Toilet berada tidak jauh dari ruang makan. Ayhner berjalan dengan sempoyongan sembari menutup mulutnya sekuat tenaga dengan telapak tangannya. Kali ini wajahnya tampak pucat meski darah masih terus mengalir dalam tubuhnya. Dia menghalau semua orang yang berusaha menanyakan keadaannya dan mendorong semua orang yang berusaha menahannya.
Sampainya di salah satu wastafel, Ayhner langsung memuntahkan seluruh isi perutnya. Dia tidak menyangka perasaan sakit itu akan datang kembali dalam kejadian yang berbeda. Tubuhnya benar-benar menolak untuk diisi cairan dan makanan apa pun. Semuanya lumpuh. Tidak bisa digunakan lagi. Kini, dia mengerti apa maksud laki-laki itu saat dia mengatakan untuk menikmati sisa hidupnya yang akan dipenuhi dengan penderitaan.
”Apa aku terlalu meremehkannya? Cih! Seluruh tubuhku mati rasa. Racunnya benar-benar bekerja. Untungnya aku tidak begitu percaya saat Aaron bilang kalau dia berhasil menjinakkan racunnya.” batin Ayhner, sembari menatap wajahnya yang terpantul di dalam cermin.
Dia menarik nafas beberapa kali lalu mengeluarkannya lagi. Tangannya meremas pinggiran wastafel. Rasa mual itu muncul kembali di dalam perutnya yang terus menolak untuk bekerja. Pada akhirnya, dia kembali memuntahkannya lagi ke dalam wastafel dan semua itu tidak berhenti selama beberapa saat.
Namun, sangat disayangkan. Dia tidak tahu kalau Eldric tengah berdiri di sisi yang lain. Tepat di samping pintu toilet, jelas-jelas dia mendengar suara Ayhner yang sedang muntah-muntah. Ayhner berpikir dengan cara menyalakan keran wastafel akan meredam suara keras dari mulutnya. Tetapi, semua itu tidak berlaku bagi Eldric yang sudah menyadarinya sejak awal.
”Aku harus menemukan penawarnya. Ayhner pasti sangat kesakitan saat ini. Tidak ada cara lain selain memberitahu kapten Gill mengenai semua yang aku tahu tentang laboratorium profesor Edmund.” pikir Eldric sembari menyakinkan dirinya sendiri.
Ketika keputusannya sudah bulat tanpa ada sudut yang membuat keputusannya belok, dia langsung berlari pergi meninggalkan Ayhner di dalam toilet. Namun, saat dia hendak pergi ke sisi lorong yang lain, tanpa sengaja dia menabrak sosok laki-laki yang sedang berjalan berlawanan dengannya.
Alhasil, langkahnya langsung berhenti dan mundur begitu dia telah menabraknya cukup keras. Eldric tak berhenti menyentuh dahinya sampai laki-laki itu berkata, ”Hei, nak? Kau baik-baik saja?”
Eldric terkejut mendengar suara lembut seperti seorang Ayah. Dia langsung mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang telah berdiri di hadapannya.
Sepasang mata merah seperti darah, menyala tepat di tengah kegelapan. Warna rambutnya yang juga berwarna merah, membuatnya tampak mencolok begitu juga pakaian hitamnya yang merupakan seragam para pembasmi monster.
”M- maaf! Aku tidak sengaja menabrakmu.” Eldric langsung meminta maaf meski dia sedikit canggung saat melakukannya. Dia tampak penasaran dengan sosok laki-laki yang berdiri di depannya. Dia seperti mengenal seseorang yang memiliki wajah hampir mirip dengannya. Namun, dia tidak pernah bisa membandingkan wajah laki-laki ini dengan wajah milik Ayhner.
”Lain kali berhati-hatilah. Kalau kau butuh bantuan, mintalah pada orang di sekitarmu.” laki-laki itu menunjukkan senyum hangatnya sembari mengusap kepala Eldric sebelum akhirnya dia melangkah pergi meninggalkannya.
Eldric merasa cukup terkejut melihat sosok yang baru saja dilihatnya siang ini. Bagaimana bisa dia melihat sosok laki-laki yang menyerupai seseorang di dalam ingatannya. Anehnya, dia merasa tidak terancam saat orang itu menyentuhnya. Justru dia merasa jauh lebih aman saat berada di dekatnya. Sama seperti ketika dia bersama dengan Ayhner selama bertahun-tahun.
”Tadi, apa yang ingin aku lakukan?” Eldric termenung beberapa saat lalu dia terkejut begitu mengingatnya. ”... Ah! Benar juga. Aku harus menemui kapten Gill sekarang!” setelah itu dia langsung berlari menuju ruangan pribadi milik Gillsouth yang berada tak jauh dari koridor tempatnya berdiri saat ini.
...~o0o~...
”Aah! Rasanya seperti mau mati. Lemas sekali. Aku sampai tidak bisa menggerakkan kakiku hanya untuk melangkah keluar toilet. Aku takut ada banyak orang yang menunggu di luar sana. Bisa saja ada seseorang yang kebelet BAB hingga akhirnya kecepirit karena terus menungguku. Aku harus segera keluar dari sini.” pikir Ayhner yang berusaha untuk berdiri dari posisi duduknya saat ini.
Ayhner terus berpegangan pada wastafel. Tak peduli seberapa hancur wajahnya saat ini setelah dia usai memuntahkan seluruh isi perutnya. Dia bahkan sampai bertanya-tanya di dalam pikirannya. Apakah seperti ini perasaan ibu hamil ketika ingin melahirkan atau mengandung anak? Dia berpikir seperti itu karena terlalu sering melihat wanita yang mual dan berujung pada melahirkan atau mengandung seorang anak.
Tubuhnya sedikit lebih lemah dari biasanya. Namun, dia tetap berusaha untuk berdiri meski harus berpegangan pada segala macam benda yang ada di sampingnya maupun di atasnya. Sebelumnya dia sempat berpikir dulu, jawaban apa yang pantas dikatakannya ketika seseorang bertanya mengenai keadaannya saat ini.
Apakah dia harus membalas aku baik-baik saja atau dia sebaiknya mengabaikan pertanyaan mereka dan terus berjalan sampai dia menemukan tempat untuk membaringkan tubuh?
Ayhner membuka pintu dan mulai berjalan keluar. Ternyata suasana di toilet masih sangat sepi. Sepertinya bukan saatnya semua orang pergi kemari untuk membersihkan pencernaan mereka. Namun, Ayhner tidak pernah tahu saat dia melangkah keluar, ada seorang laki-laki bermata merah yang sudah menunggunya di sana. Laki-laki itu adalah orang yang ditemui Eldric sebelumnya dan laki-laki yang tidak sengaja berpapasan dengan Ayhner setelah Ayhner pergi mengunjungi ruangan pribadi milik Gillsouth.
Dia menyeringai dan dengan perlahan, berjalan mendekati Ayhner. Tanpa suara seperti cicak yang menghampiri nyamuk. Tetapi, saat dia berada tepat di belakang Ayhner dan hendak melakukan sesuatu, Ayhner yang menyadarinya langsung menahan pergelangan tangannya dan berbalik untuk menatap wajahnya.
”Siapa kau dan mau apa kau menghampiriku di tempat seperti ini? Kau kesal karena aku berlama-lama di toilet?” ucap Ayhner menatapnya malas sekaligus tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan laki-laki ini selanjutnya.
Laki-laki itu mendengus lalu berkata, ”Sepertinya kau tidak begitu peduli dengan apa yang terjadi padamu selanjutnya.” dia menggunakan tangannya yang lain untuk menancapkan jarum suntik di leher Ayhner saat dia lengah.
Pada jarum suntik itu terdapat jenis cairan bening yang belum diketahui olehnya. Laki-laki itu memasukkan cairannya lalu melangkah mundur dengan meninggalkan jarum suntik yang masih menancap di leher Ayhner untuk saat ini.
”Cih! Kau ini mau melakukan apa padaku? Ingin membunuhku atau meracuniku?!” ucap Ayhner sedikit lebih keras sembari menarik paksa jarum yang menancap di lehernya.
Laki-laki itu menyeringai kemudian berkata, ”Kita lihat saja. Apakah setelah ini kau akan mati atau tidak.” sedetik kemudian, laki-laki itu tertawa sebelum akhirnya dia menghilang seketika bersama dengan bayangannya. Sementara, Ayhner berusaha menyesuaikan dirinya dengan keadaan yang terjadi di dalam tubuhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments