Episode. 14 - Mimpi

Hari itu adalah hari biasa. Ayhner tidak tahu jam berapa dia bangun tidur. Dia sama sekali tidak melihat jam yang menggantung di dinding maupun yang digelangkan pada tangan seseorang. Markas para pembasmi saat ini tampak ramai dengan pakaian bebas yang selalu mereka pakai di hari-hari bersantainya. Ada banyak suara yang tercipta. Dan saking banyaknya, Ayhner merasa suaranya tidak akan terdengar jelas meski lawan bicaranya sudah berada tepat di depannya.

Ruangan ini memiliki begitu banyak lorong dan ruangan. Sebagian besar ruangan difungsikan sebagai kamar dengan dua kasur tingkat di dalamnya serta beberapa yang lain diperuntukkan untuk tempat berkumpul. Biasanya, ruangan yang dipakai untuk berkumpul jauh lebih luas dari kamar mereka. Wajar sih. Tak ada satu pun orang yang mau berhimpitan dengan orang-orang yang lain. Apalagi kalau mereka sampai menghirup aroma keringat mereka setelah latihan yang berat.

Ayhner tidak lagi mengingat kejadian setelah dia bertemu dengan laki-laki yang sudah meracuninya lalu setelah itu dia pun pingsan tanpa mengatakan apa pun lagi. Dia juga belum bertemu dengan Eldric yang selalu menemuinya dan mengandalkannya di tiap detiknya.

Tapi, sekarang ini kemana perginya dia?

Saat ini Ayhner tersesat karena terus berjalan tanpa arah dan tanpa melihat ke depan. Semua orang yang berada di sekitarnya seolah tidak menganggapnya ada. Mereka sama sekali tak menatapnya maupun bertanya tentang keberadaannya di markas rahasia mereka. Rasanya seperti hantu yang sudah berkeliaran kemana-mana namun, sia-sia karena tak ada seorang pun yang melihatnya.

Ayhner berhenti tepat di depan dua buah pintu yang saling tertutup. Pintu ini menjadi pintu yang paling besar dan paling berbeda dari pintu yang lain. Sesuatu, membuatnya langsung bergerak untuk membuka pintunya.

Tetapi, saat dia baru saja menyentuh gagang pintunya, dia mendengar suara batuk yang cukup keras dan orang ini seperti berusaha mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuhnya.

Karena terus terpikirkan, Ayhner segera membuka pintunya. Benar saja dugaannya. Di atas sebuah meja yang cukup luas dan sebuah kursi yang terlihat tak biasa meski hanya terbuat dari kayu, Ayhner melihat sosok Gillsouth yang sedang memuntahkan begitu banyak darah setelah dia meminum sebuah air mineral yang sengaja diletakkan di atas meja.

Terkejut melihatnya, Ayhner segera berlari menghampirinya dan melihat keadaannya. Namun, dia sudah sangat sangat terlambat. Gillsouth sama sekali tidak bernafas. Air mineral yang tumpah di atas lantai menimbulkan aroma tidak biasa pada hidung Ayhner yang memiliki penciuman cukup tajam.

”Air ini sudah diracuni!”

Pintu kembali terbuka dan kali ini, Ainsley bergerak maju untuk melihatnya. Dia dan beberapa orang di belakangnya terkejut bukan main, melihat Ayhner yang sedang memegang sebuah botol berisi air mineral dan Gillsouth yang terbaring di lantai dengan mata terbuka dan mulut mengeluarkan darah.

Ainsley adalah wanita yang tak ingin mendengarkan penjelasan apa pun ketika orang tersayangnya disakiti bahkan sampai dia meregang nyawa seperti yang terjadi di depannya. Karena itu, dia langsung memasang senapan tempurnya ke arah Ayhner.

”Tidak tahu diri! Kau telah membunuh kapten Gill padahal dia sudah menyelamatkanmu!” bentak Ainsley penuh amarah yang membakar otaknya.

”Dengarkan aku dulu! Ini semua bukan salahku! Seseorang menaruh racun ke dalam minumannya dan itu yang membuatnya seperti ini!” Ayhner berusaha menjelaskan.

”Siapa yang membutuhkan penjelasan mu saat ini?! Cepat! Kau susul kapten Gill!”

Sedetik kemudian setelah Ainsley mengatakan kalimatnya, dia segera melepaskan pelurunya yang tidak sempat dihindari oleh Ayhner. Pada akhirnya, peluru itu tepat mengenai jantungnya dan membuatnya mengalami pendarahan yang cukup hebat. Lebih parahnya lagi, saat Ayhner terjatuh, dia melihat Eldric berdiri di barisan belakang para pasukan. Tatapannya sangat terkejut. Matanya melotot seperti ingin keluar dari tempatnya.

Eldric sangat marah dan sedih. Perasaannya menjadi campur aduk saat dia melihat kejadian itu terjadi tepat di depan matanya.

Lalu, saat Ayhner merasa tubuhnya telah terjatuh di atss lantai, dia melihat beberapa kaki serangga laba-laba raksasa yang menerobos masuk, melewati atap ruangan dan semua kaki-kaki itu, memiliki ujung yang sangat tajam sampai menembus kulit dan daging Ainsley bersama dengan beberapa pasukannya. Ayhner melihat darah berada dimana-mana. Monster itu mengamuk dan memakan semua manusia yang ada di sana.

”Tidak Eldric, tahan amarahmu.”

”... Tidak,...”

HAHHH!!!

Ayhner terbangun dalam keadaan sangat terkejut dan berkeringat banyak. Yang pertama kali dilihatnya adalah sebuah jam dinding yang terpasang tepat di dinding putih, depan tempat tidurnya. Jam itu menunjukkan pukul tujuh pagi. Beberapa detik setelahnya, barulah dia menyadari kalau semua itu hanyalah mimpi buruk yang dialaminya. Tetapi, entah mengapa firasatnya benar-benar buruk.

Aroma antiseptik yang tercium dimana-mana, membuat Ayhner langsung tahu kalau saat ini dia sedang berada di ruang perawatan milik Aaron. Ini adalah ketiga kalinya dia masuk ruangan ini. Meski begitu, dia tampak sangat bosan karena selalu mendarat di tempat ini sehabis terluka parah.

”Syukurlah, hanya mimpi.” Ayhner mengusap-usap dahinya dan berpikir selama beberapa saat. Pandangannya menuju ke bawah dan melihat Eldric yang sedang meringkuk di atas tempat tidur dan duduk di kursinya. Eldric tampak sangat mengantuk. Melihatnya saja, membuat Ayhner mengingat kembali kejadian yang muncul dalam mimpinya.

”Oh? Ayhner. Kau sudah baikan?” Aaron berjalan mendekat setelah dia beristirahat di ruangannya.

Ayhner menatap Aaron laku bertanya, ”Apa yang terjadi?”

Aaron sedikit terkejut lalu menjawab, ”Soal itu, sepertinya racun yang ada di dalam tubuhmu kembali menyala. Dan kau juga terlalu banyak menggunakan kekuatanmu sehingga tubuhmu berada pada titik terlemah hingga kau tidak bisa melakukan apa pun bahkan untuk membuka mata. Untungnya kapten Gill segera memapahmu dan membawamu kemari. Tentu dia datang bersama Eldric yang menghampiri kalian berdua beberapa menit setelah kalian bertemu dengan laki-laki itu.”

”Apakah dia tidak tidur semalaman?”

”Tentu. Anak ini terus saja bertanya, kapan kau sadar lalu, menunggumu sepanjang malam hingga akhirnya dia tertidur. Sepertinya akan sulit untuk membangunkannya.”

Ayhner terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya dia menurunkan kakinya dari atas tempat tidur.

Aaron yang memikirkan keadaannya langsung berkata, ”Sebaiknya jangan turun dulu. Aku akan segera memindahkan Eldric ke tempat tidur.”

”Tidak perlu! Aku baik-baik saja. Pindahkan Eldric sekarang ke tempat tidur dan jika dia sudah bangun, katakan padanya aku baik-baik saja.” celetuk Ayhner. ”... Aku akan pergi sebentar. Ada sesuatu yang harus ku urus.”

”Kau yakin baik-baik saja? Apakah racunnya tidak menyala lagi?”

”Aku rasa tidak. Aku baik-baik saja. Aku bisa berjalan sendiri. Katakan pada kapten kalian, terima kasih. Sebentar lagi aku akan pergi.” setelahnya Ayhner segera berjalan keluar ruangan meninggalkan mereka berdua.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!