan apa pun. Dan pada saat itu terjadi, kau tinggal menunggu kematian itu tiba menghampirimu!”

Gillsouth yang kesal hanya bisa memapahnya dan membantunya berdiri. Tampak sangat jelas, mata biru Gillsouth menatap dingin sosok yang ada di depannya. Dia pun kembali menyiapkan pistolnya dan bersiap untuk menembak. Namun, lagi-lagi Ayhner menahannya untuk tidak melakukannya.

”Kau ini keras kepala sekali!” Ayhner sedikit berteriak padanya. Dia mengambil pistol milik Gillsouth. Lalu, muncul sebuah bentuk yang mirip dengan aliran listrik berwarna merah, keluar dari lengan Ayhner lalu merembet, masuk ke dalam pistolnya. Tak berselang lama, Ayhner segera melepaskan pelurunya ke arah laki-laki itu.

Bagian yang luar biasanya adalah peluru yang dilepaskan oleh Ayhner telah berhasil menghancurkan dinding ruangan hingga tampak sebuah lubang besar yang langsung mengarah ke dunia luar. Monster-monster yang menunggu, tampak sedang menatap mereka dengan tatapan mengincar. Ayhner dan Gillsouth langsung waspada terlebih, laki-laki tadi ternyata selamat setelah menghindari serangannya.

”Luar biasa. Ternyata kau sudah sejauh ini padahal sebelumnya, kau hanyalah eksperimen yang gagal. Kami bahkan ingin membunuhmu dalam waktu dekat. Tetapi, penghianat itu telah berhasil membawa kabur dua eksperimen kami saat ledakan itu terjadi.” tatapan laki-laki itu langsung mengarah ke arah Gillsouth setelah dia terus menatap Ayhner sembari menepuk tangannya.

”Kenapa dia menatapnya seperti itu?” batin Ayhner tak percaya.

”Baiklah, urusanku di sini selesai.” laki-laki itu memejamkan matanya selama beberapa saat lalu membukanya kembali. Mereka berdua langsung terkejut ketika melihat mata sebelah kanan laki-laki itu berubah menjadi kuning dan mengeluarkan darah seperti yang Ayhner miliki saat ini.

”Sisanya, aku serahkan pada kalian.” lanjutnya kemudian menghilang. Sedetik kemudian, monster-monster yang sedang menatap mereka berdua dengan tatapan tajam dan mengincar langsung bergerak cepat memasuki ruangan. Mereka hendak untuk memakan mereka berdua. Namun, mereka mungkin lupa kalau Ayhner juga bisa mengendalikan monster-monster ini sehingga semuanya berhenti menyerang.

Jangan tanya situasi dan keadaannya saat ini. Benar-benar parah! Mata kirinya kembali berwarna kuning dan mengeluarkan darah. Selain racun yang ada di dalam tubuhnya, dia juga harus mengendalikan semua monster ini yang tentunya membutuhkan tenaga yang sangat banyak.

”Kalian semua pergilah keluar dan makan sesama kalian sampai hanya ada satu yang tersisa!” ucap Ayhner pelan. Setelah itu monster-monster yang dikendalikan olehnya langsung beranjak keluar dan menjauh dari markas. Kira-kira hanya berselang satu menit saja, dari jauh sana muncul suara dentuman keras, koyakan daging serta kuku tajam yang menghajar kulit sekeras baja.

Gillsouth terpaku pada suara-suara yang muncul di sana. Dia sampai tidak sadar kalau Ayhner terjatuh lemah ke belakang dan terlentang di atas lantai yang dingin. Dia baru menyadarinya ketika Ayhner membuat suara yang cukup aneh di saat tulang punggung dan rusuknya beradu kekuatan dengan lantai yang keras.

”Haah, tak ku sangka aku malah datang kemari. Atau laki-laki itu yang sengaja mendekatiku sampai aku seperti ini.” Ayhner menghela nafas. Dia tahu Gillsouth tidak mungkin menanyakan keadaannya.

Sudah jelas bukan? Dia mengira kalau hal yang seperti ini tidak perlu ditanyakan lagi karena jawabannya sudah ada di depan mata. Tidak mungkin dia bilang baik-baik saja kalau sudah seperti ini.

Sementara itu, dari balik dinding ruangan ini, sudah ada Eldric yang mendengar seluruh percakapan mereka. Dia terlihat sedikit ketakutan begitu mendengar suara laki-laki itu kembali. Awalnya dia ingin menolong. Namun, Ayhner sudah melakukannya lebih dulu seolah dia tidak ingin ada seorangpun yang mencampuri urusannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!