Bab 20 Ingin Balas Dendam

Daphne menggosok telinganya beberapa kali. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari Sang Kakek.

"Kakek sedang bercanda, kan? Mana mungkin ayahku berperang melawan vampir. Itu semua hanya ada di film, bukan di dunia nyata," sanggah Daphne berusaha tetap menggunakan logika.

"Mungkin ini terkesan tidak masuk akal, tetapi Kakek mengatakan yang sebenarnya. Ayahmu, Gerald, adalah keturunan dari klan pemburu vampir. Kakek baru mengetahui fakta ini setelah ibumu menikah dengannya. Dan ibumu...." ucap Kakek James dengan mata berkaca-kaca.

Melihat sang kakek tak mampu melanjutkan kalimatnya, Daphne pun menarik kesimpulan sendiri.

"Ibuku meninggal karena digigit vampir? Apa benar itu, Kek?" tanya Daphne dengan suara bergetar.

Kakek James tak lantas menjawab, tetapi sorot matanya menunjukkan kesedihan mendalam.

"Kakek juga tidak tahu pasti. Namun, ayahmu mengatakan bahwa ada vampir yang menghisap darah ibumu setelah dia melahirkan. Karena itu, ayahmu bertekad untuk membalas dendam dengan cara membasmi klan vampir."

"Kenapa Kakek baru mengatakan ini sekarang?" tanya Daphne masih syok dengan riwayat kelam keluarganya.

"Karena...berita di televisi tadi membuat Kakek semakin khawatir. Kakek takut vampir-vampir yang menjadi musuh ayahmu akan datang untuk mencarimu."

Kakek James memegang tangan Daphne sambil menatap matanya lekat-lekat.

"Inilah yang menjadi alasan Kakek ingin kamu menikah secepatnya. Kakek mau ada pria yang bisa menjaga dan melindungimu setiap saat. Karena itu, pertimbangkanlah permintaan Kakek untuk menikah dengan Duncan."

Daphne belum sempat menjawab pernyataan dari Kakek James. Karena tiba-tiba Xin Fei masuk ke ruangan dengan tergesa-gesa untuk menemui mereka.

"Tuan James, mari kita memasak di dapur sekarang. Di luar sudah ada sepuluh orang tamu yang memesan makanan."

"Sepuluh orang? Kenapa mendadak ada tamu sebanyak itu?" tanya Kakek James keheranan.

"Ini karena Duncan, Tuan. Dia turun ke jalan untuk menawari orang-orang makan di restoran kita, dengan bonus dilukis secara gratis."

"Duncan mencarikan tamu untuk restoran kita? Wah, dia benar-benar anak muda yang hebat."

Seketika Daphne berdiri dari kursinya. Ia tak menyangka Duncan akan melakukan hal yang sama seperti di kampus demi menarik perhatian para pengunjung.

"Kek, aku akan melihat keadaan di depan," ujar Daphne bergegas keluar dari ruang kerja kakeknya.

"Baiklah, Kakek akan memasak," seru Kakek James dari belakang punggung Daphne.

Saat Daphne sampai di depan restoran, ia disambut oleh pemandangan yang membuatnya tercengang. Duncan sedang duduk di kursi sambil melukis wajah seorang wanita berusia tiga puluhan. Sedangkan di belakangnya masih mengantri beberapa orang wanita lagi.

Noel yang melihat itu segera menepuk bahu Daphne.

"Daph, lebih baik kamu membantu Duncan mengatur antrian atau menolongku mencatat pesanan. Jangan bengong di sini."

"Apa semua yang datang ke restoran ini wanita?" tanya Daphne mengamati para tamu yang duduk di meja.

Noel mengedikkan bahunya sambil menyeringai.

"Iya, mau bagaimana lagi. Para wanita itu bersedia memesan makanan karena ingin dilukis oleh pria tampan seperti Duncan. Aku jadi menyesal kenapa dulu aku tidak punya bakat melukis. Apa kau juga mau ikut dalam antrian itu?"

"Tidak, aku bukan wanita centil seperti mereka. Sudahlah, lebih baik aku membantu promosi di depan supaya lebih banyak pelanggan yang datang," ujar Daphne berjalan cepat.

Daphne tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Di satu sisi, ia merasa senang karena restoran kakeknya ramai berkat usaha Duncan. Namun, di sisi lain ia merasa tak suka jika Duncan didekati para wanita. Sungguh perasaan semacam ini baru pertama kalinya dia rasakan.

...****************...

Karena restoran semakin ramai, Daphne dan Duncan membantu hingga sore hari. Kakek James akhirnya menutup restoran lebih awal sebab mereka semua sudah kewalahan.

"Huffttt, capeknya hari ini. Untung saja restoran sudah tutup. Kalau tidak, mungkin aku akan jatuh pingsan," keluh Noel.

"Aku dan Kakek James yang lebih lelah darimu. Kami tidak berhenti memasak sejak tadi," timpal Xin Fei.

Kakek James tidak menggubris kedua karyawannya itu. Ia malah asyik mengamati sepasang muda mudi yang duduk di kursi depan. Mereka adalah Daphne dan Duncan. Daphne sedang membantu meregangkan tangan Duncan yang kaku dan pegal akibat terlalu banyak menggambar.

Kakek James pun menghampiri mereka sambil mengulum senyuman. Daphne yang melihat kakeknya datang segera menghentikan pijatannya.

"Duncan, terima kasih karena kamu sudah membantu Kakek hari ini," ujar Kakek James.

"Aku senang melakukan ini karena menggambar adalah hobiku, Kek. Lagipula aku sangat mengetahui isi hati para wanita. Apa yang kutawarkan tadi adalah untuk memenuhi keinginan mereka," jawab Duncan apa adanya.

"Kek, aku akan membantu cuci piring di dapur. Kakek mengobrol saja dengan Duncan," sela Daphne hendak beranjak pergi. Namun Kakek James menghentikan langkah cucunya itu.

"Kau jangan pergi ke mana-mana. Pulanglah bersama Duncan, kalian berdua butuh istirahat. Pekerjaan di restoran biar diurus oleh Noel dan Xin Fei."

"Tapi, Kek, nanti...."

"Tidak ada tapi-tapian, pulang sekarang," titah Kakek James menarik tangan Daphne keluar dari restoran.

Karena dipaksa oleh kakeknya, Daphne akhirnya pulang bersama Duncan.

Di dalam mobil, Daphne masih memikirkan soal orang tuanya. Timbul keinginan di dalam hatinya untuk menyelidiki kasus kematian ayah dan ibunya. Bila benar penyebabnya adalah vampir, ia tak akan segan untuk mencari vampir pembunuh itu, lalu menusuk jantungnya dengan pasak kayu.

"Duncan, kita jangan pulang dulu. Tolong antarkan aku ke toko bunga, lalu setelah itu ke makam ayah dan ibuku di Moon Hill. Aku ingin mengunjungi mereka," ujar Daphne.

"Baik, Nona." Duncan memutar mobilnya sesuai arah yang ditunjukkan Daphne.

Usai membeli buket bunga mawar, Duncan langsung mengantar Daphne menuju ke areal pemakaman Moon Hill. Terletak di atas bukit dengan gerbang tinggi berwarna putih, membuat kompleks pemakaman tersebut nampak lebih eksklusif dibandingkan dengan yang lain.

Daphne turun lebih dulu dari mobil, sedangkan Duncan menyusul di belakang. Dengan langkah cepat, Daphne menghampiri pusara kedua orang tuanya. Ayah dan ibu Daphne memang dimakamkan secara berdampingan, sehingga memudahkan Daphne untuk mengunjunginya sekaligus.

Daphne meletakkan buket bunga yang dibawanya, lalu bersimpuh di pusara berwarna abu-abu itu. Ia mengusap batu nisan ayah dan ibunya dengan jari- jemarinya. Menyingkirkan daun-daun yang menutupi makam itu secara bergantian. Kemudian Daphne memanjatkan doa untuk kedua orang tuanya yang sudah tenang di atas sana.

Duncan yang berdiri di belakang Daphne bisa memahami kesedihan gadis itu. Pasalnya, ia sendiri merupakan seorang yatim piatu yang tidak sempat mengenal kedua orang tuanya. Yang ia tahu, selama ini dirinya tumbuh besar di dalam lukisan dengan ditemani pelayan sang nenek yang bernama Hugo.

Sementara itu, Daphne sudah selesai berdoa. Sambil menyeka air matanya, ia berdiri menghadap kepada Duncan.

"Duncan, apa kamu tahu di mana toko yang menjual peralatan pengusiran vampir, seperti bawang putih, pasak, peluru perak, atau salib yang berukuran besar?" tanya Daphne.

Duncan langsung menaikkan alisnya saat mendengar pertanyaan Daphne.

"Untuk apa Nona mencari semua itu?" tanya Duncan terkejut.

"Aku ingin mencari vampir yang sudah membunuh ayah dan ibuku. Aku harus membalas perbuatannya," jawab Daphne penuh keyakinan.

Di tempat lain, Julio sedang berbisik ke telinga Zarka sebelum ia menerbangkan burung gagak itu ke angkasa.

"Pergilah kepada Pangeran Vladimir. Beritahukan bahwa aku akan memulai perburuan malam ini. Tapi sebelumnya, aku harus mencari darah gadis yang masih murni untuk menambah kekuatanku," ucapnya dengan tatapan tajam.

Bersambung

Episodes
1 Siapa yang Membebaskan Aku
2 Apa Bedanya Pria dan Wanita
3 Cinta Berakhir Malapetaka
4 Kelahiran Calon Raja
5 Hati yang Tidak Mengenal Cinta
6 Nikahi Cucuku
7 Memiliki Pengawal Tampan
8 Usia Seribu Tahun
9 Belum Terbiasa Bertemu Manusia
10 Bab 11 Salah Paham
11 Bab 12 Malaikat Penyelamatku
12 Bab 13 Rencana Licik
13 Bab 14 Apakah Kita Pasangan Kekasih ?
14 Bab 15 Ramalan Kematian
15 Bab 16 Ambisi menjadi Raja
16 Bab 17 Menuntaskan Rasa Haus
17 Bab 18 Takut Kehilanganmu
18 Bab 19 Rahasia yang Terkuak
19 Bab 20 Ingin Balas Dendam
20 Bab 21 Masuk Jebakan
21 Bab 22 Pertarungan Sengit (Part 1)
22 Bab 23 Pertarungan Sengit (Part 2)
23 Bab 24 Rencana Pernikahan
24 Bab 25 Apakah Kau Vampir
25 Bab 26 Mulai Merasakan Cinta
26 Bab 27 Kita Tetap Menikah
27 Bab 28 Saingan Cinta
28 Bab 29 Apa yang Dilakukan Setelah Menikah
29 Bab 30 Resiko Terburuk
30 Bab 31 Tak Bisa Jauh Darimu
31 Bab 32 Kau Bukan Dia
32 Bab 33 Sakit Hati
33 Bab 34 Melanggar Larangan
34 Bab 35 Siapa yang Asli Siapa yang Palsu
35 Bab 36 Hari Pernikahan (Part 1)
36 Bab 37 Hari Pernikahan (Part 2)
37 Bab 38 Bulan Madu di atas Pegunungan (Part 1)
38 Bab 39 Bulan Madu di Atas Pegunungan (Part 2)
39 Bab 40 Cinta di Atas Segalanya
40 Bab 41 Malam Bulan Purnama
41 Bab 42 Pilihan yang Sulit
42 Bab 43 Ke mana Suamiku
43 Bab 44 Mendadak Amnesia
44 Bab 45 Sang Pesulap Hijau
45 Bab 46 Fitnah yang Keji
46 Bab 47 Menjadikan Dia sebagai Boneka
47 Bab 48 Perebutan Takhta
48 Bab 49 Belati Suci
49 Bab 50 Menyusup ke Istana
50 Bab 51 Tipu Daya
51 Bab 52 Antara Benci dan Cinta
52 Bab 53 Kesalahan Terbesar
53 Bab 54 Rela Mati Untuknya
54 Bab 55 Cinta itu Abadi (The End)
Episodes

Updated 54 Episodes

1
Siapa yang Membebaskan Aku
2
Apa Bedanya Pria dan Wanita
3
Cinta Berakhir Malapetaka
4
Kelahiran Calon Raja
5
Hati yang Tidak Mengenal Cinta
6
Nikahi Cucuku
7
Memiliki Pengawal Tampan
8
Usia Seribu Tahun
9
Belum Terbiasa Bertemu Manusia
10
Bab 11 Salah Paham
11
Bab 12 Malaikat Penyelamatku
12
Bab 13 Rencana Licik
13
Bab 14 Apakah Kita Pasangan Kekasih ?
14
Bab 15 Ramalan Kematian
15
Bab 16 Ambisi menjadi Raja
16
Bab 17 Menuntaskan Rasa Haus
17
Bab 18 Takut Kehilanganmu
18
Bab 19 Rahasia yang Terkuak
19
Bab 20 Ingin Balas Dendam
20
Bab 21 Masuk Jebakan
21
Bab 22 Pertarungan Sengit (Part 1)
22
Bab 23 Pertarungan Sengit (Part 2)
23
Bab 24 Rencana Pernikahan
24
Bab 25 Apakah Kau Vampir
25
Bab 26 Mulai Merasakan Cinta
26
Bab 27 Kita Tetap Menikah
27
Bab 28 Saingan Cinta
28
Bab 29 Apa yang Dilakukan Setelah Menikah
29
Bab 30 Resiko Terburuk
30
Bab 31 Tak Bisa Jauh Darimu
31
Bab 32 Kau Bukan Dia
32
Bab 33 Sakit Hati
33
Bab 34 Melanggar Larangan
34
Bab 35 Siapa yang Asli Siapa yang Palsu
35
Bab 36 Hari Pernikahan (Part 1)
36
Bab 37 Hari Pernikahan (Part 2)
37
Bab 38 Bulan Madu di atas Pegunungan (Part 1)
38
Bab 39 Bulan Madu di Atas Pegunungan (Part 2)
39
Bab 40 Cinta di Atas Segalanya
40
Bab 41 Malam Bulan Purnama
41
Bab 42 Pilihan yang Sulit
42
Bab 43 Ke mana Suamiku
43
Bab 44 Mendadak Amnesia
44
Bab 45 Sang Pesulap Hijau
45
Bab 46 Fitnah yang Keji
46
Bab 47 Menjadikan Dia sebagai Boneka
47
Bab 48 Perebutan Takhta
48
Bab 49 Belati Suci
49
Bab 50 Menyusup ke Istana
50
Bab 51 Tipu Daya
51
Bab 52 Antara Benci dan Cinta
52
Bab 53 Kesalahan Terbesar
53
Bab 54 Rela Mati Untuknya
54
Bab 55 Cinta itu Abadi (The End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!