Daphne menggosok telinganya beberapa kali. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari Sang Kakek.
"Kakek sedang bercanda, kan? Mana mungkin ayahku berperang melawan vampir. Itu semua hanya ada di film, bukan di dunia nyata," sanggah Daphne berusaha tetap menggunakan logika.
"Mungkin ini terkesan tidak masuk akal, tetapi Kakek mengatakan yang sebenarnya. Ayahmu, Gerald, adalah keturunan dari klan pemburu vampir. Kakek baru mengetahui fakta ini setelah ibumu menikah dengannya. Dan ibumu...." ucap Kakek James dengan mata berkaca-kaca.
Melihat sang kakek tak mampu melanjutkan kalimatnya, Daphne pun menarik kesimpulan sendiri.
"Ibuku meninggal karena digigit vampir? Apa benar itu, Kek?" tanya Daphne dengan suara bergetar.
Kakek James tak lantas menjawab, tetapi sorot matanya menunjukkan kesedihan mendalam.
"Kakek juga tidak tahu pasti. Namun, ayahmu mengatakan bahwa ada vampir yang menghisap darah ibumu setelah dia melahirkan. Karena itu, ayahmu bertekad untuk membalas dendam dengan cara membasmi klan vampir."
"Kenapa Kakek baru mengatakan ini sekarang?" tanya Daphne masih syok dengan riwayat kelam keluarganya.
"Karena...berita di televisi tadi membuat Kakek semakin khawatir. Kakek takut vampir-vampir yang menjadi musuh ayahmu akan datang untuk mencarimu."
Kakek James memegang tangan Daphne sambil menatap matanya lekat-lekat.
"Inilah yang menjadi alasan Kakek ingin kamu menikah secepatnya. Kakek mau ada pria yang bisa menjaga dan melindungimu setiap saat. Karena itu, pertimbangkanlah permintaan Kakek untuk menikah dengan Duncan."
Daphne belum sempat menjawab pernyataan dari Kakek James. Karena tiba-tiba Xin Fei masuk ke ruangan dengan tergesa-gesa untuk menemui mereka.
"Tuan James, mari kita memasak di dapur sekarang. Di luar sudah ada sepuluh orang tamu yang memesan makanan."
"Sepuluh orang? Kenapa mendadak ada tamu sebanyak itu?" tanya Kakek James keheranan.
"Ini karena Duncan, Tuan. Dia turun ke jalan untuk menawari orang-orang makan di restoran kita, dengan bonus dilukis secara gratis."
"Duncan mencarikan tamu untuk restoran kita? Wah, dia benar-benar anak muda yang hebat."
Seketika Daphne berdiri dari kursinya. Ia tak menyangka Duncan akan melakukan hal yang sama seperti di kampus demi menarik perhatian para pengunjung.
"Kek, aku akan melihat keadaan di depan," ujar Daphne bergegas keluar dari ruang kerja kakeknya.
"Baiklah, Kakek akan memasak," seru Kakek James dari belakang punggung Daphne.
Saat Daphne sampai di depan restoran, ia disambut oleh pemandangan yang membuatnya tercengang. Duncan sedang duduk di kursi sambil melukis wajah seorang wanita berusia tiga puluhan. Sedangkan di belakangnya masih mengantri beberapa orang wanita lagi.
Noel yang melihat itu segera menepuk bahu Daphne.
"Daph, lebih baik kamu membantu Duncan mengatur antrian atau menolongku mencatat pesanan. Jangan bengong di sini."
"Apa semua yang datang ke restoran ini wanita?" tanya Daphne mengamati para tamu yang duduk di meja.
Noel mengedikkan bahunya sambil menyeringai.
"Iya, mau bagaimana lagi. Para wanita itu bersedia memesan makanan karena ingin dilukis oleh pria tampan seperti Duncan. Aku jadi menyesal kenapa dulu aku tidak punya bakat melukis. Apa kau juga mau ikut dalam antrian itu?"
"Tidak, aku bukan wanita centil seperti mereka. Sudahlah, lebih baik aku membantu promosi di depan supaya lebih banyak pelanggan yang datang," ujar Daphne berjalan cepat.
Daphne tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Di satu sisi, ia merasa senang karena restoran kakeknya ramai berkat usaha Duncan. Namun, di sisi lain ia merasa tak suka jika Duncan didekati para wanita. Sungguh perasaan semacam ini baru pertama kalinya dia rasakan.
...****************...
Karena restoran semakin ramai, Daphne dan Duncan membantu hingga sore hari. Kakek James akhirnya menutup restoran lebih awal sebab mereka semua sudah kewalahan.
"Huffttt, capeknya hari ini. Untung saja restoran sudah tutup. Kalau tidak, mungkin aku akan jatuh pingsan," keluh Noel.
"Aku dan Kakek James yang lebih lelah darimu. Kami tidak berhenti memasak sejak tadi," timpal Xin Fei.
Kakek James tidak menggubris kedua karyawannya itu. Ia malah asyik mengamati sepasang muda mudi yang duduk di kursi depan. Mereka adalah Daphne dan Duncan. Daphne sedang membantu meregangkan tangan Duncan yang kaku dan pegal akibat terlalu banyak menggambar.
Kakek James pun menghampiri mereka sambil mengulum senyuman. Daphne yang melihat kakeknya datang segera menghentikan pijatannya.
"Duncan, terima kasih karena kamu sudah membantu Kakek hari ini," ujar Kakek James.
"Aku senang melakukan ini karena menggambar adalah hobiku, Kek. Lagipula aku sangat mengetahui isi hati para wanita. Apa yang kutawarkan tadi adalah untuk memenuhi keinginan mereka," jawab Duncan apa adanya.
"Kek, aku akan membantu cuci piring di dapur. Kakek mengobrol saja dengan Duncan," sela Daphne hendak beranjak pergi. Namun Kakek James menghentikan langkah cucunya itu.
"Kau jangan pergi ke mana-mana. Pulanglah bersama Duncan, kalian berdua butuh istirahat. Pekerjaan di restoran biar diurus oleh Noel dan Xin Fei."
"Tapi, Kek, nanti...."
"Tidak ada tapi-tapian, pulang sekarang," titah Kakek James menarik tangan Daphne keluar dari restoran.
Karena dipaksa oleh kakeknya, Daphne akhirnya pulang bersama Duncan.
Di dalam mobil, Daphne masih memikirkan soal orang tuanya. Timbul keinginan di dalam hatinya untuk menyelidiki kasus kematian ayah dan ibunya. Bila benar penyebabnya adalah vampir, ia tak akan segan untuk mencari vampir pembunuh itu, lalu menusuk jantungnya dengan pasak kayu.
"Duncan, kita jangan pulang dulu. Tolong antarkan aku ke toko bunga, lalu setelah itu ke makam ayah dan ibuku di Moon Hill. Aku ingin mengunjungi mereka," ujar Daphne.
"Baik, Nona." Duncan memutar mobilnya sesuai arah yang ditunjukkan Daphne.
Usai membeli buket bunga mawar, Duncan langsung mengantar Daphne menuju ke areal pemakaman Moon Hill. Terletak di atas bukit dengan gerbang tinggi berwarna putih, membuat kompleks pemakaman tersebut nampak lebih eksklusif dibandingkan dengan yang lain.
Daphne turun lebih dulu dari mobil, sedangkan Duncan menyusul di belakang. Dengan langkah cepat, Daphne menghampiri pusara kedua orang tuanya. Ayah dan ibu Daphne memang dimakamkan secara berdampingan, sehingga memudahkan Daphne untuk mengunjunginya sekaligus.
Daphne meletakkan buket bunga yang dibawanya, lalu bersimpuh di pusara berwarna abu-abu itu. Ia mengusap batu nisan ayah dan ibunya dengan jari- jemarinya. Menyingkirkan daun-daun yang menutupi makam itu secara bergantian. Kemudian Daphne memanjatkan doa untuk kedua orang tuanya yang sudah tenang di atas sana.
Duncan yang berdiri di belakang Daphne bisa memahami kesedihan gadis itu. Pasalnya, ia sendiri merupakan seorang yatim piatu yang tidak sempat mengenal kedua orang tuanya. Yang ia tahu, selama ini dirinya tumbuh besar di dalam lukisan dengan ditemani pelayan sang nenek yang bernama Hugo.
Sementara itu, Daphne sudah selesai berdoa. Sambil menyeka air matanya, ia berdiri menghadap kepada Duncan.
"Duncan, apa kamu tahu di mana toko yang menjual peralatan pengusiran vampir, seperti bawang putih, pasak, peluru perak, atau salib yang berukuran besar?" tanya Daphne.
Duncan langsung menaikkan alisnya saat mendengar pertanyaan Daphne.
"Untuk apa Nona mencari semua itu?" tanya Duncan terkejut.
"Aku ingin mencari vampir yang sudah membunuh ayah dan ibuku. Aku harus membalas perbuatannya," jawab Daphne penuh keyakinan.
Di tempat lain, Julio sedang berbisik ke telinga Zarka sebelum ia menerbangkan burung gagak itu ke angkasa.
"Pergilah kepada Pangeran Vladimir. Beritahukan bahwa aku akan memulai perburuan malam ini. Tapi sebelumnya, aku harus mencari darah gadis yang masih murni untuk menambah kekuatanku," ucapnya dengan tatapan tajam.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments