”Eldric! Kau dimana?”
Sepanjang ruangan, Ayhner terus mencari-cari keberadaan Eldric yang belum diketahuinya. Seharusnya dia bertanya lebih dulu dimana Eldric sekarang ini. Namun, karena saat itu dia terlalu marah, dia jadi tidak sempat menanyakannya soal itu.
”Ahh! Aku hanya memutar-mutar saja di area ini. Lagipula, seberapa besar ruangan ini sebenarnya? Kenapa banyak sekali orang yang berlalu lalang di sini dengan pakaian yang sama?” gumam Ayhner memperhatikan sekitar. Dia terus berjalan sampai tak sadar dirinya menabrak sebuah tubuh yang cukup besar dan tinggi bahkan nyaris menyamai sebuah tembok.
Dengan cepat, Ayhner langsung melangkah mundur menjauhinya dan melihat apa yang ditabraknya tadi dengan tatapan malas. Beberapa detik setelahnya, dia baru sadar kalau yang ditabraknya saat ini adalah sesosok laki-laki tinggi dan besar berwajah datar seperti tak memiliki ekspresi. Kulitnya sedikit gelap dengan memakai pakaian pasukan pembasmi. Sangat jelas dia juga merupakan salah satu dari mereka.
”Oh? Aku hampir saja salah mengira kalau dia itu salah satu dari monster.” gumam Ayhner memperhatikan.
Laki-laki itu tak berkutik. Wajahnya sama sekali tak menunggu permintaan maaf dari Ayhner. Justru, penampilannya benar-benar mengundang kecurigaan. Tingginya lebih dari dua meter dan lebarnya nyaris satu meter. Ototnya tak terlihat sama sekali karena tertutup oleh pakaian. Ayhner memperhatikan termasuk lemari kecil yang ada di sebelahnya.
Ketika dia melihatnya, Ayhner merasa cukup terkejut karena di sana ada sesosok mayat laki-laki yang diletakkan secara paksa di dalam lemari itu. Ayhner sempat berpikir ini adalah pembunuhan sesama rekannya. Dia berada di tempat yang tak ada seorang pun ada di sana dan itu semakin memungkinkan tuduhannya. Namun, melihat kuku dari jari-jemari laki-laki itu yang semakin memanjang seperti hewan buas, membuatnya berpikir kalau dia bukanlah manusia melainkan monster yang menutupi wujudnya menggunakan tubuh manusia.
”Aku lengah!”
Ayhner langsung menghindar ke samping saat tangan laki-laki itu hendak memukul kepalanya dan berakhir memukul lantai hingga membuat lubang di sana. Untuk pertama kalinya, ada sosok monster yang menyerupai manusia. Nyaris sama dengan apa yang dikatakannya pada Gillsouth tadi. Apa mungkin dia juga memiliki kekuatan bicara yang akan berubah menjadi kenyataan?
Monster itu bergerak mendekat dengan kedua kakinya. Langkahnya terlihat begitu lambat. Tangannya terus terangkat ke depan seakan sedang menunjuk ke arah Ayhner. Namun, tak lama setelahnya, tangan monster itu berubah menjadi serabut hitam yang mirip sekali dengan akar. Serabut itu mampu memanjang dan bergerak cepat menyambar Ayhner yang berhasil menghindar darinya.
”Menjengkelkan. Apa aku bunuh saja dia di sini?” Ayhner mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya seakan ingin menembak. Ketika cahaya merah itu baru saja muncul di ujung jarinya, tiba-tiba dia merasakan sakit yang luar biasa pada tubuhnya. Luka akibat tembakan peluru yang bersarang di tubuhnya rupanya masih belum benar-benar sembuh. Alhasil, dia gagal melakukan serangannya dan hanya terdiam mematung di tempat yang sama.
Tangan monster itu kembali mendekat ke arahnya. Jika dia tidak menghindar, maka kepalanya akan segera terpenggal. Namun, saat ini dia sedang tidak ingin bergerak dan hanya mengeluarkan keringat dari atas kepalanya.
Lalu, tanpa aba-aba seseorang dari belakang langsung menjatuhkannya ke lantai dan dengan senapannya, dia menembak tubuh monster itu dan akhirnya menembus masuk melewati jantungnya.
”Kau pikir bisa melarikan diri dengan mudah di tempat ini? Asal kau tahu saja, ada banyak monster yang mulai berkeliaran di tempat ini.” ucap Gillsouth sembari menyimpan senapannya lagi.
Ayhner berusaha mengangkat kepalanya, menatap Gillsouth dengan jengkel setelah memperlakukannya secara kasar. ”Haruskah dengan cara seperti ini?”
”Kau secara tidak sengaja masuk ke dalam ruang penyimpanan mayat. Semua orang yang mati saat membunuh monster berkumpul di tempat ini.”
”Kalau begitu, monster yang ada di depanku ini bukanlah monster sungguhan tetapi, penyesalan mereka selama ini.”
Tepat setelah Ayhner mengatakannya, monster tadi kembali berjalan dengan dada kiri yang sudah memiliki lubang. Gillsouth begitu terkejut karena ternyata menyerang jantungnya tidak cukup untuk membunuhnya.
Ayhner melanjutkan, ”... Jangan membuang-buang pelurumu hanya untuk memusnahkannya saja. Bagiku dia seperti amuba yang sulit disingkirkan. Hanya ledakan yang bisa melenyapkannya.” dia merubah posisi duduknya dan memperhatikan.
Gillsouth tampak sedang mencari cara untuk membunuhnya saat ini. Bersamaan dengan itu, Ayhner mengambil sebuah batu yang berada di sisi ruangan. Baru seukuran telapak tangannya itu langsung dilemparkan ke arah monster sebagai pengalihan.
Saat monster menghancurkan batu itu, dengan cepat Ayhner langsung menarik Gillsouth pergi keluar dari ruangan itu. Mereka berdua, mengarah pada pintu belakang yang tak dikunjungi oleh siapa pun agar monster ini tidak menyerang pasukan yang lain.
”Apa yang kau lakukan sekarang?” tanya Gillsouth dengan serius.
”Biarkan dia dimangsa monster lain. Yang satu ini lebih sulit dikalahkan daripada monster yang berada di luar.” jawab Ayhner.
Tak ada yang menduga kalau monster itu mampu berlari. Padahal sebelumnya, gerakan monster itu sungguh lambat bahkan langkahnya bisa dihitung menggunakan jari.
Sampainya di luar, Ayhner kembali menarik Gillsouth ke samping dan bersembunyi di balik papan besi yang bersandar pada tembok. Ayhner menjadi orang yang berdiri di paling depan dan memperhatikan monster yang juga sudah sampai di luar ruangan. Sementara Gillsouth merasa harus bertanya-tanya dalam pikirannya. Mengapa dia sampai berada di belakang punggung orang lain padahal dirinya adalah kapten dari pasukan ini?
Dari belakang, Gillsouth mampu melihat darah yang mengalir keluar dari tubuh Ayhner. Luka akibat peluru itu rupanya belum benar-benar sembuh. Luka itu terbuka kembali karena Ayhner terlalu banyak bergerak.
Monster itu terlihat sedang mencari-cari keberadaan mereka. Namun, tidak lama setelahnya, sesosok monster yang lain muncul tak jauh di depannya. Monster besar itu memiliki mulut di ujung ekornya yang panjang. Dia siap menyambar apa pun menggunakan ekornya.
Dia menyadarinya.
Benar saja. Monster besar itu menganggap monster yang ada di bawahnya adalah seorang manusia. Monster berekor itu langsung menyambarnya dan langsung menelannya menggunakan mulut yang ada di ekornya.
Ketegangan masih berlanjut. Ekor dari monster itu masih mencari-cari keberadaan manusia di sekitarnya. Pintu masuk ini tak seperti pintu masuk yang biasa dilalui oleh manusia. Jadi, mungkin akan berpikir dibalik pintu ini tidak mungkin ada sekelompok manusia yang berlindung di dalamnya.
Namun, setelah dia mendengar suara Eldric yang menyebut namanya berulang kali, membuat Ayhner semakin kepikiran. Dia marah karena monster itu tidak juga pergi dari hadapannya. Mata kirinya kembali berwarna kuning dan mengeluarkan darah. Ekor monster itu bergerak tidak karuan seperti dirasuki oleh roh. Gillsouth yang melihatnya juga menyadari apa yang dilakukan Ayhner saat ini. Dia pasti mencoba mengendalikan pikiran monster itu agar tidak menyerang Eldric yang juga berada di dekatnya.
Karena tak juga pergi, Ayhner semakin marah. Dia akhirnya memaksakan diri dengan melangkah keluar dari persembunyiannya dan langsung menembak monster itu menggunakan jari jemarinya.
Cahaya merah itu muncul dan langsung mengenai tubuh monster yang menyerupai gumpalan daging. Beberapa detik setelahnya, monster itu hancur menjadi kepingan daging bersamaan dengan munculnya Eldric di belakangnya.
”Apa itu kau Ayhner? Kau baru saja membunuh satu monster dengan sekali serang!” ucap Eldric terkejut melihatnya berdiri di sana.
Tak ingin membuang waktu, Ayhner segera menarik Eldric pergi dari tempat itu, keluar dari tempat persembunyian milik para pasukan. ”Kau ingin pergi kemana?!” teriak Gillsouth yang baru saja menyadarinya.
Ayhner langsung membalas, ”Apa pedulimu?! Aku akan pergi sangat jauh! Aku membencimu!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments