”Ayhner, ini Ibu. Jaga dirimu baik-baik ya. Tempat ini jauh lebih baik dari pada di rumah.”
”Tidak! Aku tidak mau tinggal di sini! Aku ingin bersama Ibu!”
”Ayahmu akan mengejar kita. Jadi, kau tetaplah di sini. Mereka akan melindungimu.”
”Tidak! Mereka hanya ingin membunuhku, Ibu! Tolong! Biarkan aku tinggal bersama Ibu lebih lama lagi! Aku akan menjadi anak yang baik untuk Ibu!”
”Tidak Ayhner. Kau tidak akan pernah menjadi anak yang baik.”
”Aku akan bisa kalau aku berusaha! Izinkan aku tinggal bersama Ibu! Orang-orang di sana bukanlah orang baik! Mereka akan membunuhku!”
”AYHNER! Ibu sudah bilang, kau tidak akan pernah menjadi anak yang baik! Kau selalu membawa penderitaan bagi semua orang termasuk Ayah dan Ibumu ini! Kehadiranmu adalah sesuatu yang tidak pernah diinginkan oleh semua orang! Karena itu, berharap lah kau akan mati sebagai objek percobaan mereka semua!”
...~o0o~...
”Ayhner! Ayhner! Bangunlah!”
Tepat saat iuu juga, Ayhner langsung terbangun. Dia dan Eldric sekarang berada di sebuah stasiun bawah tanah yang terpasang beberapa lampu untuk menerangi. Tak ada suara ramai orang-orang berbicara maupun suara kereta yang akan melaju di relnya. Hanya ada mereka berdua yang berada dalam ketenangan. Jauh dari bising orang-orang kota.
”Kenapa bisa ada di sini?” Ayhner berkedip beberapa kali untuk memastikan dirinya masih hidup. Dia mengambil posisi duduk lalu memperhatikan segalanya yang ada di sana.
Tak ada satupun monster. Tempat yang biasanya selalu terlihat ramai, berubah menjadi tempat yang sepi dan jarang dikunjungi. Meski begitu, mereka tetap bisa menghirup aroma darah yang berada di setiap sudut bangunannya. Beberapa lantainya ada yang retak dan temboknya hancur sebagian. Sudah jelas kalau sebelumnya ada beberapa monster yang saling bertarung hingga salah satunya bisa memakannya.
”Saat aku ingin bersembunyi, aku sudah melihatmu berada di sini. Setidaknya, kita bisa lari dari kejaran pasukan pembasmi.” ucap Eldric.
Ayhner baru saja teringat akan sesuatu. Dirinya berada di sini karena ulah monster kadal yang menahannya di dalam mulut dan mengeluarkannya kembali di tempat ini. Anehnya, saat itu Ayhner tidak mengetahui darimana kadal itu berasal dan yang lebih mengejutkannya lagi, monster itu tidak sampai memakannya. Namun, melihat Eldric berada di sini, dirinya langsung mengerti.
Ayhner menarik nafas. ”Baiklah, setidaknya kita sudah berhasil melarikan diri dari kejaran mereka. Untunglah aku tidak sampai tertangkap dan dibunuh oleh mereka.”
”Mereka mungkin sudah tahu dari mana kita berasal. Wanita yang menyerang kita sebelumnya juga menyebut nama 'itu' di depanmu. Bisa saja, mereka tidak akan menyerah untuk mencarimu.”
”Ya, kau mungkin benar. Tapi, kalau kita pergi ke tempat lain, sama saja dengan bunuh diri. Jika kita bertemu dengan pasukan pembasmi lainnya, ini mungkin akan menjadi masalah yang besar karena bukan satu kelompok saja yang mengetahuinya.”
”Bagaimana kalau berdamai saja dengan mereka. Pasukan-pasukan itu pasti akan mencari keberadaan Profesor Edmund setelah menggali informasi. Mereka akan tahu kalau virus ini bermula dari tempat itu.”
Ayhner terdiam selama beberapa saat. Dia kemudian mengambil posisi berdiri dengan tangannya yang mengepal. ”Tidak. Tidak akan berdamai dengan mereka. Bertahan hidup saja sudah cukup menyulitkan apalagi kalau sampai terikat dengan sekelompok orang. Lebih baik waspada sejak awal dari pada harus menerima penyesalan.”
Eldric yang mendengarnya merasa tak percaya. Ayhner bahkan sampai turun ke atas rel kereta lalu pergi meninggalkan stasiun seakan tak peduli dengan bahaya yang mungkin saja datang tiba-tiba. Kereta tidak akan mendatangi stasiun karena tak ada satu pun monster yang mampu mengendalikan kereta. Ayhner menatap ke bawah, sedikit membungkuk karena dia melihat sebuah bunga dandelion yang masih hidup di sisi rel kereta.
Dia tak peduli keindahan yang dimilikinya apalagi saat meniup butiran putih yang timbul di permukaannya. Ayhner langsung menginjaknya dan menekannya karena kesal dengan pemikirannya saat ini. Namun, bersamaan dengan itu, sebuah peluru melesat ke arahnya dan langsung mendarat tepat di depan kakinya.
Lagi-lagi, pasukan itu berhasil menemukan mereka meski mereka sudah berada cukup jauh dari tempat yang sebelumnya. Sosok wanita itu muncul dari balik kegelapan. Masih dengan wanita yang sama, dia membawa beberapa pasukan yang tak kurang jumlahnya.
Dia adalah Ainsley.
”Kita bertemu lagi. Sudah kuduga, kau memilih untuk bersembunyi dari kami.” ucap Ainsley sembari mengibaskan rambutnya.
”Ayhner!” Eldric langsung berlari menghampiri dan berdiri tepat di belakangnya.
”Gigih sekali. Tidak lihat saat ini perasaanku tidak baik-baik saja?” ucap Ayhner menghalangi pandangan Ainsley dari Eldric. Ayhner kemudian berbisik pada Eldric, ”Jangan lakukan apa pun. Diam saja di sana dan ikuti aku.”
Eldric mengangguk.
”Sepertinya kau sangat melindungi laki-laki yang ada di belakangmu. Apakah dia itu penting bagimu?” tanya Ainsley.
Ayhner langsung menjawab, ”Apakah itu penting bagiku untuk menjawabnya?”
”Lalu, apakah dia memiliki kemampuan yang sama denganmu? Apakah dia juga mampu mengendalikan pikiran para monster monster itu?” Ainsley semakin curiga. Dia merasa tidak mungkin jika Ayhner terus melindungi Eldric tanpa alasan apa pun. Itu mungkin wajar jika dia adalah kakaknya. Namun, wajah dari mereka berdua tidak menunjukkan kemiripan sama sekali.
”Inilah mengapa aku malas bertemu dengan kalian. Selalu ingin tahu segalanya. Tapi, segalanya tidak ingin kalian tahu. Mengapa terus memaksa padahal kami berusaha untuk bertahan hidup di tempat yang sudah menjadi seperti neraka ini? Mungkin, kalian akan bilang kalau kalian hanya ingin melindungi. Tapi, maaf saja. Bergantung pada seseorang lebih menyakitkan daripada bergantung pada diri sendiri.”
Ainsley yang sudah merasa baik darah langsung melepaskan pelurunya ke arah Eldric. Jawabannya tentu benar karena Ayhner langsung berdiri di depan Eldric hingga akhirnya peluru itu bersarang di bahunya. Padahal, luka saat pertama kali bertemu dengan Ainsley belum sepenuhnya sembuh.
”Ayhner. Kau tidak perlu melakukannya. Tadi itu, aku bisa menghindarinya.” ucap Eldric cemas.
Ayhner berbisik, ”Diam dan jangan lakukan apa pun. Tahan amarahmu untuk sementara.”
”Melindungi dirimu saja tidak bisa apalagi sampai melindungi orang lain. Kau pasti tidak akan selamat setelah ini.” Ainsley bersiap dengan senapan tempur yang terlihat jauh lebih besar daripada milik Gillsouth sebelumnya.
...~o0o~...
”Kapten Gill! Ini gawat! Wakil Ainsley menolak untuk menuruti perintah Anda!” seru seseorang yang berlari memasuki ruangannya tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Gillsouth menatap lelah. Dia seakan tahu apa yang akan dilakukan Ainsley selanjutnya. Mungkin seharusnya dia memerintahkan untuk tetap mencari keberadaan Ayhner agar Ainsley berhenti mencarinya. Dia selalu melakukan tindakan kebalikan dari apa yang diminta olehnya.
”Baiklah, kita akan mencarinya sekarang. Kau tahu dimana dia?” Gillsouth berdiri dengan membawa senapannya tadi.
”Ada yang bilang kalau dia dan pasukannya pergi ke stasiun bawah tanah begitu mereka tahu laki-laki itu di bawa oleh monster kadal.”
”Aku akan segera ke sana.” tanpa bertanya lagi, Gillsouth segera melangkah pergi meninggalkan ruangannya menuju stasiun bawah tanah seorang diri. Beberapa pasukan ada yang menawarkan diri untuk ikut dengannya. Namun, Gillsouth tetap bersikeras ingin pergi sendiri. Lagipula, stasiun bawah tanah berada tidak jauh dari markasnya. Dia hanya perlu berjalan selama sepuluh menit untuk sampai ke sana.
Sebelumnya Gillsouth selamat dari virus monster setelah bersembunyi di stasiun bawah tanah bersama Ainsley dan beberapa orang yang lain. Mereka menggunakan senjata apa adanya untuk membunuh monster yang mengepung mereka. Untungnya, monster yang berada di dalam stasiun tidak begitu banyak sehingga mereka bisa bertahan hidup sampai sekarang.
Sampainya di sana, Gillsouth sempat mendengar suara tembakan berkali-kali. Ia pikir, terjadi pertarungan manusia dengan monster di sana. Tetapi, saat dia sudah berada di dekat stasiun, dia melihat Ayhner yang tergeletak di atas rel dengan tubuh yang berdarah-darah. Melihat Ainsley yang masih memegang senapannya, Gillsouth langsung tahu kalau Ainsley yang sudah melakukannya.
”Ahh, akhirnya aku kembali ke rencana awal.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments