Bab 11 Salah Paham

Usai mendapatkan pujian dari Mr. Mourens, Daphne keluar dengan wajah sumringah. Seperti pepatah yang mengatakan akan muncul pelangi sehabis hujan, itulah yang dirasakan Daphne saat ini. Setelah mengalami serangkaian kesialan, akhirnya ia memperoleh keberuntungan juga.

"Daph, boleh aku menumpang mobilmu? Sekalian kita makan di Oliver Kitchen untuk merayakan keberhasilanmu hari ini. Kau pasti bahagia karena mendapatkan nilai terbaik di kelas," bujuk Tracy merengek.

"Katakan saja kau ingin makan gratis sambil memandangi Duncan," sindir Daphne ketus.

"Kau ini memang selalu mengerti isi hatiku," kata Tracy menyeringai lebar.

Daphne pun menoleh sambil melipat kedua tangannya.

"Sayang sekali, keinginanmu itu belum bisa terlaksana. Aku harus pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku referensi, karena aku akan melanjutkan makalah tentang skizofrenia."

"Ah, kenapa kau masih saja memikirkan buku di saat seperti ini?" protes Tracy.

"Tracy Sayang, aku tidak memaksamu untuk ikut. Lalukanlah kegiatan lain yang kau mau."

Mendengar perkataan Daphne, mata Tracy langsung bersinar terang.

"Kalau begitu, aku akan menemui seseorang dulu. Semoga kau betah ditemani oleh buku-buku perpustakaan," ujar Tracy melambaikan tangannya.

Kedua gadis yang berbeda tujuan itu pun berpisah. Sambil senyum-senyum sendiri, Tracy bergegas menuju ke taman untuk menemui Duncan. Kali ini, ia akan membuat pria itu takluk kepadanya.

Tracy tak peduli dengan status Duncan yang hanya seorang supir. Baginya wajah tampan dan tubuh atletis jauh lebih penting daripada pekerjaan. Lagipula di usianya yang sekarang, ia hanya ingin bersenang-senang tanpa ada komitmen.

Dengan semangat yang meluap-luap, Tracy berjalan ke bangku tempat Duncan duduk. Namun, langkah Tracy langsung terhenti karena melihat bangku itu kosong melompong. Justru ia melihat kerumunan para gadis di sudut taman.

Penasaran dengan apa yang terjadi, Tracy melesak di tengah-tengah kerumunan.

"Minggir, minggir, aku mau lewat," ujar Tracy berusaha menyingkirkan mereka.

"Kau tidak boleh menerobos antrian. Tunggu giliranmu," tegur salah seorang gadis.

"Giliran apa yang kau maksud?"

"Tentu saja giliran untuk dilukis, apa lagi?"

"Hah, dilukis?" ulang Tracy tak percaya.

Dia berusaha melihat di sela-sela lengan para gadis itu, dan tampaklah Duncan sedang duduk bersila di atas rumput. Tangan lelaki itu sibuk mencorat-coret di atas kertas. Sementara di sebelahnya, duduk seorang mahasiswi yang tengah berpose sambil tersenyum genit.

'Ya ampun, Duncan malah berpindah ke sini dan tebar pesona dengan para gadis. Aku harus segera memberitahu Daphne,"

gumam Tracy merasa cemburu.

Tracy segera berbalik untuk menyusul Daphne di perpustakaan. Begitu sampai, Tracy menepuk keras bahu Daphne dari belakang.

"Tracy, kau ini bikin kaget saja," ujar Daphne hampir menjatuhkan bukunya.

"Aku punya kabar yang sangat penting untukmu tentang Duncan."

Raut wajah Daphne berubah tegang saat mendengar nama pria itu disebut.

"Kenapa lagi dengan dia?"

"Duncan sedang sibuk melukis para mahasiswi di kampus kita. Bukannya menunggumu, dia malah tebar pesona di kampus. Padahal aku kira Duncan itu pria yang pendiam, ternyata dia seorang cassanova," ujar Tracy memasang wajah sedih.

"Apa kau tidak salah lihat? Pria itu bisa melukis?"

"Aku bersumpah, Daphne. Kalau tidak percaya ikut aku sekarang."

Daphne bergegas mengembalikan buku yang dipinjamnya. Bila yang dikatakan Tracy terbukti benar, maka ia akan segera mengusir Duncan dari rumahnya.

Dengan langkah lebar, Daphne mengikuti Tracy. Begitu tiba di taman, mata Daphne melotot saat melihat seorang pria yang dikelilingi para gadis. Mereka memandangi pria itu penuh kekaguman, seolah ia adalah raja yang berada di antara para selir istana. Sementara Duncan malah menatap lekat gadis berambut merah yang tengah dilukisnya.

"Lihat sendiri kan? Itu Duncan," ujar Tracy memprovokasi Daphne.

Darah Daphne mendidih seketika. Ia pun menghadang salah satu mahasiswi yang baru selesai dilukis oleh Duncan.

"Tunggu, Nona, boleh aku melihat hasil lukisan wajahmu."

"Boleh, kau pasti akan kagum. Pelukisnya sangat tampan dan berbakat. Dia tidak memungut bayaran sama sekali."

Tak sabar, Daphne memperhatikan gambar di tangannya dengan seksama. Wajah sang gadis memang tergambar sempurna, bahkan nampak hidup seperti aslinya. Namun, bukan itu yang menarik perhatian Daphne, melainkan inisial huruf D yang tertera di pojok kanan kertas. Jelaslah sudah bahwa Duncan yang membuat gambar ini.

"Kalau kau juga ingin dilukis, antri saja di sebelah sana," saran gadis tersebut.

"Aku tidak tertarik. Ini kukembalikan, terima kasih," ujar Daphne dengan nada ketus.

Kemarahan Daphne serasa memuncak di ubun-ubun. Apalagi saat ia mengingat sikap Duncan yang munafik, pura-pura polos di hadapannya untuk menutupi karakter aslinya yang mesum. Untung saja dia menolak dijodohkan dengan lelaki itu.

Detik ini juga, Daphne ingin sekali melabrak Duncan. Namun, melihat banyaknya dosen dan mahasiswa yang berlalu-lalang, Daphne urung melakukan niatnya. Ia tidak mau reputasinya rusak hanya karena masalah yang tidak penting.

Tak ingin hilang kendali, Daphne pun berjalan meninggalkan taman.

"Daph, kau mau pergi ke mana?" tanya Tracy berlari mengikuti Daphne.

"Aku mau menenangkan diri. Sebaiknya kau pulang dengan mobilmu sendiri, Tracy," jawab Daphne terus berjalan menuju ke parkiran.

"Jadi, kita batal makan-makan di restoranmu?"

"Lain kali saja, aku sedang tidak ingin."

Daphne langsung masuk ke mobilnya tanpa menghiraukan ocehan Tracy. Tak berselang lama, kendaraan beroda empat itu sudah melaju meninggalkan kampus.

Tracy pun berlalu dengan kecewa. Rencananya untuk bersama Duncan telah gagal total hari ini. Daripada bosan sendiri, Tracy memutuskan untuk ikut mengantri bersama mahasiswi lainnya.

...****************...

Untuk meredam kekesalan, Daphne memilih makan sendirian di restoran pizza. Dia sengaja tidak kembali ke rumah maupun ke Oliver Kitchen. Bila perlu, ia akan menginap di kamar hotel agar tidak bertemu dengan Duncan malam ini.

Setelah puas memakan satu loyang pizza, Daphne memutuskan pergi ke taman kota di Oregon Street. Tempat itu lumayan sepi dan ia bisa berkonsentrasi untuk mengerjakan tugas kuliahnya.

Setelah berkendara sekitar lima belas menit, Daphne tiba di taman itu. Seperti biasanya, taman itu hanya dikunjungi segelintir orang.

Tanpa ragu, Daphne duduk di bangku lalu mengeluarkan buku dan ponsel. Kali ini, ia akan mengetik semua laporannya menggunakan aplikasi di ponsel.

'Aku akan berada di sini sampai malam. Laki-laki itu pasti kebingungan karena tidak bisa menemukanku, lalu dia akan disalahkan oleh Kakek James,'

gumam Daphne menyusun rencana.

Tanpa disadari Daphne, ada sepasang mata yang tengah mengawasi gerak-geriknya dari kejauhan.

...****************...

Dengan sabar, Duncan masih meladeni para gadis yang minta untuk dilukis. Ia berpikir bahwa Daphne belum selesai kuliah, sehingga ia menyibukkan diri sampai sore.

Karena melukis adalah hobinya, Duncan memilih kegiatan ini untuk mengalihkan pikiran dari suara bising yang berseliweran. Dengan demikian, ia tidak lagi mengalami mimisan seperti tadi.

Semakin lama, antrian itu semakin berkurang, hingga menyisakan Tracy saja.

"Duncan, akhirnya aku dapat giliran juga. Aku hampir saja pulang karena lelah berdiri."

"Nona Tracy juga mau dilukis?"

"Iya, tapi tidak di sini. Aku mau dilukis di apartemenku," ajak Tracy menarik lengan Duncan.

"Tunggu, Nona Tracy, di mana Daphne? Apa dia belum selesai kuliah?" tanya Duncan melihat ke sekelilingnya.

"Ck, Daphne sudah selesai dari tadi," jawab Tracy malas.

"Lalu kenapa Daphne tidak menyuruhku untuk mengantarnya pulang?"

"Karena dia marah padamu. Daphne melihatmu sibuk melayani para gadis, sehingga dia pergi begitu saja."

Duncan tersentak kaget mendengar ucapan Tracy. Sudah pasti Daphne salah paham dengan apa yang dilakukannya.

"Apa Nona tahu ke mana Daphne pergi?"

"Tidak tahu. Aku sudah mencoba meneleponnya, tetapi tidak diangkat."

Mendadak Duncan merasakan sebuah firasat buruk. Tanpa pikir panjang, ia berjalan cepat meninggalkan Tracy.

"Duncan, kau tidak jadi melukisku?" teriak Tracy berusaha mengejar Duncan.

"Lain kali saja, Nona. Aku harus mencari Daphne. Dia berada dalam bahaya."

Bersambung

Terpopuler

Comments

lucius

lucius

semangat berkarya thot

2023-01-14

1

lihat semua
Episodes
1 Siapa yang Membebaskan Aku
2 Apa Bedanya Pria dan Wanita
3 Cinta Berakhir Malapetaka
4 Kelahiran Calon Raja
5 Hati yang Tidak Mengenal Cinta
6 Nikahi Cucuku
7 Memiliki Pengawal Tampan
8 Usia Seribu Tahun
9 Belum Terbiasa Bertemu Manusia
10 Bab 11 Salah Paham
11 Bab 12 Malaikat Penyelamatku
12 Bab 13 Rencana Licik
13 Bab 14 Apakah Kita Pasangan Kekasih ?
14 Bab 15 Ramalan Kematian
15 Bab 16 Ambisi menjadi Raja
16 Bab 17 Menuntaskan Rasa Haus
17 Bab 18 Takut Kehilanganmu
18 Bab 19 Rahasia yang Terkuak
19 Bab 20 Ingin Balas Dendam
20 Bab 21 Masuk Jebakan
21 Bab 22 Pertarungan Sengit (Part 1)
22 Bab 23 Pertarungan Sengit (Part 2)
23 Bab 24 Rencana Pernikahan
24 Bab 25 Apakah Kau Vampir
25 Bab 26 Mulai Merasakan Cinta
26 Bab 27 Kita Tetap Menikah
27 Bab 28 Saingan Cinta
28 Bab 29 Apa yang Dilakukan Setelah Menikah
29 Bab 30 Resiko Terburuk
30 Bab 31 Tak Bisa Jauh Darimu
31 Bab 32 Kau Bukan Dia
32 Bab 33 Sakit Hati
33 Bab 34 Melanggar Larangan
34 Bab 35 Siapa yang Asli Siapa yang Palsu
35 Bab 36 Hari Pernikahan (Part 1)
36 Bab 37 Hari Pernikahan (Part 2)
37 Bab 38 Bulan Madu di atas Pegunungan (Part 1)
38 Bab 39 Bulan Madu di Atas Pegunungan (Part 2)
39 Bab 40 Cinta di Atas Segalanya
40 Bab 41 Malam Bulan Purnama
41 Bab 42 Pilihan yang Sulit
42 Bab 43 Ke mana Suamiku
43 Bab 44 Mendadak Amnesia
44 Bab 45 Sang Pesulap Hijau
45 Bab 46 Fitnah yang Keji
46 Bab 47 Menjadikan Dia sebagai Boneka
47 Bab 48 Perebutan Takhta
48 Bab 49 Belati Suci
49 Bab 50 Menyusup ke Istana
50 Bab 51 Tipu Daya
51 Bab 52 Antara Benci dan Cinta
52 Bab 53 Kesalahan Terbesar
53 Bab 54 Rela Mati Untuknya
54 Bab 55 Cinta itu Abadi (The End)
Episodes

Updated 54 Episodes

1
Siapa yang Membebaskan Aku
2
Apa Bedanya Pria dan Wanita
3
Cinta Berakhir Malapetaka
4
Kelahiran Calon Raja
5
Hati yang Tidak Mengenal Cinta
6
Nikahi Cucuku
7
Memiliki Pengawal Tampan
8
Usia Seribu Tahun
9
Belum Terbiasa Bertemu Manusia
10
Bab 11 Salah Paham
11
Bab 12 Malaikat Penyelamatku
12
Bab 13 Rencana Licik
13
Bab 14 Apakah Kita Pasangan Kekasih ?
14
Bab 15 Ramalan Kematian
15
Bab 16 Ambisi menjadi Raja
16
Bab 17 Menuntaskan Rasa Haus
17
Bab 18 Takut Kehilanganmu
18
Bab 19 Rahasia yang Terkuak
19
Bab 20 Ingin Balas Dendam
20
Bab 21 Masuk Jebakan
21
Bab 22 Pertarungan Sengit (Part 1)
22
Bab 23 Pertarungan Sengit (Part 2)
23
Bab 24 Rencana Pernikahan
24
Bab 25 Apakah Kau Vampir
25
Bab 26 Mulai Merasakan Cinta
26
Bab 27 Kita Tetap Menikah
27
Bab 28 Saingan Cinta
28
Bab 29 Apa yang Dilakukan Setelah Menikah
29
Bab 30 Resiko Terburuk
30
Bab 31 Tak Bisa Jauh Darimu
31
Bab 32 Kau Bukan Dia
32
Bab 33 Sakit Hati
33
Bab 34 Melanggar Larangan
34
Bab 35 Siapa yang Asli Siapa yang Palsu
35
Bab 36 Hari Pernikahan (Part 1)
36
Bab 37 Hari Pernikahan (Part 2)
37
Bab 38 Bulan Madu di atas Pegunungan (Part 1)
38
Bab 39 Bulan Madu di Atas Pegunungan (Part 2)
39
Bab 40 Cinta di Atas Segalanya
40
Bab 41 Malam Bulan Purnama
41
Bab 42 Pilihan yang Sulit
42
Bab 43 Ke mana Suamiku
43
Bab 44 Mendadak Amnesia
44
Bab 45 Sang Pesulap Hijau
45
Bab 46 Fitnah yang Keji
46
Bab 47 Menjadikan Dia sebagai Boneka
47
Bab 48 Perebutan Takhta
48
Bab 49 Belati Suci
49
Bab 50 Menyusup ke Istana
50
Bab 51 Tipu Daya
51
Bab 52 Antara Benci dan Cinta
52
Bab 53 Kesalahan Terbesar
53
Bab 54 Rela Mati Untuknya
54
Bab 55 Cinta itu Abadi (The End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!