Episode. 4 - Peluru

Sama seperti yang terlihat saat ini. Ayhner sangat marah ketika nama Edmund di sebut-sebut oleh Ainsley. Tentu dengan melihat ekspresinya saat ini, Ainsley menjadi sangat tahu kalau ucapannya ini benar. Ayhner adalah anak laki-laki yang selamat dari semua percobaan yang dilakukan profesor Edmund di ruang rahasianya. Gillsouth mungkin tidak berbohong mengenai Ayhner yang mampu mengendalikan semua monster-monster ini.

”Jadi benar. Kau adalah orang yang bisa mengendalikan pikiran para monster di sini. Aku mulai curiga kalau virus ini bermula dari keberadaanmu di tempat ini. Jika aku membunuhmu, apakah kami bisa menghentikan semua kekacauan ini dengan meledakkan seluruh tempat yang ditinggali monster dan melupakan virus ini?” Ainsley tak ingin kalah. Dia juga mengacungkan pistolnya ke arah Ayhner dan bersiap untuk menembak.

”Bodoh sekali. Aku tidak ada hubungannya dengan virus yang menyebar di sini.” mata kiri Ayhner kembali berubah menjadi kuning dan mengeluarkan darah. Berselang beberapa detik setelahnya, muncul suatu getaran tanah yang mengejutkan para pasukan di sana. Dalam satu tarikan nafas, dari kejauhan sana muncul sesosok raksasa yang memiliki kaki dan tangan namun, bentuk tubuhnya sama sekali tidak mirip dengan apa pun. Tepatnya, lebih mengarah pada gumpalan daging yang berlarian untuk mencari kepalanya yang hilang.

”Ada musuh yang bergerak ke arah kalian loh. Sebaiknya, urus dia dulu sebelum kalian membunuhku.” Ayhner langsung berlari ke belakang, menghampiri Eldric yang bersembunyi.

”Berhenti! Jangan lari!” Ainsley berteriak. Dia melepaskan tiga tembakan dan Ayhner mampu menghindari dua peluru akan tetapi, peluru yang terakhir malah bersarang di bahunya. Dia tampak sedikit kesakitan dan tetap berusaha berlari sementara, monster yang dipanggil olehnya sudah menyerang seluruh pasukan yang ada di belakangnya termasuk Ainsley.

Ketika Eldric sudah berhasil diraihnya, dia segera tancap gas, pergi bersembunyi dari para pasukan yang meresahkan dirinya.

”Ayhner! Bahumu terluka. Kau seharusnya mengobatinya dulu agar darahnya tidak keluar terus.” ucap Eldric, berlari di belakang Ayhner.

”Jangan pedulikan soal ini. Yang terpenting, kita berhasil kabur dari kejaran mereka.” Ayhner meludah ke samping, membuang peluru yang keluar dari dalam tenggorokan dan mulutnya. Luka di tubuhnya akan sembuh perlahan tergantung seberapa besar luka yang dialaminya. Selain mampu mengendalikan pikiran monster dalam waktu yang sangat singkat, dia juga memiliki kemampuan regenerasi yang terbatas.

”Tapi, Ayhner. Sepertinya ada seseorang yang sudah menunggu kita di depan sana.” Eldric menatap ke depan karena dia melihat sosok pemuda yang berdiri di atas puing bangunan yang hancur. Orang itu hanya datang sendiri dengan senapan tempur yang sedang diarahkan pada mereka berdua.

Begitu Ayhner melihatnya, dia langsung berhenti melangkah dan menyempatkan diri untuk menatap siapa laki-laki yang sedang menghalanginya saat ini.

”Kau sudah mengendalikan para monster untuk mengurus mereka rupanya.” ucap Gillsouth dengan posisi bersiap menembaknya.

”Kau ingin aku melakukan cara yang sama padamu?” Ayhner mengacungkan pistolnya meski ia tidak yakin mampu mengalahkan senapan tempur milik Gillsouth.

”Aku yakin kau hanya bercanda. Kau hanya bisa mengendalikan pikiran mereka sekali saja. Jika lebih dari itu, kau mungkin akan mati dan orang yang ada di belakangmu, pasti akan merasa sangat kehilangan. Kau tidak ingin melakukannya, kan?” lanjut Gillsouth.

Ayhner menggigit bibirnya dan berdiri tegak kembali. Dia menurunkan pistolnya dan berkata pada Eldric, ”Apa pun yang terjadi, jangan lakukan apa-apa. Diam saja dan ikuti aku.”

”Tapi, Ayhner. Jika aku diam kau akan terluka oleh mereka.” ucap Eldric khawatir.

”Aku sudah bilang, tenang saja. Tidak akan terjadi apa-apa.”

Untuk sesaat, Ayhner terdiam dalam posisinya. Lalu, secara tiba-tiba dia melepaskan pelurunya ke arah Gillsouth dan berhasil membuatnya terkejut sekaligus menghindar dari serangannya. Tak menyia-nyiakan kesempatan ini, Ayhner segera menarik Eldric bersembunyi di salah satu gedung yang masih berdiri meski sedikit rapuh dan mudah hancur.

”Kau pikir bisa lari begitu saja?!” Gillsouth berteriak dan langsung melepaskan peluru senapannya. Peluru itu berhasil mengoyak daging dan kulit yang ada di paha Ayhner sebelum akhirnya, mereka berdua berhasil memasuki gedung tanpa hambatan apa pun lagi.

Hanya ada sedikit cahaya yang berhasil menembus dinding bangunan tua itu. Ada banyak pintu namun, suara-suara keberadaan monster itu terdengar jelas melalui langkah kaki mereka yang sangat berat. Jika salah memilih pintu, mereka mungkin akan bertemu dengan monster yang akan memakan mereka. Di tengah kebingungan itu, Eldric menariknya masuk ke dalam sebuah ruangan yang justru terlihat sangat gelap dan berbahaya. Sudah jelas ruangan itu adalah sebuah gudang yang hanya memiliki satu pintu masuk dan keluar.

”Bukankah ini terlalu dekat dengan pintu keluar? Si gila itu pasti akan langsung melihat ke sini.” celetuk Ayhner mengikutinya dari belakang.

”Iya tapi, di antara semua pintu di sini, aku merasa ada beberapa monster yang menunggu di dalam dan gudang adalah tempat yang sangat jarang didatangi oleh manusia.” ucap Eldric memperhatikan.

Ayhner berkedip heran beberapa kali. ”Ternyata, kau cukup teliti juga. Darimana kau belajar semua itu?”

Eldric yang merasa dirinya dipuji berlebihan merasa malu. Dia menggaruk kepala belakangnya dan menjawabnya dengan ragu, ”Aku hanya mengikuti apa yang Ayhner lakukan selama ini.”

”.....”

Ayhner tak mendengarnya dan malah berdiri di depan pintunya, terus mengawasi Gillsouth yang sudah datang menghampirinya. Kali ini dia benar-benar dalam bahaya. Sangat! Dalam bahaya! Kalau dia keluar, Gillsouth pasti akan segera menemukannya. Tetapi, kalau dia terus di dalam, bisa-bisa dia akan merasa sesak karena kekurangan udara.

”Apa sebaiknya, aku bunuh saja dia?” Ayhner memasang wajah seram sembari mengangkat kembali pistolnya dan mengeluarkan ujungnya dari balik celah pintu.

”Tunggu! Ayhner! Jika kau membunuhnya, para pasukan itu termasuk wanita tadi akan langsung membunuhmu di tempat.” ucap Eldric berusaha menasehati.

”Ini cuma sebentar. Kalau mereka sampai mencariku juga, aku tinggal melakukan hal yang sama pada mereka.” bisik Ayhner penuh kehati-hatian.

Ayhner mulai menekan pistolnya secara perlahan. Matanya terus tertuju pada Gillsouth yang berdiri di depan salah satu pintu. Namun, sesuatu membuatnya langsung mengalihkan tembakkannya.

Dari atas kepala Gillsouth, dia menemukan sebuah tentakel gurita yang sedang melaju kencang ke arahnya. Dengan cepat, Ayhner langsung menebak tiga kali pada tentakel itu hingga membuat Gillsouth sadar dan langsung menghindar.

”Cih! Aku salah tembak! Kenapa aku seperti mencoba menyelamatkannya?” batin Ayhner yang langsung ditatap dingin oleh Gillsouth yang menunggunya.

”Ayhner! Sesuatu terjadi di luar?” Eldric menghampiri dan melihatnya dari balik pintu.

Ayhner mengacungkan jempolnya dan menunjukkan senyumnya yang malah tampak ketakutan. ”Bersiaplah. Kita tidak hanya kejar-kejaran dengan manusia itu melainkan monster yang kemarin kita lawan.”

Belum sempat mengatakan apa pun, Ayhner langsung menarik Eldric keluar pintu gudang dan pergi ke halaman luar. Namun, saat dia berada di sana, monster tentakel yang sudah menunjukkan dirinya yang melekat di sudut ruangan langsung menembakkan tintanya yang mampu melelehkan semua benda termasuk tubuh manusia.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!