Ahkirnya aku terpaksa menyewa satu gaun cantik serta meminta tolong temanku untuk sedikit memoles wajahku ,dengan kebaya modern aku datang bersama Farida salah satu temanku kerja ku.
"Gak rugi gw ikut loo gw bela-belain nyewa gaun mahal kalau tempatnya begitu spectacular begini" bisik Farida saat kami mulai masuk gedung tempat acara pernikahan.
" Gw yang rugi nyewa gaun ,beli kado segala, yang mungkin gak akan ada artinya buat mempelai" ucapku bercanda yang disambut tawa olehnya.
"Mau makan apa ngucapin selamat dulu"ucapku.
"Kita ngucapin dulu aja baru setelah itu kita makan takut khilaf kalau udah makan" ucapnya.
"Selama menempuh hidup baru semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warohmah " ucapku sambil mencium pipi Nadira.
"Terima kasih sudah mau datang " ucapnya.
"Nadira maaf aku ikut menemaninya " ucap Farida, yang menyembulkan kepalanya di belakangku.
"Gak apa-apa aku seneng ko mbak mau datang ".
"Selamat ya semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warohmah "ucap Farida.
"Terima kasih selamat menikmati hidangan nya mbak " ucap Nadira ramah meski tidak terlalu kenal dengan Farida. Setelah mengambil makanan dan minuman kami duduk yang sesuai tertera di undangan.
"Kalian pasti temen Nadira" ucap wanita paruh baya yang baru bergabung dengan kami .
" Iya Tante " ucap kami,dia membalas dengan tersenyum tipis sepertinya juga tidak ada yang di kenalnya hingga Nando datang dan mengajaknya pergi.
"Gila tamunya orang cakep-cakep boleh nih tebar jaring di sini siapa tau dapet jodoh orang tajir bisa merubah keturunan gw dan mengakat derajat sosial keluarga gw" ucap Farida.
" Jangan terlalu tinggi menghayal kalau jatuh sakit "ucapku.
"Hais lo gw cuma berkhayal tak berani berharap"ucapnya sewot yang kubalas tawa kecil,tetapi tawaku sirna saat kulihat di atas pelaminan nampak sepasang suami-isteri mengucapkan selamat kepada mempelai.
"Ayo pulang gw kenyang" bohongku, kenapa mereka disini bukankah mereka tinggal di Bandung, mengapa bisa di sini apa ada hubungan keluarga dengan suami Nadira atau rekan bisnis saja kataku dalam hati.
" Aiss padahal aku mau nyari kenalan tau"ucap Farida, tanpa menunggu persetujuannya ku tarik Farida meninggalkan gedung tempat acara pernikahan.
"Kenapa ko Lo diam aja sih dari Lo ngajak pulang sampai di kosan?" tanya Farida saat kami sudah berada di depan kosanku.
"Gak apa-apa cuma ngantuk aja" bohong ku.
"Ya udah Sono tidur besok pagi ketemu lagi "ucapnya setelah aku turun dari mobil grab yang mengantarkan aku, karena rumah Farida rumahnya masih beberapa meter dari sini.
**
"Bunda akan cerita menceritakan, bunda dan umi teman SMA dan mas Prabu adalah kakak kelas kami,setelah lulus bunda bekerja di pabrik garmen di Bandung. Bunda ketemu mas Prabu yang sudah menikah dengan Anisa yang lagi hamil anak kembar,setahun kemudian mereka menemui bunda,Anisa sudah melahirkan kedua anaknya dia memintak bunda untuk menikah dengan mas Prabu dengan alasan kesehatan dan umur Anisa yang tidak lama lagi , karena dia percaya bunda bisa mengurus anak anaknya. Bunda menolak diawal tapi karena saat itu bunda butuh uang tiga puluh juta buat operasi bapak dan Anisa menawari akan memberikan sebagai Mahar kalau mau menikah dengan suaminya, ahkirnya bunda terima kami menikah tapi tiga bulan setelah menikah kesehatan Anisa tidak menandakan seperti orang sakit ahkirnya dia periksa lagi ,dari situ ketahuan hasil nya ternyata salah,karena pernikahan kami baru tiga bulan Anisa memaksa mas Prabu untuk menceraikan bunda toh bunda belum hamil,bunda yang tidak sengaja mendengar tentu sakit hati"kata bunda diakhiri dengan mengusap air mata di pipinya.
"Apa bunda tinggal satu rumah dengan mereka?" tanyaku.
" Mas Prabu dan Anisa tinggal di dalam pesantren milik keluarga mas prabu dan bunda di luar pesantren, tapi hari itu bunda habis mengasuh si kembar makanya bunda kerumah mereka jadi bunda tidak sengaja mendengar obrolan mereka ".
"Apa orang tua mereka juga tau pernikahan bunda?" tanyaku.
" Orang tua mas Prabu tau dan beliau cuma berpesan supaya adil,tapi orang tua Anisa tidak tau,Anisa anak tunggal orang tuanya seorang pengusaha kuliner mempunyai restauran dan cafe kedua orang tua mereka bersahabat makanya mereka di jodohkan" ucap bunda.
"Apa yang membuat bunda kabur?"
"bunda denger dari orang tua mas Prabu,kalau mas Prabu mau melanjutkan studi ke Kairo,dan hingga hari keberangkatan mas Prabu tidak cerita atau pamit sama Bunda, merasa sakit hati tidak dihargai sebulan tanpa kabar hanya nafkah materi yang ibu terima tiap bulan melalui ibu mas Prabu bunda tutupin kehamilan bunda dari keluarga mas Prabu. Ahkirnya bunda ijin sama mertua bunda untuk pulang menjenguk orang tua bunda saat kehamilan bunda menginjak sembilan bulan dan diijinkan.
"Saat bunda pulang,bunda hanya fokus merawat ayah dan membesar kamu serta bekerja di kafe milik teman ibu tiga bulan bunda berlalu kedua mertua Bunda menemui bunda memintak untuk kembali kerumah bunda yang di Bandung,untungnya hari itu kamu lagi dibawa pamanmu jalan jalan jadi mereka tidak melihat kamu,ahkirnya bunda sampaikan kekecewaan bunda pada anaknya,ahkirnya orang tua mas prabu memaklumi dan meminta maaf kepada bunda dan ayah" cerita bunda yang lumayan panjang.
"Mereka tidak tahu bunda hamil saat itu ?"tanyaku.
"Tidak karena mereka hanya kerumah setiap tanggal satu buat mengantar uang bulanan jadi setiap mereka datang bunda selalu memakai baju yang lebar untuk menutupi kehamilan bahkan mereka tidak tau waktu kosong bunda isi dengan bekerja di toko roti" kata bunda sambil ketawa tapi ketawa yang dibarengi air mata.
"Seharusnya begitu kembali orang itu mencari bunda kenapa tidak pernah mencari bunda?" tanyaku.
"Bunda tidak tau dan tidak mau tau buat bunda sekarang kamu,apa pun yang terjadi kamu prioritas bunda".
🎼🎼 Farida calling bunyi ponsel menyadarkan aku dari lamunan masa lalu tentang laki-laki itu dan keluarganya yang masih membekas.
"Assalamualaikum ada apa ".
"Walaikumsalam gw cuma mau bilang terima kasih lain kali kalau ada undangan kaya begini ajak gw aja" ucapnya.
"Assalamualaikum "ucapku sambil mematikan ponsel, ku lirik jam dinding menujukkan pukul 11 malam karena rasa lapar ku, aku mengganti pakaianku dengan pakaian santai dan bergegas jalan keluar untuk mencari makanan yang bisa buat mengisi perutku.
"Mang nasi goreng satu air mineral satu" ucapku sebelum mencari tempat duduk , tempat nasi goreng disini lumayan ramai selain drama dengan kantung rasanya juga tidak kalah restoran.
"Sendirian aja neng" ucapnya sambil meletakan pesanan ku.
"Teman saya hari ini menikah jadi mungkin kedepannya saya akan sendirian kalau makan di sini" jawabku.
"Ya udah neng nya cari aja calon , biar ada temen kalau lagi makan nasi goreng di sini" ucapnya.
"Hahaha bisa aja mamang" ucapku sambil tertawa kecil.
"Maaf numpang duduk " ucap 2 lelaki yang baru duduk.
" Silahkan ini tempat umum bukan milik saya" ucapku tanpa melihat ke arahnya.
"Loo bener ga datang hari ini di pernikahan sepupu elo" ucap salah satu tapi kenapa suaranya tidak asing ,di dorong rasa penasaran ku lirik mereka. Ya Tuhan mereka kan 2 polisi di club malam tempo hari ucapku dalam hati.
"Gw males ketemu Rahayu pasti dia ada disana , karena aku yakin orang tua Rahayu juga pasti di undang " ucap sang komandan.
"Lo benci banget di jodohkan dengan bidadari secantik Rahayu nolak udah cantik, anggun, Sholeha, kurang apa juga ".
"Ga ada wanita Solehah yang memandang lawan jenis yang bukan mahramnya dengan pandangan memuja , wanita Solehah akan menjaga pandangannya wanita solehah tidak akan menunda sholat wajib jika tidak dalam kondisi yang mendesak " ucap sang komandan, karena nasiku sudah habis segera aku bangun meninggalkan mereka. Rahayu nama yang sama tapi semoga beda orang.
" Mbak yang di club malam waktu itu ya " ucap salah satu dari yang duduk di depanku saat aku sudah melangkah satu langkah.
"Iya mbak yang bawa taspek dulu yang kata temennya baru menjadi janda, gimana taspek nya hamil tidak " Ucapnya. Tanpa perlu menjawab aku hanya memiliki sekilas dan pergi meninggalkan mereka berdua, sialan gara-gara Nadira gw di bilang janda apa sih enaknya janda ah kampret Nadira umpatku dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 177 Episodes
Comments