Episode. 3 - Wanita Baja

Besoknya.

”Eldric! Lihat! Ada polisi yang mati di sini!” Ayhner menatap sebuah tubuh laki-laki berseragam polisi yang masih memegang senjata api di tangannya. Ayhner tampak tak mempedulikan bau busuk dari mayat itu padahal, Eldric sudah memperingatkannya untuk tidak berani mendekati mereka yang sudah mati.

”Jangan ambil senjatanya. Katanya kalau seseorang mengambil benda peninggalan milik orang yang sudah mati, dia akan dihantui selamanya sampai dia mengembalikan benda itu kepada pemiliknya.” ucap Eldric dari kejauhan sembari menutup hidungnya. Saat ini, mereka masih berada di tengah puing-puing. Kebanyakan orang mati di sini karena tertimpa tembok bangunan yang runtuh.

”Darimana kau belajar kata-kata itu? Setidaknya kita punya sesuatu untuk melindungi diri.” Ayhner mengambil pistol yang ada di tangan laki-laki tadi dan mengambil seluruh isi peluru yang tersimpan di dalam kantong kecilnya. Tanpa mengatakan apapun lagi, Ayhner berdiri kembali dan berjalan menghampiri Eldric yang sudah menunggunya.

”Heh! Ayhner! Setidaknya kita kuburkan mayatnya sebagai ucapan terima kasih. Kalau dibiarkan, dia mungkin akan menghantuimu.”

”Lagi-lagi hal yang seperti itu. Kita akan melakukan apa saja demi bertahan hidup. Lagi pula, kau tidak ingin menjadi kotoran yang dibuang oleh monster yang memakanmu, kan?”

Eldric langsung menjawab, ”Tentu saja tidak! Aku hanya takut saja.”

”Lupakan saja! Baiknya kita segera pergi dari sini. Ada beberapa serangga yang mengawasi.” Ayhner merangkul pundak Eldric kemudian memaksanya berjalan pergi meninggalkan tempatnya.

Di sisi lain, sekelompok orang berjubah hitam tengah mengawasi mereka dari balik tembok bangunan dan salah satu dari mereka adalah seorang wanita bermata biru dan berambut hitam. Di sisi kanan dan kirinya setidaknya ada lima orang yang ikut dengannya.

”Dia sudah tahu kalau kita mengawasinya di sini.” ucap wanita, memperhatikannya dengan ekspresi serius. Mata birunya menyala tajam seperti meteor yang jatuh di malam hari.

”Bagaimana kita akan membawanya, wakil Ainsley?” tanya seseorang.

”Lakukan apa yang Gill katakan. Jika dia melawan, terpaksa kita harus menyakitinya.”

...~o0o~...

”Ayhner! Memangnya ada yang mengawasi kita? Mungkin itu hanya firasat mu saja.” ucap Eldric memperhatikan sekitar dengan penasaran.

”Ya, kemarin itu kau benar. Mereka mencariku. Sepertinya, aku membuat kesalahan besar sampai-sampai mereka semua harus repot mencariku yang terus berjalan tanpa arah.”

Eldric terkejut mendengarnya. ”S- soal kemarin, ya? Itu salahku. Maaf, Ayhner. Seharusnya aku bisa lebih berhati-hati. Akhirnya, kau terpaksa melakukannya untuk membuat monster itu bergerak mundur.” ucapnya dengan rasa bersalah.

Ayhner terkekeh, menatap ke atas seakan tak menghiraukan permintaan maaf Eldric untuknya. ”Aku hanya melakukan hal yang wajar dan membuktikan bahwa aku ini manusia. Lagi pula, aku juga tidak memiliki siapa pun selain kau saja.” Ayhner merendahkan ekspresinya, menolak untuk menunjukkannya pada Eldric.

Eldric yang mendengarnya merasa terharu. Baru kali ini, Ayhner akhirnya mengakui keberadaannya dan mengatakan hal bagus padanya. Dia langsung merangkul kedua pundak Ayhner dan berkata dengan sepenuh hati, ”Aku juga hanya memilikimu! Jadi, jangan mati dulu! ”

”Ahh! Hentikan! Jangan pegang-pegang!” Ayhner berusaha membanting Eldric ke depan. Namun, dia tidak pernah menyangka, tubuh kecil Eldric tidak sebanding dengan berat badannya. Padahal tingginya hanya 150 cm dan berbadan kecil. Tidak di sangka, dia memiliki berat sebesar 70 kg. Berbeda sepuluh kilo darinya.

”Dimana kau taruh lemak di tubuhmu? Tubuh seperti semut tapi berat seperti gajah.” ucap Ayhner heran, tetap berusaha membanting Eldric ke depan namun, dia tampak sangat kesulitan saat melakukannya.

”Heh! Bagaimana aku bisa seberat itu? Kita tidak makan sejak kemarin. Apel terakhir malah kau berikan pada orang yang menyelamatkan kita lalu, dibuang olehnya.” celetuk Eldric menatapnya datar.

”Sungguh, aku yang membuangnya? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya?” Ayhner berpura-pura lupa mengenai kejadian kemarin.

”Kau hanya berpura-pura lupa. Aku tahu itu sejak sepuluh tahun lalu. Jadi, kau tidak akan bisa menipuku lagi.” Eldric akhirnya melepaskan kedua tangannya dari pundak Ayhner.

”Ya sudahlah. Kemarin ya kemarin. Sekarang ya sekarang. Buat apa menyesali kejadian yang sudah terlanjur terjadi. Lagipula kita bukan Dora*mon yang memiliki mesin waktu.” ucap Ayhner, mengabaikan ekspresi kesal Eldric.

”Lalu, bagaimana kita akan mengisi perut sekarang? Kau bilang kita akan menemukan minimarket di dekat sini. Tapi, yang aku temukan hanya puing-puing bangunan tidak berguna. Kau ini senang sekali berdusta.”

”Aku tidak membohongimu. Aku hanya mengatakan apa yang terlintas dalam pikiranku. Untuk apa aku menyusun kata hanya untuk membohongimu saja? Sangat merepotkan. Sayangnya aku terlalu malas untuk melakukannya.” Ayhner langsung tertawa lepas, menatap Eldric dengan penuh ejekan.

”Itu artinya, kata-kata yang tadi, hanya sekedar untuk membohongiku saja? Kau tidak benar-benar mengatakannya sepenuh hati? Jadi, ini balasanku yang sudah mau mengikutimu sampai kemari?”

”Siapa yang memintamu untuk mengikutiku? Kau saja yang keras kepala! Sekarang kau baru menyesal karena berada di sisiku?” ucap Ayhner sedikit lebih keras.

Ayhner tiba-tiba melirik ke samping, merasa ada sesuatu yang sedang menatap mereka. Sementara Eldric tak mengerti mengapa sifat Ayhner berubah drastis seperti ini apalagi, dia sampai mengeluarkan pistol yang baru saja ditemukannya tadi.

”Kau mau melakukan apa dengan itu?” tanya Eldric heran.

Ayhner tertawa. ”Tidak apa-apa. Aku hanya ingin menguji seberapa kuat pistol ini digunakan. Ku pikir ini bukan pistol yang ditujukan untuk melindungi diri dari monster. Tetapi, untuk melindungi diri dari manusia.”

Tepat setelah mengatakannya, Ayhner langsung menghadap belakang dan melepas beberapa peluru ke arah orang-orang yang bersembunyi di balik reruntuhan bangunan. Ayhner sedikit asal saat melakukannya karena dia masih baru menggunakannya. Benar saja, tak lama beberapa pasukan itu keluar dari persembunyiannya dengan seorang wanita yang menjadi pemimpin mereka.

Dia masihlah wanita yang sama seperti tadi. Namanya adalah Ainsley, wakil dari kapten Gillsouth yang mereka temui kemarin.

”Pendengaranmu bagus juga. Tapi, kemampuan menembak mu sangat buruk! Lebih buruk dari anak TK.” cibir Ainsley, menatapnya sinis.

”Oh? Begitu? Sayang sekali, aku tidak tahu seperti apa anak TK yang kau maksud itu.” balas Ayhner.

”Ya, kau tidak akan pernah tahu karena kau dan laki-laki di sebelahmu, dibesarkan di satu ruangan putih. Kalian berdua adalah objek percobaan profesor Edmund. Jika kau dengan senang hati ikut denganku, akan ku pastikan kau bisa tetap hidup.” Ainsley mengajaknya berjabatan tangan. Namun, Ayhner tidak menunjukkan satu pun pergerakan.

Ayhner terlihat sangat marah ketika Ainsley menyebut nama Profesor Edmund dalam kalimatnya. Orang itu adalah orang yang sangat dibenci olehnya dan orang yang menyiksanya selama ini. Bahkan Eldric bisa merasakan kemarahannya saat ini.

”Eldric! Berlindung.” ucap Ayhner pelan yang langsung dimengerti oleh Eldric. Dia berlari dan bersembunyi di balik bongkahan batu sementara, Ayhner terus menatap tanah sembari memegang kuat pistolnya saat ini.

Gemetar kelihatannya. Dengan berani, dia mengacungkan pistolnya ke arah Ainsley dan menatapnya dengan sangat marah, ”... Jangan sekalinya kau berani menyebutkan nama itu di hadapanku.”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!