Setelah burung gagak itu pergi, Duncan melihat keadaan si wanita yang mengalami pendarahan. Luka di bagian lehernya cukup parah. Bila lukanya tidak segera disembuhkan, maka wanita itu pasti akan kehilangan nyawanya.
Duncan pun berjongkok untuk memeriksa keadaan wanita itu. Bau anyir darah membuat Duncan sedikit tergoda. Namun pria itu segera memejamkan mata untuk mengusir naluri liar yang bersemayam di dalam dirinya.
"Ja...ngan!" rintih wanita itu memohon belas kasihan.
Napas wanita itu tersengal-sengal. Bola matanya juga terbalik ke atas, hanya menyisakan warna putih. Ini pertanda bahwa racun vampir telah menyebar hampir ke seluruh pembuluh darahnya.
"Tenang, Nyonya, aku akan mengobatimu."
Sedetik kemudian, wanita itu sudah tidak sadarkan diri. Mengetahui hal ini, Duncan buru-buru mengambil tindakan. Ia menempelkan tangannya ke leher wanita itu.
Perlahan tapi pasti, Duncan menyalurkan energi penyembuhan kepada wanita itu. Setiap vampir memang memiliki kekuatan untuk menyembuhkan diri sendiri. Namun kali ini Duncan memberikan sebagian kemampuannya untuk menolong manusia.
Lambat laun, luka wanita itu pun mengering sehingga darahnya berhenti mengalir. Duncan menyudahi aliran energinya lantas menggendong tubuh wanita itu. Memindahkannya ke tepi hutan agar lebih mudah ditemukan oleh orang lain.
Sebelum benar-benar pergi, Duncan menyentuh dahi wanita itu untuk menghapuskan ingatan mengenai dirinya.
"Beristirahatlah dulu, Nyonya. Semoga ada orang yang segera membawamu ke rumah sakit," ujar Duncan sebelum ia pergi.
Melihat tangannya yang terkena noda darah, Duncan pergi ke sungai kecil yang ada di hutan untuk membasuh tangannya. Ia mencuci tangan dan mulutnya sampai bersih, supaya tak ada bau amis yang tersisa.
Setelah dirasa cukup, Duncan mengubah wujudnya menjadi kelelawar dan terbang menuju ke rumah Daphne.
Sementara Daphne yang sedang tertidur tiba-tiba bermimpi buruk. Ia melihat Duncan berdiri di sebuah ruangan gelap dengan tubuh berlumuran darah. Daphne berusaha menyentuh pria itu, tetapi tangan dan kakinya tak mampu digerakkan.
Sontak Daphne pun terbangun dengan peluh yang membasahi dahinya. Hal yang pertama kali terpikirkan olehnya adalah Duncan. Ia cemas akan terjadi sesuatu yang buruk pada lelaki itu. Apakah mungkin penyakit yang diderita Duncan bertambah parah?
Daphne melirik jam di nakas yang menunjukkan pukul empat pagi. Karena rasa khawatirnya yang berlebihan, Daphne memutuskan untuk melihat keadaan Duncan di kamarnya.
Tanpa memakai alas kaki, wanita itu berjalan keluar dari kamar. Ia mengetuk pintu kamar Duncan sambil memanggil-mangg nama pria itu. Namun tak ada jawaban yang didapatnya dari balik pintu.
Hati Daphne semakin tak tenang. Mengira Duncan masih tidur, Daphne memutuskan untuk membuka pintu kamar itu dengan kunci cadangan.
"Cekrek!"
Dengan sekali putaran, Daphne berhasil membuka pintu kamar Duncan. Alangkah terkejutnya dia saat menemukan kamar itu tak berpenghuni. Apalagi jendela kamar Duncan juga terbuka dengan lebar.
Seketika Daphne panik. Sekelebat pikiran buruk terlintas di benaknya. Ia takut ada penjahat yang menyusup masuk ke kamar Duncan, lalu menculik dan mencelakai lelaki itu.
"Duncan, di mana kamu?!" teriak Daphne melalui jendela.
Entah mengapa ia takut bila lelaki itu mengalami nasib yang serupa dengan mimpinya.
Dengan perasaan berkecamuk, Daphne terduduk di tepi tempat tidur. Ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Haruskah ia melaporkan hilangnya Duncan kepada pihak kepolisian? Atau mungkinkah Duncan sengaja kabur dari rumahnya karena bosan diperlakukan sebagai pembantu? Ah, jika benar demikian maka Daphne merasa sangat bersalah.
Masih bergumul dengan pikirannya sendiri, Daphne mendengar gerakan dari arah jendela. Sontak Daphne menoleh. Matanya membulat sempurna ketika melihat Duncan melompat lewat jendela.
Hal yang sama terjadi pada Duncan. Ia tak menyangka bila Daphne yang sudah tertidur pulas, kini malah berada di dalam kamarnya.
"Nona...kenapa ada di kamarku? Bukannya Nona sedang tidur?" tanya Duncan berusaha menutupi rasa gugupnya.
Daphne terpekur untuk sesaat. Namun setelahnya, ia bersedekap sambil menatap tajam kepada Duncan.
"Aku yang seharusnya bertanya kepadamu, Duncan. Dari mana saja kau pagi-pagi buta begini? Kenapa kau pergi tanpa pamit dan melompati jendela seperti pencuri? Apa tubuhmu itu sudah sehat?" cecar Daphne memberondong Duncan dengan beragam pertanyaan.
Sesungguhnya Daphne merasa sangat lega karena bisa melihat Duncan lagi. Namun ia juga harus memperingatkan pria ini supaya tidak mengulangi perbuatan yang sama.
"Ummm, aku tiba-tiba terbangun dan tidak bisa tidur, Nona. Lalu aku memutuskan untuk berolah raga di luar sambil menghirup udara pagi. Seperti ini contohnya."
Duncan merentangkan tangannya sambil menyerongkan pinggangnya ke kiri dan ke kanan. Ia membuat gerakan seperti orang yang sedang melakukan senam irama.
Daphne pun maju ke depan dan memegangi lengan Duncan.
"Hentikan, Duncan! Kau ini sedang sakit dan butuh istirahat, tetapi malah keluyuran sendiri di luar. Bagaimana kalau kau celaka?" tanya Daphne dengan mata berkaca-kaca.
Ia teringat lagi akan mimpi buruknya tentang Duncan. Duncan sedikit terkejut melihat reaksi Daphne, karena gadis itu tidak biasanya bersikap cengeng.
"Aku bisa menjaga diri, Nona, jangan cemaskan aku. Lebih baik Nona tidur lagi supaya penyakit Nona tidak kambuh."
"Aku akan tidur, tetapi di kamar ini. Aku akan memastikan kau tidak pergi ke mana-mana, Duncan," tegas Daphne.
Tanpa pikir panjang Daphne naik ke atas tempat tidur, lalu menarik selimut hingga sebatas dagu. Kemudian Daphne mengubah posisinya menjadi miring agar wajahnya tidak berhadapan langsung dengan Duncan.
Tindakan Daphne ini membuat Duncan bingung. Biasanya gadis ini sangat alergi untuk tidur bersamanya, tetapi sekarang justru Daphne yang menginginkan hal itu.
"Tidurlah, Nona, aku akan menjagamu," ucap Duncan berbaring di sebelah Daphne.
...****************...
Seekor burung gagak memasuki gedung tua di pinggir kota. Kepakan sayapnya terdengar menggema di sepanjang lorong gedung yang sunyi. Burung itu baru berhenti saat mendengar suara parau yang menegurnya.
"Zarka, cepat sekali kamu berburu. Apa kamu berhasil mendapatkan darah segar manusia?"
Burung itu pun terbang dan hinggap di bahu tuannya. Julio merespon dengan cara mengelus kepala Zarka yang berwarna hitam legam. Ia baru menyadari ada luka gores di bagian kepala burung itu. Bila diperhatikan, sebagian bulunya rontok dan kakinya juga sedikit pincang.
"Zarka, siapa yang berani melakukan ini padamu? Apa dia cari mati?" tanya Julio gusar.
Zarka lantas mendekatkan paruhnya ke telinga Julio untuk memberitahukan apa yang terjadi. Tangan Julio terkepal erat saat mendengar berita yang disampaikan oleh Zarka.
"Kau yakin kalau dia adalah adiknya Pangeran Vladimir? Kalau begitu, aku akan segera menangkapnya. Bila perlu, aku akan mengakhiri nyawanya besok malam. Pangeran Vladimir pasti senang dan akan memberiku stok darah dalam jumlah besar," ujar Julio senang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments