Daphne mengerjapkan matanya, merasa tak percaya dengan permintaan Duncan yang terkesan kekanak-kanakan. Seharusnya pria dewasa lebih suka berkencan di kafe atau bar, bukan malah naik komedi putar di taman hiburan. Barangkali karena pernah mati suri, kelakuan Duncan menjadi semakin aneh.
"Oke, aku akan mencari taman hiburan yang buka di malam hari," ujar Daphne. Karena terlanjur berjanji, dia akhirnya menuruti keinginan Duncan.
Dengan ponselnya, Daphne mencari lokasi taman hiburan yang terdekat. Setelah menemukannya, Daphne memberikan ponselnya kepada Duncan.
"Kita ke Magic Park saja, jaraknya tiga kilo meter dari sini," ujar Daphne seraya menunjukkan ponselnya.
Duncan hanya melihat sekilas kemudian melajukan mobilnya dengan kencang. Jalanan mulai lengang di malam hari, membuat mereka tiba lebih cepat di Magic Park.
Usai memarkirkan mobil, Daphne dan Duncan memasuki taman hiburan yang luas itu. Pengunjung tempat itu terdiri dari beragam usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.
Duncan dibuat takjub saat melihat banyaknya wahana di taman hiburan. Rasanya ia ingin mencoba semua wahana itu satu per satu.
"Jadi naik komedi putar?" tanya Daphne menyenggol lengan Duncan.
"Iya, aku akan naik kuda yang berwarna putih," ujar Duncan seraya berjalan ke arah komedi putar.
Daphne bergegas mengejar Duncan dan menghalangi lelaki itu.
"Tunggu, jangan sembarangan naik ke wahana sebelum membeli tiket."
Daphne menggandeng tangan Duncan menuju ke loket. Melihat antrian yang didominasi oleh anak-anak, Daphne berbisik ke telinga Duncan.
"Duncan, lebih baik naik yang lain saja. Permainan ini lebih cocok untuk anak-anak. Jangan membuatku malu," lirih Daphne.
"Tapi aku menginginkannya, Nona."
Melihat wajah Duncan yang memelas, Daphne menjadi tidak tega. Ia berpikir bahwa masa kecil Duncan mungkin tidak bahagia, sehingga pria itu tidak bisa berpikiran dewasa.
"Belilah tiket sendiri. Aku akan menunggumu di sebelah sana," ujar Daphne menyerahkan sejumlah uang kepada Duncan.
Gadis itu memilih duduk di bangku yang tak jauh dari wahana komedi putar.
Tak berselang lama, Duncan mendapatkan tiket lalu naik ke atas kuda bersama anak-anak lain. Keberadaannya terlihat paling menonjol, bukan hanya dari segi usia, tetapi juga ketampanannya yang di atas rata-rata.
Ketika wahana tersebut telah berputar, Duncan tak henti-hentinya tersenyum. Beberapa gadis muda yang kebetulan lewat pun berhenti karena terpesona oleh Duncan. Bahkan ada salah satu di antara mereka yang mengambil foto Duncan sambil senyum-senyum sendiri. Kecentilan para gadis itu membuat Daphne merasa kesal.
'Kenapa para gadis selalu saja lapar mata setiap melihat Duncan. Tidak hanya di kampus, tetapi juga di taman hiburan. Apa mereka tidak pernah melihat pria tampan sebelumnya,'
gerutu Daphne.
Begitu Duncan turun dari komedi putar, Daphne bergegas menarik tangan lelaki itu.
"Duncan, ayo kita pergi!"
"Ke mana, Nona? Aku masih mau naik sekali lagi."
"Sudah, jangan membantah!" tukas Daphne.
Daphne terus menarik Duncan hingga tiba di depan wahana permainan bianglala.
"Kita naik bianglala saja," ajak Daphne masuk ke dalam antrian.
Sambil menunggu giliran, Duncan keheranan melihat pria dan wanita di depannya yang saling menautkan jemari tangan. Bahkan mereka tak segan untuk bergantian mengecup bibir satu sama lain.
Daphne yang juga turut menyaksikan menjadi salah tingkah sendiri. Ia pun membuang muka ke samping agar tidak melihat tontonan panas itu.
"Nona, aku ingin bertanya," ucap Duncan mencolek lengan Daphne.
"Tanya apa?"
"Kenapa pria dan wanita itu saling menggenggam tangan dan berciuman bibir. Apakah kita perlu meniru mereka, Nona?"
Pertanyaan Duncan spontan membuat pipi Daphne merona. Entah pria ini memang bodoh atau mungkin ia mengalami kemunduran memori otak, sehingga bertingkah mirip anak-anak.
"Kita tidak boleh melakukannya, karena kita bukan pasangan kekasih seperti mereka," jawab Daphne merasa malu.
"Kekasih itu hubungan yang seperti apa?" tanya Duncan mencari tahu.
"Hubungan yang lebih dekat dari teman. Tujuan akhirnya adalah untuk menuju jenjang pernikahan," jelas Daphne seperti seorang guru terhadap muridnya.
"Kalau begitu kita berdua bisa disebut sebagai kekasih. Bukankah aku dan Nona akan menikah?" tanya Duncan sekali lagi.
Untuk kesekian kalinya wajah Daphne serasa memanas. Beruntung taman hiburan ini remang-remang, bila tidak pipinya yang semerah tomat pasti akan terlihat dengan jelas.
"Stop, membahas itu. Ayo, pindah ke tempat lain."
Daphne keluar dari antrian dan membatalkan niatnya untuk naik bianglala.
Ketika mereka melewati wahana roller coaster, terdengar suara teriakan orang-orang dari atas. Sontak, Duncan mendongak untuk mencari tahu apa yang terjadi. Ia langsung tertarik saat menyaksikan kereta yang meluncur cepat, lalu menukik tajam ke atas dan ke bawah. Rasanya permainan ini sangat cocok dengan jiwa mudanya sebagai vampir.
"Kita naik itu saja. Nona mau, kan?"
"Tidak, aku tidak mau. Aku bisa muntah kalau duduk di atas sana," ujar Daphne ketakutan..
"Lalu permainan apa yang bisa kita pilih, Nona? Aku masih ingin mencoba permainan yang lain," rengek Duncan.
Daphne pun mengedarkan pandangan dan melihat dua tenda yang dipenuhi pengunjung. Yang di sebelah kanan adalah istana hantu, sedangkan di sebelah kiri merupakan tenda peramal tarot bernama Madam Claretta.
Wajah Daphne seketika bersinar bak mentari pagi. Sebagai pecinta hal-hal yang berbau horor, ia tak akan melewatkan kedua permainan ini.
"Duncan, kita ke sana saja. Aku ingin masuk ke istana setan, lalu ke peramal tarot."
Mata Duncan membola saat mendengar keinginan Daphne. Ia mengira istana setan adalah salah satu markas vampir liar yang sedang berkeliaran di dunia manusia.
"Jangan, Nona, nanti darah Nona bisa habis dihisap oleh mereka."
Daphne terbahak mendengar kepolosan Duncan.
"Yang di dalam sana bukan vampir atau monster sungguhan, tetapi manusia biasa yang memakai kostum. Mereka sama sekali tidak berbahaya. Tugas mereka hanya menakut-nakuti pengunjung."
Setelah mendapat penjelasan, Duncan akhirnya mengerti. Ia pun mengikuti langkah Daphne masuk ke istana setan.
Begitu melewati pintu, suasana mencekam sangat terasa. Apalagi sepanjang lorong dipenuhi berbagai aksesoris menyeramkan, seperti tengkorak, laba-laba, dan peti mati.
Daphne selalu saja tersentak kaget setiap kali ada hantu yang muncul. Berbeda dengan Duncan yang nampak tenang-tenang saja. Pria itu juga tak bereaksi ketika dikejutkan oleh Count Dracula. Bagi Duncan, vampir buatan manusia justru terlihat menggelikan dan berbeda jauh dengan aslinya.
"Kau tidak takut sama sekali dengan hantu dan vampir?" tanya Daphne usai mereka keluar dari istana setan.
"Tidak, karena aku mengenal mereka," jawab Duncan dengan santai.
"Kau mengenal para pemeran istana setan? Apa mereka semua temanmu?" tanya Daphne salah paham.
"Bukan, aku hanya berteman dengan vampir yang asli."
Mengira Duncan sedang bercanda, Daphne lantas mengajak pria itu ke tenda peramal tarot. Di depan tenda, berdiri seorang pria bertubuh ceking yang bertugas menyambut calon pengunjung.
"Tuan, kami ingin diramal oleh Madam Claretta," kata Daphne mendaftarkan diri.
"Baik, Nona, Anda bisa masuk setelah tamu yang di dalam selesai."
"Nona, apa saja yang bisa diramalkan oleh kartu tarot?" bisik Duncan seraya menunggu giliran.
"Banyak, bisa tentang masa depan, masa lalu, jodoh, pekerjaan, dan jati dirimu yang sebenarnya. Menurut orang-orang, peramal tarot juga bisa merasakan energi dari kliennya."
Usai Daphne memberikan penjelasan, sepasang muda mudi keluar dari dalam tenda. Si pria ceking lantas mempersilakan Daphne dan Duncan masuk. Namun baru dua langkah mereka berjalan, terdengar suara ketakutan seorang wanita.
"Jangan, ke sini, Tuan, saya mohon, keluarlah."
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments