"Kamu Dira anaknya Dwi kan"tanya om Ridwan.
"Iya om, masih ingat saya?"tanyaku.
"Tentu sayang om masih ingat ,om selama ini mencari-cari kamu lo"ucap om Ridwan sambil menarikku duduk di sampingnya tidak menghiraukan semua yang melihat kearah kami.
"Dimana kamu tinggal sekarang dan tinggal sama siapa? ,bagaimana kehidupanmu setelah kabur dari rumah pamanmu. Apa kamu tidak kasihan dengan pamanmu yang mencari-cari keberadaan sampai sekarang ? Jika kamu mendengar obrolan paman dan bibimu tidak seharusnya kamu pergi itu membuat pamanmu kuatir"ucapnya.
"Ekhm ekhm " deheman kakek menghentikan pertanyaan demi pertanyaan dari om Ridwan padaku.
"Maaf aku melupakan kalian " ucap om Ridwan.
"Jadi kalian sudah saling mengenal ?" tanya nenek.
"Ini Dara putri almarhumah Dwi "ucap om Ridwan dengan muka sedih.
"Jadi om kenal orang tua Dara?",tanya Kana pada om Ridwan yang di jawab anggukan.
"Ini kan mau acara keluarga kenapa jadi temu kangen sama calon mantan anak"ucap perempuan kalau tidak salah tadi anak dari Oma yang namanya Desti.
"Iya maaf semua salahku, nanti kita ngobrol lagi, sudah kenal sama istri om kan ?"tanya om Ridwan.
"Sudah om"jawabku, sambil melihat kearah perempuan yang juga tersenyum ramah kepadaku kalau tidak salah namanya Tante Ambar.
"Gw juga kenal ni cewek kan resepsionis di kantornya om nya Kana"ucap Desty.
"kapan lu jadi resepsionis?tanya Kana.
"Wah kayaknya Tamu kita kali ini lebih berkesan dari pada acara keluarga kita"ucap nenek sambil tertawa kecil.
"Maaf "ucapku tidak enak hati.
"Biar gak penasaran gimana kalau Ridwan cerita siapa Dwi biar aku gak penasaran juga istrinya"ucap opa.
"Dwi adalah wanita yang hampir saya nikahi 9 tahun lalu untu menjadi ibu sambung Rangga, tetapi kami gagal karena kecelakaan yang menimpa Dwi merenggut nyawa Dwi"ucap om Ridwan, kulihat Tante Ambar memberikan dukungan dengan menggegam tangan suaminya.
"Lo suda punya istri mas,jaga perasaan istrimu kalau mau bahas perempuan lain" ucap Desty judes.
"Tidak apa-apa ko dek Desty, jauh hari sebelum menikah Kami sudah saling mengenal dan mengetahui masa lalu masing-masing"ucap Tante Ambar.
"Bagus deh jadi gak perlu mbak sakit hati " ucap Desty.
"Insyaallah tidak,baik saya atau almarhumah mbak Dwi punya tempat di hati mas Ridwan yang hanya biar mas Ridwan dan Allah yang tahu" ucapnya lembut. Bersyukur sekali Rangga punya ibu sambung seperti tante Ambar yang lembut kataku dalam hati.
Acara keluarga berjalan lancar meski ada gesekan kalimat-kalimat tajam dari mama Kana buatku dan di perparah dengan kata-kata Desti,yang kalau dari segi umur Desti usianya di atasnya Kana dikit,tapi harus di panggil bibi atau Tante oleh Kana.
"Boleh om tahu sekarang kamu tinggal di mana ?"tanya om Ridwan, setelah sebagian orang pulang tinggal keluarga Kana dan kakek nenek beserta keluarga om Ridwan.
"Aku tinggal di belakang klinik Citra Medika om"ucapku.
"Apa benar yang dibilang Desti kalau kamu bekerja sebagai resepsionis?"tanya om Ridwan.
"Iya Om dulu 4 atau 5 bulan aku kerja disana"ucapku.
"Pantes sebentar ,tapi aku ko gak pernah lihat ya," ucap Kana.
"Emang kalian kenal dimana?"tanya om Ridwan , membuatku spontan melotot kearah Kana.
"Waktu Razia mobil kendaraan dan narkoba, tengah malam Dara pulang kerja"ucap Kana sambil tersenyum jahat padaku.
"Emang kamu kerja di mana?"tanya om Ridwan.
" Di pabrik garmen milik keluarga Wijaya "ucap Kana.
"Sekarang kamu kerja di mana masih di pabrik garmen apa jadi resepsionis ?"tanya om Ridwan.
" Sekarang kerja di klinik Citra Medika cabang Tangerang "jawab Kana.
" Resepsionis,tenaga pabrik sekarang jadi apa kamu di klinik Citra Medika,jadi resepsionis juga ?tanya mama Kana yang dari tadi menunjukkan sikap tidak ramah dan tidak sukanya padaku.
"Kamu tidak kuliah, bukannya kamu bilang melanjutkan kuliah kedokteran "ucap om Ridwan.
"Aku kuliah ko om sesuai janjiku pada paman"ucapku.
"Terus kenapa itu bisa kerja di pabrik dan bisa menjadi resepsionis?"tanya om Ridwan.
"Karena setelah lulus kuliah untuk mencari pekerjaan tidak cukup mengandalkan gelar saja, tetapi juga membutuhkan koneksi orang dalam dan aku tidak punya itu di kota ini" ucapku.
"Terus kamu kuliah di mana, kenapa om dan paman mu tidak menemukanmu di Surabaya?"tanya om Ridwan.
"Di jogjakarta om, aku dapat beasiswa di UGM " ucapku.
"Terus kenapa kamu ijin pergi melanjutkan pendidikan ke Surabaya ?"tanya om Ridwan.
"Aku tidak mau merepotkan paman, apalagi bibi sedang hamil besar saat itu" ucapku.
"Tapi paman mu mencari keberadaan mu, bahkan sampai sekarang. Kamu adalah amanah dari adiknya yang harus di jaganya"ucap om Ridwan, membuatku hanya menundukkan kepala.
"Apa kamu mendengar pertengkaran paman dan bibi mu,di malam doa bundamu hari yang ke 40"tanya om Ridwan, aku hanya mengagukkan kepala untuk membenarkan yang dia bicarakan.
"Sejak pamanmu bercerita mengenai istrinya yang tidak mau mengurus mu, om berencana mengadopsi mu biar bisa menjadi adik Rangga" ucap om Ridwan.
"Yang ada tar Rangga jatuh cinta pada adik angkatnya "ucap Kana.
"Gak apalah kami tidak ada hubungan darah ini" ucap Rangga.
"Ya ga bisalah dia kan calonku"ucap Kana.
"Mam tidak setuju kamu menikah dengan janda ya, "ucap mama Kana galak membuat semua orang melihat kearah ku.
" Kamu sudah menikah dengan siapa ? walimu siapa ? kamu menemui Abi mu?" tanya om Ridwan secara berurutan.
"Ayah kok gitu nanya nya satu satu dong, lihat Dira bingung jawabnya " ucap Tante Ambar.
"Ceritanya panjang om kapan-kapan aja ceritanya, aku harus pulang karena sebentar lagi kerja "ucapku tak enak hati.
"Lagian kenapa sih kamu antusias sama kehidupannya, lebih baik kamu urus keluargamu sendiri " ucap mama Kana.
"Ya wajar lah mbak,kan mereka sangat akrab selama jauh dari Rangga Dara sudah di anggap putri sendiri sama mas Ridwan " ucap Tante Ambar, membuatku menebak-nebak apa Tante Ambar juga mengenal bundaku.
"Sudah ah aku mau mengantar Dara Pulang sekarang juga" ucap Kana.
"Jangan kapok main ke sini nenek kakek senang dengan makanannya kamu bawa ,karena anak-anak dan cucu nenek tidak ada yang suka dengan makanan tradisional" ucap nenek saat aku berpamitan pulang.
"Maafkan istri om ya," ucap papa Kana aku hanya tersenyum menanggapi mereka semua.
"5 jam berati 500 rb, dua kali kamu memegang perahu berarti 50 dikali 2 jadi total semua 600 ribu,ya" ucapku saat mobil berhenti tepat di depan klinik.
"Kalau sampai ada adegan ciuman sekali ciuman mulut berapa?"tanya Kana.
"Eh itu di luar perjanjian ya ,ga ada ciuman ya" ucapku sambil membuka sabuk pengaman.
"Kan aku bilang seandainya " ucap Kana tanpa rasa bersalah.
"1 juta kali,"ucapku sambil membuka pintu.
"Jangan lupa transfer ke rekening yang sudah aku kirim" ucapku sambil menutup pintu mobil.
Habis ketemu Radi, ketemu Rahayu, ketemu Abi, tadi ke temu om Ridwan apa sebentar lagi aku juga akan bertemu paman,kataku dalam hati.
"Dimana hati nurani dan perasaanmu,adikku belum kering tanah pemakamannya kamu sudah membahas tentang nasib putrinya " ucap Eko, sambil menatap tajam istrinya.
"Apa aku salah,aku sekarang hamil anak kedua, sedang putra kita tahun depan masuk SMA, sedang Dara tahun ini harus masuk kuliah " ucap istri Eko.
"Dwi adikku,jika Dwi tidak ada Dara tanggung jawabku kamu tidak perlu cemas aku bisa mencari pekerjaan lain biar tidak mengurangi jatah bulanan mu dan anak-anak jika itu yang kamu takutkan" ucap Eko.
"Terserah papa kalau begitu asal tidak dipotong uang bulanan ku dan jangan kau mencari pekerjaan haram untuk menghidupi kami" ucap istri Eko, yang di balas Eko dengan memberikan tamparan yang begitu keras di pipi istrinya.
"Kamu tega pa menamparku,?"tanya istri Eko.
"Aku tidak pernah menerima uang haram seperti kakakmu itu ,aku menggunakan seragamku dengan kebanggaan orang tuaku" ucap Eko sebelum pergi meninggalkan istrinya.
" Puas kamu melihat pamanmu menampar bibi hanya untuk membelamu dan bundamu"ucap Bibi melihat kearahku yang sedang mengintip di pintu kamarku bersama putra sulungnya.
"Kamu dan ibumu sama saja hanya benalu yang cuma bisa merepotkan hidup budhe, kenapa sih kamu tidak ikut bunda mu saja sana"ucapan Budhe.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 177 Episodes
Comments