Episode. 10 - Demam II

”Apa yang terjadi? Orang ini, mengapa bisa seperti ini?” Gillsouth seakan tak percaya melihat Ayhner demam menggigil seperti ini. Padahal wajar saja jika fisik seorang manusia menurun drastis seperti ini. Itu semua terjadi bukan tanpa alasan melainkan karena dia terlalu kehabisan banyak darah.

”Aku keluar untuk mencarikannya beberapa obat. Tetapi, aku tidak bisa membedakan mana obat demam dan obat yang lain.” Eldric menunjukkan isi kantongnya yang dipenuhi dengan berbagai jenis obat dari salah satu toko.

Gillsouth memeriksa dan mengamati sebentar. Dia mengambil beberapa obat dan menunjukkannya. ”... Kapsul ini obat penurun demam dan sirup obatnya untuk menambah darah.”

Eldric begitu terkejut melihat kemampuan Gillsouth yang mampu membedakan jenis-jenis obat. ”Darimana kau kapten tahu semua itu?”

”Saat kuliah aku pernah bekerja di toko obat. Bukan hal yang baru aku bisa membedakannya.” singkatnya.

”Kapten pernah bersekolah? Seperti apa rasanya? Sebagian orang bilang sekolah itu merepotkan.” ucap Eldric penuh penasaran.

”Kenapa bertanya tentang hal yang sudah sangat sulit terjadi lagi? Baiknya cepat berikan dia obatnya sebelum dia benar-benar mati.” Gillsouth menunjuk Ayhner yang sedari tadi terus berbaring, membelakangi mereka.

”Oke.” Eldric mendekat sembari memperhatikan Ayhner yang sudah terbangun. Harusnya dia bisa meminum obatnya sendiri tanpa memerlukan bantuan darinya. ”... Ayhner, kau harus meminum obatnya.”

Ayhner memasang ekspresi kesal sekaligus membenci. ”Tidak mau!” dia langsung menolak tanpa melihat bentuk dan ukuran obatnya terlebih dulu.

”Tapi, suhu tubuhmu sangat tinggi. Kau juga kehilangan banyak darah. Kemampuanmu untuk beregenerasi hanya bisa menyembuhkan luka fisik saja.” Eldric berusaha mempengaruhinya.

”Aku bilang tidak mau!” Ayhner membentak dan langsung menutupi dirinya dengan jubah yang menyelimutinya.

”Tapi, Ayhner! Secepatnya kita harus segera pergi dari sini setelah kau sembuh! Jadi, minum obatnya agar kita bisa pergi dari sini!” Eldric mencoba menarik jubahnya tetapi ditarik balik oleh Ayhner yang tak ingin menunjukkan wajahnya.

Ayhner selalu keras kepala saat dirinya di suruh untuk meminum obat dan Eldric memang sudah mengetahuinya sejak dulu. Eldric bahkan berpikir Ayhner lebih terbiasa disuntik daripada harus meminum obat yang pahit.

”Kau ini keras kepala! Aku bilang tidak mau!” ketus Ayhner, berusaha menghindari pandangannya dari obat yang dipegang oleh Eldric.

”Ayhner! Ini kedua kalinya kau demam seperti ini. Aku tidak akan membiarkanmu sakit di situasi seperti ini.” Eldric bersikeras untuk memegang rahang Ayhner agar terbuka dan dia bisa memasukkan obatnya.

Tak tahan melihat perdebatan yang seolah tak ada ujungnya, Gillsouth segera bergerak mendekatinya. Dia menahan kaki dan mengunci tangan Ayhner seperti saat seorang polisi menahan penjahat yang hendak kabur. Tubuhnya dipaksa telungkup di lantai dan wajahnya memaksa untuk menatap ke samping.

”Heh! Kenapa kau ikut campur?! Baiknya kau pergi sekarang atau aku benar-benar membencimu!” ketus Ayhner berusaha menatap Gillsouth di atasnya.

Namun, di saat Ayhner berbicara padanya, Gillsouth mengambil kesempatan dengan menahan rahang Ayhner agar terbuka. Dia tidak berkutik selama beberapa saat dan terus menatap Gillsouth dengan matanya yang tajam.

”Orang yang masih bertahan hidup sampai sekarang, terus menerus mencari cara agar dia bisa terus hidup dan terhindar dari berbagai bahaya. Tapi, kau malah menyia-nyiakan usaha dan mengkhianati hasil!” Gillsouth menyambar obat yang ada di tangan Eldric dan langsung memasukkannya ke dalam mulut Ayhner, memaksanya untuk segera menelannya tanpa bantuan air mineral.

Ayhner sempat terbatuk selama beberapa saat. Tak sampai di sana, Gillsouth kembali meraih sebuah sirup obat penambah darah untuknya. Dia membuka tutupnya dan kembali memasukkannya ke dalam mulut Ayhner. Tidak peduli seberapa banyak yang sudah ditelan olehnya meski dia sampai overdosis.

”Kapten Gill, apakah ini tidak terlalu berlebihan?” Eldric mulai cemas, melihat Ayhner yang tidak bisa mengondisikan gatal di tenggorokannya.

”Biarkan dia jera. Jika sesuatu terjadi padanya, dia akan melakukannya sendiri.” singkat Gillsouth yang tak dimengerti oleh Eldric.

Ayhner yang sudah bisa melepaskan diri langsung berteriak, ”Aku benar-benar membencimu! Minum racun saja sana!”

...~o0o~...

Kesunyian akhirnya terjadi. Ayhner tertidur karena efek obat yang terlalu banyak. Dia terlihat pulas sekali sampai sulit sekali dibangunkan. Di sisi lain, mereka masih diawasi oleh sesosok monster yang terus menerus mencari mangsanya. Mereka tidak akan bisa kabur dari tempat ini bahkan jika ada kesempatan.

”Sudah berapa lama kau bersamanya?” tanya Gillsouth setelah dia mendapatkan ketenangannya kembali.

Eldric sedikit terkejut dan dia menjawab, ”Sepuluh tahun. Aku dan dia saling berkenalan di laboratorium milik profesor Edmund.”

”Kau tidak tahu dimana tempat laboratoriumnya?” Gillsouth bertanya selagi Ayhner sedang tertidur. Dia tahu Ayhner akan mengamuk jika dia membicarakan tentang profesor Edmund dan penemuannya.

”Tidak tahu. Aku hanya ingat saat ledakan itu terjadi. Laki-laki itu membawa kami berdua keluar, jauh dari tempat laboratorium itu berada. Tempat itu sangat terpencil sehingga kami tidak begitu ingat dimana letaknya. Tapi, dampak baiknya. Ayhner terlihat lebih hidup dibandingkan saat dipenjara di sana.”

Gillsouth mendengarkan namun belum berani menyimpulkan. ”Apa yang mereka lakukan pada kalian? Mengapa mereka ingin menciptakan monster yang bermula dari sebuah tulang belulang?”

Eldric langsung menjawab, ”Soal itu aku tidak tahu. Kedatangan Ayhner bersamaan dengan dilakukannya percobaan mereka. Karena tubuhku tidak terlalu kuat, aku yang seharusnya menjadi bahan percobaan oleh mereka malah digantikan dengan Ayhner. Aku tidak berani melihatnya. Bahkan mendengar jeritannya saja aku sudah bergidik ngeri.”

”Mereka tidak melakukan percobaan itu padamu, sama sekali?”

”Hanya sedikit. Aku tidak begitu kuat seperti Ayhner. Karena itu, aku selalu dilindungi olehnya.”

Gillsouth terdiam seakan mencoba untuk mencerna apa yang dikatakan Eldric tadi. Ceritanya cukup terbayangkan dalam pikirannya. Dia seperti mengingat sesuatu. Sebelum bencana ini terjadi, dia sempat lupa apa pekerjaannya dulu dan dimana dia tinggal. Lalu, dokter mendiagnosisnya mengalami hilang ingatan. Setelah itu, dia pun bekerja paruh waktu sebagai kuli bangunan.

”Orang yang menyelamatkanmu seperti apa?” tanya Gillsouth.

Eldric mulai berpikir dan berkata, ”Aku tidak begitu ingat. Saat itu gelap sekali. Aku hanya melihat siluetnya saja. Tetapi, pada matanya memancarkan warna biru seperti pantulan bulan di air. Warnanya hampir sama seperti yang kapten miliki.”

Gillsouth tampak terkejut. Selama beberapa saat dia terus terdiam dan mencoba memikirkannya lagi. Rasanya dia tidak mungkin mengenal siapa itu profesor Edmund dan dua remaja ini. Apalagi sempat melakukan percobaan terlarang pada manusia. Sebelumnya dia pasti mengalami kecelakaan yang membuatnya hilang ingatan.

”Kenapa kapten Gill menanyakan hal ini? Apakah orang itu adalah Anda?”

”Ah, tidak mungkin. Dulu, aku hanya seorang kuli bangunan.”

Mereka berdua kembali terdiam. Lalu, suara tembakan dan ledakan yang mengenai dan menembus kulit dan daging kembali mengejutkan mereka terutama Gillsouth yang langsung memasang ekspresi waspada.

Gillsouth berlari menuju pintu keluar dan saat sampai di sana, dia melihat seorang wanita dan beberapa laki-laki lainnya sedang berdiri di sana.

”Kapten Gill, saatnya kembali.” ucap Ainsley, wanita yang berdiri tepat di depan barisannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!