Episode. 2 - Pengendali Monster

”Biarkan aku pergi!”

Ayhner langsung menepis tangan pemuda yang berusaha menghentikannya. Dia berlari menghampiri Eldric dengan membawa sebuah batang besi dari salah satu puing bangunan. Batang besi itu dilemparkan dari jarak jauh lalu akhirnya menancap tepat di bagian tentakelnya. Namun, itu tidak cukup untuk membuatnya kesakitan.

Monster itu menunjukkan wujudnya yang cukup aneh dan mengerikan. Dia memiliki tubuh bintang laut namun, memiliki tentakel di seluruh sisi tubuhnya. Terdapat begitu banyak wajah manusia yang tampak di tengah-tengahnya. Mereka semua adalah orang-orang yang sudah di makan oleh monster ini.

”Ada banyak orang. Aku tidak bisa melakukannya sekarang.” batin Ayhner yang memperhatikan sekeliling lalu, dia kembali melihat ke arah Eldric yang akan di makan lebih dulu oleh monster gurita.

Sesuatu tiba-tiba membuatnya sangat yakin untuk melakukan kemampuannya yang hadir secara tidak sengaja. Ayhner berhenti melangkah ke depan. Sejenak, dia memejamkan matanya lalu membukanya kembali. Mata kirinya yang semula berwarna merah seketika berubah menjadi kuning dan langsung menyorot ke arah monster itu berada.

Seolah patuh dengan apa yang akan diucapkan oleh Ayhner, monster itu langsung menurunkan semua orang yang dililit oleh tentakelnya. Setelah itu, dia pun segera bersembunyi kembali ke dalam tanah dan tidak muncul lagi.

”Monster itu mundur tanpa sebab?” batin pemuda yang terkejut setelah melihatnya. Rasanya tidak mungkin monster ini kabur setelah melihat satu monster mirip dugong yang ada di belakang mereka. Monster-monster ini tak pernah memandang apakah lawannya terlalu kuat atau tidak. Asalkan perut selalu diisi, mereka tidak peduli sebesar dan sekuat apa pun ukuran lawannya.

Ayhner langsung jatuh berlutut, memegangi mata kirinya yang mengeluarkan darah. Matanya telah berubah kembali menjadi merah namun, rasa perih itu membuatnya tidak berani membuka matanya.

”Ayhner!” seru Eldric yang langsung berlari menghampiri Ayhner, melihat keadaannya saat ini. Eldric tentunya sudah tahu sejak lama mengenai kemampuan istimewa Ayhner yang mampu menundukkan semua monster. Namun sayangnya, tubuh yang selalu disayat oleh pisau bedah dan dimasukkan segala obat penyakit tidak mampu menahan keistimewaan ini lebih lama.

Monster besar yang ada di belakang mereka kembali meraung ketika seluruh pasukan pembasmi mencoba memenggal kepalanya. Mereka semua sibuk melawannya dan karena itu semua, Ayhner menarik Eldric pergi dari tempat tadi.

”Tadi itu, kemampuan yang luar biasa. Rasanya tidak mungkin ada satu pun manusia yang memilikinya.” ucap pemuda yang berjalan menghampiri Ayhner hingga keduanya memutuskan untuk berhenti sejenak.

”Maaf, Ayhner. Aku membuatmu melakukan itu semua.” bisik Eldric.

”Tidak perlu seperti itu. Lagu pula, aku memang ingin melakukan satu percobaan.” balas Ayhner.

”Tapi, sayang sekali. Kau tidak bisa menggunakannya cukup lama. Dan aku yakin, kau memiliki hutang nyawa pada kami yang berdiri di sini.” pemuda itu akhirnya berdiri berhadapan dengan Ayhner. Mata hitamnya, menatap mata kiri Ayhner yang masih memiliki bekas darah di bawah kelopak matanya. Jelas saja itu seperti efek samping dari kekuatannya sendiri.

”Hutang nyawa? Ku kira kalian melakukanya secara sukarela. Apakah ini yang dinamakan pungutan liar?” Ayhner menyeringai.

Pemuda itu melipat tangannya. ”Apa pun akan dilakukan demi bertahan hidup di tempat yang seperti ini. Bahkan orang baik sekali pun akan menjadi penjahat jika dia terlanjur putus asa.”

”Oh? Kenapa tidak mengaku saja kalau kau sedang kelaparan? Ku rasa kita memiliki sedikit makanan.” Ayhner melempar sebuah apel yang akhirnya menabrak dada pemuda lalu jatuh ke tanah.

”Itu makanan terakhir yang kami miliki. Terimalah. Aku tidak akan meminta bantuanmu lagi. Aku sudah siap mati dalam kondisi apa pun.” Ayhner berjalan kembali, diikuti oleh Eldric dari belakang. Sementara pemuda itu hanya terdiam, menatapnya dari belakang.

”Aku melihat nama yang ada di pakaiannya. 'Gillsouth.' rasanya aku seperti pernah mengenalnya.” batin Ayhner memikirkannya sepanjang jalan.

”Kapten Gill! Kami berhasil mengalahkan monster besar yang tadi. Tapi, kemana monster berbentuk gurita?” seseorang berlari menghampiri Gillsouth dan berdiri sedikit lebih jauh di sebelahnya.

”Dia ketakutan dan mundur.” singkat Gillsouth.

Orang itu sedikit terkejut lalu bertanya kembali, ”Bagaimana bisa itu terjadi?”

”Tidak bisa ku jelaskan.” Gillsouth berpikir sembari menarik dagunya sendiri. Tatapannya terlihat serius saat otaknya bekerja. Tak lama dia menurunkan tangannya kembali lalu menatap ke atas. ”... Cari tahu tentang eksperimen pada manusia. Ada sesuatu yang membuatku penasaran.”

”Baik, kapten! Akan saya lakukan.” orang itu segera pergi dan melakukan apa yang diminta Gillsouth saat ini. Sementara Gillsouth masih memikirkan kejadian saat Ayhner membuat monster tadi tunduk dan langsung kembali ke persembunyiannya. Jika Ayhner mampu mengendalikan para monster itu, apa mungkin dia adalah pemimpin mereka? Jika Ayhner menyuruh seluruh monster untuk saling membunuh, bukankah masalah ini akan cepat selesai?

...~o0o~...

”Ayhner! Apakah tidak masalah jika kau menunjukkan kemampuanmu di depan semua pasukan pembasmi? Mereka mungkin akan segera mencarimu.” ucap Eldric duduk di depan api unggun di dalam sebuah gedung serba guna.

”Tenang saja. Aku tinggal menyembunyikannya saja. Lagi pula, mana ada orang yang percaya dengan hal-hal berbau seperti ini. Huh! Pengendali monster apanya. Mereka tidak mungkin mempercayainya dan menganggapnya sebuah kebetulan saja.” celetuk Ayhner asal.

”Tapi, menurutku mereka akan segera mencarimu. Orang yang terlihat seperti kapten mereka sudah melihat semua yang kau lakukan tadi.”

Ayhner tiba-tiba terhenti, melamun menatap api yang terus membakar kayu. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu dan merasa bahwa mungkin saja apa yang dikatakan Eldric benar. Orang yang bernama Gillsouth itu mengatakan kalau dia akan melakukan apa saja agar bisa selamat dari dunia yang kacau ini. Ayhner juga merasa kalau dia pernah bertemu dengan nama itu di suatu tempat. Jika dia tahu mengenai profesor Edmund, Gillsouth pasti tak membiarkannya pergi. Karena dia tahu percobaan apa yang sedang dilakukan profesor Edmund saat ini. Tapi, tampaknya Gillsouth bukanlah seseorang yang muncul dalam masa lalunya. Jadi, ada kemungkinan dia tidak akan pergi untuk mencarinya.

”Tak akan ada yang terjadi. Tenang saja. Tidak perlu cemas. Semua akan baik-baik saja.”

...~o0o~...

”Kapten Gill! Kami sudah menemukannya.” seru seseorang yang berjalan memasuki sebuah ruangan mirip sekali dengan sebuah kantor penyelidik.

”Katakan apa yang kalian temukan.” singkat Gillsouth, beranjak dari kursinya dan berdiri menghadap jendela.

Orang itu menunjukkan beberapa kertas di tangannya. Kertas itu berisikan tentang data semua percobaan yang dilakukan oleh seorang profesor yang keberadaannya belum diketahui semua orang.

”Ada sebuah percobaan yang dilakukan pada manusia secara rahasia. Mereka menangkap anak-anak yatim piatu untuk dijadikan objek penelitian. Seorang ahli arkeolog menemukan sebuah kerangka raksasa yang bentuknya tidak menyerupai manusia maupun hewan. Dari penemuan itu, mereka mencoba membuat monster yang mirip sekali dengan yang para arkeolog temukan. Tapi, sebagian besar anak-anak itu mati saat percobaan dilakukan. Hanya ada satu anak yang berhasil bertahan hidup. Tapi, bersamaan dengan itu, sebuah ledakan terjadi di tempatnya. Kemudian virus itu menyebar dan merubah semua orang menjadi monster dengan gejala batuk darah dan mimisan.”

Gillsouth berpikir selama beberapa saat. ”Siapa anak itu? Apa kemampuannya? Dimana letak ledakan itu tiba dan siapa profesor yang melakukan percobaan itu?”

Orang ini membuka-buka kembali lembaran kertasnya lalu menjawab, ”Tidak ada keterangan siapa anak itu dan dimana letak ledakan itu terjadi. Tetapi, anak itu memiliki kemampuan mengendalikan pikiran para monster. Dan orang yang melakukan percobaan terlarang itu adalah Profesor Edmund.”

”Oh? Begitu ya.” singkat Gillsouth setelah terdiam selama beberapa saat dan duduk kembali di kursinya, sembari menadahkan dagunya di atas kedua punggung tangannya. ”... Berikan perintah pada para pasukan untuk membawa kemari orang yang kita selamatkan tadi. Rambut hitam dan mata merah. Dia selalu bersama dengan seorang laki-laki berambut pirang yang jauh lebih pendek darinya. Kemeja yang dipakainya berwarna putih dan dia memakai jaket hitam yang cukup tebal. Cari dia dan jangan sampai lepas.”

...~o0o~...

Special Illustration

from IG : @norayolayora

-

-

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!