Saat ini Ayhner membayangkan dirinya berada di sebuah laboratorium. Dirinya diikat pada sebuah tempat tidur berjalan dan beberapa orang berjas putih sedang mengelilinginya dengan pisau dan jarum suntik yang mereka miliki. Tentu, bayangan ketakutan itu terlihat sangat jelas di kepalanya. Namun, saat itu Ayhner tidak bisa berteriak karena dipengaruhi obat.
”AAHHH!”
Ayhner terbangun tiba-tiba dari atas kasur yang sama. Dia tidak diikat sama sekali dan malah diberikan selimut. Ruangan putih itu mirip sekali dengan sebuah rumah sakit dengan peralatan seadanya bahkan bisa dibilang tidak lengkap. Aroma antiseptik tentu berada di mana-mana. Saat ini Ayhner berusaha menyesuaikan dirinya dan mengatur nafasnya kembali.
”Sepertinya kau baru saja mendapatkan bayangan yang buruk.” ucap Gillsouth yang ternyata sudah duduk di sebelah tempat tidurnya sejak tadi sembari membaca sebuah buku yang diduga novel horor.
Ayhner menoleh ke arahnya. ”Kenapa aku bisa ada di sini? Cepat pulangkan aku!” ketusnya.
Gillsouth menutup buku novelnya. Matanya masih tertuju pada bukunya yang letakkan di atas pahanya saat dia berkata, ”Mau pulang ke kemana? Ke tempat yang kau sebut mengerikan itu? Profesor Edmund?”
Ayhner seketika terdiam, menggigit bibirnya saat mendengar nama itu kembali. Dia ingin melawan. Namun, seluruh tubuhnya sakit setelah dijahit dan dimasukkan peluru yang cukup melimpah. Alhasil, dia memegangi perutnya dan juga dadanya yang kembali mengeluarkan bercak darah dari dalam tubuhnya.
”Sungguh sebuah keajaiban kau masih bisa bertahan hidup sampai sekarang.” Gillsouth menaruh bukunya di atas meja. ”... Sepertinya, tubuhmu itu sangat istimewa. Setelah menemukanmu tergeletak di tanah karena Ainsley melemparkan dua puluh peluru ke arahmu, aku pikir kau sudah mati. Tetapi, Aaron mengatakan kalau kau masih bernafas dan peluru yang bersarang di tubuhmu sudah keluar dengan sendirinya.”
Ayhner terdiam serius selama beberapa saat. Dia menurunkan kedua kakinya terlebih dahulu sebelum akhirnya berjalan pergi meninggalkan tempat tidurnya. ”... Makasih!” dia mengucapkannya tidak sepenuh hati sembari mengambil pakaiannya yang dilipat di atas meja yang berbeda.
”Aku lupa mengatakannya. Kau memiliki hutang nyawa padaku.” ucap Gillsouth memecahkan keheningan.
”Maksud?” tanya Ayhner tak percaya.
”Kau mungkin masih bisa bernafas. Tetapi, kau kekurangan banyak darah. Jika bukan karena ku, sekarang kau mungkin hanya meninggalkan namamu saja. Kau harusnya tahu kalau hutang itu harus di bayar sesegera mungkin.” Gillsouth menunjukkan pergelangan tangannya yang diperban.
Gillsouth melanjutkan, ”Tak ada darah yang sejenis dengan milikmu bahkan temanmu juga. Dengan memberikan darahku padamu, kau tidak sadar kalau usiaku sudah berkurang lima tahun?”
”Mana mungkin! Sejak kapan buang-buang darah menjadi tolak ukur sampai kapan kau bisa hidup!” bentak Ayhner tak percaya.
”Tenang saja. Aku mendapatkan kalimat itu dari novel yang aku baca.” Gillsouth menyentuh permukaan bukunya lalu berdiri menatap Ayhner serius.
”Lalu, dimana Eldric sekarang? Kau juga membawanya ke sini kan?!”
”Tentu saja. Anak itu tidak bisa melindungi dirinya sendiri saat kau tidak ada. Aku jadi penasaran, apakah kalian berdua berasal dari tempat yang sama? Sebenarnya, kemampuan apa yang kau miliki waktu itu? Kemapuan untuk menghancurkan tubuh monster dalam sekejap dan kemampuan untuk mengendalikan pikiran monster. Sepertinya, kau memang berasal dari tempat itu. Tempat yang menjadi awal mula virus ini muncul.” Gillsouth bertanya seolah sedang menginterogasi.
”Omong kosong apa yang kau bicarakan? Hanya anak kecil saja yang mempercayai fantasi seperti itu.” Ayhner mulai menatapnya serius.
”Lalu, bagaimana caramu menganggap semua bencana ini terjadi? Bagaimana bisa seorang manusia biasa berubah menjadi monster yang memakan segalanya dan bahkan membunuh sesamanya? Apakah itu adalah perubahan yang wajar? Apakah itu lebih mirip seperti bayi yang mulai beranjak dewasa?” Gillsouth mendekat hingga ujung hidungnya berjarak 30 senti darinya.
Ayhner terdiam selama beberapa saat, menatapnya dengan ekspresi yang sama. Tak lama dia menyeringai dan berkata, ”Tergantung seperti apa kau mengartikan apa itu monster yang sebenarnya. Orang baik akan berubah menjadi monster jika dia jahat. Apa yang membuat mereka menjadi monster yang tega memakan sesamanya? Bisa saja dia pernah dikhianati oleh orang terpercayanya atau mungkin tak pernah dihargai keberadaannya sama sekali. Lama kelamaan otaknya akan bingung dan hatinya akan menjadi liar lalu mati karena tersesat. Itulah monster yang ada di pikiranku. Monster yang memiliki wujud manusia lebih mengerikan daripada monster dengan wujud tak berbentuk.”
Gillsouth menatap Ayhner serius. Dia masih bisa menahan amarahnya sampai saat ini. Dia hanya perlu menarik beberapa tarikan nafas untuk membuang rasa kekesalannya. ”Baiklah, aku tidak perlu memanjang masalah yang satu ini.” dia menarik kursi lalu duduk di sana.
”... Katakan saja padaku, dimana letak ruang rahasia milik profesor Edmund.”
Lagi-lagi, seseorang menyebut nama itu di depannya. Tentu nama itu benar-benar membuat amarah Ayhner memuncak. Kesabarannya akan langsung habis apalagi, jika orang itu menanyakan tentang keberadaannya saat ini.
”Apa yang membuatmu berpikir aku akan mengatakannya? Jangan sebut nama itu jika kau tidak ingin mati.” Ayhner menatapnya serius. Mata merahnya yang menyala, membuat suasana suram semakin terasa.
Setelah mengancamnya dengan beberapa kata, Ayhner mengambil jubahnya lagi dan berjalan pergi meninggalkan ruangan putih. Di ambang pintu, dia sempat berpapasan dengan Aaron, laki-laki tinggi dengan rambut perak sebahu sebelum akhirnya dia benar-benar pergi dari ruangan.
”Bukankah dia laki-laki yang kau bawa tadi? Kenapa dia pergi begitu saja.” tanya Aaron, berjalan menghampiri Gillsouth di kursinya.
”Dia tidak benar-benar pergi. Dia mencari anak laki-laki yang bersamanya”
”Tapi, aku heran. Kenapa dia bisa menyembuhkan dirinya dengan cepat?” Aaron mulai berpikir.
”Kau pasti tahu tentang profesor Edmund yang hilang berpuluh-puluh tahun setelah eksperimennya dianggap remeh oleh rekan-rekannya yang lain.”
”Maksudmu tentang eksperimen kloning manusia?” Aaron mulai mengingatnya lagi. ”... Karena dianggap akan menambah jumlah populasi dan berdampak buruk pada manusia yang mungkin akan terjangkit penyakit misterius, eksperimen itu digagalkan dan dihancurkan sepuluh tahun lalu. Kemudian, profesor Edmund menghilang saat itu juga.”
”Itu dia masalahnya. Ledakan yang terjadi di tempatnya pasti yang membuat wabah ini terjadi. Semua bermula dari seorang arkeolog yang menemukan tulang belulang monster di sebuah hutan. Dia pasti memiliki tujuan ingin melenyapkan seluruh manusia yang ada.”
”Apakah tidak ada foto atau keterangan tempat ledakan itu terjadi? Kita tidak mungkin mencarinya tanpa informasi yang jelas.”
Gillsouth menghela nafasnya dan bersandar pada kursinya. ”Benar. Tidak ada foto atau pun alamat. Yang ada hanyalah keterangan waktu yang menunjukkan tanggal 15 April dan dua orang yang aku curigai berasal dari tempat profesor itu berada.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments