”Bagaimana kalian tahu aku ada di sini?” Gillsouth bertanya sembari berdiri menatap mereka.
Ainsley langsung menjawab, ”Salah satu dari kami mendengar suara tembakan dan dia mengikutinya. Begitu dia tahu kapten sedang dikejar oleh monster berekor, dia langsung kembali ke markas dan menyampaikannya.”
Gillsouth terdiam selama beberapa saat. ”Kalau begitu, ayo kita kembali. Oh, ya. Jangan lupa bawa dua orang yang ada di dalam. Salah satunya ada yang merepotkan.”
Ainsley menatap ke dalam bangunan. Dia menatap Eldric yang sedang berdiri di sana dan juga Ayhner yang tidur di lantai dengan berselimutkan jubahnya sendiri. ”... Kapten yakin bisa memanfaatkan mereka berdua untuk menemukan profesor Edmund? Saat pertemuan pertama Anda dengan orang ini, semuanya tidak berlangsung dengan baik.”
”Aku akan mencari keberadaannya sendiri tanpa mengandalkannya lagi. Aku membawanya ke markas karena keadaannya yang tidak sehat. Lagipula, anak itu butuh perlindungan.” lanjut Gillsouth.
Eldric yang mendengarnya sejak awal langsung berkata, ”Kapten Gill! Mungkin Ayhner tidak suka jika dia tinggal di markas Anda. Sudah jelas dia akan cepat-cepat kabur seperti tadi.”
Sembari berjalan maju dan meninggalkannya, Gillsouth berkata, ”Itu mudah. Aku tinggal mengikatnya saja agar dia tidak kabur.”
”Tunggu sebentar! Kau bilang ingin mengikatku agar aku tidak kabur?” Ayhner datang dari arah belakang Eldric dan langsung berdiri tepat di sebelahnya. Dari tatapannya dia terlihat cukup kesal dan itu cukup membuktikan kalau saat ini, dia sedang baik-baik saja. Gillsouth membuatnya menelan cukup banyak pil obat hingga membuatnya nyaris mengalami overdosis.
Gillsouth menyempatkan dirinya untuk menoleh ke arah Ayhner. Dia tampak tak bersalah sama sekali maupun terlihat senang. Ekspresinya selalu terlihat datar seperti jalanan beraspal. ”Oh? Aku sudah tahu kau akan bangun begitu mendengar suara keramaian. Sekarang, kau hanya tinggal memutuskan ingin pergi bersama kami atau tinggal di sini bersama dengan monster-monster yang kelaparan.”
Ayhner menyeringai, ”Gimana, ya? Tapi, sayang sekali dan sudah aku katakan aku tidak suka tinggal di satu tempat. Dan karena aku sudah baik-baik saja, kalian tidak perlu repot melindungi Eldric. Aku bisa melakukannya sendiri.” Ayhner merangkul pundak Eldric seolah mengisyaratkan semua akan baik-baik saja.
”Anak ini! Semakin lama aku melihatnya semakin bertambah keinginanku untuk melenyapkannya.” batin Ainsley menatapnya kesal dan menahan amarah yang sudah sedari tadi tidak dikeluarkannya.
Gillsouth menghela nafas, menaruh kedua tangannya di dalam saku celana. ”... Baiklah, kalau itu yang kau mau.” dia kemudian berbalik menghadap pasukannya. ”... Kita akan kembali. Lupakan semua yang terjadi hari ini.”
Eldric menatap Ayhner. Dia menduga Ayhner sudah menyembunyikan sesuatu hingga membuat mereka akhirnya mau pergi. Sebentar, Eldric memandangi sekitar lalu, dia menatap sepasang mata biru yang sedang menatap mereka berdua dari kegelapan. Mata itu bukanlah milik monster melainkan milik manusia. Itu artinya, Ayhner sudah bertemu dengannya lebih dulu sebelum para pasukan ini menyadarinya.
Beberapa saat setelahnya, pasukan-pasukan ini akhirnya pergi dan hanya menyisakan mereka berdua. Ketika bayangan orang-orang itu sudah benar-benar menghilang, Ayhner langsung berbalik dan menarik Eldric ke belakang punggungnya. Dia tampak sangat waspada. Berbeda sekali dengan Ayhner yang berhadapan dengan para pasukan tadi. Sementara, Eldric masih belum mengetahui siapa orang yang berdiri di tengah kegelapan.
”Siapa orang itu, Ayhner?” tanya Eldric penuh kecemasan.
Ayhner tak menjawabnya begitu saja. Lalu, orang itu bertepuk tangan beberapa kali kemudian berjalan perlahan menghampiri mereka berdua.
”Nomor 97 dan nomor 103. Tidak kusangka, kalian bisa bertahan hidup sampai di titik ini.”
Dari suaranya, jelas sekali suara ini adalah milik seorang laki-laki. Dia menunjukkan setengah dari badannya yang disinari oleh cahaya bulan dengan memakai seragam dan celana putih seperti seseorang yang hidup di laboratorium. Pantulan cahaya pada kacamatanya pun juga terlihat jelas. Sebelumnya, orang ini juga menyebut mereka dengan sebutan nomor. Nomor-nomor itu adalah nomor milik mereka saat masih berada di laboratorium.
”Sudah lama aku tidak bertemu dengan kalian, anak-anak manis yang dibuang oleh orang tuanya. Berterima kasihlah padaku karena akhirnya kalian tidak hidup di jalanan dan berubah menjadi monster.” laki-laki itu menyeringai.
Ayhner tampaknya bertekad untuk membunuh semua orang yang berada di laboratorium saat itu. Dia mengacungkan jari telunjuknya lalu, cahaya merah seperti cincin itu kembali muncul di depannya dan bersiap untuk menembak. Tatapannya dingin dan tajam. Di dalamnya terdapat dendam yang tak pernah ada ujung dan dasarnya.
”Justru akulah yang heran di sini. Bagaimana kau bisa bertahan hidup sampai sekarang? Harusnya, kau mati bersama orang-orang itu!” Ayhner mulai menembak. Namun, tembakannya meleset dan mengenai lantainya hingga terbentuk sebuah cekungan yang cukup besar bahkan sampai merobohkan dinding bangunan.
”Menyedihkan! Masih tidak bisa sabaran seperti dulu.” sosok laki-laki itu tiba-tiba menghilang dalam sekejap. Ayhner terus memandangi sekitar dengan waspada sembari melindungi Eldric di belakangnya.
Akhh!
Tiba-tiba Ayhner terlihat sempoyongan setelah sebuah pisau menancap tepat di belakang punggungnya. Dia berusaha untuk tidak menghiraukannya. Namun, dia sedikit lengah dengan membiarkan Eldric berdiri sendiri di depannya.
Kilatan itu muncul dari sudut ruangan dan langsung menyambar Eldric. Menggunakan jarum suntiknya, laki-laki itu menancapkannya di leher Eldric lalu, menarik darahnya keluar seperti memasukkan obat ke dalam suntikkan.
Tentu Ayhner tak bisa membiarkannya begitu saja. Dia langsung bergerak ke arahnya dan melepaskan beberapa tembakan peluru. Namun, laki-laki itu akhirnya bisa menghindar dengan cepat. Dia terlihat licin sekali seperti belut di dalam lumpur.
Ayhner langsung membungkuk setelah rasa sakit itu muncul kembali dalam tubuhnya. Dia tidak menyangka orang asing ini menggunakan racun sebagai senjatanya. Tubuhnya mati rasa karena racunnya terus bergerak.
”Ayhner! Kau—”
Eldric ingin bertanya apakah Ayhner baik-baik saja. Namun, sepertinya dia sudah terlanjur tahu kalau dia tidak sedang baik-baik saja. Jadi, sangat percuma menanyakan hal yang sama padanya. Eldric berinisiatif untuk menarik pisau yang menancap di punggung Ayhner. Tetapi, itu tidak membuat racunnya menghilang. Tentu melihatnya membuat dirinya semakin khawatir. Jika saja para pasukan masih berada di sini, mungkin saja mereka sudah membunuh laki-laki itu sejak tadi atau menginterogasinya habis-habisan untuk menemukan laboratorium rahasia mereka.
”Hati-hati. Racun itu masih dalam percobaan dan belum ditemukan penawarnya. Jadi, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu jika racun itu sudah menyebar ke seluruh tubuhmu.” ucap laki-laki yang kini kembali bersembunyi di dalam gelap.
”Brengsek!” gumam Ayhner kesal. Setelahnya dia memuntahkan seteguk darah kotor yang sudah berwarna hitam. Racunnya menyebar begitu cepat dan sudah pasti dia tidak akan bisa bergerak lagi.
Laki-laki itu tertawa lalu berkata, ”Profesor menitipkan pesan padaku. Katanya jika aku bertemu dengan nomor 97, pastikan dia menikmati sisa hidupnya dengan penuh penderitaan bahkan sampai hari kematiannya.”
DOOR!!!
Suara tembakan itu muncul tiba-tiba dari arah belakang mereka berdua. Peluru itu melesat namun, tidak sampai mengenai laki-laki itu. Tak berselang lama, datang laki-laki lain yang memakai seragam pasukan pembasmi monster.
Tidak salah lagi, dia adalah Gillsouth yang datang kembali dengan tujuan tertentu.
”Apa yang terjadi di sini?” Gillsouth menatap Ayhner yang sudah jatuh berlutut sembari memegangi tubuhnya yang terasa terbakar dari dalam. Dia juga melihat luka yang ada di belakang punggungnya. Itu mungkin yang menyebabkan racun itu mengalir di tubuhnya.
Laki-laki yang kembali bersembunyi dalam gelap terlihat cukup terkejut melihat keberadaan Gillsouth. Dia terlihat seperti mengenalnya. Namun, dia sengaja membisu. Sementara Gillsouth masih belum mengerti situasinya saat ini.
Siapa laki-laki ini dan mengapa orang itu terus menatapnya dengan tatapan dingin. Pada akhirnya orang itu pun pergi. Gillsouth ingin mengejar. Namun, melihat keadaan Ayhner yang semakin buruk membuatnya mengurung waktu untuk mengikutinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments