Episode. 19 - Peluru Penghancur

”Dia meleleh?”

”Tidak mungkin! Mengerikan sekali.”

Semua pasukan langsung terdiam, melihat akibat jika mereka melangkahkan kakinya dengan asal. Bisa saja mereka juga akan bernasib sama seperti laki-laki tadi. Benar apa yang Ayhner katakan. Monster ini cukup berbeda dan berbahaya. Bentuknya juga selalu berubah-ubah seperti cairan lahar panas yang siap melelehkan tubuh siapa pun.

Tak ada satu pun yang berani bergerak sementara monster itu terus melaju dengan perlahan. Jika peluru saja tidak mempan, lalu apa yang bisa mengalahkannya? Air tidak bisa mengalahkannya. Sementara mereka juga terkadang kekurangan air. Mungkin tidak akan ada yang bisa mengalahkannya. Kecuali,...

”Ayhner! Apa perlu aku yang membunuhnya? Sepertinya, dia akan sangat sulit dikalahkan.” ucap Eldric, menatap waspada monster yang sudah ada di depan matanya.

”Kau ini bicara apa?” Ayhner langsung menatap Eldric. ”... Tidak akan ada yang tahu, sebelum aku mencobanya kan? Lagi pula, aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri. Jadi, tugas seorang kakak adalah melindunginya, kan?” setelahnya, Ayhner kembali menatap monster di sana. Sementara, Eldric begitu terkejut mendengar ucapan Ayhner bahkan sampai tidak bisa mengatakan apa pun.

”Tunggu! Apa yang akan dilakukannya?” semua pasukan yang berada di belakangnya penasaran dengan apa yang akan dilakukan Ayhner saat dia berjalan mendekati monster dan bukan menjauhinya. Bahkan pasukan yang baru saja keluar dari pintu langsung terfokus pada sosok Ayhner di sana termasuk Gillsouth yang berada di barisan terdepan.

”Cih! Apa yang dilakukan orang bodoh itu!” batin Gillsouth, berdecak kesal melihatnya bertindak sesukanya.

Ayhner menyeringai, terus melangkah mendekatinya. Kakinya mulai menapak di atas cairan panas yang dibuat oleh monster tadi. Namun, itu tidak sampai melelehkannya sejak cahaya dan asap merah itu keluar dari dalam sepatunya. Tentu, tak ada yang bisa menjelaskannya secara nalar. Semua pasukan yang ada di sini menggunakan sejenis obat yang dibuat oleh Aaron untuk menambah kecepatan mereka. Tetapi, bagaimana Ayhner bisa melakukan itu tanpa memasukkan obat ke dalam tubuhnya. Kecuali, dia ternyata benar-benar objek percobaan yang dilakukan oleh profesor Edmund secara diam-diam.

”Hmm, bagaimana cara mengalahkan kalian? Peluru biasa bahkan tidak bisa menghancurkan tubuh kalian. Apakah mungkin, aku harus menggunakan cara yang luar biasa untuk mengalahkan kalian?” gumam Ayhner menatap ratusan mata monster yang juga sedang menatapnya. Rasanya seperti sedang diawasi kemana pun dia pergi dan seperti apa pun kondisinya saat ini.

Monster itu berusaha menyerang dengan ratusan tangan yang dimiliknya. Tangan-tangan itu memanjang dan mencoba menyentuh Ayhner agar dia jauh lebih dekat dengan mereka. Namun, tak ada satu pun yang berhasil menyentuhnya. Di sekeliling Ayhner, seperti ada sebuah dinding tembus pandang yang menghalangi pergerakan mereka. Mata kirinya yang berwarna merah, perlahan memancarkan warna kuning yang bersinar terang. Darah yang ada di dalam kelopak matanya juga ikut keluar, menyambut warna kuning yang menjadi perubahannya hari ini.

”Kebetulan sekali. Ada sesuatu yang ingin aku coba berkali-kali. Tetapi, tenagaku akan cepat terkuras jika melakukannya berkali-kali. Jadi, aku akan berusaha untuk melakukannya sekali saja.”

Ayhner mengambil sebuah senapan tempur milik seorang laki-laki yang sudah menyatu dengan monster ini. Dari tangannya muncul asap merah yang menerobos masuk ke dalam senapan yang sudah ada di tangannya. Senapan itu seperti diberi kekuatan olehnya untuk segera menghancurkan monster yang ada di depannya.

”Wanita itu, ternyata tidak ada di sini. Ku harap dia tidak berubah menjadi monster agar aku bisa menghancurkannya dalam wujud manusia.” Ayhner menutup mata kirinya yang terus berdarah. Sedetik kemudian, dia pun melepaskan pelurunya ke arah monster yang ada di hadapannya.

Peluru itu bergerak cukup cepat bahkan tak sampai terlihat oleh mata. Ketika peluru itu berhasil melubangi tubuh monster bahkan objek di belakangnya sampai terlihat, beberapa saat kemudian, monster itu meledak, berubah menjadi serpihan-serpihan daging yang berterbangan dan berjatuhan dari langit. Setengah dari wajah Ayhner, tertutupi oleh darah dari tubuh monster yang hancur di depannya. Yang ia pikir air telah menggenangi sepatunya namun, ternyata itu bukanlah air melainkan lumpur dingin yang tidak berbahaya.

Seluruh pasukan yang melihatnya merasa sangat terkejut akan hal itu. Mereka tidak percaya, satu peluru saja mampu membunuh monster yang sulit dikalahkan. Sementara Gillsouth tidak begitu terkejut karena kemarin, dia sudah cukup melihat semua ini. Ketika Ayhner menggunakan pistolnya untuk membunuh monster yang akan menyerangnya hingga menyebabkan dinding belakang mereka runtuh seketika.

”Jadi, itu yang dilakukannya kemarin?” batin Eldric memperhatikannya dengan serius. ”... Apa itu yang membuat Profesor Edmund ingin melenyapkannya dengan cepat menggunakan racun?”

”Apa yang kau lakukan di sana Eldric? Ayo kita pergi dari sini.” ucap Ayhner di posisinya yang sama.

Eldric sedikit terkejut. Dia hanya mengangguk sebagai jawaban kemudian melangkah mendekati Ayhner. Tetapi, saat dia melangkah, Gillsouth menahan pundaknya dari belakang sehingga itu membuatnya terhenti.

”Jangan mendekatinya. Ada sesuatu yang aneh darinya.” ucap Gillsouth sembari memperhatikan Ayhner dari belakang. Dia memang tampak baik-baik saja dari luar. Namun, tak ada satu pun yang tahu apa yang terjadi di dalam.

”Kapten Gill? Kenapa melarang ku mendekatinya?” tanya Eldric, mulai cemas dengan yang dilakukan Gillsouth sekarang.

Ayhner menoleh ke belakang begitu dia tidak melihat Eldric berdiri di sebelahnya. ”... Heh! Kenapa kau berdiri di sana? Kau melarangnya begitu hanya karena wajahku yang terlihat mengerikan?” ucapan Ayhner mengacu pada wajahnya sendiri yang berlumuran darah serta pakaiannya juga.

”Tidak! Bukan seperti itu.” jawab Gillsouth pelan kemudian dia mengacungkan senapannya ke arah Ayhner. Eldric yang mengetahuinya, langsung berdiri tepat di depan lubang senapan Gillsouth dan menghalanginya untuk tidak menebak Ayhner dengan senjatanya.

”Apa yang kapten lakukan? Mengapa ingin membunuh Ayhner?” tanya Eldric.

Ayhner tampaknya baru mengetahui kalau Gillsouth ingin membunuhnya. Dia pikir, Gillsouth hanya ingin mengancamnya saja dengan menggunakan senjata berbahayanya. ”... Kenapa tiba-tiba ingin membunuhku sekarang? Seharusnya kau melakukannya sejak dulu.”

”Monster!” Gillsouth bergumam dan suaranya mampu di dengar oleh Eldric dan Ayhner. ”... Kau adalah monster! Meski wujudmu tidak berubah, kekuatanmu dan gejala yang kau alami belakangan ini, itu semua adalah perubahan monster. Bahkan kau tidak menyadari kalau sejak tadi, hidungmu terus mengeluarkan darah.”

Setelah mendengarnya, secara refleks Ayhner langsung menyentuh bagian bawah hidungnya. Benar saja, terdapat darah yang mengalir dengan jelas di sana. Dia benar-benar tidak menyadarinya sejak tadi. Atau mungkin, dia tidak terlalu menghiraukannya karena terlalu fokus pada lawannya.

”Tidak! Ayhner bukan monster! Dia manusia!” Eldric berusaha meyakinkan Gillsouth.

Ayhner tak mengatakan apa pun. Dia terus saja mengalihkan perhatiannya dan mengabaikan peluru yang mungkin saja akan bersarang di tubuhnya. Tetapi, beberapa saat setelahnya, dia pun menyeringai, menatap Gillsouth dengan tatapan sinis. ”Begitu kah? Apakah sekarang ini, kau akan membunuhku hanya karena aku memiliki gejala-gejala yang mirip dengan perubahan monster?”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!