Duncan mengurangi kecepatan mobilnya sambil menunggu Daphne selesai melakukan pencarian di internet. Ya, gadis itu masih sibuk mencari lokasi toko yang menjual alat-alat yang dibutuhkannya. Namun ia tidak dapat menemukan satu toko pun yang menjual pasak atau peluru perak.
Akhirnya, Daphne memutuskan untuk membeli barang tersebut secara online. Sedangkan untuk bawang putih, ia tinggal memintanya kepada Xin Fei.
"Sudah selesai, Nona?" tanya Duncan penasaran.
"Sudah, aku tinggal membeli salib yang berukuran besar. Itu gampang dicari. Setelah peralatanku lengkap, aku akan mulai mencari vampir yang membunuh orang tuaku," kata Daphne.
Mendengar ucapan Daphne, Duncan jadi berpikir bagaimana seandainya gadis ini tahu bahwa ia setengah vampir. Pasti Daphne akan segera menangkapnya lalu menembaknya dengan peluru perak.
"Apa Nona tahu bagaimana cara menemukan vampir?" tanya Duncan penasaran.
Daphne menggeleng pelan. Dia memang belum tahu banyak tentang seluk beluk vampir, selain dari kisah dalam novel atau film horor yang ia tonton. Dengan berbekal pengetahuan seminim itu, mana mungkin ia bisa mendeteksi keberadaan vampir.
"Duncan, apa kau tahu tentang ciri-ciri vampir selain bertaring, berwajah pucat dan takut matahari? Di mana biasanya mereka bersembunyi?" tanya Daphne mencodongkan tubuhnya ke arah Duncan.
Duncan terkejut mendapat pertanyaan dadakan seperti itu. Dengan polosnya, ia memberikan jawaban kepada Daphne.
"Sebagian vampir tidak takut matahari, Nona. Taringnya juga tidak terlihat, kecuali dia akan menghisap darah. Mereka bisa berbaur dengan manusia biasa. Untuk tempat persembunyian, mereka bisa tinggal di mana saja."
"Dari mana kau tahu tentang itu?" tanya Daphne keheranan.
"Pernah membaca dari buku," jawab Duncan asal.
Daphne membulatkan matanya. Benar juga, buku merupakan sumber pengetahuan yang lebih terpercaya daripada informasi yang beredar di internet. Bisa jadi, buku-buku dari abad pertengahan justru memuat informasi yang lengkap tentang vampir.
"Duncan, antarkan aku Jalan Westmington. Setelah itu tinggalkan saja aku di sana. Nanti kalau aku sudah selesai, aku akan menelponmu," ucap Daphne.
"Nona tidak mau ditemani?" tanya Duncan memastikan.
"Tidak usah, aku akan lama berada di sana karena aku ingin membeli buku. Lebih baik kamu jalan-jalan ke tempat yang kamu inginkan sambil menungguku."
"Baik, Nona," ucap Duncan segera mengemudikan mobilnya.
Sekitar lima belas menit kemudian, mereka pun sampai di Jalan Westmington. Hanya segelintir orang yang terlihat berjalan kaki di pinggir trotoar. Sejauh mata memandang, tampak bangunan-bangunan kuno yang berjajar di sepanjang jalan. Maklum saja karena daerah Westmington memang terkenal sebagai area yang mempertahankan keaslian budaya masa lalu.
"Turunkan aku di sini, Duncan. Kamu boleh pergi," ucap Daphne bergegas turun dari mobil.
"Hati-hati, Nona."
Sebelum pergi, Duncan masih mengawasi Daphne hingga gadis itu memasuki sebuah toko buku. Sebenarnya ia merasa khawatir bila meninggalkan Daphne seorang diri. Namun karena gadis itu bersikeras, Duncan terpaksa menuruti kemauannya.
'Lebih baik aku mencari tempat yang tenang untuk bermeditasi. Aku ingin melacak di mana keberadaan makam ibuku yang sebenarnya,'
pikir Duncan seraya menjalankan mobil.
Sementara itu, Daphne sudah berada di salah satu toko buku. Ia menjelajahi setiap rak yang terpajang di sana, tetapi ia tidak dapat menemukan buku tentang vampir. Yang ada hanyalah novel lama yang sudah pernah ia baca.
"Pak, apa tidak ada koleksi buku lain yang bertema vampir?" tanya Daphne kepada pria tua yang menjaga toko buku itu.
"Tidak ada, Nona, di sini kebanyakan buku tentang sejarah dan sastra. Kalau Nona mau mencari buku bertema hantu dan penyihir, coba saja ke toko Jackson milik Nyonya Edith. Letaknya dua blok dari sini."
"Baik, Pak, terima kasih atas informasinya," ucap Daphne lantas keluar dari toko itu.
Dengan berjalan kaki, Daphne mencoba mencari toko yang dimaksud oleh si pria tua. Karena belum berhasil menemukan lokasinya, Daphne berhenti sebentar untuk bertanya kepada orang yang lewat. Namun mendadak ada seseorang yang menyentuh bahunya dari belakang.
Sontak Daphne menolehkan kepalanya. Ia terkejut saat bertemu pandang dengan netra hitam seorang pria asing.
"Maaf, siapa Anda?" tanya Daphne langsung menjaga jarak. Ia merasa trauma dengan kejadian buruk yang pernah menimpanya di taman kota.
"Saya Julio, Nona. Saya lihat Nona seperti sedang mencari sesuatu. Ada yang bisa saya bantu? Kebetulan saya sering mengunjungi daerah ini," tanya Julio tersenyum ramah.
Daphne memandang sejenak penampilan pria itu. Meski berambut gondrong, tetapi ia terlihat rapi dan bersih. Apalagi sinar matanya nampak begitu teduh, seolah ada daya magnet di dalamnya.
"Saya...sedang mencari toko buku Jackson, Tuan," jawab Daphne tak bisa mengalihkan pandangannya dari pria itu.
"Oh, saya tahu toko itu karena saya juga hobi membaca. Mari ikut saya, Nona."
Julio berjalan mendahului Daphne melintasi trotoar. Tanpa merasa curiga, Daphne mengikuti langkah lelaki itu hingga mereka sampai di depan sebuah bangunan bercat abu-abu.
Melihat papan kayu yang bertuliskan "Jackson Books Store" Daphne langsung merasa lega. Ternyata lelaki bernama Julio ini sungguh tulus dalam memberikan bantuan untuknya.
"Terima kasih atas bantuannya, Tuan. Saya akan masuk ke dalam," ujar Daphne.
"Kita masuk bersama saja, Nona. Saya juga ingin membeli buku," jawab Julio sambil membukakan pintu untuk Daphne.
Karena perlakuan sopan pria itu, Daphne pun tersenyum sebagai ungkapan terima kasih. Mereka lantas masuk bersama. Untuk menyingkat waktu, Daphne langsung bertanya kepada si penjaga toko.
"Nyonya, di sebelah mana buku-buku tentang vampir?"
"Di sebelah kanan, rak keempat dari depan."
"Baik, Nyonya, terima kasih."
Daphne bergegas menuju ke rak yang ditunjukkan penjaga toko, sementara Julio mengikutinya dari belakang. Pria itu nampak penasaran kenapa Daphne tertarik untuk mencari buku bertema vampir.
Tanpa berlama-lama, Daphne memilih beberapa buku yang menarik perhatiannya. Ada buku mengenai ritual pengusiran vampir, cara memusnahkan vampir, dan sejarah kemunculan vampir. Ia begitu asyik membaca sinopsis buku tersebut untuk menentukan buku mana yang akan dibeli.
Julio pun memperhatikan gadis itu sambil berpura-pura membaca novel tentang penyihir. Semakin dekat dengan Daphne, ia merasa bertambah yakin jika gadis ini memiliki darah murni. Julio bisa menghirup aroma wanginya dari jarak jauh saat ia berada di jalanan tadi.
Selain itu, Julio juga penasaran dengan bau vampir yang terkadang tercium dari tubuh Daphne. Entah dari mana gadis itu mendapatkannya, karena tidak ada vampir lain di sekitar sini.
"Kenapa kau ingin membaca buku-buku ini, Nona? Apa kau tidak takut kepada vampir?"
"Tidak, Tuan Julio. Justru saya sangat ingin bertemu dengan vampir yang asli," jawab Daphne seraya membawa dua buku yang dipilihnya.
"Benarkah? Kau sungguh ingin melihat vampir?"
"Benar, Tuan. Saya penasaran seperti apa mereka sesungguhnya," tukas Daphne.
"Kalau begitu ikut saya, Nona. Saya akan menunjukkan tempat persembunyian salah satu vampir di kota ini," ajak Julio sambil tersenyum miring.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments