Hanya untuk memastikan mimpinya itu tidak terjadi, Ayhner pergi mengikuti jalan yang dilaluinya di dalam mimpi. Benar saja. Jalanan itu dipenuhi dengan lorong dan pintu-pintu yang sama. Pasti orang baru sepertinya akan sulit membedakan dimana letak pintu kamarnya. Ada juga pintu yang memiliki dua pasang. Biasanya tempat itu menjadi ruang berkumpulnya para pasukan atau tempat menyimpan berbagai senjata di dalamnya.
Ruangan pribadi milik Gillsouth berada tak jauh dari tempat ini. Dan beberapa menit setelahnya, dia pun sampai di depan sebuah pintu yang sama seperti yang ada di dalam mimpinya.
”Apa yang terjadi kalau aku masuk ke dalam? Kali ini firasat ku benar-benar buruk! Kalau mimpi itu menjadi kenyataan, semua orang yang ada di sini akan mati.” batin Ayhner yang ragu meski dia sudah berdiri di depan pintu. ”... Ahh! Apa yang aku pikirkan sih! Apa peduliku dengan orang-orang di sini?!”
Tanpa memikirkannya lagi, Ayhner segera membuka pintunya dan melangkah masuk ke dalamnya. Matanya langsung menatap ke arah Gillsouth yang sedang duduk di kursinya yang berada tepat di depan sebuah meja yang cukup lebar. Keduanya saling menatap. Gillsouth juga tak mengerti mengapa Ayhner pergi ke ruangannya di pagi hari seperti ini. Namun, yang membuat Ayhner semakin terpikirkan adalah terdapat botol air mineral yang berada di atas mejanya.
”Aku tidak tahu apakah air itu terdapat racun di dalamnya atau tidak. Aku harus menghirup aromanya untuk memastikan.” batin Ayhner sembari menggigit bibirnya.
”Apa yang kau lakukan di sana? Kalau ingin keluar, keluar saja dan tutup pintunya.” ucap Gillsouth dingin sembari meraih botol minuman yang ada di sebelahnya.
Melihat hal itu terjadi, Ayhner langsung berlari dan mengambil botol itu darinya sehingga membuat Gillsouth cukup terkejut. Dia langsung memberikan tatapan tajam dan berkata, ”Apa yang sudah kau lakukan?”
Ayhner terkejut melihat hal yang baru saja dilakukannya. Jelas tidak sopan namun, dia tetap harus memastikannya. Dia menarik senyum penuh keraguan dan berkata, ”Setiap hari itu membosankan. B-bagaimana kalau kita memulai permainan?”
Tatapan Gillsouth semakin dingin dan membuat merinding sampai membuat ginjal bergetar. ”Kau pikir berapa usiamu sekarang? Apakah pantas orang dewasa sepertimu masih ingin bermain di tengah situasi seperti ini?”
”Ayolah. Terlalu serius di situasi mencekam seperti ini bisa membuatmu depresi. Bagaimana kalau bermain sebentar dengan mempertaruhkan harga dirimu?” Ayhner mulai membuka tutup botol setelah itu dia melemparkan seluruh isinya ke arah Gillsouth tanpa melakukan aba-aba. Gillsouth yang mendapatinya, secara refleks langsung mengambil sebuah buku tebal dan menutupi wajahnya. Air itu menyembur dan tepat mengenai sampul buku tebal yang menutupi wajahnya.
Saat air itu keluar, Ayhner menunjukkan ekspresi sedikit terkejut. Benar saja, air itu memiliki aroma yang sedikit berbeda sampai-sampai Gillsouth tak akan menyadari kalau air minumnya telah diracuni menggunakan sianida dosis tinggi.
”Jadi, ini yang membuatnya mati keracunan. Untung saja aku belum terlambat. Kalau tidak, wanita itu pasti akan langsung membunuhku.” batin Ayhner memikirkannya dan memperhatikannya.
BUGH!!!
Buku yang sudah dibasah karena air, dilempar dan tepat mengenai wajah Ayhner. Setelahnya, buku itu terjatuh ke lantai dan Ayhner menatap Gillsouth dengan jengkel begitu juga yang ditunjukkan oleh Gillsouth saat ini.
”Apa yang kau lakukan dengan melemparkan buku setebal itu ke arahku?!” bentak Ayhner.
Gillsouth membalas, ”Justru akulah yang seharusnya bertanya! Mengapa kau membuang-buang air yang sangat berharga! Kau tidak tahu betapa sulitnya untuk mendapatkan air?!”
”Ahh! Dia tidak tahu kalau aku sudah menyelamatkan nyawanya. Dasar bodoh karena dia tidak menyadari sianida yang sudah tercampur dalam minumannya.” batin Ayhner menahan kekesalannya kemudian berkata, ”... Aku bilang aku hanya ingin memulai permainan denganmu kan? Jadi untuk apa menjelaskannya padamu? Lagipula, kau juga tidak perlu marah. Jangan marah kalau wajahmu semakin bertambah tua mereka kebanyakan marah!”
Dengan cepat, Ayhner segera berbalik membelakanginya dan melangkah keluar pintu. Ketika dia telah membuka pintu dan berdiri di sana, dirinya berhadapan langsung dengan sosok wanita yang seharusnya sudah dikenalnya. Jelas sekali, dia sangat membenci Ainsley dan seseorang tidak perlu menanyakan hal tentang ini.
Dengan cepat Ayhner langsung mengambil langkah ke samping untuk pergi. Namun, Ainsley menahan tangannya dan membuat tatapan dingin terhadapnya.
”Mau kemana? Kau harus membereskan semua kekacauan yang kau buat di sini.” ucap Ainsley.
Ayhner menatapnya malas. Dia sangat benci wanita ini. Bagaimana pun juga, dia tidak akan melupakan Ainsley yang sudah membunuhnya meski hanya terjadi di dalam mimpinya. Setidaknya, mimpi itu tidak benar-benar menjadi kenyataan.
”Bersihkan saja sendiri!” Ayhner langsung menarik tangannya dan berlalu pergi meninggalkannya.
Ainsley yang kesal, hendak untuk mengejarnya. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti saat Gillsouth berkata dari dalam ruangan, ”Biarkan saja dia pergi dan kemarilah. Ada sesuatu yang aku ingin kau lakukan.”
...~o0o~...
”Huh! Untuk apa repot-repot menjadi orang baik. Orang baik akan mudah dilupakan dari orang jahat. Sepertinya, aku terlalu meremehkan wanita itu. Ku harap dia segera pindah ke tempat lain.” gumam Ayhner di sepanjang perjalanan.
Koridor ruangan terlihat sangat sepi. Tak ada seorang pun yang melintas di sana kecuali seorang laki-laki berambut pendek dan berwarna hitam yang sedang melintas berlawanan dengannya.
Laki-laki itu memiliki tatapan dingin dan mata yang berwarna merah semerah darah. Saat keduanya berpapasan, Ayhner menyadari senyum seringai yang ditunjukkan oleh laki-laki itu. Senyum yang dipenuhi dengan maksud tersembunyi dan sebuah rencana yang akan dilakukannya nanti. Namun, Ayhner tak begitu memikirkannya dan memilih untuk tetap diam, mengabaikannya.
”Bagaimana kabarmu, Ayhner Leory.” ucap laki-laki.
Ayhner yang terkejut langsung menoleh ke belakang. Namun, dia tidak menemukan keberadaan laki-laki itu di belakangnya maupun di depannya. Matanya sudah menyoroti seluruh tempat namun, dia tidak menemukan sosok yang tepat.
”Orang tadi? Siapa dia?” Ayhner kembali menatap ke belakang dengan ekspresi cemas sekaligus memikirkannya. Dia penasaran mengapa orang itu mengetahui nama belakangnya padahal dia tidak pernah memberitahunya. Bahkan pada profesor Edmund dan Eldric sekali pun.
”Apakah ada sesuatu yang aku lupakan?” batin Ayhner.
”Ayhner! Ayhner!”
Suara anak laki-laki itu terus memanggilnya dari belakang. Dengan cepat Ayhner langsung menatap ke arah suara dan dia melihat Eldric yang sedang berlari ke arahnya. Dia sempat bingung selama beberapa saat. Apa mungkin laki-laki tadi hanya bangunan dari halusinasinya saja?
”Ayhner. Apa yang kau lakukan di sini? Aaron bilang kau tidak mengatakan kemana kau akan pergi.” Eldric berdiri di depan Ayhner yang memasang ekspresi kosong.
”Ahh, tidak ada. Ayo kita kembali.” Ayhner memulai langkahnya dan pergi tanpa mengatakan apapun.
Sementara itu, laki-laki yang baru saja berpapasan dengan Ayhner, tengah berdiri di sisi ruangan dan memperhatikannya dari jauh. ”Aku pasti akan bertemu denganmu lagi, Ayhner Leory.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments