Episode. 18 - Menunggu Petunjuk

”Kapten Gill! Kapten!” seru Eldric sembari berlari menghampiri Gillsouth yang baru saja berjalan keluar ruangannya bersama dengan Ainsley di belakangnya.

Mendengar suaranya membuat Gillsouth langsung menoleh ke arahnya dan bertanya, ”Ada apa?”

Wajah Eldric terlihat pucat sekaligus dipenuhi dengan kekhwatiran setelah dia melihat keadaan Ayhner saat ini. Nafasnya yang terengah-engah, bukan karena dia terlalu banyak berlari. Melainkan karena dia terlalu banyak berpikir hingga itu membuat dirinya mudah sekali lelah.

Dengan penuh kecanggungan, Eldric berusaha untuk berkata, ”Tentang profesor Edmund, a- aku akan menjelaskannya pada kalian. Sebenarnya aku dan Ayhner berasal dari tempat itu. Ayhner tinggal di sana satu tahun lebih lama dariku. Jadi, tidak banyak yang aku ketahui alasan mengapa profesor Edmund ingin meneliti tubuh monster yang ditemukan di dalam tanah.”

Gillsouth yang terdiam selama beberapa saat kemudian bertanya, ”Kenapa tiba-tiba kau ingin mengatakannya? Apakah ada sesuatu yang mendesak mu?”

Eldric sedikit terkejut. Dia bingung bagaimana mengatakannya dan terus melirikan matanya ke kiri. Keheningan terjadi selama beberapa saat sampai akhirnya dia melanjutkan, ”... Tentang racun yang ada di tubuh Ayhner. Aku pikir, aku harus menemukan penawarnya pada profesor Edmund. Tapi, untuk pergi ke sana, aku terlalu takut dengan monster-monster itu.”

Gillsouth terdiam memperhatikan. Sementara, Ainsley memberi isyarat untuk segera pergi. Dia tahu apa yang ingin Ainsley katakan saat ini. Ainsley mencoba untuk mengatakan agar dia tidak mendengarkan dan percaya dengan apa yang dikatakan Eldric. Dia masih belum menerima keberadaan mereka berdua dan juga masih membencinya. Semuanya jelas terlihat dari tatapannya yang tak menyukai keberadaannya.

Pada akhirnya Gillsouth hanya membuang nafas kemudian berkata, ”Katakan padaku, apa yang kau ingat tentang tempat itu? Dimana letak keberadaannya, seperti apa wajah profesor Edmund saat itu dan berapa banyak orang yang bekerja di sana?”

Ainsley tampak terkejut dan langsung bertanya, ”Gill! Apa yang kau lakukan?! Tinggalkan saja anak ini!”

Gillsouth langsung berkata, ”Diam Ainsley! Setidaknya kita harus mendengarkan penjelasannya.” Gillsouth memberi jeda, menatap Ainsley yang langsung terdiam kemudian berkata kembali pada Eldric. ”... Jelaskan ucapanmu tadi.”

Eldric mengangguk. Ketika dia akan menjelaskannya dan baru saja membuka mulutnya, seseorang langsung menutup mulutnya dari belakang hingga membuat Eldric tampak sedikit terkejut.

”Wahh, ternyata kau di sini. Padahal aku sudah mencarimu kemana-mana.” ucap Ayhner yang muncul di belakang Eldric. Sebenarnya dia tahu kalau Eldric mengikutinya dari belakang saat akan pergi ke toilet. Eldric pasti sudah tahu seberapa mengerikannya racun yang menyala di tubuh Ayhner saat itu. Jadi, dia langsung mengikutinya begitu dia selesai berurusan dengan laki-laki bermata merah tadi.

”A- Ayhner? Kenapa kau bisa sampai di sini?” tanya Eldric yang langsung melepaskan tangan Ayhner dan menatapnya.

Ayhner mengalihkan perhatiannya sebelum dia menjawab, ”Aku rasa, aku tidak ingin melewatkan penjelasan mu mengenai keberadaan profesor Edmund saat ini. Hmm, tapi aku rasa itu akan sangat membosankan. Bagaimana kalau kita berjalan-jalan keluar menghirup udara segar? Mungkin ada sesuatu yang kita temukan di sana.” ucapnya sembari menunjukkan senyum mengajaknya lalu menariknya pergi.

”Tunggu sebentar, Ayhner! Bagaimana dengan racunnya?” Eldric berusaha menahan Ayhner untuk tidak bergerak.

Ayhner menoleh ke arahnya. Dia menatap Eldric dengan bingung dan bertanya, ”Racun? Apa maksudmu? Aku baik-baik saja.”

”Apanya yang kau maksud baik-baik saja? Bukankah kemarin, keadaanmu semakin parah?” Eldric berkata dengan penuh kecemasan.

”Ahh, soal itu. Lupakan saja. Sekarang aku sudah baik-baik saja. Ayo kita pergi dari sini.” Ayhner mulai menarik Eldric lalu berjalan pergi. Namun, langkahnya langsung terhenti saat Gillsouth berkata, ”Berhenti!”

Keduanya langsung menoleh ke arah Gillsouth dan Ainsley yang masih menunggu. Mereka berdua menampilkan wajah serius, seperti tak pernah santai sebelumnya. ”... Kau baru saja bertemu dengan seseorang? Apakah itu penyusup?” lanjut Gillsouth. ”... Eldric mengatakan kalau dia ingin memberitahu siapa profesor Edmund dan dimana letak laboratoriumnya. Sampai kapan kau mau menyembunyikannya?”

Ayhner terdiam untuk beberapa saat. Sementara Eldric menampilkan wajah bersalah. Sebenarnya Eldric ingin mengatakan yang sesungguhnya. Namun, tidak di depan Ayhner seperti ini.

Tak berselang lama, Ayhner mulai tertawa pelan seperti sedang merendahkan. Tatapannya sinis, menatap mereka berdua kemudian berjaya, ”Kalian tidak tahu saja bahaya apa yang menunggu kalian jika pergi ke tempat itu. Kalau kau tidak ingin menyesal karena kehilangan semua rekanmu, sebaiknya jangan pergi dan tetaplah di sini.” setelah itu, Ayhner benar-benar pergi meninggalkan mereka berdua bersama dengan Eldric.

Ucapan Ayhner, jelas-jelas membuat Ainsley sangat marah. Dia menggeram kesal dan menahan keinginannya untuk segera membunuhnya. Dia mungkin akan melakukannya secara diam-diam saat Gillsouth tidak ada bersamanya.

”Anak itu pasti akan ku bunuh!” gumamnya kesal.

Gillsouth yang terdiam selama beberapa saat kemudian berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan. ”... Ayo pergi, Ainsley. Kita tidak punya banyak waktu.”

Ketika keduanya memutuskan untuk pergi, muncul suara dentuman dan getaran seperti sebuah langkah kaki yang besar. Tentu ini membuat semua orang terkejut termasuk mereka berdua. Orang-orang yang siaga di depan, langsung memasang senjata mereka begitu mendengar suara ini.

Suara langkah yang terdengar abnormal. Berbeda sekali dengan langkah monster-monster yang biasa mereka temui.

Tepat di depan markas besar mereka, suara langkah itu semakin dekat. Lalu, tidak lama setelahnya, muncul sesosok monster tak berbentuk dengan ratusan tangan, kaki dan wajah manusia yang seperti menyatu di dalam tubuhnya. Monster itu berjalan dengan ratusan kaki manusia normal yang ada di bawah tubuhnya. Dia juga memiliki mulut dimana-mana dan yang paling besar, berasa tepat di tengah-tengah tubuhnya.

”Monster apa itu? Mengapa bentuknya aneh sekali?” gumam seorang penjaga yang langsung gemetar ketakutan saat melihatnya meskipun di tangannya sudah ada sebuah senapan tempur.

”Yang kau lihat itu tetaplah monster. Sepertinya, monster itu adalah sekelompok tahanan yang terjebak di sel penjara saat virus monster menyebar. Lalu, saat semuanya sudah terinfeksi, tubuh mereka menyatu sehingga mereka menjadi besar seperti ini.” ucap Ayhner yang muncul tiba-tiba tepat di sebelah pasukan tadi.

”Kau! Si pengendali monster itu?” dia begitu terkejut melihat Ayhner yang sedang menatapnya.

Ayhner langsung menatapnya jijik sembari berkata, ”Apaan sih! Menjijikkan! Dilihat-lihat, aku ini cuma orang biasa.”

”Ayhner! Monster itu semakin dekat.” celetuk Eldric sembari berlindung di belakang Ayhner.

”Tunggulah di sini. Jangan lakukan apa pun. Dan semua orang yang ada di sini, jangan ada seorang pun yang melemparkan peluru atau bergerak mendekatinya jika kalian tidak ingin menyatu bersama mereka.” ucap Ayhner.

”Beraninya kau memerintah kami! Memangnya kau ini siapa?!” teriak seseorang yang langsung berjalan mendekatinya dan memberikannya tatapan sinis karena tidak menyukainya.

Ayhner menyeringai dan berkata, ”Kau ingin menyerangnya? Silahkan saja. Tetapi, jangan ajak yang lain.”

”Cih! Kau hanya bisa menggertak saja!” laki-laki itu semakin kesal. Dia menyuntikkan dirinya sendiri menggunakan jarum suntik yang berisi obat yang sama dengan milik Gillsouth. Obat itu, bisa meningkatkan kemampuan seorang manusia. Tentu dengan efek samping yang tidak main-main jika orang itu menggunakannya secara berlebihan.

Orang itu segera menyiapkan senapannya dan akan segera menembak monster yang sedang berjalan pelan di hadapannya. Beberapa detik sudah terlewati dan monster itu semakin dekat. Saat itu juga, orang itu segera melepaskan beberapa pelurunya ke arah monster hingga meninggalkan lubang di tubuh monsternya.

Berpikir kalau monster itu akan segera mati, nampaknya dia hanya bisa berhayal saja. Monster itu malah mengamuk dan membuka mulut besarnya. Lidahnya keluar dan memanjang seperti kadal. Beberapa saat setelahnya, lidah itu kemudian bergerak cepat menyambar tubuh laki-laki di depannya. Beruntungnya dia berhasil menghindar. Namun, keberuntungannya ini tidak berlangsung lama.

Tanah yang dipijaknya seketika menjadi lembek seperti lumpur hidup. Laki-laki itu segera menatap ke bawah dan dia begitu terkejut, melihat sebuah lelehan tubuh manusia yang menarik masuk dirinya ke dalam tanah.

”Benda apa ini?! Panas sekali!” laki-laki itu tampak panik dan berusaha untuk melepaskan dirinya. Tetapi, sebanyak apapun dia bergerak, lelehan itu terus menenggelamkan dirinya ke dalam tanah.

”Nah, sudah kukatakan dari awal kan? Bandel sih!” celetuk Ayhner tidak peduli sembari menontonnya dari belakang sementara laki-laki itu terus berteriak kesakitan karena tubuhnya perlahan meleleh dan menyatu dengan monster itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!